Rabu, 31 Oktober 2007

anak-anak muda tidak ada yang ngurus?

orang lebih senang dengan simbol, kulit dan hal-hal yang terlihat oleh panca indera, tetapi kurang sadar dengan esensi, ini mungkin penyakit sebagian besar manusia yang lebih terkesima dan terpukau dengan hal-hal yang lahiriyah (eksoteris) dan kurang bergairah dengan esensi. Karena itu kalau kita analisa mengapa ayat-ayat yang mengandung tema-tema untuk ahli lahiriyah begitu berserakan dimana-mana, sementara ayat-ayat yang mengandung tema-tema yang mendalam, esoteris tidak gampang ditemukan di setiap surah.
mengapa ajaran-ajaran dari langit tampak kurang berhasil di indonesia lebih istimewa di lapisan anak-anak remaja dan anak-anak muda? ya karena para mubalig umumnya tidak memahami esensi dari dakwah itu sendiri, dakwah direduksi sekedar formalitas tanpa pendekatan yang maksimal apalagi sampai dari hati ke hati, sebab hati adalah sumber pengetahuan yang memiliki kualitas meyakinkan.

ikhtiyar

seorang salik sejatinya tidak mengizinkan dirinya memiliki ikhtiyar, ia memilih ikhtiyar allah, ia mendahulukan ikhtiyar Allah dibanding ikhtiar dirinya. Ia rela melepaskan semua keinginan-keinginan ia membukakan jiwanya agar hanya Allah saja yang meniupkan ikhiyar kepadanya. manusia biasa tentu keberatan untuk mengabaikan keingian , angan-angan atau cita-cita apalagi kalau itu sudah ada di depan mata. ia sudah menyatu dengan keingiannya sendiri. karena keinginan adalah bagiadan dari dirinya, tetapi kalau keingian yagn menguasai seseorang apakah ia bisa mendobrak dominasi tersebut, sangat sayang untuk dilepaskan keberhasila, kesuksesan yagn memang sejak lama diimpikan, namun bisakan seseorang memastikan bahwa keingina itu adalah keinginan yang sejati?
menureut DR Mulyadi kartanegara yang menukil dari kitab karyat al-kindi tentang seni menepis kesedihan, bahwa oragn yagn memiliki banyak keinginan harus siap-siap menanggung resiko kesedihan, karena keinginan adlaah sumber penderitaan.

jadi supaya kita tidak meraskaan kesedihan kita harusmenyederhakan keinginan-keinginan, orang-orang buda melakukan sesuatu yang radikal dengan membunuh keinginan itu sendiri, jadi karena manusia bisa dikuasai oleh keinginan dan keingina menyeret manusai pada macam-macam petualangan dan penantian harapan.

Amatullah amstrong mengartkan ikhtiyar demikian, ikhtiyar adlaah lawan dari idhtirar
(keterpaksaan). malaikat hanya memiliki ikhtiyar, sementara manusia memiliki ikhtiyar dan idhtirar, arif adalah orang yagn mengetahuia dan mengenal Waktu. oleh karena itu dia mengetahuai bahwa allah adalah waktu itu sendiri. allah memberikan kepada arif ini kebebasan memilih dan pengetahuan spontas dalam setiap saat dan setiap tarikan napas, sang arif dan pencita ini akan mereguk pengetahuan dari al-Hayy dan minum dari air kehidupan yang senantiasa segar dan baru (lihat khazanah istilah sufi, kunci memasuki dunia tasawuf, amatullah armstrong).


hafiz berkata
borha gufte am wa bor degar miguyam ke man delsyadeh in roh nah in khud mi puyam (berkali-kali kuucapkan dan lain kali lagi aku akan menyatakan bahwa saya kecewa dengan jalan in dan juga bukan jalan yang sedang saya tempuh)


imajinasi

saya mulai dengan meminjam ilustrasi sayid kamal haidari, tentang kekuatan waham yang dapat mendominasi akal, yaitu ketika seseorang yagn waras tidur di samping mayat, akalnya menegaskan bahwa mayat tidak mungkin hidup lagi dan tidak mungkin mengganggu atau bangkit, logika merespon tetapi waham menghancurkan akalnya, dengan meniupkan perasaan yang diekspresikan jangan-jangan ia hidup lagi, jangan -jangan ia akan melakukan sesuatu yang buruk terhadap saya.

Imajinasi, karena imajinasi kita tertarik melakukan suatu aktifitas, imajinasi dirampas oleh kekuatan yang hasil dari imajinasi juga. Bukankah banyak yang bisa diimajinasikan membuat kita buta dengan aktifitias sejati.

Hidup dalam imajinasi, tidak real.

Keputusan sehari-hari tidak mungkin tanpa bantuan imajinasidengan imajiani kita menyehatkandan menyegarkan pikiran. Imajinasi adalah juga subkesadaran yang membuat kita terkekang dan juga membebaskan. Kalau kita mengimajinasi bahwa kita akrab maka akrablah, tetapi sampai kapanitu bertahan

Imagination, because of having freedom from external limitations, can often become a source of real pleasure and unnecessary pain. A person of vivid imagination often suffers acutely from the imagined perils besetting friends, relatives, or even strangers such as celebrities. Also crippling fear can be seen as taking an imagined painful future too seriously.

Imagination can also produce some symptoms of real illnesses. In some cases, they can seem so "real" that specific physical manifestations occur such as rashes and bruises appearing on the skin, as though imagination had passed into belief or the events imagined were actually in progress. See, for example, psychosomatic illness and folie a deux.

It has also been proposed the the whole of human cognition is based upon imagination. That is, nothing that we perceive is purely observation but all is a morph between sense and imagination.

Perlawanan terhadap imajinasi-imajinasi yang tidak genuine dan otentik

Ada fenomena memori yang bisa membuat manusia sakit, dan kalau ia terus mengingat terus maka seperti melukai diirnya, karena itu salah satunya adlaah memita bantuan kepada lupa, apakah seorang manusia bisa menahan imajinasi atau ingat? Bukankah ingatan bagaian dari imajinasi, ingatan itu bisa memperkuat imajinasi, karena yagn lalu bukankah tidak akan mengenai masa dpean tapi dengan imajiasi maka kita terbaw ke masa lalu itulah negatif imajianasi bisa membaw amanusia ke mana-mana, padahal kelamah perspektif manusia terhadap dirinya itulah yang salah?

Kemampuan adaptasi adalah bagian dari kecerdasan eksistensial manusia,

Teteapi bukankah manusia tidak bisa melompat dengna imajinasinya? Imajinasilah yagn menciptakan karya0karya beasar dan peradaban?




Adalah Prof. Kazuo Murakami, seorang ahli genetika, dalam bukunya The Divine Message of The DNA yang kemudian membuka wawasan saya lebih luas. Ternyata menurut ilmu genetika memang betul, segala sesuatu yang merupakan "bakat" ditentukan oleh kode genetis yang ada dalam DNA kita. Sebagai gambaran, setiap kilogram tubuh kita terdiri dari sekiar 1 trilyun sel. Jadi seorang bayi yang baru lahir sudah memiliki sekitar 3 trilyun sel. Padahal awalnya kita hanyalah satu buah sel yang sudah dibuahi. Yang kemudian membelah menjadi 2, 2 menjadi 4, 4 menjadi 8 dan seterusnya hingga trilyunan tadi. Setiap sel memiliki inti sel (nucleus) yang mengandung DeoxyriboNucleic Acid (DNA). DNA inilah yang menyimpan kode genetis yang menjadi cetak biru tubuh kita. Jadi akan menjadi seperti apa kita, seolah sepertinya sudah terprogram dalam DNA tadi.


Lalu jika dalam setiap sel tubuh kita terdapat DNA yang sama, bagaimana sebuah sel tahu bahwa ia adalah bagian dari rambut, misalnya, dan kapan rambut mulai tumbuh, dsb. Menurut pakar genetika, ternyata terdapat mekanisme "nyala/padam" pada DNA tadi. Sebagai contoh, gen yang menentukan sifat kelamin laki-laki (berkumis, bersuara berat, dsb) yang semula "padam" akan "menyala" pada saat pubertas.


Bahkan, lebih jauh lagi. Proses nyala/padam tadi ternyata dapat terjadi sebagai respon lingkungan yang berubah. Dua ilmuwan dari Institut Pasteur mengamati hal ini. Bakteri E.Coli yang hanya mengkonsumsi glukosa, ternyata ketika ditempatkan pada lingkungan yang hanya ada laktosa, mampu merubah diri menjadi pemakan laktosa.
Mekanisme internalnya sangat ajaib, karena bakteri adalah makhluk satu sel. Sehingga perubahan menjadi pemakan laktosa seolah-olah seperti menyalakan sebuah kemampuan yang semula tidak nampak.


Dan ini membawa konsekuensi luar biasa. Karena jika benar gen pembawa sifat tadi memiliki mekanisme nyala-padam seperti itu. Kita tidak pernah tahu potensi apa dalam diri kita yang saat ini belum kita nyalakan. Jangan-jangan saya juga memiliki bakat bermain saksofon sebagus Dave Koz, hanya saat ini belum dinyalakan saja. Atau jangan-jangan ada bakat bisnis sehebat Donald Trump yang masih terpendam dalam diri saya, dan menunggu dinyalakan?

Jangan tertipu oleh kebaikan-kebaikan diri, tapi harus lebih terpacu

Ada yang menipu kita . kebnaikam kita merasa baik jadi tenang saja,kedua komuitas kaerna orang-orang disekitar anda jujg abiasa-biasa maka anda juga terkondisikan,kedua ilmu anda merasa terus berkembang berarti anda sebenanry amaju, dan ketiga anda merasa tidak ternacam, tidak ada kejadian luar biasa yang anda rasakan



saya tertarik dengan plato yagn beranggapan bahwa filsafat harus mengabdi para kemanusiaan. ia seseorang yagn mengambnil inspirasi sehari-hari dan dari hal yang sederhana menjadi tema-tema filsafat besar.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

jangan begitu lah,
nanti para ulama sakit hati