Selasa, 04 September 2007

novel kematian 3

tapi, hari-hari disii dengan kemurungan, sofa bambu, rumah minimalis damrak tumpukan buku sekarng tidaklagi menarik, tidak sperti 4 bulan lalu, ia memerlukan permaian baru yang menghangatkan kehidupannya.
Tidak ada lagi, ia melihat anak-anak sudah punyakehidupan sendiri. buku-buku filsafat dan motivasi telah berulang kjali dibaca, tetapi sekrang tidak cukup tenaga untuk menyinari hiduponya

ayah,aku ingin memberli buku baru?
ayah, aku ingin punya kartu kredit?

aku sendiri, sekarang mengalami yang tidak pernah dialami orang lain, aku merasakan sesuatu yang baru, dan ini tak kuduga?
kata delaweh kepada sahabat dekatnya. ia tidak memperhatikan bahwa ia juga sedang perlu uang


sementar a tiu dikontrakan sebelahny aseoang mahasiwa yang didrop out, sedang kebingunan, tapi ia tampak tegar dan kuar.
tapi anak itu rajin berolah raaga, setiap hari selama 25 menit ia selalu melakukan senam, ia berlahri-lari megenlili rumahnya, melakukan peregangan tangan, kaki, menahan napas, berputar, kepala dan itu cukup membuat diirnya selalu dalam keadaan bugar dan segar.

Sang bapak memperhatikan usuiny ayang menjelang 45 tahun yang ia usia yang cupu pajnang dan melelahakn. Ada guratan kekecewaan atas raihan dunia dan itu tidak bisa ditutupi dengan ide-ide brilianya atau mimpi-mimpi besarnya.


apa arti hidup? nak
hidup adalah menikmati yang ada sekarang?

Koran nasional hari sabtu ini secara besar-besaran memuat tragedi kecelakaan pesawat terbang yang menewaskan 200 penumpang, 30 orang diantaranya adalah anak-anak kecil.

KEmatian itu tidak pernah menghampirinya, hanya menakut-nakutinya. yang paling ditakutkan adalah kematian di tempat-tempat yang sepi, kematian di tengah-tengah kerumunan masa, dalam keadaan berdesak-desakan. dan tidak ada yang akan memberitahu, selalu tiba-tiba dan mengandung misteri.

Tidak ada komentar: