Selasa, 28 Agustus 2007

drafrt landangan teori

Untuk diselamatkan

Kematian, setiap hari harus melalu kereta api, sellau baru kurasakan, apa yang akan kuperolehnanti dankelak, karena itu orang krisetn meyebutnya dnegan bapak, utuk menggabarkan kedekatan?

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengertian Dakwah

Banyak sekali definisi dakwah yang telah dirumuskan oleh berbagai kalangan ulama, akan tetapi semua itu intinya mengajak manusia ke jalan Allah agar mereka berbahagia di dunia dan di akhirat dengan cara-cara yang baik. Pengertian tersebut diambil dari kata dakwah yang ada dalam al-Qur'an sebagaimana tertera dalam bunyi ayat al-Qur'an QS. An-Nahl [16]: 125:

Artinya: "Ajaklah mereka (Umat manusia) menuju jalan Tuhanmu dengan hikmat, pengajaran yang baik, dan ajaklah mereka berdebat dengan cara-cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui siapa saja yang telah sesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui siapa saja yang diberika petunjuk".

Ayat di atas, secara implisit memuat beberapa metode dakwah dalam Islam yang mengharuskan seorang juru dakwah mengetahui dan memahami, bahwa manusia mempunyai pemahaman yang berbeda-beda, sehingga dalam melancarkan dahwahnya harus dengan cara yang berbeda-beda pula. Al-Qur’an menyebutkan 3 metode dalam dakwah. Mengenai metode dakwah lebih rinci akan dibahas secara khusus dalam bagian "Metode Dakwah" selanjutnya.

Terlebih dahulu kita akan melihat secara rinci pengertian dakwah. Berikut ini akan dibahas pengertian dakwah dari segi bahasa (etimologi) dan istilah (terminologi).

Dari segi bahasa, kata da'wah atau da'watun biasa digunakan untuk arti-arti berikut ini: "undangan", "ajakan", ataupun "seruan" yang kesemuanya itu menunjukkan komunikasi antara dua pihak untuk mempengaruhi orang lain. Sehingga keberhasilan sebuah ajakan, atau seruan dapat diukur manakala pihak kedua memberikan respon yang positif, dan mau datang untuk memenuhi ajakan dari pihak pertama yang mengajaknya. Jadi kalimat dakwah mengandung "makna aktif", berbeda dengan kalimat tabligh yang artinya hanya menyampaikan.

Ahmad Mubarok juga menegaskan bahwa secara istilah, dakwah dapat dirumuskan sebagai "usaha mempengaruhi orang lain agar mereka bersikap dan bertingkah laku seperti apa yang disampaikan oleh da'i, atau bertingkah laku Islami."1

Muhyiddin mengatakan bahwa dilihat dari segi kosakata, kata dakwah dalam ayat al-Qur'an diekspresikan dengan kata kerja. Hal itu memberi isyarat bahwa upaya kegiatan dakwah harus dilaksanakan secara serius, dan juga dituntut sistematis serta tepat sasaran sehingga membuahkan hasil sesuai dengan yang diharapkan oleh sang da'i.2

Sedangkan Mansyur Suryanegara mendefinisikan dakwah sebagai "aktivitas menciptakan perubahan sosial dan pribadi yang didasarkan pada tingkah laku pelaku pembaharunya. Oleh karena itu, yang menjadi inti dari tindakan dakwah Manajement Qalbu Darut Tauhiid mengambil perannya dalam kegiatan dakwah di masyarakat. Daarut Tauhiid secara singkat dapat dikatakan berdakwah dengan misi menegakkan kedamaian, dan kebenaran di tengah-tengah masyarakat dengan merefarasi individu sebagai unsur terpenting dalam masyarakat.

Perbedaan definisi dakwah terlihat pada orientasi dan penekanan bentuk kegiatannya. Berikut ini dikemukakan enam macam rumusan definisi dakwah, sebagaimana banyak dikemukakan para ahli.

Pertama, definisi dakwah yang menekankan proses pemberian motivasi untuk melakukan pesan dakwah. Di antara tokoh yang berpendapat demikian adalah Ali Abdul Halim Mahmud. Ia berpendapat bahwa dakwah adalah:

"Upaya untuk mendorong manusia kepada kebaikan dan petunjuk, memerintahkan perbuatan yang diketahui kebenaranya, melarang perbuatan yang merusak individu dan orang banyak agar mereka memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat".3

Kedua, definisi dakwah yang menekankan proses penyebaran pesan dakwah (ajaran Islam) dengan mempertimbangkan penggunaan metode, media, dan pesan yang sesuai dengan situasi dan kondisi mad'u (khalayak dakwah). Tokoh yang memiliki pandangan demikian di antaranya adalah Ahmad Gholwusy. Ia berpendapat bahwa dakwah didefinisikan sebagai:

"Menyampaikan pesan Islam kepada manusia di setiap waktu dan tempat dengan metode-metode dan media-media yang sesuai dengan situasi dan kondisi para penerima pesan dakwah".4

Ketiga, definisi dakwah yang menekankan pengorganisasian dan pemberdayaan sumber daya manusia dalam melakukan berbagai petunjuk ajaran Islam, menegakkan norma sosial budaya (ma'ruf), dan membebaskan kehidupan manusia dari berbagai penyakit sosial (munkar). Definisi ini, antara lain dikemukakan oleh Sayyid Mutawakil. Beliau berpendapat bahwa dakwah adalah:

"Mengorganisasikan kehidupan manusia dalam menjalankan kebaikan, menunjukkan ke dalam yang benar dengan menegakkan norma sosial budaya dan menghindarkannya dari penyakit sosial".

Dengan demikian, dari seluruh pengertian dakwah di atas, ada beberapa hal penting yang dapat ditarik dari definisi operasional dakwah tersebut:

1. Adanya proses kondisioning mengenai pemahaman dan sikap mad'u (objek dakwah), hal ini karena dakwah berkaitan dengan penyampaian nilai-nilai Islam sebagai isi pesan dakwah yang perlu dipahami dan disikapi.

2. Adanya proses perubahan dan peningkatan kualitas hidup dan kehidupan masyarakat (mad'u), karena hakikat filosofis dakwah adalah membawa individu dan masyarakat dari kekufuran kepada keimanan.

3. Karena aktivitas dakwah menyangkut kedua hal di atas (komunikasi dan perubahan sosial), strategi, cara dan teknik pendekatannya akan terkait dengan sarana dan prasarana kedua media tersebut yang berhubungan dengan berbagai aspek sosial budaya kehidupan masyarakat.

Selanjutnya, berikut ini akan dikutip ciri-ciri dakwah yang efektif menurut pandangan Jalaluddin Rakhmat. Menurut beliau, suatu dakwah dinilai efektif manakala menimbulkan lima tanda:

  1. Melahirkan pengertian, yakni apa yang disampaikan dimengerti oleh yang menerima.
  2. Menimbulkan kesenangan, yakni orang yang menerima pesan, dalam hal ini mad'u merasa bahwa seruan dakwah yang disampaikan oleh da'i itu menimbulkan rasa senang, sejuk dan menghibur, tidak memuakkan atau menyakitkan meski sifat tegurannya boleh jadi tajam dan mendasar. Meski demikian dakwah tidak sejenis dengan tontonan atau panggung hiburan, dan seorang da'i tidak harus berperan sebagai pelawak.
  3. Menimbulkan pengaruh pada sikap mad'u, maksudnya, ajakan dan seruan da'i dapat mempengaruhi sikap mad'u dalam masalah-masalah tertentu, misalnya dari sikap sinis kepada tradisi keagamaan menjadi netral, simpati atau empati, adri stereotip terhadap ajaran Islam tentang wanita menjadi ingin mengetahui ajaran yang sebenarnya, dari sikap eksklusif (merasa benar sendiri) menjadi menghargai golongan lain dan sebagainya.
  4. Menimbulkan hubungan yang makin baik, maksudnya, semakin sering komunikasi dengan mad'u, baik melalui ceramah, konsultasi, bermu'amalah atau pergaulan biasa, membuat hubungan antara kedua belah pihak semakin dekat dan semakin akrab serta saling membutuhkan. Bermula dari sekedar muballigh yang diundang ceramah berkembang menjadi guru, sahabat, tempat mengadu, konsultan, dan orang yang dituakan oleh jamaahnya.
  5. Menimbulkan tindakan, maksudnya, dengan dakwah yang dilakukan terus menerus, mad'u kemudian terdorong bukan hanya dalam merubah sikap tapi sampai pada mau melakukan apa yang dianjurkan da'i, dari tidak menjalankan shalat menjadi patuh, dari kikir menjadi pemberi, dan berlaku kasar menjadi lemah-lembut, dari pemalas menjadi rajin dan sebagainya. Tanda kelima inilah yang merupakan tanda konkrit dari keberhasilan suatu dakwah, sebagai perwujudan dari proses komunikasi.5

B. Pendekatan Dakwah

Pendekatan kegiatan dakwah dilakukan dengan pendekatan dakwah bi al-qaul (bi al-lisan) dan bi al-af'al (termasuk bi al-kitabah atau bi al-amal). Pendekatan dari kedua kegiatan itu melahirkan empat ragam kegiatan dakwah, yakni pertama tabligh dan ta'lim, kedua irsyad, ketiga tathwir, dan keempat tadbir.6

Tabligh dan ta'lim dilakukan dalam rangka pencerdasan dan pencerahan masyarakat melalui kegiatan pokok: sosialisasi, internalisasi dan ekternalisasi nilai ajaran Islam, dengan menggunakan sarana mimbar dan media massa cetak atau audio visual). Irsyad dilakukan dalam rangka pemecahan masalah psikologis melalui kegiatan pokok: bimbingan penyuluhan pribadi dan bimbingan penyuluhan keluarga, baik secara preventif ataupun kuratif. Tabligh dah Irsyad menyangkut kondisioning pemahaman, persepsi, dan sikap.

Tadbir (manajemen pembangunan masyarakat), dilakukan dalam rangka perekayasaan sosial dan pemberdayaan masyarakat dalam kehidupan yang lebih baik, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pranata sosial keagamaan, serta menumbuhkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat, dengan kegiatan pokok: penyusunan kebijakan, perencanaan program, pembagian tugas dan pengorganisasian, pelaksanaan, dan pemonitoran serta pengevaluasian dalam pembangunan masyarakat dari aspek perekonomian dan kesejahteraannya. Dengan kata lain, tadbir berkaitan dengan dakwah melalui pembangunan. Dua ragam dakwah yang terakhir ini ditujukan utuk menjawab kebutuhan dan tantangan zaman.

Tathwir (pengembangan masyarakat) dilakukan dalam rangka peningkatan sosial budaya masyarakat, yang dilakukan dengan kegiatan pokok: pentransformasian dan pelembagaan nilai-nilai ajaran Islam dalam realitas kehidupan umat, yang menyangkut kemanusiaan, seni budaya, dan kehidupan bermasyarakat, penggalangan ukhuwah islamiyyah, dan pemeliharaan lingkungan. Dengan kata lain, tathwir berkaitan dengan kegiatan dakwah melalui pendekatan washilah sosial budaya (dakwah kultural).

Jika merujuk pada apa yang dicontohkan Rasulullah Saw, ketika membangun masyarakat, setidaknya harus ditempuh tiga tahap atau proses pengembangan masyarakat, yakni takwin, tanzim, taudi. Takwin adalah tahap pembentukan masyarakat Islam. Kegiatan pokok tahapan ini adalah dakwah bil lisan sebagai ikhtiar sosialisasi akidah, ukhuwah, dan ta'awun. Semua aspek ditata menjadi instrumen sosiologis. Proses sosialisasi dimulai dari unit terkecil dan terdekat sampai pada penrwujudan kesepakatan.

Tahap berikutnya adalah tanzim, yakni tahap pembinaan dan penataan masyarakat. Pada fase ini internalisasi dan eksternalisasi Islam muncul dalam bentuk institusionalisasi Islam secar akomprehensif dalam realitas sosial. Tahap ini dimulai dengan hijrah masyarakat Muslim ke Madinah. Dalam perspektif strategi dakwah, hijrah dilakukan ketika tekanan kultural, struktural, dan militer sudah demikian mencekam sehingga jika tidak hijrah, terjadi involusi kelembagaan dan menjadi lumpuh.

Kemudian, tahap berikutnya adalah taudi. Yang dimaksud dengan taudi adalah tahap pelepasan dan kemandirian. Pada tahap ini, umat telah siap menjadi masyarakat mandiri, terutama secara manajerial.

C. Metode Dakwah

1. Metode Dakwah Bi al-Lisan

Dari berbagai ekspresi al-Qur'an dapat diturunkan beberapa pesan moral al-Qur'an tentang metode penyampaian dakwah, antara lain bahwa upaya penyebaran agama Islam perlu disampaikan dengan cara yang lebih baik, cara penuh kasih sayang, tidak muncul dari rasa kecencian. Bahkan, kalaupun terjadi permusuhan, harus dianggap seolah-olah menjadi teman yang baik (ka'annahum waliyun hamim).

Apabila memperhatikan isyarat ayat-ayat yang secara khusus berkaitan dengan metode dakwah yang berhubungan dengan cara berkomunikasi (dakwah bi al-qaul/bi al-lisan) tampak bahwa al-Qur'an seringkali menyampikan ungkapannya dengan ilustrasi pernyataan-pernyataan yang baik, sopan, santun, lemah lembut, berbobot, dan sebagainya. Dengan demikian, iklim dan suasana komunikasi dan dialog yang dibangunnya sangat kondusif bagi penyejukan jiwa dan pencarahan ruhani.

Berikut ini akan dijabarkan term-term yang digunakan oleh al-Qur'an berkenaan dengan metode dakwah bi al-qaul. Seperti dijelaskan secara luas oleh Ahmad Mubarok dalam bukunya, bahwa al-Qur'an memberikan istilah-istilah pesan yang persuasif, di antaranya dengan kalimat: (1) qaulan baligha, (2) qaulan ma'rufa, (3) qaulan layyina, (4) qaulan sadida, (5) qaulan karima, (6) qaulan maisura, (7) qaulan tsaqila, dan (8) qaulan 'adzima.7

a. Qaulan Baligha (Perkataan yang Membekas pada Jiwa)

Al-Qur'an memberikan tuntunan, bahwa redaksi seruan dakwah berbeda-beda tekanannya, tergantung siapa mad'unya.

Surat al-Nisa ayat 63 di atas mengintrodusir istilah qaulan baligha yang dapat diterjemahkan dengan "perkataan yang membekas pada jiwa".

Browser Anda mungkin tidak bisa menampilkan gambar ini.

"Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka".

Ayat tersebut di atas berkenaan dengan orang munafik yang di hadapan Nabi berpura-pura baik, tapi di belakang, mereka menyabot dakwah Nabi. Kalimat dakwah yang persuasif bagi orang munafiq adalah kalimat yang tajam, pedas, tetapi benar, baik bahasa maupun substansinya. Dengan qaulan baligha, sekurang-kurangnya orang munafiq dibuat tak berkutik di depan da'i, meskipun di belakang hari mereka bekerja keras mencari celah yang dapat digunakan untuk menyerang da'i. Pengertian lain dari qaulan baligha adalah suatu perkataan yang membuat lawan bicaranya terpaksa harus mempersepsi perkataan itu sama dengan apa yang dimaksudkan oleh pembicara, sehingga tidak ada celah untuk mempersepsi lain.

b. Qaulan Layyina (Perkataan yang Lemah Lembut)

Di samping qaulan baligha, al-Qur'an juga mengintrodusir istilah qulan layyina, seperti yang disebutkan dalam Surat Thaha ayat 43-44 di bawah ini.

"Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kaya-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut".

Ayat ini berada dalam rangkaian kisah Nabi Musa (dan Harun) dengan Fir'aun. Berhadapan dengan penguasa yang tiran, al-Qur'an mengajarkan agar dakwah kepada mereka haruslah bersifat sejuk dan lemah lembut, tidak kasar, dan menantang. Perkataan yang kasar kepada penguasa tiran dapat memancing respons yang lebih keras dalam waktu yang spontan, sehingga menghilangkan peluang untuk berdialog atau berkomunikasi antara kedua belah pihak. Psikologi penguasa yang sewenang-wenang ialah, jika diusik pikiran dan perasaannya oleh orang lain, maka ia akan segera bereaksi dengan keras sejak komunikasi yang oertama .

Jadi, dakwah yang lembut adalah dakwah yang dirasakan oleh mad;u sebagai sentuhan yang halus, tanpa mengusik atau menyentuk kepekaan perasaannya sehingga tidak menimbulkan ganggunan pikiran dan perasaan. Dengan sentuhan yang halus itu, orang kasar pun dibuat sulit untuk mendemonstrasikan kekasarannya.

c. Qaulan Maisura (Perkataan yang Ringan)

Istilah qaulan maisura tersebut dalam Surat al-Isra ayat 28:

"Dan jika kamu berpaling daari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas".

Kalimat maisura berasal dari kata yasr, yang artinya mudah. Qaulan Maisura adalah lawan dari qaulan ma'sura, perkataan yang sulit. Sebagai suatu proses komunikasi, qaulan maisura artinya perkataan yang mudah diterima, yang ringan, yang pantas, yang tidak berliku-liku dan tidak bersayap. Dakwah dengan qaulan maisura artinya pesan yang disampaikan itu sederhana, mudah dimengerti dan dapat dipahamu secara spontan tanpa harus berpikir panjang. Pesan dakwah model ini tidak memerlukan dalil naqli maupun argumen-argumen logika yang rumit.

d. Qaulan Karima (Perkataan yang Mulia)

Kalimat qaulan karima dalam al-Qur'an terdapat dalam ayat yang mengajarkan etika pergaulan manusia kepada kedua orang tuanya yang sudah tua, seperti yang disebutkan dalam surat al-Isra ayat 23:

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau keduanya sampau berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada kedua perkataan "ah", dan janganlah kamu membantah mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulai".

Dalam perspektif dakwah, maka term qaulan karima diperlukan jika dakwah itu ditujukan kepada kelompok orang yang sudah masuk kategori usia lanjut, atau dalam masyarakat kota barangkali adalah kelompok pensiun. Seorang da'i dalam berhubungan dengan lapisan mad'u yang sudah masuk kategori usia lanjut, haruslah bersikap seperti terhadap orang tua sendiri, yakni hormat dan tidak berkata keras dan kasar kepadanya.

Kata karima yang artinya penuh kebajikan (katsir al-khair) jika dihubungkan dengan qaulan berarti sahlan wa layyinan yakni perkataan yang mudah dan lembut. Berdakwah kepada orang yang berusia lanjut, haruslah dengan perkataan yang musah dipahamu dan disampaikan dengan retorika yang halus dan lembut.

e. Qaulan Sadida (Perkataan yang Benar)

Term Qaulan Saida merupakan persyaratan umum suatu pesan dakwah agar dakwahnya persuasif. Ditujukan kepada siapa pun, pesan dakwah haruslah dengan perkataan yang benar. Term qaulan sadida disebut dua kali dalam al-Qur'an, yaitu dalam Surat an-Nisa ayat 9 dan surat al-Ahzab ayat 70. Yang pertama berkaitan dengan hukum waris, dan yang kedua berhubungan dengan pesan dakwah.

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar".

Perintah untuk berkata benar didahului oleh perintah bertaqwa, dan Allah berjanji bahwa berkata benar yang dilandasi oleh ketakwaan itu akan mengantar pada perbaikan amal dan ampunan dari dosa. Seorang da'i yang konsisten dengan pesan kebenaran dan didukung oleh integritas pribadinya yang mulia, dijamin oleh al-Qur'an bahwa dakwahnya bukan hanya membangun orang lain tetapi juga membangun dirinya, yakni meningkatkan integritas dirinya.

D. Da'i Sebagai Pemimpin

Secara fungsional, da’i adalah pemimpin, yakni memimpin masyarakat dalam menuju jalan Tuhan. Oleh karena itu, sudah selayaknya seorang da’i memiki sifat-sifat kepemimpinan atau leadership. Secara sosiologis, seorang da’i disamping menjalankan kepemimpianan keagamaan, dimungkinkan juga untuk menjalankan kepemimpinan dalam bidang-bidang yang lain; ekonomi, sosial, seni budaya, ilmu pengetahuan, olah raga dan sudah barang tentu lapangan hidup kekeluargaan. Secara ideal, kepemimpinan seorang da’i adalah seperti Rasulullah atau sekurang-kurang seperti Khulafa Rasyidin, yakni dapat berperan dalam semua aspek kehidupan, keagamaan, sosial kemasyarakatan dan bahkan politik.

Bagi seorang da’i bakat dan ketrampilan kepemimpinan sangat penting, ykni dlam tuganya mengembangkan motif-motif mad’u, baik motif pembawaan (biogenetis), motif yang berasal dari masyarakat lingkungan (sosiogenetis) maupun motif yang berasal dari ajaran agama (theogenetis), menjadi perilaku seperti yang dinginkan oleh visi dakwahnya. Dalam pekerjaan berdakwah, predikat atau pengakuan masyarakat mad’u atas kepemimpinan seorang da’I merupakan kekuatan yang dapat di gunakan untuk mempercepat atau memperlancar proses dakwah. Perubahan masyrakat tidak murni disebabkan oleh kesadaran yang bersumber dari lubuk hati, tetapi seringkali harus dibujuk, setengah dipaksa atau terkdang perlu dipaksa oleh suatu power untuk memahami makna suatu kebaikan. Jadi jika dalam diri seseorang da’i bergabung integritas moral yang dapat menyentuh hati masyarakat, dan power kepemimpinan yang dapat mensugesti atau setengah memaksa, maka proses dakwah akan menjadi lebih lancar, asal bukan kekautan yang menonjol sementara aspek moralnya justru kecil.

E. Pengertian Ruh, Qalb, Aql dan Nafs

Menurut al-Ghazali istilah Ruh, Qalb, Aql dan Nafs sama-sama mempunyai dua makna. Kata qalb bermakna hati dalam bentuk fisik maupun hati dalam bentuk non fisik. hati dalam bentuk fisik adalah bagian tubuh manusia yang sangat penting karena penjadi pusat aliran darah ke seluruh tubuh. darah ini pula yang membawa kehidupan. oleh karena itu nabi saw bersabda:

الآ ان فى الجسد بلغة اذا صلحت صلحت جسد كله واذا فسدت فسدت جسد كله الآ وهى القلب.

Sesungguhnya dalam diri manusia terdapat segumpal daging. jika gumpalan daging itu bagus maka akan baguslah seluruh anggota tubuh. jika gumpalan daging itu rusak maka akan rusak pula seluruh anggota tubuh. ketahuilah, gumpalan daging itu adalah jantung (Qalb).”

Berdasarkan hadits ini sebenarnya tidak tepat kalau Qalb itu diartikan dengan hati, tetapi yang tepat adalah jantung. Lalu muncul hati yang bisa sedih, suka menangis, atau suka tersinggung. Berikutnya dijelaskan bahwa hati kita inilah yang menentukank seluruh kepribadian kita. kalau hati kita bersih, akan bersihlah seluruh akhlak kita. Yang ini bukan hati dalam pengertian fisik, akan tetapi hati dalam pengertian ruhani. Oleh karena itu Kata Al-Ghazali, ada makna hati yang kedua: Lathifah rabbaniyah ruhaniyyah. (sesuatu yang lembut yang berasal dari tuhan dan bersifat ruhaniyah), lathifah itulah yang membuat kita mengetahui atau merasakan sesuatu. kata al-Qur’an, hati itu mengetahui merasakan, juga memahami. jadi hati adalah suatu bagian ruhaniyah yang kerjanya memahami sesuatu itulah Qalb.

Menurut para sufi hati juga merupakan bagian dari diri kita yang dapat menyingkap ilmu-ilmu ghaib, ada riwayat yang menyebutkan bahwa kita mempunyai dua pasang mata: yaitu mata lahir dan mata bathin, jadi hati adalah lathifah yang mempunyai mata untuk bisa melihat atau menembus hal-hal yang ghaib. Dengan hati juga kita dapat melihat tuhan, kata imam Al Ghazali, hati itu hati dapat membawa kita kepada ilmu mukasyafah yakni ilmu yang menyingkapkan hal-hal Gha’ib.

Hal itu erat kaitannya dengan ruh. Ruh juga mempunyai dua arti. ada ruh yang berkaitan dengan tubuh yang erat kaitannya dengan jantung ini, yang beredar bersama peredaran darah. Kalau darah sudah tidak beredar lagi dan jantung kita sudah berhenti ruh itupun tidak ada. Itulah ruh dalam bentuk jasmania yang terikat dengan jasad. Selain itu juga ada ruh dalam arti yang kedua yang ajaibnya definisinya sama dengan hati, yaitu lathifah Rubbaniyah Ruhaniyan Wal hasil secara abstrak atau maknawi ruh sama dengan hati. Ruh itulah yang merasakan penderitaan atau kebahagiaan. Orang barat mungkin menyebutnya mind, kita menyebutnya jiwa.

Selanjutnya adalah persoalan hati. Menurut Al-Ghazali yang menjadi perhatian kita bukanlah hati fisik, biarlah itu menjadi urusan dokter saja, yang menjadi urusan kita adalah lathifah rabbaniyah ruhaniyah adalah suatu yang sangat lembut. Tuhan juga disebut dengan Al -latif (yang maha lembut). lahtifah berarti juga lutf yang artinya anugrah. Jadi Al latif berarti dzat yang memberi anugrah.

Berikutnya adalah Akal. Ia juga memiliki dua nama. ada akal sebagai ilmu tentang sesuatu sehingga orang yang berakal adalah orang yang mengetahui ilmu tentang sesuatu, dalam makna ini, akal sama dengan ilmu. selain itu akal juga berarti sesuatu di dalam diri kita menjadi yang menjadi alat untuk memperoleh ilmu. jadi akal bisa disebut sebagai ilmu itu sendiri, dan bisa juga sebagai alat untuk memperoleh ilmu. hal itu berarti sama artinya dengan hati, latifah rubbaniyah ruhaniyah mudrikah alimah arifah. jadi bagian dari kita untuk mengetahui sesuatu disebut akal.

Alhasil ternyata tidak ada perbedaan antara ruh, hati dan akal. ketiganya sama-sama merupakan sesuatu yang merasakan kepedihan atau kebahagiaan yang tidak berkaiatan dengan jasmani. Orang dapat merasakan pedih tampa mengalami gangguan fisik, sedikitpun. tubuhnya normal tetapi mengalami kepedihan yang luar biasa. Dalam penelitian modern disebutkan bahwa yang merasalan sakit di tubuh kita sebetulnya bukan tubuh, akan tetapi ruh. Dalam dunia yang tidak modern juga, orang orang mengetahui bahwa kalau seseorang tidak mempunyai ruh, ia tidak akan merasakan sakit apapun, meski tubuhnya di kerat-kerat. Hal ini membuktikan bahwa yang merasakan sakit bukan tubuh kita, tetapi ruh kita atau qalb atau akal-dalam definisi lathif sesuatu yang merasakan kepedihan atau kebahagiaan yang tidak berkaitan dengan jasmani. Orang bisa merasa sangat pedih tampa mengalami gangguan fisik sedikitpun. Tubuhnya normal tetapi ia mengalami kepedihan yng luar biasa. Dalam penelitian modern disebutkan bahwa yang merasakan adalah lathifah rabbaniyah ruhiyyah.

Orang-orang modern mencoba membuktikan hal ini dengan hipnotis. Misalnya seseorang menghipnotis anda dan menyuruh anda tidur. Kemudian ia memberikan posthypnotic suggestion (sugesti pasca hipnotis) kepada anda, sehingga ketika bangun dari tidur, anda tidak merasakan apa-apa meskipun tubuh anda dikerat-kerat. meskipun anda sadar, anda tidak merasakan sakit sedikitpun, sebab ruh anda sudah diperintahkan untuk tidak merasakan sakit. Jadi yang merasakan sakit itu bukan tubuh kita, tetapi ruh. Yang mendengar, melihat dan merasa sakit adalah ruh. Jika ruhanda tidak mau merasakan, anda pun tidak akan merasakannya, kalau anda dikejar ular, lalu anda lari dengan cepat sehinggga menginjak pecahan-pecahan kaca, anda tidak akan merasakan sakit setelah anda selamat yakni ketika anda sudah tidak memperhatikan ular lagi, barulah ruh anda akan memperhatikan kaki anda. Semula tidak merasa, kini terasa sakit. Sebab, saat itu ruh sedang memperhatikan pecahan-pecahan kaca bukan ular lagi. Kata Imanuel Kant kalau seseorang mendengar jam, yang mendengar itu bukan telinganya. Telinganya hanya alat saja. Yang mendengar adalah ruh. Ketika sepasang manusia sedang berpacaran, detak jam dinding itu tidak terdengar lagi, begitu pacaran selesai dan mereka merenung sendirian, detak jam itu mulai terdengar oleh mereka.

Berikutnya adalah Nafs, di kalangan ulama, nafs itu bermakna dua. Pertama, nafs dalam arti jelek yakni al-hawa yang di dalamn bahasa Indonesia sering digabungkan menjadi satu, yakni hawa nafsu tugas kita adalah membersihkan hati kita dari nafsu. Hati yang bersih dari nafsu oleh Al-Qur’an disebut dengan qalbun salim, tidak akan digangu setan. Kalau kita salat lalu kita datang kepadanya dengan hati yang dipenuhi oleh makanan setan, dzikir yang kita ucapkan tidak akan dapat mengusir setan, setan akan tetap bertengger di sekitar kita. Begitu kita lengah, ia akan masuk dan bersarang di hati kita memakan makanannya, yang di antaranya adalah al-hawa tersebut.

Diceritakan bahwa sesuatu ketika setan datang kepada Ibn Al AHjjaj dan berkata, ia tidak menemukan makananya di dalam diri orang-orang salih. Ia kekurangan makanan karena orang mukmin yang slaih itu menghancurkan hawa nafsunya.

Kedua, nafs yang berarti manusia secara keseluruhan. Hakikat diri kita itu adalah nafs kita, ego atau diri kita. Dalam Al-qur’an, pengertian nafs bermacam-macam. Paling tidak ada tiga: (1) nafs ammarah, (2) nafs lawwamah, dan (3) nafs muthma’innah.

Ammarah berasal dari kata amara. Dalam surat yusuf disebutkan:

Sesungguhnya nafsu itu menyuruh (ammaratun ) berbuat jelek’ (QS 12: 53)

Ammarah artinya yang memerintahkan yang mendesahkan, atau yang mengajak. Nafsu ini merupakan nafsu dalam tingkatan yang paling rendah, nafsu yang masiih suka menyuruh orang mengikuti hawa nafsunya yang tunduk kepada ghadab dan syahwat serta sifat-sifat kebinatanganya.

Nafsu yang kebih tinggi adalah nafsu lawwamah. Jika seseorang mengetahui dirinya selalu mengikuti nafsunya, lalu ia menyesali dan mengadili dosa-dosanya, itulah yang disebut nafsu lawwamah Allah bersumpah dengan macam pengadilan:

Aku bersumpah dengan hari kiamat dan aku bersumpah dengan nafsu lawamah”, (QS 75: 1-2).

Kata Murthadha Muttahhari, ada tiga macam pengadilan, berurutan dari yang paling tidak adil hingga yang paling adil. Pengadilan yang paling tidak adil adalah pengadilan di dunia. Mungkin pengadilan di dunia ini merupakan pengadilan yang paling banyak tidak adilnya. Sebab di sini keadilan diukur dengan seberapa kuat atau lemahnya seseorang. Lalu ada pengadilan yang agak adil, yakni pengadilan hati nurani, yang disebut nafsu lawwamah. Diri kita menjadi hakim yang mengadili, yang membuat kita gelisah. Di situ tidak bisa lagi berbohong. Akan tetapi nafsu Lawwamah ini hanya bisa mengecam saja. Ia tidak bisa menjatuhkan hukuman kepada seseorang yang bersangkutan. Oleh karena itu, ada pengadilan yang paling adil, yaitu pengadilan hari kiamat. Di situ orang tidak bisa bersdusta dan tidak bisa menghindar lagi. Di situ juga akan ditetapkan hukuman yang seadil adilnya. Tidak ada satupun orang yang luput dari pengadilan tuhan. Itulah pertama kali Allah bersumpah dengan hari kiamat.

Yang terakhir, yakni diri yang paling tinggi adalah diri sesudah tunduk kepada kehendak Allah, yang sudah meninggakan hawa nafsunya. Diri itulah yang kelak ketika kembali kepada tuhan hanya akan disapa dengan penuh kemesraan:

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kamu kepada tuhanmu dengan perasaan rela dan direlakan (QS 89: 27-28)

Nafsu muthmainnah adalah orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.

F. Hadist -hadits tentang Hati

Qalb mempunyai dua makna: Qalb dalam bentuk fisik dan qalb dalam bentuk ruh. Dalam arti fisik, Qalb dapat kita terjemahkan sebagai “jantung”. Dalam hubungan inilah Nabi Saw. bersabda, "Di antara tubuh itu ada mudghah, ada suatu daging; yang apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh itu. Ketahuilah mudghah itu adalah qalb.”

Orang sering menerjemahakan qalb disini sebagai “hati”, sehingga mereka berkata, "Kalau hati kita ini bersih maka seluruh tubuh kita bersih.” Padahal sebenarnya yang dimaksud disini adalah hati dalam bentuk jasmani. Karena Nabi Saw. menyebutnya segumpal daging.

Ada seorang penulis Mesir yang menulis sebuah buku tentang kedokteran islam. Dia merujuk hadis ini untuk menunjukan peran jantung dalam seluruh mekanisme tubuh kita. Bagaimana kalau tubuh kita mengalami gangguan? Apakah yang akan segera terjadi pada bagian tubuh yang lain. Dan bagaimana pula kalau jantung kita ini baik, maka apakah yang akan terjadi pada seluruh bagian tubuh ini?

Itulah yang dimaksud oleh Rasululah bahwa di dalam tubuh kita ada segumpal daging yang apabila daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuh dan apabila rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Dan segumpal daging itu adalah al-qalb, jantung dalam bentuk fisik.

Ada juga qalb dalam arti kekuatan ruhaniah yang mampu melakukan peng-idrak-an. Idrak adalah memahami, mempersepsi dan mencerapi. Misalnya perasaan sedih dan gembira.yang berpikir dan yang merenungkan itu kekuatan batin yang disebut qalb. Dan ini dalam bahasa indonesia disebut hati. Sehingga kalau ada sebutan, "Hatinya hancur,” maka yang dimaksud bukan jantungnya hancur tetapi ada bagian jiwa orang itu yang hancur.

Ketika Nabi mengatakan, Ada segumpal daging dalam tubuh,” Nabi juga melambangkan peran hati dalam kesehatan jiwa. Sebagaimana jantung memegang peranan penting dalam kesehatan tubu, maka begitu pula hati. Ia memegang peranan amat penting dalam kesehatan ruhani kita. Kalau hati kita rusak, maka seluruh ruhani kita rusak; dan kalau hati kita baik, seluruh ruhani kita baik.

Banyak hadits nabi yang membicarakan qalb ini. Di antaranya, Rasulullah Saw. mengatakan bahwa “Qalb ini karena sifat berubah-ubahnya bagaikan selembar bulu dipadang pasir yang bergantung pada akar pepohonan kemudian dibolak-balik oleh angin dari atas kebawah “.8

Ketika Rasulullah menggambarkan hati itu seperti selembar bulu yang tergantung di atas pohon yang ditiup angin, beliau mengingatkan kita agar berhati-hati menghadapi perubahan itu. Karena itu, ada do’a yang diajarkan Nabi untuk mengokohkan hati, yaitu “Teguhkanlah hatiku dalam agama-mu”.

Dalam pertanggung jawaban yang berkaitan dengan amal manusia, Allah menghukum bukan hanya amal lahiriyah dalam bentuk perbuatan yang jelek tetapi juga niat yang jelek yang tersembunyi dalam hati. Al-Qur’an mengatakan: Allah mennghukum kamu dengan apa yang dilakukan oleh hati kamu (QS 2:225).

Dalam ayat lain disebutkan

Browser Anda mungkin tidak bisa menampilkan gambar ini.:

"Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati kamu akan dimintai pertanggungjawaban (QS 17:36)

Jadi, jangan mengira kalau kita punya niat yang jelek itu tidak dimintai pertanggungjawaban. Itu juga dihukum.

"Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan". (QS 2:27)

Jadi, termasuk niat yang ada dalam hati pun akan di hitung Allah Swt Oleh karena itu, berhati-hatilah dengan niat itu.

Dalam suatu perjalanan yang panjang dengan udara yang panas, para sahabat kelelahan. Waktu itu Rasulullah mengatakan, “Ada orang yang tinggal di Madinah dan tidak ikut berangkat dengan kita tetapi ia mendapatkan ganjaran seperti ganjaran amal yang sedang kita laksanakan”. Ketika para sahabat bertanya,:”Mengapa?” Rasulullah menjawab, “Karena dia telah berniat pergi bersama kita, tetapi karena uzur yang tidak dapat ditolak, dia tidak bisa berangkat bersama kita, dan Allah membalas mereka semua dengan niatnya.”

Bila ada laki-laki menikah dengan mahar yang tidak dibayar kontan, sedangkan ia berniat dalam hati untuk tidak membayarnya, maka Allah menghitung laki-laki tersebut berzina. Kalau ada orang meminjam uang kemudian dalam hatinya ada niat tidak mau membayar, Allah menghitungnya sebagai pencuri. Dari sini Allah menghukum seseorang berdasarkan niat yang bergetar didalam hati, karena niat itu letaknya di dalam hati.

Marilah kita melihat apa peranan hati didalam ruhani kita menurut beberapa riwayat : Rasulullah Saw. bersabda : “Hati itu bagaikan raja, dan hati itu memiliki bala tentara. Apabila raja itu baik, maka baiklah seluruh bala tentaranya, dan kalau hati itu rusak, maka rusaklah seluruh bala tentaranya”.9

Imam Ja’far Ash-shadiq juga mengatakan, “Sesungguhnya posisi qalb sama seperti pemimpin ditengah-tengah manusia.” Dalam hadits lain disebutkan, “Sesungguhnya Allah punya wadah dibumi dan wadah itu adalah hati. Maka sesungguhnya hati yang dicintai oleh Allah adalah hati yang lembut, yang bersih dan yang kokoh.” Kemudian Nabi melanjutkan, “Yang paling lembut adalah yang lembut terhadap sesama saudaranya, dan yang bersih adalah yang bersih darri dosa-dosa, sedangkan yang kokoh adalah keteguhan seseorang dalam membela agama Allah sedang dia tidak takuk celaan orang yang mencelanya”

Dalam riwayat lain, nabi SAW bersabda, “Allah tidak melihat tubuh tubuh kamu, Allah tidak melihat harta- harta kamu tetapi Allah melihat hati dan amal amal kamu.” Disebutkan dalam hadits yang lain, “Hati ada tiga macam. Pertama, hati yang terbalik, yaitu hati yang tidak bisa menampung kebaikan sedikitpun dan itu adalah hati orang kafir.

Kedua, hati yang di dalamnya ada titik hitam, yang di dalamnya bertarung antara kebaikan dan kejahatan. kalau salah satu kuat, maka yang kuat itulah yang menang.

Ketiga hati yang terbuka yang di dalamnya ada lamppu yang bersinar sinar sampai hari kiamat. itu hati orang mukmin. Kami jadikan baginya cahaya, yang dengan cahaya itu dia berjalan di tengah tengah ummat manusia (QS. 6:122).”

Imam Ali mengatakan: "Hati yang paling baik adalah hati yang paling bisa menyimpan kebaikan.”

1. Perubahan hati

Qolb adalah masdar dari qalaba, artinya membalikan, mengubah, mengganti. Kata kerja intransitif dari qalaba adalah taqallaba, artinya bolak-balik, berganti-ganti, berubah-rubah.”Summiya al-qalb li taqallubih” 'disebut qalb karena berubah-rubahnya.' Imam ja’far Ash-Shadiq menyebutkan hati itu ada empat.

a. Hati yang tinggi

Tingginya hati ini ketika zikir kepada Allah Swt. Kalau orang senantiasa berzikir kepada Allah hatinya akan naik ke tempat yang tinggi.

b. Hati yang terbuka

Hati ini diperoleh apabila kita ridha kepeda Allah Swt. Ketiga, hati yang rendah, terjadi ketika kita disibukkan oleh hal-hal yang selain Allah.

c. Hati yang mati atau hati yang berhenti

Hati ini terjadi ketika seseorang melupakan Allah Swt. sama sekali. Oleh karena itu, untuk menjaga agar hati kita selalu hidup, maka ingatlah kepada Allah Swt. Dalam salah satu hadis dikatakan, "Kalau hati tidak diisi dengan zikir, maka ia bagaikan bangkai.”

Dalam surat Asy-Syu’ara ayat 87-89 dan Ash-shffat ayat 83-84 di sebutkan hati yang selamat, bersih atau suci qalbun salim. Allah berfirman:

Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka di bangkitkan.(yaitu)di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna.Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (QS26:87-89).

Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongan (Nuh).(ingatlah)ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci (QS 37:83-84).

Nabi pernah ditanya tentang apa yang dimaksud qalbun salim ini, kemudian Nabi menjawab, "Itu keyakinan agama yang tidak dicampuri dengan keragu-raguan hawa nafsu.” Mungkin sulit untuk dapat menggambarkan keyakinan itu.Tetapi,ada penelitian yang pernah saya ceritakan dalam buku Islam Alternatif yaitu penelitian Gordon W. Allport. Seperti Anda ketahui, di situ disebutkan ada dua macam cara beragama yaitu intrinsik dan ektrinsik. Mula-mula Alport mengadakan penelitian tentang hubungan orang yang beragama dengan kesehatan jiwanya. Ada anggapan makin beragama orang itu makin sehat jiwanya.yang. Menurut Alport, harus di tentukan dulu adalah tipe orang beragama itu. Kalau beragama itu diukur dengan beberapa banyak datang ke masjid atau ke gereja, keberagamaan tidak menjamin kesehatan jiwa.

Karena sering sekali orang datang ke gereja, dalam penelitian Alport, bukan karena keyakinan tetapi karena hawa nafsu. Mungkin seseorang datang ke gereja ingin memperoleh pasangan, ingin mendapat pengakuan sosial, atau menjalin relasi bisnis.

Agama seringkali dipakai sebagai tempat pelarian.orang lari kepada agama untuk memperkokoh harga dirinya, ada yang karena frustrasi akibat pergumulan hidup. Ia menemukan satu aliran agama yang menawarkan apa yang di carinya. Itu keberagamaan ektrinsik. Bagaimana beragama yang intrinsik. Rosululloh Saw. Menyebutkannya, “Keyakinan yang di masuki hawa nafsu." Beliau bersabda, "qalb yang selamat adalah keyakinan yang tidak dimasuki keraguan dan hawa nafsu.” Di sini orang yang beramal tanpa berkeinginan untuk pamer dan ingin dipuji.

Allah Swt.berfirman:

"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram (QS.13:28).

Dalam ayat itu disebutkan bahwa cara memperoleh ketenteraman hati adalah dengan berzikir kepada Allah, tetapi tidak semua zikir itu menenteramkan hati. Karena itu, syarat zikir yang dapat menenteramkan hati adalah zikir orang yang beriman. Orang yang tidak beriman tidak bisa tenteram dengan zikir. Sebaliknya, orang yang beriman tidak akan tenteram hatinya kecuali dengan zikir kepada Allah.

Karena itu, kalau anda beriman jangan mencari ketenteraman pada kekayaan, kemasyhuran, atau hal-hal duniawi lainnya. Tetapi ketenteraman itu hanya di peroleh dengan zikir kepada Allah.

Ketenteraman ada kaitannya dengan keimanan seperti dijelaskan dalam surat Al-Fath ayat 4:

"Dialah yang telah menurunkan ketenteraman ke dalam hati orang-orang Mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)...(QS. 48:4).

Allah menurunkan ketenteraman kepada hati orang yang beriman. Ketenteraman hati itu tampak dari gejala fisik mereka. Ada orang yang bertingkahlaku qurani dan ada pula manusia yang bertingkah laku syaithani. Orang yang tenteram menunjukan perilaku qurani.

Di Iran sesudah revolusi, ada banyak ulama yang mati ketika menyampaikan khutbah. Orang yang mati itu dinamakan syahid mimbar. Pada suatu waktu ketika khatib menyampaikan khutbah di sekitar mimbar meledak sebuah bom. Beberapa orang terpental. Kebetulan khutbah itu direkam dalam televisi, sehingga dapat disaksikan ulang. Termasuk tingkah laku khatib. Anehnya, khatib itu tenang saja, tidak memiliki rasa takut sedikitpun, seperti terlihat dari raut wajahnya. Beliau hanya memalingkan mukanya sedikit untuk menghindari seburan debu dari arah ledakan tadi. Setelah selesai ledakan, khatib melanjutkan khutbah lagi. Inilah contoh tingkah laku yang qurani, yang tumbuh dari zikir kepada Allah.

Ada tingkah laku lain. Segera setelah imam Khomaeni meninggal dunia, Salman Rusdie ditanyai oleh seorang wartawan surat kabar, "Apakah rasa takut anda tenang hukuman mati dari khomaeni ini dilebih-lebihkan orang? "Dia menjawab, ”ya.” Artinya,ungkapan Salman Rushdie itu dilebih-lebihkan orang. Ia sebetulnya tidak takut sama sekali. Tetapi begitu Salman Rushdie mengucapkan jawaban, ”ya,” di luar Gedung ada sebuah mobil naik ke trotoar dan kebetulan knalpotnya meledakkan letupan seperti tembakan.Waktu itu tubuh Salman Rushdie menggetar ketakutan. Wartawan yang menyaksikan itu mengatakan, "Ini menunjukan seluruh kehidupan Salman rushdie dipenuhi oleh rasa takut yang berkepanjangan.”

Saya menceritakan dua peristiwa ini untuk menunjukan tentang adanya dua macam tingkah laku itu. Yaitu tingkah laku yang dipenuhi oleh zikir kepada Allah dan tingkah laku yang di penuhi dengan rasa was-was.

Contoh lain, Abul A’la A-Maududi berkhutbah. Pada waktu khutbah ada sebuah tembakan diarahkan ke wajahnya. Semua jamaah tiarap menghindar dari tembakan itu, tetapi Maududi tetap di mimbar. Orang menyuruh beliau bertiarap tetapi Maududi menjawab, "Kalau aku ikut turun, siapa lagi yang akan berkhutbah di sini.”

Hati itu adalah ibarat bejana, selama bejana itu dipenuhi dengan air, maka udara tidak akan bisa masuk. begitu juga hati yang disibiukan dengan hal-hal selain Allah, maka tidak akan dapat masuk kedalam hati tersebut perasaan ma’rifat akan keagungan Allah ta’la. maka untuk menyibukan hati tersebut kita perlu memenejnya dengan penuh ketelitian sehingga sesuatu yang datang dari luar yang sifatnya akan menghancurkan hati kita akan tertolak dengan sendirinya.

Apabila syeitan-syeitan itu tidak mengerubungi hati anak adam, niscaya mereka memandang ke alam malakut yang ada di langit.

2. Manajemen Qalbu

Manajemen Qalbu berarti memenej Qalbu yang merupakan tempat bersemayamnya niat, yakni menentukan apakah perbuatan seseorang berharga atau sia-sia, mulia atau nista. Niat itu selamanya diproses oleh akal pikiran agar bisa direalisasikan dengan efektif dan efisien oleh jasad kita dalam bentuk perbuatan. Setiap keinginan, perasaan atau dorongan apapun yang keluar dari dalam diri akan terasing niatnya hingga melahirkan suatu kebaikan dan kemuliaan serta penuh manfaat, dan dapat merespon segala bentuk aksi, apakah itu perbuatan baik atau buruk secara proporsional.10

Respon yang terkelola dengan sangat baik akan membuat reaksi yang dikeluarkan adalah kemuliaan dan kemanfaatan. Dengan kata lain, aktivitas lahir dan pikirannya telah tersaing sedemikian rupa oleh proses manajemen Qalbu. Maka yang muncul hanyalah sikap yang pemuh kemuliaan dengan pertimbangan nurani yang tulus. Intinya orang yang mengamalkan manjemen Qalbu adalah orang yang sangat peka dalam mengelola sekecil apapun potensi ataupun kehadiran menjadi sesuatu yang bernilai kemulian dan manfaat yang tinggi bagi dirinya maupun makhluk lainnya.

Pelatihan manajemen Qalbu merupakan pelatihan yang menanamkan sebuah paradigma baru dalam mengarungi kehidupan, yaitu dengan upaya memenej potensi qalbu, di mana peserta akan lebih memahami dan menghayati arti pentingnya nilai-nilai yang hakiki yang perlu dipegang dan diamalkan dalam kehidupana sehari-hari di rumah, pekerjaan maupun dalam lingkungan masyarakat. Dan menjadi orang yang sangat peka dalam mengelola sekecil apapun potensi atau kejadian-kejadian menjadi sesuatu yang bernilai kemuliaan dan manfaat yang tinggi bagi dirinya maupun makhluk lainnya.








Tidak ada komentar: