Selasa, 25 September 2007

tambihan for jurna; dll

Dorongan terbesar untuk merayakan perbedaan kultural dalam wacana postkolonialisme bisa saja disebabkan oleh rasa putus asa yang berlebihan, akibat besarnya kekuatan imperalis. Jika modernitas adalah lawan, maka bentuk representasi kultural dan sosiologis lawan tersebut adalah Barat.
Besarnya kekuatan institusi-institusi modernitas seperti kapitalisme, industrialisme, pengawasan, dan militer tidak memberi ruang seluas-luasnya untuk melakukan perlawanan, sehingga modernisasi cepat atau lambat akan menyentuh wilayah manapun di bumi ini.

Globalisasi pun—sebagai proyek mutakhir kapitalisme—menyentuh segala lini kehidupan, sampai ruang publik dan ruang privat dideterminasi oleh kepentingan-kepentingan pasar. Proses simulasi yang membuat realitas sesungguhnya sebagai imajinasi yang paling nyata hasil konstruksi kekuatan media. Globalisasi tidak hanya dicirikan oleh aliran modal yang mendobrak batas-batas negara, tetapi seperti yang digambarkan di atas justru semakin radikal ketika globalisasi mampu menusuk dan menghancurkan jantung kebudayaan masyarakat.





proyek mutaakhir kafitalsima bisa mmelsam membajiri semua ruang bahkwan ruang privasi sekalipun dan inilah lebh lagio menajdi melunur ke ruang otak dn imajinasi

Paradoks Diri

Sekarang! idealisasi-idealisasi apapun yang berlindung dibalik kendali moral dan agama sedang terancam dan hidup dalam kebimbangan. Pertentangan dramatis antara realitas dan idealitas. Menemukan diri hidup dalam ruang publik yang distortif dan berlawanan dengan citra ideal. Keyakinan religius yang penuh dengan citra-citra ideal terpaksa berdampingan dengan penanda-penanda yang terseksualisasikan.

Mungkin inilah paradoks diri. Kebimbangan dan kegamangan untuk mencari kesesuaian mengadaptasi diri. Hidup, pada saat yang bersamaan di dua dunia yang berbeda, sehingga pilihan menjadi konservatif termasuk salah satu pilihan alternatif yang pincang.

Pilihan menutup diri sebagai langkah terakhir bisa saja menjadi solusi terakhir, akibat sulitnya menemukan sintesa-sintesa kreatif. Tapi, bagaimanapun modernitas tidak pernah tinggal diam. Senantiasa meracuni, mengaburkan kepribadian dan keotentikan sendi peradaban lainnya.



betapa dasyatnya kekuatan dan domninasi imperialis bahwkan mereka menyurun progarma dan mediasi untuk menyetuh kepada imajinasi, salah satu dampak budaya kolonialisme adalah merusak imajinasi.

Tidak ada komentar: