Senin, 19 November 2007

celoteh dan filsafat barat

Celoteh hati

Mengapa harus down karena pagi, harus keluar rumah, mengapa harus memvonis diri tidak berdaya perhari? Padahal kelak akan bangkit lagi, mengapa? Mengapa hadip lebuih santai dnegan biasa-biaa saja, apa yang terjadi dnegan banglades, mengapa 2 ribu oragn harus mati sia-sia? Mengapa negeri islam danmiskin yang banyak menderita? Didera bom, banjir, kemacetan, pergolatakan politik? Mengapa seperti neraka saja?

Mengapa ada esensi dan eksistensi? Mengapa ada rasa malu kepada beberapa orang teman ? mengapa tidak sempat menulis ? mengapa lambat membuat acara budaya dan motivasi ? apa yang melambatkan diriku? Mengapa harus ada beban ketakutan, apa perbedaan antara malam dan siang hari ?

Kapan aku mulai punya warung ? kapan aku membuka pelatihan, seminar, kursus dsb ?

Celoteh hati

-Dengan apa pikiran dikuasai ternyata tidak dengan logika saja tapi juga dengan imajinasi. Dengan seni, dengan bahasa, dengan filsafat.

-Masalah muncul, geng muncul, anak-anak harus segera dirawu.

-Jadi ada ilmu teori dan ilmu amali, islam itu selain wacana juga amal, dan amal itu tidak sempurna kecuali dengan amal. Ya islam memiliki dimensi empiris, seperti fikih, filsafat mungkin wacana dan teori nah dimensi amal ini, bukan saja akhlak tapi amal secara umum, misalnya ibadah, marak aliran sesat (tanda kutip) mungkin karena umat ini belum maksimal dalam ilmu amal, ilmu teori belum tentu menuntu kepada wawasan lewat amal, dan amal yang tanpa teori bisa mengaburkan pandangan, jadi ada semacam ketimpangan, dan mispersepsi, serta singularitas, ada yang bolong di dasar, di tengah , di sisi, di atas dan dibawah?

- Menurut Katrechko, imajinasi merupakan struktur fundamental fakultas kesadaran. Karenanya, imajinasi mempunyai peran mendasar dalam menyokong aktivitas-aktvitas penyadaran sekaligus ikut mempengaruhi fakultas-fakultas lain manusia. Adapun kesadaran imajinatif tersebut termanifestasi dalam kajian filosofis (wacana rasionalitas).[1] Austin. Time Line Assignment: The Intersection of Biography and History, http//www.uwgb.edu/Austin/course/rm/imagination

- sibuk kepada selain tuhan, mengapa hati suka iqbal dan hati jadi kalah dengan pesona yang menghiasi akal, betapa mudah hati tertarik dengan yang lain seperti ilmu,belajar, gembira dengan penemuan demi penemuan dan lupa kepada allah?

- asik ibadah lupa kepada ma’bud, mungkinkah? Yang penting itu amal dan ibadah sehingga menemukan tuhan dan menemukan diri, bukan asik dengan tuntutan nafs! Apakah manusia perlu pucat pasi, perlu merasa tergetar, merasakan kelemahan, dengan ketakutan metafisika?

- apakah suara itu materi, rasa ikan bakar, bau harum makanan, itu materi juga?

- mengkonsep imajinasi orang lain? Konsep dan realita? Apa hubungannya?

- alangkah nikmatnya bila tidak pernah takut, tidak pernah khawatir, tidak risau, tidak gelisah, tidak cemas, tidak sukar, tidak bosan, walaupun hanya di hati? Benarkah, tidak terpengaruh oleh situasi dan keadaan, selalu optimis, ceria, riang, percaya diri, hangat, tidak ada perasaan-2 negatif itu mungkin? Apakah hati seperti itu?

- ya, di islam itu ada ilmu amal dan ilmu teori, ilmu amal itu harus dibuktikan dengan amal ? empirisme?

- yang di luar dan di dalam? Mind bisa merekam image partikular juga universal, yang partikular bisa ada ekstensinya, yang universal tidak ada ekstensinya ? apakah mungkin dipikiran partikular di luar universal konsep, seperti dipikiran kursi tapi di luar kursi secara universal, matematika ? angka, 4, 5, 9 ada di luar ? atau sebaliknya, siapa yang duluan, ada jugakonsep yang tidak ada di luar, seperti partner of god ? ilat malul, jauhar, ardh, kaifiyat, kamiyah, kuantitas, kualitas, ?

- menurut penelitian , semakin tinggi pendidikan, semakin rentan terhadap kepikunan, memori hilang, jika hilang apa yang kita ketahui, apakah hilang agama kita juga ? apa yang akan terjadi, hilang konsep ? hilang pengertian,misalnya saya ini bisa idup karena saya ingat saya harus bekerja, lapar mungkin tidak perlu ingat, di tingkat minimal, saya ingat dasar-dasar filsafat epistemologi, ontologi, aksiologi jika dasar-dasar tu hilang, saya akan heran mengapa saya harus membicarakan ibnuarabi misalnya, mulla shadra misalnya ? apakah itu bencana ? mengapa ilmu cape dicari dan mahal dan memiliki kontribusi terhadap pendidikan tapi tiba-tiba lose ? hilang ?

- mengapa manusia lama membuang sifat-sifat negatif, setiaporang sejahtera selalu terbangkitkan rasa hasud,irinya? Bahkan juga para ulama, mengapa penyakit ini tidak bisa hilang dari ulama, yaitu hasud kepada sesama ulama lagi ?

- maqulat awal mantiqi, sederhana, maqulat tsani mantiqi lebih komplek lagi ?

- kenapa,aku tidak menjaga aura dan citra, terlepas begitusaja, tercetus begitu saja ?

- mengapa begitu cair dan sulit mengekang diri, tapi kadang-kadang kalau sudah tersinggung begitu kuat dan meronta-ronta, apa yang terjadi denganku, apakah itu adalah watak dan karakter, yang sulit dan mendarah daging ?

- Jangan kelihatan nampak seperti selalu tidak punya uang.

- tergiris hatiku karena ternyata akan berakhir sia-sia, menjadi nol, ketika mengandalkan penuh terhadap diri sendiri,akhirnya jadi menarik diri ?

- menyusun kata-kata mengapa sulit, karena mungkin tidak ada bahan, tidak terlatih, sesuatu yang baru,

- universal konsep, whatis concept,

- mengapa aku kurang bahagia ketika pagi hari dan bahagian ketika malam hari, bertemua keluarga ? apakah aku kurang antusias ? apakah aku kurang berhasil dalam seni bergaul dengan manusia ?

- kenapa malas, kenapa kurang fokus ? kenapa kurang maksimal? Bukankah in ini sangat mudah sekali?

- perlu dipecah-pecah menjadi kecil-kecil, sehingga lebih fokus

- saya memang tidak bisa taktis kalau disudutkan? Apakah karena saya suka mengalah? Atau karena suka damai? Saya tidak bisa bicara atau debat dengan lancar? Apakah perlu saya menjalani perdebatan yang bergejolak? Padahal hati say ajuga mengkel?

- saya harus mengidentifikasian manusia secara berbeda dan memperlakukan mereka dengan cara yang berbeda pula, saya harus selalu siap dan jangan mau dihancurkan dengn kata-kata karena itu akan mengancam eksistensi saya, saya tidak boleh asal menyenangkan orang lain, saya harus tegas. Mengapa saya tidak tegas?

- ingat aku harus memperbaiki diri dengan amal, jadi 1/3 atau2/3 diriku terkait dengan orang lain,aku tidak bisa berdoa sendirian, baik sendirian, pintar sendirian, ajege sendirian, damai dengan sendiri saja, sabar sendirain?

- takut juga tidak bisa diluruskan dengan dosa saja, aku harus menghadapinya, aku harus mendatanginya, aku harus menundukannya, aku harus melawannya, aku harus merasakan kengerian demi kengerian?

- takut terbakar gas,

-

Tentang sesat, menyesatkan dan kriteria sesat

Saya palign meradang kalau kita sudah berbicara definisia, saya suka mempertanyakan di balik pendefinisan, kaerna definisi lahir dari sebuah kategori-kategori dan asumsi-asumsi. Tidak semua definisi bisa diterima, apalagai definisai yang terlalu memaksakan, tidak ilmiah, tidak lahir dari wawasan keilmuan dan refleksi yang dalam. Semua defiini menyiasakan pertanyaan-2.

Mengapa tiba-tiba islam disibukan dengan kesesatan? Siapaka yang berhak melabelkan sebuah kesesatan. Dan apa makna kesesatan tersebut?

-Mengapa paling mudah disesatkan oleh perasaan, kecemasan? Apakah benar bahwa perasaan itu mudah tersulut, dan sebagian lagi tidak mudah tersulut? Dan mengapa ketajaman serta penciuman terhadap yang buruk lebih cepat dari penciuman atas yang positif?

-

12%12

Oleh: Ali Mursyid, M.Ag

PROLOG
Dewasa ini umat Islam dilanda krisis metodologi yang cukup memprihatinkan berkenaan dengan upaya mengembalikan eksistensinya pada realitas sosial, politik, hukum dan budaya dalam tata pergaulan internasional. Hal ini berkaitan dengan situasi dunia modern yang sudah banyak berubah pasca kolonialisme. Berbagai upaya pembaharuan dilakukan. Dalam upaya pembaharuan tersebut, muncullah tokoh-tokoh sarjana muslim, seperti Fazlur Rahman, Hassan Hanafi, Sayyid Husein Nasr, Mohammed Arkoun, Isma’il Razi al-Faruqi, Mahmûd Muhammad Thâhâ, Abdullahi Ahmed An-Na’im dan lain-lain.
Para tokoh tersebut berusaha menawarkan metodologinya masing-masing. Tawaran metodologi baru ini tidak seperti metodologi ulama klasik yang terlalu mencurahkan perhatian pada interpretasi literal terhadap Alquran dan Sunnah. Metodologi baru tersebut, terutama dari kelompok Liberalisme Religius, menekankan pada hubungan dilalektis antara perintah-perintah teks wahyu dan realitas dunia modern. Pendekatan yang digunakan adalah memahami wahyu baik dari sisi teks maupun konteksnya. Hubungan antara teks wahyu dan masyarakat modern tidak dibangun melalui interpretasi literalis, melainkan melalui interpretasi terhadap ruh dan pesan universal yang dikandung teks wahyu.
Dalam konteks ini dan hubungannya dengan sikap dalam mengahadapi krisis, terutama krisis metodologi, para intelektual muslim dewasa ini dapat dibedakan ke dalam empat kelompok berikut: Pertama, kelompok yang menyikapi krisis atau tantangan ini dalam prespektif masa lampau (salaf). Menurut kelompok ini, segala bentuk perubahan akan menuju ke arah yang lebih buruk, sehingga sikap yang ditampilkannya adalah menarik diri dari realitas kemoderenan dan memusatkan perhatian pada pemeliharaan serta perlindungan warisan tradisi Islam. Kedua, kelompok yang beranggapan bahwa melindungi warisan masa lalu saja tidak cukup, sebab tantangan sudah menghadang di muka, sehingga mereka berusaha secara aktif melalui gerakan sosio-politik agar supremasi Islam masa silam dapat dibangun kembali. Ketiga, adalah kelompok yang dengan berbagai cara berusaha mengkrompomikan dan mencari sintesis antara nilai-nilai Islam dengan nilai-nilai modern. Namun sejauh itu, mereka tidak berani mengabaikan ajaran-ajaran Islam yang disebut Alquran secara jelas dan rinci (qath’iy al-wurûd dan qath’iy al-dalâlah). Kelompok keempat adalah kalangan sekuler, yang berpandangan bahwa persoalan agama dan dunia merupakan dua hal yang terpisah, sehingga semua gagasan modern dapat diterima sebagai sesuatu yang berada di luar agama.
Di tengah percaturan pemikiran tersebut, Mahmûd Muhammad Thâhâ, seorang ulama dan pemikir Sudan mengambil bagian dan ikut berpartisipasi dengan menawarkan metodenya yang orisonil dan genuine. Di antara tokoh pembaharu yang ada, Mahmûd mempunyai latar belakang, landasan teologis dan kerangka epistemologis yang jauh berbeda. Mahmûd membedakan agama dengan syari’ah, syari’ah menurutnya hanya satu cara untuk memasuki agama, dan merupakan cara terendah atau batas minimal agama. Pandangan ini diserap oleh muridnya Abdullahi Ahmed An-Na’im. Sejalan dengan Mahmûd, An-Na’im menyatakan bahwa syari’ah bukanlah Islam itu sendiri melainkan hanyalah interpretasi terhadap teks (nash) yang dipahami melalui konteks historis tertentu.
Lebih jauh menurut Mahmûd, memang benar jika dikatakan bahwa syari’ah Islam sudah sempurna. Akan tetapi, kesempurnaannya bukan terletak pada kebakuannya yang dianggap final, dan dengan demikian menjadi berakhir dan berhenti dengan wafatnya Nabi, melainkan justru karena kemampuannya untuk terus berkembang maju. Perkembangannya dilakukan melalui “intiqâl min nashin ilâ nashin”, perpindahan dari satu teks ke teks yang lain. Yakni, perpindahan dari suatu teks yang tidak relevan ke teks yang lain yang dianggap relevan. Tegasnya, perpindahan dari teks untuk masa abad ketujuh ke teks untuk masa kini yang lebih beragam dan kompleks. Untuk itu terjadilah proses naskh, penghapusan atau penangguhan teks-teks Alquran yang dianggap tidak relevan. Gagasan Mahmûd mengenai syari’ah modern (humanis) dengan bertumpu pada redefenisi naskh ini menarik untuk dikaji

A. Latar Belakang Pemikiran Mahmûd Muhammad Thâhâ
Agar tidak tercerabut dari akar sejarahnya, untuk mengkaji pemikiran seorang tokoh perlu ditelaah keterkaitannya dengan kondisi sosial, politik dan kultural yang melatar belakanginya. Adapun perangkat metodologis yang hendak dipakai adalah dengan meminjam analisis semiotika sosial. Dalam semiotika sosial dikenal adanya tiga konteks, konteks situasi, konteks sosial dan konteks budaya.
Dalam hal ini, konteks situasinya adalah kristalisasi konstruksi nalar Mahmûd Muhammad Thâhâ yang direguk dari khazanah intelektual Islam dan ilmu-ilmu sosial, hukum dan humaniora Barat serta respon subyektifnya terhadap kondisi obyektif yang melingkupinya. Konteks situasi ini dapat ditelusuri melalui pembacaan terhadap biografi, perjalanan pendidikan, karir dan karya-karya ilmiahnya. Sedangkan konteks sosialnya adalah setting sosial politik negaranya, yakni Sudan atau lebih makro dunia Islam secara umum. Sementara konteks budayanya adalah peradaban global yang melingkupi kedua konteks pertama.

A.1. Biografi Mahmûd Muhammad Thâhâ
Mahmûd Muhammad Thâhâ lahir tahun 1909 atau 1911 M di Rufa’ah, Sudan Tengah. Ibunya meninggal pada tahun 1915 M. Tidak lama kemudian, pada tahun 1920 ayahnya meninggal. Mahmûd dan dua saudara perempuannya di asuh, dibesarkan dan disekolahkan oleh kerabat-kerabatnya.
Di masa pertumbuhannya, Mahmûd menunjukkan kecenderungannya untuk menyendiri beribadah (khalwat). Pendidikan dasar hingga menengah ia tempuh di tanah kelahirannya, Rufa’ah. Dan Pada tahun 1932 Mahmûd terdaftar sebagai mahasiswa di Gordon Memorial College (sekarang Universitas Khartoum), pada Faklutas Teknik. Kemudian pada tahun 1936 ia berhasil menyelesaikan studi di universitas tersebut. Setelah lulus ia menjadi pegawai jawatan kereta api Sudan. Lalu pada tahun 1941, ia membuka praktek pribadi.
Sejak awal timbulnya pergerakan pada akhir tahun 1930-an, Mahmûd berparitispasi aktif dalam perjuangan kemerdekaan Sudan dari pemerintahan kolonial Anglo-Egyption. Namun kemudian ia tidak sependapat dengan pandangan elit terpelajar yang tergabung dalam pergerakan itu. Menurutnya kejelekan mereka adalah mengabdikan kepada pemimpin keagamaan tradisional yang sektarian. Partai-partai politik yang ada juga tidak dapat diterimanya, karena mereka cenderung akomodatis terhadap kolonial. Atas dasar itu Mahmûd dan para intelektual lain yang sependapat membentuk Partai Republik (The Repubican Party) pada bulan Oktober tahun 1945 M. Partai ini berorientasi Islam modernis, yang saat itu belum berkembang di Sudan.
Kebijakan partai untuk konfrontasi secara terbuka dengan kekuasaan kolonial membawa akibat penangkapan dan penjatuhan hukuman terhadap Mahmûd dan beberapa koleganya pada tahun 1946 M. Ia dipenjara selama satu tahun ketika menolak berhenti dari aktifitas politik yang menentang pemerintahan kolonial. Namun karena memuncaknya protes dari Partai Republik, maka Gubernur Jenderal Inggris membebaskan Mahmûd setelah lima puluh hari dalam penjara. Pada tahun yang sama, ia memimpin demonstrasi besar-besaran memprotes kebijakan pemerintah dalam menangani pelanggaran tindak pidana penyunatan terhadap perempuan (pharaonik) – tindak pidana yang baru dimasukkan dalam Undang-Undang Hukum Pidana Sudan oleh pemerintah kolonial. Mahmûd tidak setuju terhadap sanksi kriminal dan cara penganganan yang dilakukan pemerintah terhadap pelaku tindak pidana tersebut. Ia sendiri, mendapat hukuman yang paling berat, yaitu dua tahun penjara.
Selama menjalani hukuman kedua ini dan selanjutnya pengasingan diri (khalwah) di kota kelahirannya Rufa’ah, Mahmûd menjalankan ibadah dengan penuh kesungguhan, sampai akhirnya mengalami pencerahan spiritual. Kemudian dengan berakhirnya periode pengasingan diri pada Oktober 1951 M, ia memunculkan apa yang sebutnya sebagai Risalah Kedua Islam (Risâlah Tsâniyah min al-Islâm).
Setelah itu Mahmûd mulai mensosialisasikan pemikirannya melalui berbagai ceramah, buku dan artikel dalam surat kabar.Sejak itu, awal tahun 1950-an, Partai Republik (The Repubican Party) mengalami transformasi, dari partai politik, menjadi lebih berperan sebagai organisasi yang mendukung, mensosialisasikan dan mempublikasikan berbagai pemikiran Mahmûd. Para anggota partai yang menginginkan oragnisasi ini lebih berperan secara politik sekuler, keluar memisahkan diri.
Setelah Ja’far Numeiri menjadi presiden melalui kudeta militer pada tahun 1969 M, dan seluruh partai politik di Sudan dibubarkan, Partai Republik beraganti menjadi Persaudaraan Kaum Republik (Republican Brothers). Pada awal pemerintahan Numeiri ini, Mahmûd masih rajin ceramah di tempat-tempat umum dan menuliskan berbagai pandangannya di surat kabar, sampai kemudian pada tahun 1973 M pemerintah melarangnya berceramah di depan publik. Walaupun Republican Brothers tidak secara terbuka dan aktif beroposisi dengan pemerintah, serta aktifitas mereka selalu dalam jalur hukum, namun pemerintah tetap membatasi aktifitas para pengikut Mahmûd. Mahmûd sendiri membatasi diri hanya membimbing aktifitas organisasi Republican Brothers, seiring dengan bertambahnya jumlah anggota termasuk dari kalangan perempuan.
Setelah pelarangan itu, Mahmûd --bersama delapan pemimpin Republican Brothers--tercatat pernah ditahan selama satu bulan di tahun 1977 M tanpa tuduhan yang jelas. Kemudian pada tanggal 13 Mei 1983 M, sebelum program islamisasi di canangkan oleh pemerintah, Mahmûd dan sebagian pengikutnya ditahan tanpa pemeriksaan resmi, karena membuat selebaran yang mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah dalam menangani masalah yang merugikan non-muslim. Selanjutnya, penahanan terhadap para anggota Republican Brothers terus berlangsung. Penahanan besar-besaran ini, menurut An-Na’im, dimotivasi untuk melancarkan program penerapan syari’ah secara paksa di Sudan.
Sebagai respon terhadap protes internasional atas penahanan tersebut, atau hanya sebagai perangkap agar mereka dapat dikenakan sanksi undang-undang Islam yang baru, semua kaum Republikan termasuk Mahmûd dibebaskan pada tanggal 19 Desember 1984 M, setelah ditahan sekitar 19 bulan tanpa tuduhan. Ketika menyadari bahwa pembebasan itu hanya berdasarkan alasan yang kedua, Mahmûd segera melakukan kampanye melawan kebijakan islamisasi presiden Numeire. Satu minggu setelah dibebaskan, Mahmûd dan kaum Republikan menyebarkan selebaran tentang pencabutan undang-undang baru dan menuntut jaminan kebebasan sipil bagi seluruh rakyat Sudan secara demokratis. Menurut mereka, undang-undang itu mendistorsi Islam, melecehkan manusia, dan membahayakan integrasi nasional.
Karena selebaran itu, banyak kaum Republikan ditangkap. Mahmûd sendiri ditangkap pada tanggal 5 Januari 1985 M atas tuduhan berusaha mengubah konstitusi, menghasut dan mendorong oposisi inkonstitusional terhadap pemerintah, mengganggu stabilitas umum, serta menjadi anggota organisasi terlarang. Mahmûd dan empat tokoh utama kaum Republikan pada tanggal 7 Januari 1985 dijadwalkan akan diadili dengan tuduhan di atas; tuduhan yang dapat mengakibatkan hukuman mati. Namun kelima tertuduh itu memboikot proses peradilan. Hakim pun menunda sidang pada hari berikutnya setelah mendengarkan satu-satunya saksi dari pihak penuntut umum.
Pada hari berikutnya, 8 Januari, hakim membacakan keputusan secara panjang lebar yang didasarkan pada pernyataan tertuduh kepada petugas polisi penyidik. Hakim menyatakan bahwa tertuduh memiliki pandangan Islam yang aneh dan tidak biasa, yang mungkin sah dan mungkin juga tidak. Menurut pengetahuan hakim, Alquran mungkin saja menyingkapkan rahasianya pada orang suci. Namun, menurutnya, kesalahan tertuduh adalah menyebarkan pemahaman kepada publik, sebab aktifitas seperti itu dapat menciptakan kekacauan agama (fitnah). Hakim akhirnya menjatuhkan hukuman mati kepada kelima tertuduh, dengan catatan bahwa mereka dapat bebas dari hukuman itu jika bertaubat dan menarik kembali pandangan mereka.
Setelah meninjau kembali putusan terdahulu, pengadilan tingkat banding pidana khusus kemudian menguatkan putusan pengadilan tingkat rendah yang memutuskan hukuman mati bagi kelima tertuduh. Bahkan, pengadilan tingkat banding secara spesifik menyebutkan tuduhan kemurtadan kepada para tertuduh. Pengadilan tingkat banding juga menghilangkan kesempatan penangguhan hukuman mati bagi Mahmûd. Sementara empat tertuduh yang lain diberi kesempatan satu bulan untuk mengakui kesalahan dan menarik kembali pandangan-pandangannya.
Keputusan pengadilan tingkat banding tersebut diumumkan pada hari Selasa 15 Januari 1985, kemudian presiden Numeiri mempertegas hasil keputusan pengadilan tersebut pada tanggal 17 Januari, dengan memberi tenggang waktu selama tiga hari kepada keempat tertuduh yang lain untuk bertaubat dan mengakui kesalahannya. Pada hari Jum’at tanggal 18 Januari 1985 M, Presiden Numeiri memimpin sendiri pelaksanaan hukuman gantung atas diri Mahmûd. Setelah hukukman mati tersebut, keempat tertuduh lain mengakui kesalahannya sehingga mereka diampuni dan dibebaskan pada tanggal 19 Januari 1985.
Setelah adanya keputusan hukuman mati bagi Mahmûd, para pemimpin organisasi profesi dan serikat buruh mengadakan pertemuan di Universitas Khartoum untuk mengatur usaha memprotes pemeriksaan pengadilan dan menunda eksekusi. Ketika usaha itu gagal, komite yang sama terus mengatur demonstrasi massal dan pemogokan umum yang mengakibatkan pemerintahan Numeiri jatuh melalui kudeta tanggal 6 April 1985 M, tujuh puluh enam hari setelah eksekusi terhadap Mahmûd.
Setelah penggulingan Numeiri dan pengundangan konstitusi transisional di bulan Oktober 1985 M, kakak perempuan Mahmûd, Asma, mengajukan gugatan kepada pengadilan tinggi Sudan untuk menghapuskan hukuman mati bagi adiknya karena sejumlah keberatan konstitusional dan prosedural dalam pengadilan tersebut. Kemudian pada tanggal 18 November 1986 M, pengadilan tinggi pada masa pemerintahan transisional memutuskan bahwa hukuman terhadap Mahmûd dihapuskan karena kesalahan dari seluruh episode dalam proses peradilan itu.
Untuk mengenang Mahmûd, sebagai simbol bagi kebebasan demokrasi, ribuan intelektual dan profesional berpartisipasi dalam ceramah umum dan diskusi selama satu munggu pada bulan Januari 1986 M. Pada saat yang sama, Organisasi Hak Asasi Manusia Arab yang berpusat di Kairo menyatakan bahwa untuk menghormati Mahmûd, tanggal 18 Januari (tanggal eksekusi Mahmûd) dijadikan sebagai Hari Hak Asasi Manusia bagi bangsa Arab.

A.2. Karya-Karyanya
Karya-karya Mahmûd dalam bentuk buku yang seluruhnya berjumlah kurang lebih 30-an buku, dapat diakses di media internet melalui website www.alfikra.com. Judul karya-karya itu adalah:
1. Al-Safar al-Awwal; 2. Al-Bayân al-Ladzî al-Qâhu Ra`îs al-Hizb fi al-Ijtimâ’ al-‘Âm; 3. Qull Hâdzîhi Sabîlî; 4. Usus Dustûr al-Sûdân; 5. Al-Hizb al-Jumhûry ‘alâ Hawâdits al-Sâ’ah; 6. Al-Hizb al-Jumhûry Yursilu Khithâban Li Jamâl Abd al-Nâshir; 7. Al-Islâm, Risâlah al-Shalât; 8. Tharîqu Muhammad; 9. Risâlah Tsâniyah min al-Islâm; 10. Al-Tahaddy al-Ladzî Yûwâjihu al-Arab; 11. Musykilat al-Syarq al-Aûwsath; 12. Al-Dustûr al-Islâm ? Na’am wa Lâ !!; 13. Za’îm Jabhat al-Mîtsâq fi Mîzân: 1) Al-Tsaqâfah al-Gharbiyyah, 2) Al-Islâm; 14. Al-Islâm birrisâlatihi al-Ûla Lâ Yushluhu Li Insiâniyat al-Qarn al-‘Isyrîn; 15. Baînâ wa Baîna Mahkamah al-Riddah; 16. Usus Himâyah al-Huqûq al-Insâniyah; 17. Lâ Ilâha Illa Allah; 18. As`ilah wa Ajwibah – al-Kitâb al-Awwal; 19. Al-Qurãn wa Mushthafâ Mahmûd wa al-Fahm al-‘Ashry; 20. Khatwatun Nahwa al-Zawwâj fîal-Islâm; 21. As`ilah wa Ajwibah: al-Kitâb al-Tsâni; 22. Yad’û Ilâ Tathwîr Syarî’ati al-Ahwâl al-Syakhshiyyah; 23. Al-Tsûrah al-Tsaqâfiyah; 24. Ta’lamû Kaîfa Tushalûn; 25. Rasâ`il wa Maqâlât – al-Kitâb al-Awwal; 26. Rasâ`il wa Maqâlât – al-Kitâb al-Tsâni; 27. Al-Islâm wa Insâniyah al-Qarn al-‘Isyrîn; 28. Al-Mârkisiyyah fî al-Mîzân; 29. Adhwâ`u ‘Alâ Syarî’ati al-Ahwâl al-Syakhshiyah; 30. Al-Islâm wa al-Funûn; 31. Al-Da’wah al-Islâmiyah al-Jadîdah, 32. Al-Dîn wa al-Tanmiyyah al-Ijtimâ’iyyah; 33. Min Daqˆâ`iq Haqâ`iq al-Dîn

B. Tinjauan Umum Pemikiran Mahmûd Muhammad Thâhâ
B.1. Sumber-Sumber: Spitiualitas dan Rasionalitas
Berdasarkan pemaparan biografi di atas, diketahui bahwa konstruksi nalar Mahmûd Muhammad Thâha dibentuk dari khazanah ilmu-ilmu tehnik, ilmu-ilmu sosial Barat, dan khazanah intelektual Islam khususnya tasawuf. Dengan membaca karya-karyanya kita akan mengetahaui bahwa orientasi sufisme sangat kuat dalam pemikiran Mahmûd. Hal ini wajar karena ia hidup di tengah masyarakat Sudan yang mempunyai kecenderungan Islam sufistis. Namun karena ia juga mengenyam pendidikan umum modern (bidang teknik) serta melihat dan merasakan kondisi Sudan yang berinteraksi dengan peradaban Barat modern (yang dibawa oleh pemerintah kolonial Inggris), maka pemikirannya –sebagaimana dikemukakan An-Na’im—cenderung mengkombinasikan antara spiritualitas dan rasionalitas.

B.2. Wilayah Pemikirannya
Dari beberapa karya Mahmûd Muhammad Thâhâ yang dipelajari oleh penulis, diketahui bahwa pemikiran Mahmûd tidak hanya sebatas pemikiran keagamaan, tetapi juga merambah ke berbagai wilayah, seperti budaya, sosial dan politik.
Pada wilayah budaya dan peradaban, Mahmûd berpendapat bahwa, peradaban Barat bukanlah merupakan peradaban yang ideal (al-Madaniyyah), ia hanyalah merupakan kemajuan material (al-Hadhârah). Peradaban Barat saat ini, menurutnya, bagaikan dua sisi mata uang. Satu sisi menampakkan kebaikan dan sisi yang lain menunjukkan keburukkan. Sisi baik ditunjukkan dengan kemampuannya dalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang menghasilkan kemajuan material, sementara sisi buruknya adalah kegagalan untuk mewujudkan perdamaian. Kegagalan ini terlihat dari pemanfaatan kemajuan material tersebut lebih banyak untuk kepentingan perang dari pada digunakan untuk perdamaian dan pembangunan.
Pada wilayah sosial dan politik, Mahmûd bersikap tidak begitu saja menerima apa yang datang dari Barat, walaupun ia tidak anti-Barat, bahkan ia dalam banyak hal sangat responsif terhadap kemajuan Barat. Ia mengkritik kapitalisme dan sosialisme yang di sana-sini banyak terdapat kekurangan. Dalam menghadapi kekurangan dari teori filsafat dan ilmu sosial Barat, Mahmûd menganjurkan untuk menengok Islam, yang menurutnya dapat dijadikan jalan tengah bagi kapitalisme dan sosialisme. Islam, menurutnya, menawarkan hubungan yang wajar antara individu dan masyarakat. Jalan tengah yang diinspirasikan dari Islam, ia sebut sebagai sosialisme demokrasi, yang dalam tradisi pemikiran Barat dipelopori oleh Anthony Giddens.
Dalam wilayah keagamaan, Mahmûd membedakan antara syari’ah dengan al-dîn. Agama (al-dîn), menurutnya, hanya satu, yaitu Islam, yang tercermin dalam kalimat tauhid lâ ilâha illa Allah, sedangkan syari’ah masing-masing umat tidaklah satu tetapi berbeda-beda disebabkan perbedaan kemampuan masing-masing umat tersebut. Namun demikian antara al-dîn dan syari’ah hanya berbeda pada tingkatan, tidak pada esensi. Syari’ah suatu tingkatan tertentu dari al-dîn yang ditujukan kepada manusia, berdasarkan tingkat pemahaman dan kapasitas intelektual yang mereka miliki.

B.3. Fokus Pemikiran: Evolusi Syari’ah
Dengan mengkritik sosiologi dan filsafat Barat, serta tawarannya kepada Islam sebagai Jalan Tengah yang alternatif, dan meninggalkan jalan sekuler, Mahmûd berusaha memfokuskan pemikirannya dan penyelesaian dari agama itu sendiri. Namun demikian apabila Islam dengan syari’ahnya diterapkan untuk menjawab problem-problem modernitas, maka tidak akan menyelesaikan masalah karena, menurutnya, di dalam syari’ah masih terdapat diskriminasi gender (laki-laki dan perempuan) dan keyakinan keagamaan (muslimdan non-muslim) sehingga akan menghadapi problem baru yang berkaitan dengan hubungan dunia internasional.
Satu-satunya jalan keluar dari dilema ini, menurut Mahmûd, adalah melakukan evolusi syari’ah. Menurutnya, syari’ah bersifat historis dan bukan merupakan Islam secara keseluruhan, ia hanyalah tingkatan hukum Islam yang sesuai untuk diterapkan pada satu fase perkembangan manusia. Oleh karena itu ia mengusulkan untuk merombak syari’ah dengan cara berpindah dari teks Alquran dan Hadits (periode Madinah) yang selama ini menjadi fondasi syari’ah historis menuju teks-teks Alquran dan Hadits yang lain (periode Makkah) yang selama ini tidak diberlakukan untuk kemudian dijadikan fondasi bagi syari’ah modern yang humanis. Dengan demikian syari’ah menurut Mahmûd mengalami evolusi (tathawur), yaitu dengan berpindah dari ayat-ayat dan Hadits yang selama ini menjadi landasan bagi diskriminasi terhadap kaum perempuan dan non-muslim menuju ayat-ayat dan Hadits lain yang kemudian ditetapkan untuk mencapai kesetaraan secara penuh bagi seluruh umat manusia, tanpa membedakan jenis kelamin dan agama. Perpindahan dari satu teks Alquran dan Hadits ke teks Alquran dan Hadits lain yang dapat dimungkinkan melalui konsep naskh, dalam arti penyeleksian terhadap teks-teks Alquran dan Hadits yang dapat diterapkan secara sah atau relevan pada waktu tertentu.

C. Naskh Sebagai Pembentuk Syari’ah Humanis
C. 1. Definisi
Secara etimologi, kata naskh berasal dari naskha yang berarti penghapusan (izâlah), pembatalan (ibthâl) dan pemindahan (naql). Semenatara itu secara terminologi, terdapat defenisi yang beragam. Menurut Imam al-Syafi’i seperti yang disinyalir oleh Muhammad Abu Zahroh, sebagai orang pertama yang membahas naskh dalam kitabnya al-Risâlah al-Ushûl, naskh bukan berarti pembatalan suatu teks (nash), akan tetapi masa berlakunya hukum yang terkandung dalam suatu teks (nash) sudah habis. Sebagian ulama ushûl dan tafsir memberikan definisi yang berbeda dengan Abu Zahroh. Menurut mereka naskh adalah menghilangkan satu hukum syari’ah dengan dalil syari’ah yang datang terakhir.
Konsep naskh jika dihubungkan dengan Alquran sebagai sumber hukum menjadi sebuah teori yang mengandung tiga arti. Pertama, bahwa Alquran membatalkan hukum yang dinyatakan kitab-kitab samawi terdahulu seperti kitab perjanjian lama dan baru. Kedua, ia diterapkan pada penghapusan sejumlah ayat Alquran yang teksnya dihapuskan eksistensinya, juga hukumnya. Ketiga, ayat-ayat yang hanya teksnya dihapus sedangkan hukumnya masih berlaku.

C.2. Landasan Normatif dan Perdebatan Ulama Tentang Naskh.
Teks yang dijadikan asas legalitas pemberlakuan konsep naskh adalah Q.S. al-Baqarah (2): 106, al-Nahl (16): 101, al-Ra’d (13): 39.
Muhammad Abduh menjelaskan bahwa paruh pertama surat al-Baqarah di mana ayat 106 muncul, berisi bantahan terhadap kaum Yahudi yang akhirnya berpuncak pada perintah Allah untuk mengubah kiblat dari Yerussalem ke Ka’bah di Makkah. Hal ini menandakan pemutusan sepenuhnya dengan hukum Yahudi yang telah dibatalkan. Dalam konteks ini, sangat jelas perujukannya kepada perundang-undangan Yahudi yang sebagiannya telah hilang dalam sejarah perjalanan mereka. Oleh karena itu penghapusan di sini bermakna penghapusan hukum yang diwahyukan kepada rasul-rasul dari Bani Isra’il.
Ayat kedua yang digunakan untuk mendukung teori naskh adalah Q.S., al-Nahl (16): 101. Para pendukung naskh sangat tekstual dalam menafsirkan ayat tersebut, tanpa meninjau konteks historisnya. Ayat tersebut turun untuk menghadapi orang Yahudi dan muallaf yang masih tidak yakin bahwa wahyu yang diterima Muhammad SAW dapat menggantikan wahyu yang diterima para Nabi dan Rasul Yahudi. Jadi tuduhan tersebut bukan ditujukan pada pergantian ayat, tetapi tuduhan tersebut dimaksudkan bahwa Alquran seluruhnya tidak disampaikan oleh Allah SWT, akan tetapi disampaikan oleh seorang budak Kristen (Isa AS).
Ayat ketiga untuk mendukung adanya naskh adalah Q.S., al-Ra’d (13): 39 yang mempunyai latar belakang yang hampir sama dengan ayat kedua, namun para pendukung naskh menafsirkan ayat ini sebagai bagian yang terlepas dari konteksnya.
Dari interpretasi kontekstual terhadap teks-teks yang dijadikan landasan bagi konsep naskh, tampaknya tidak ada yang menunjukkan indikasi kuat akan adanya penghapusan dalam Alquran. Jadi teori naskh konvensional bertentangan dengan validitas kebadian Alquran, bahwa semua hukum-hukumnya harus selalu efektif untuk selamanya bagi umat Islam. Dengan demikian, dalam weltanschaung Alquran, tidak ada dasar yang masuk akal bagi tesis bahwa sejumlah ayat telah dibatalkan.
Para ulama yang menolak naskh, selain meragukan ayat-ayat yang dijadikan para pendukung naskh untuk melegitimasi keberadaan naskh dalam Alquran, juga mengajukan alasan logis argumetatif. Para penolak keberadaan naskh berpendapat bahwa pembatalan hukum oleh Allah menunjukkan dua kemustahilan-Nya, yaitu: (a) ketidaktahuan, sehingga Dia perlu membatalkan dan mengganti dengan hukum lain, (b) kesia-siaan dan permainan belaka. Dengan demikian, kelompok ini berkesimpulan bahwa tidak ada naskh di dalam Alquran dan Sunnah, bahkan disebutnya sebagai bid’ah besar bila dikatakan ada naskh.
Akan tetapi, penolakan mereka terhadap naskh nampaknya telah dibuktikan kelemahannya melalui berbagai argumen yang dikemukakan oleh para pendukung naskh. Menurut mereka, selain memiliki dasar Alquran, naskh secara praktis juga nyata di dalam perjalanan sejarah Islam. Sementara itu, para penolak naskh pun telah berhasil mengkrompomikan ayat-ayat yang semula dianggap bertentangan , dan sebagian hasil mereka telah diterima baik oleh pendukung naskh, sehingga jumlah ayat yang dinilai bertentangan dari hari ke hari semakin berkurang.
Terlepas dari kontroversi di atas, timbul pertanyaan, pernah adakah nasîkh mansûkh dalam syari’ah? Menurut pendukungnya, praktek itu ada. Ali Yafie misalnya, memperlihatkan contoh kasus sebagai berikut. Sesudah hijrah ke Madinah, kaum Muslim masih berkiblat ke arah Bait al-Maqdis. Sekitar enam bulan kemudian, Allah menetapkan ketentuan lain, dengan perintah berkiblat ke arah Bait al-Maqdis. Dengan demikian, secara faktual praktik naskh itu ada.

C.3. Konsep Naskh Mahmûd Muhammad Thâhâ
C.3.1. Redefinisi Makkiyyah dan Madaniyyah
Kalau para ulama terdahulu mendefenisikan Makkiyyah sebagai bagian Alquran yang turun sebelum peristiwa hijrah Nabi SAW ke Madinah dan mendefiniskan Maddaniyyah bagian Alquran yang turun pasca hijrah, Mahmûd tidaklah demikian. Menurutnya Makkiyyah adalah bagian Alquran yang essensial (ushûl) yang didalamnya terdapat nilai-nilai fundamental dan universal Islam, yakni keadilan, persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan, toleransi, nilai dasar demokrasi, hak-hak asasi manusia. Sedangkan Madaniyyah adalah bagian Alquran yang furû’, yang berisi ajaran yang kurang toleran, kurang menimbang keadilan, bias gender dan kurang menghoramati dan bertoleransi terhadappluarlisme agama.
Lebih jauh menurutnya ajaran Islam yang orisnil dan essesnial terdapat dalam ayat-ayat Makkiyah, tetapi karena kesadaran dan pola fikir bangsa Arab abad ke tujuh tidak bisa menerima dan memahami nilai-nilai universal Islam itu maka kemudian yang diturunkan dan diberlakukan adalah ayat-ayat Madaniyah yang temporal dan kurang toleran. Bangsa Arab saat itu tidak bisa menerima apabila ada orang yang yakin dengan satu agama tetapi tetap menghormati agama lain. Bangsa Arab saat itu akan heran jika ada perempuan tidak mengenakan jilbab berjalan sendirian dan selamat dari godaan bahkan kejahatan laki-laki, dan masih banyak contoh lain untuk menggambarkan rendahnya tingkat berfikir bangsa Arab abad ke tujuh. Menurut Mahmûd, pada saat pola fikir manusia telah maju ayat-ayat Madaniyyah hendaknya di ganti dengan ayat-ayat Makkiyyah.
Jadi, tidak seperti ulama terdahulu yang mendefnisikan Makkiyyah-Madaniyyah hanya berdasarkan waktu turun ayat, Mahmûd mendefenisikan Makkiyyah-Madaniyyah berdasarkan lebih kepada siginfikansi kandungan makna ayat, universal atau tidak. Dalam hal ini ia mengajukan argumen sebagai berikut: Pertama; Alquran merupakan wahyu terkhir dan Nabi Muhammad merupakan Nabi yang terakhir juga. Konsekwensinya, Alquran harus berisi semua yang dikehendaki Allah untuk diajarkan, baik ajaran yang akan diterapkan segera maupun ajaran yang akan diterapkan pada waktu yang akan datang. Kedua; Demi martabat dan kebebasan yang dilimpahkan Allah kepada seluruh umat manusia, Allah menghendaki umat manusia belajar melalui penalaman praktis mereka sendiri dengan tidak bisa diterapkannya pesan Mekkah yang lebih awal yang kemudian ditunda dan digantikan oleh pesan Madinah yang lebih praktis.

C.3.2. Pembalikan Naskh
Berdasarkan premis-premis bahwa naskh pada hakekatnya adalah penundaan pesan fundamental dan universal ayat-ayat Makkiyyah, serta kategorisasi ayat-ayat Alquran kepada Makkiyyah dan Madaniyyah, Mahmûd ingin merekontruksi naskh dengan membalik proses naskh. Pembalikan naskh ini berarti membatalkan ketentuan hukum ayat-ayat Madaniyyah yang sudah rinci dan detail dan Sunnah yang terkait, karena cukup problematis dengan konstitusionalisme, pidana modern, hukum internasional, dan hak asasi manusia. Dengan pembalikan naskh tersebut, rekonsilasi hukum Islam dengan isu krusial di atas dapat terwujud. Maka metodologi naskh yang dibangunnya diklaim sebagai metodologi “pembaruan Islam yang memadai” untuk membangun syari’ah Islam yang humanis.
Dengan pembalikan proses naskh, menurut Mahmûd pembangunan hukum Islam humanis sebagai sistem hukum yang koheren secara internal dan konsisten dapat terpenuhi, sehingga masyarakat Muslim tidak perlu menempuh jalur konservativ dengan mempermudah hukum Islam yang sudah ada sehingga menimbulkan problem serius, karena tidak memadainya hukum Islam diterapkan pada masyarakat Muslim kontermporer. Juga Muslim tidak perlu menempuh jalur sekularisme hukum, sehingga dapat dilaksanakan sebagai bagian dari tugas keagamaan dan sosial masyarakat Muslim, tanpa mengorbankan kelompok masyarakat lain sesuai dengan asas resiprositas atau timbal balik.
Pembalikan naskh terjadi, jika ayat cabang atau furû’ (Madaniyyah) yang digunakan untuk menolak ayat utama atau ushûl (Makkiyyah) pada abad VII telah mengfungsikan tujuannya secara sempurna dan menjadi tidak relevan bagi era baru, abad XX dan seterusnya, kemudian waktu telah memungkinkan menghapuskannya dan untuk ayat-ayat utama diberlakukan. Maka dengan cara ini ayat utama kembali menjadi teks yang operatif pada era modern ini dan menjadi basis legislasi baru.
Contoh kasus yang dikemukakan Mahmûd adalah kasus naskh terhadap ayat perintah dakwah dengan damai dan toleransi terhadap orang non-Muslim oleh ayat-ayat perintah jihad pada periode Madinah. Maka seharusnya ayat-ayat perintah dakwah dengan damai dan toleran terhadap non-Muslim harus dibalik menghapus ayat-ayat yang terciptanya koeksistensi damai antara Muslim dan non-Muslim berdasar prinsip resiprositas. Orang Muslim memperlakukan non-Muslim sebagaimana mereka memperlakukan Muslim. Sementraa batasan tersebut diatur dalam hukum Internasional.
Dari pembalikan naskh tersebut kemudian juga ingin diterapkan oleh Mahmûd terhadap ketentuan hukum mapan yang menimbulkan diskriminasi terhadap non-Muslim dan perempuan di depan hukum Islam. Ketidak samaan status konstitusional non-Muslim di bawah konstitusi yang berdasar kepada hukum Islam, harus diganti dengan tuntutan persamaan mutlak status kewarganegaraan non-Muslim bukan hanya sebagai warga negara kelas dua yang hak asasi kurang dijamin oleh konstitusi berdasarkan hukum Islam. untuk itu revitalisasi konsep ummah yang meliputi seluruh warga negara tanpa membedakan ras agama, gender. Konsep ummah kemudian dianggap sebagai konsep kolektif khilafah manusia di bumi dan wakil kedaulatan Tuhan. Aspek-aspek ayat-ayat Madaniyyah mendiskualifikasikan status konstitusional non-Muslim dan perempuan dalam kehidupan publik harus dihapuskan dengan pesan-pesan fundamental ayat-ayat Makiyyah yang menekankan persamaan dan solidaritas kemanusiaan di bawah konstitusi Islam. .

E. Implikasi Naskh Mahmûd Bagi Dasar Pembentukan Syari’ah Humanis
Walaupun nampaknya pembalikan proses naskh yang dilakukan Mahmûd cukup sederhana, namun hal itu berimplikasi besar bagi keberadaan syari’ah yang selama ini dipraktekkan oleh mayoritas umat Islam yang sebagian besar dilandasi oleh ayat-ayat Madaniyyah. Pembalikkan proses naskh itu dengan asumsi dasar bahwa ayat-ayat ayat-ayat Makkiyyah pada masa modern ini telah mencapai momentumnya untuk diberlakukan, karena di dalamnya terdapat ajaran Islam yang orisinil. Menurut Mahmûd, banyak ajaran dari syari’ah Islam yang berlaku selama ini sesungguhnya bukan ajaran dan tujuan murni dalam Islam. Ajaran itu pada dasarnya bersifat transisional karena adanya keterbatasan kemampuan masyarakat. Ajaran dan ketentuan syari’ah yang subsider dan bersifat transisional tersebut, menurut Mahmûd mulai saat ini dan seterusnya harus diganti dengan ajaran dan ketentuan syari’ah yang didasarkan pada prinsip-prinsip yang mengacu pada ajaran dasar dan murni Islam, sebagaimana terdapat dalam ayat-ayat Makiyyah.
Prinsip murni Islam yang dijadikan landasan pembentukan syrai’ah humanis itu adalah:
1. Kebebasan Individu. Ini berlaku bahkan dalam hal memilih agama, sehingga ajaran jihad sebenarnya bukan prinsip murni Islam, melainkan untuk kebutuhan transisional an sich. Prinsip ini juga menolak adanya perbudakan, karenanya adanya ketentuan perbudakan dalam syari’ah itu bukan ajaran murni islam, melainkan hanya untuk kebutuhan transisional.
2. Pemilikan harta bersama. Pemilikan harta bersama menurut Mahmûd pernah dicontohkan Nabi SAW, namun karena hal ini dianggap asing pada saat itu, maka kemudian diberlakukan syari’ah zakat. Jadi zakat bukan ajaran murni Islam melainkan upaya untuk menyiapkan masyarakat menerima ajaran murni Islam, yakni pemilikan harta bersama, dimana individu dapat menggunakannya hanya untuk kebutuhan pokoknya saja.
3. Prinsip Kestaraan antara laki-laki dan perempuan. Dengan prinsip ini Mahmûd menyatakan bahwa ketidaksamaan laki-laki dan perempuan dalam hal warits, perceraian, mahar, pemakaian hijab bagi perempuan bukanlah dari ajaran Islam yang murni, melainkan hanya untuk kebutuhan sementara saja.
Dengan berbagai prinsip dasarnya ini, yang dihasilkannya dari upaya membalik proses naskh yang sudah mapan, diharapkan akan terbentuk sebuah formulasi syari’ah yang humanis, toleran dan tidak bias gender, serta menghargai hak-hak asasi manusia

EPILOG
Dengan pandangan seperti di atas, Mahmûd telah memperkenalkan gagasan relatifisme historis dalam pendekatannya terhadap syari’ah. Syari’ah historis (Risalah Pertama) dimaksudkan untuk jenis masyarakat di masa lampau. Masyarakat tersebut tidak lagi hadits dan tidak dapat, atau lebih tepatnya tidak boleh, dibangkitkan kembali pada zaman modern. Sebaliknya kaum muslimin harus memegang teguh ayat-ayat Alquran yang sesuai dengan kondisi masyarakat modern. Ayat-ayat tersebut adalah ayat-ayat dasar (ayat-ayat Makiyyah), yang mempunyai standar lebih tinggi dari pada ayat-ayat cabang (ayat-ayat Madaniyyah) dan muatannya sejalan dengan konstitusionalisme, hak-hak asasi manusia universal, dan perdamaian internasional. Syari’ah modern yang humanis harus didasarkan atas ayat-ayat ini, sementara syari’ah historis harus ditinggalkan. Dengan melakukan hal ini sama sekali tidak berarti menolak atau membuang Islam, namun justru berarti kembali ke semangat aslinya.



DAFTAR PUSTAKA
Amin Abdullah , “Arkoun dan Kritik Nalar Islam”, dalam Johan Mouleman (ed.). Tradisi Kemoderenan dan Metamodernisme, (Yogyakarta: LKiS, 1996), cet. I
Abdullahi Ahmed An-Na’im, The Second Message of Islam by Ustadh Mahmoud Mohammed Taha, (New York: Syracuse University Press, 1987), terj. Nur Rachman, Syari’ah Demokratik, (Surabaya: eLSAD, 1996)
Abdullahi Ahmed An-Na’im, Toward an Islamic Reformation: Civil Liberties, Human Rights and Internatinal Law (TIR), (New York: Syracuse University Press, 1990)
Anom S Putra, Maftuhin R Rasmani, “Revolusi Nalar Islami, Menangguhkan Teks Mencurigai Subjek” dalam, Gerbang, Jurnal Pemikiran Agama dan Demokrasi, Edisi 02, Th II, April-Juni , (Surabaya: eLSAD dan TAF, 1999)
Hasan Hanafi, L’Exegese De La Phenomenologie: L’Etat Actuelle De Le Methode Phenomenologie Etson Application Au Phenomene Relegieux, terj, Yudian Wahyudi, Tafsir Fenomenologi, (Yogyakarta: Pesantren Pascasarjana Bismillah Press, 2001).
Izutsu, Relasi dan Manusia: Pendekatan Semantik Terhadap Alquran, terj. Fahri Husain dkk (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997)
Khurshid Ahmad, “The Nature of Islamic Resurgence” Dalam John L. Esposito (ed.), Voices of Resurgent Islam, 1983. Edisi Indonesia, Dinamika Kebangkitan Islam, (Jakarta: Rajawali, 1987)
Lihat Wael B. Hallaq, A History of Islamic Legal Theories, (Cambridge University Press, 1997)
Louis Ma’lûf, Al-Munjid fî Lughah wa al-A’lâm, (Beirut: Dâr al-Masyrîq, 1987)
Mohammad Arkoun, Berbagai Cara Pembacaan Quran, (Jakarta: INIS, 1997).
Mahmûd Muhammad Thâhâ, Al-Islâm Birisâlatihi al-Ulâ Lâ Yashluhû Li Insâniyati al-Qarn al-‘Isyrîn,www.alfikra.com
___________, Risâlah Tsâniyah min al-Islâm, (ttp:tp,tt)
___________, al-Mârkissiyah FÎ AL-mîzân, www.alfikra.com
___________, al-Dîn wa al-Tanmiyyah al-Ijtamî’iyyah, www.alfikra.com
___________, al-Islâm wa al-Insâniyyah al-Qarn al-Isyrin, www.alfikra.com
___________, Tathwîr Syarî’ati al-Ahwâl al-Syakhsiyah, diakses dari www.alfikra.com
___________, al-Dusttûr al-Islâmy ? Na’am …wa lâ., diakses dari www.alfikra
Muhammad Mustafied, “Merancang Ideologi Gerakan Islam Progresif-Transformatif: Mempertimbangkan Islam “Kiri Hassan Hanafi” dalam Muhidin M. Dahlan (ed.), Sosialisme Relegius Suatu Jalan Keempat, (Yogyakarta: Kreasi wacana, 2000)
Paul Martin, “Taha, Mahmoud Mohammed” (1909-1985), Founder of Republican Brothers, an Islamic Sect” dalam Reeva S.Simon et.al (eds.), Encyclopedia of Modern Middle East, (New York: Simon & Schuster Macmillan, 1996) IV
Tore Lindholm dan Kari Vogt (ed.), Islamic Law and Human Rights: Challenges and Rejoinders, 1993. Edisi Indonesia, Dekonstruksi Syari’ah II, (Yogyakarta: LkiS, 1994)

(Tulisan ini dimuat di Tashwirul Afkar Lakpesdam NU, edisi 17)

Bagi Islam fundamentalis Al-Quran dan as-Sunnah adalah the way of life yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Pandangan mereka terhadap teks-teks agama (nash) terkesan sangat tekstual dan rigid. Sehingga para pengamat islam mendefinisikan mereka sebagai skripturalisme. Rujukan mereka dalam memahami Islam tidak lepas dari pemahaman ulama terdahulu (salaf) seperti Ibnu Taymiyah, Ibnu Qayim al-Jauziyah, Muhammad bin Abdul Wahab, Ahmad bin Hambal dan seluruh tokoh ulama salaf yang dikelompokkan sebagai Ahlul Hadis.

"Jauhilah tujuh perkara yang merosakkan. Para sahabat bertanya : Apakah tujuh perkara itu

Ya Rasulullah? Jawab Rasulullah Sallallhu Alaihi Wasallam : iaitu;

1. Menyekutukan Allah, 2. Sihir, 3. Membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali

kerana hak, 4. Makan harta Riba, 5. Makan harta anak yatim, 6. Lari dari peperangan,

7. Menuduh perempuan baik, terjaga dan beriman."

(Hadis Muttafaq Alaihi)

1.1.1 Pengenalan Surah al-A‘raf

Surah al-A‘raf ini secara keseluruhannya berjumlah 206 ayat. Surah ini dinamakan al-A‘raf kerana perkataan al-A‘raf yang terdapat di dalam ayat 46 yang telah mengemukakan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas al-A‘raf : iaitu tempat yang tertinggi di antara batas syurga dan neraka sebagaimana firmanNya yang bermaksud : “ Dan di antara keduanya (penghuni syurga dan neraka) ada batasan ; dan di atas al-A‘raf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru kepada penduduk syurga : “ Mudah-mudahan Allah melimpahkan kesejahteraan ke atas kamu”. Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya)”.( al-A‘raf , 7 : 46 ).

Ibn Jarir al-Tabari meriwayatkan daripada Huzaifah bahawasanya dia telah ditanya siapakah penduduk A‘raf ? Maka Huzaifah menjawab : “Mereka adalah satu golongan yang mana amalan kebaikan mereka sama timbangannya dengan amalan kejahatan mereka. Mereka tidak dimasukkan ke dalam neraka kerana amalan kebaikan mereka dan tidak pula dimasukkan ke syurga kerana amalan kejahatan mereka. Maka mereka menetap di suatu tempat yang dinamakan al-A‘raf sehinggalah Allah mendatangkan ketentuanNya.[1]

Seluruh ‘ulama’ tafsir telah berpendapat bahawasanya surah ini termasuk di dalam golongan surah Makkiyyah, dan surah ini turun sebelum surah al-An‘am. Sebagaimana yang dimaklumi, surah-surah al-Qur’an itu terbahagi kepada 4 bahagian iaitu al-Tiwal, al-Mi‘un, al-Masani dan al-Mufassal. Dan di antara bahagian al-Tiwal itu merangkumi 7 surah iaitu al-Baqarah, Ali ‘Imran, al-Nisa’, al-Ma’idah, al-An‘am, al-A‘raf dan yang ketujuh adalah surah al-Anfal dan al-Bara’ah kerana kedua-dua surah ini tidak dipisahkan dengan basmalah. Manakala ada yang berpendapat surah yang ketujuh adalah surah Yunus. Justeru, surah ini dikategorikan sebagai “al-Sab‘u al-Tiwal”.[2]

Namun demikian, Qatadah berpendapat bahawa ayat 163 yang menceritakan tentang Bani Israel yang tinggal di tepi laut dan melanggar peraturan istirehat pada hari Sabtu ; ayat itu sahaja yang diturunkan di Madinah.

Sementara itu Imam al-Suyuti menerangkan di dalam kitab al-Itqan, bahawasanya ayat 172 yang menceritakan sesungguhnya Allah telah mengambil janji daripada anak Adam semenjak mereka masih di dalam sulbi Adam juga merupakan ayat yang diturunkan di Madinah.

Namun demikian, para ‘ulama’ tafsir yang lain tetap berpendapat bahawasanya kedua ayat itu diturunkan di Makkah. Ini berdasarkan kesinambungan maksud di antara dua ayat tersebut dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya.[3]

Jika diteliti secara mendalam, kita akan mendapati Surah al-An‘am yang merupakan surah sebelum surah al-A‘raf mengandungi 165 ayat, sedangkan surah al-A‘raf mengandungi 206 ayat. Justeru, timbul persoalan mengapakah surah al-A ‘raf tidak diletakkan terlebih dahulu sebelum surah al-An‘am dalam susunan surah-surah yang panjang yang dimulai dengan surah al-Baqarah ? Menurut kajian para ‘ulama’ tafsir, sesungguhnya surah al-Baqarah dan surah Ali ‘Imran saling-melengkapi, begitu juga dengan surah al-Nisa’ dengan surah al-Maidah yang saling-melengkapi, maka surah al-An‘am dan surah al-A‘raf pula adalah dua surah yang saling melengkapi di antara satu sama lain. Ternyata setelah diperhatikan dengan lebih mendalam, surah al-An‘am masih tersimpul , maka surah al-A‘raf tampil untuk memberikan penghuraian yang lebih jelas dan oleh kerana itulah surah al-A‘raf dikemudiankan.[4]

Oleh sebab itu , apabila kita merenungi pentafsiran al-Qur’an dengan pemerhatian yang tajam, maka sudah tentu kita akan mendapati manfaat yang besar dalam melihat perkaitan di antara satu surah dengan surah yang lain. Dan ternyata menurut pandangan para ‘ulama’ tafsir, pentafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an merupakan bentuk pentafsiran yang paling tinggi nilainya dan paling berautoriti.

Secara umumnya, surah al-A‘raf memperihalkan beberapa aspek penting meliputi aspek-aspek berikut :

1. Keimanan : Ia menyentuh persoalan mentauhidkan Allah di dalam berdoa dan beribadat di samping menegaskan hanya Allah yang mengatur dan menjaga alam ini, menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat seterusnya menyatakan bahawasanya Allah mempunyai Asma-ul Husna.

2. Hukum-hukum : Surah ini mengandungi larangan untuk mengikuti perbuatan dan adat-istiadat yang buruk, kewajipan untuk mengikuti Allah dan Rasul di samping perintah supaya memakan makanan yang halal dan menghindari makanan yang haram.

3. Kisah-kisah : Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis, kisah Nabi Nuh a.s. dengan kaumnya, kisah Nabi Saleh a.s. dengan kaumnya, kisah Nabi Syu‘aib a.s. dengan kaumnya, kisah Nabi Musa dengan Fir‘aun.

4. Perkara-perkara lain : Surah ini menyatakan bahawasanya al-Qur’an diturunkan kepada Nabi penghabisan dan perintah untuk mengikutinya, Rasul bertanggungjawab menyampaikan seruan Allah di samping menghuraikan balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan mengingkari Rasul.[5]

1.1.2 Intisari Kandungan Ayat 180 Surah al-A‘raf

Firman Allah :

و لله الأسماء الحسنى فادعوه بها وذرواالذين يلحدون في أسمئه سيجزون ما كانوا يعملون
Ertinya: “Hanya milik Allah Asma-ul Husna (nama-nama yang agung yang sesuai dengan sifat-sifat Allah), maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut nama-nama baik itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”. (Surah al-A‘raf :ayat 180)

Di dalam meneliti intisari kandungan ayat ini, Imam Ahmad Mustafa al-Maraghi menyatakan bahawasanya al-Asma’ merupakan jama‘ daripada perkataan ism (nama) iaitu lafaz yang menunjukkan zat atau menunjukkan sesuatu zat itu dengan salah satu sifatNya. al-Husna pula merupakan mu‘annah daripada al-ahsan yang membawa erti yang terbaik atau yang terindah.

Selain itu , beliau juga menjelaskan bahawa yang dimaksudkan serulah Allah dengan nama-namaNya dianjurkan kepada hambaNya untuk menyebut nama Allah dan panggillah Dia dengan Asma-ul Husna samada melalui pujian, doa atau memohon hajat kepadaNya. Sesungguhnya, hanya Allah yang memiliki segala nama yang menunjukkan erti terbaik dan sifat yang paling sempurna berbanding selain daripada Allah.
Oleh itu, sebutlah nama Allah dan panggillah Dia dengan mengucapkan nama-nama yang baik itu. Pada waktu yang sama, kita perlu meyakini, dengan menyebut nama Allah banyak faedah yang bakal diperolehi. Di antaranya ia memberi makanan kepada iman kita, menyatakan rasa takut kita kepada Allah, senantiasa khusyu’ dan menginginkan apa yang ada di sisiNya. Adapun, segala nikmat dunia yang mempesona tidak akan dihiraukan oleh mereka yang sentiasa menyeru nama Allah dan redha dengan segala penderitaan yang dialami.[6]

Syed Qutb pula menyatakan tujuan nama-nama indah Allah hanya dipakai untuknya dan memerintahkan orang beriman supaya menggunakan nama itu semata-mata untuk Allah tanpa mengubah struktur dan menukarnya, di samping mengabaikan orang-orang yang menyelewengkan nama Allah seperti al-‘Aziz dengan al-‘Uzza.[7]

Seterusnya ayat yang bermaksud “dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Maka Ibn al-Sakit telah berkata: al-mulhid bererti melencong daripada kebenaran dan meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Ahli bahasa pula menyatakan al-ilhad ialah melencong daripada sesuatu yang lurus dan menggali lubang di penjuru kubur.[8]



Al-Ilhad berlaku kepada nama Allah dalam 3 bentuk iaitu :

1. Menyandarkan nama-namaNya Yang Maha Suci kepada berhala seperti al-Latta daripada Allah, al-‘Uzza daripada al-‘Aziz, al-Mannah daripada al-Mannan. Musailamah al-Kazzab pula telah menamakan dirinya sebagai al-Rahman.

2. Menamakan diriNya dengan sesuatu yang tidak harus bagiNya sebagaimana yang kita dengar daripada orang-orang Badwi yang berkata : Ya Aba al-Makarim (Wahai Bapa Kemuliaan) dan Ya Abyad al –Wajh (Wahai Tuhan Yang Memiliki Wajah Ynag Putih) sekalipun untuk tujuan memuji.

3. Mereka enggan menamakan Allah dengan sebahagian daripada nama-namaNya yang baik seperti al-Rahman.[9]

Ia juga memberikan peringatan kepada orang-orang beriman supaya jangan menghiraukan mereka yang menyembah nama Allah dengan nama-nama yang tidak sesuai dengan keagungan Allah, menyelewengkannya, mengurangkan kesempurnaan nama-namaNya, menambah perkara yang tidak sepatutnya ke atas nama-namaNya, mendustakan nama-namaNya dengan maksud untuk menodai nama Allah atau mempergunakan Asma-ul Husna untuk nama-nama selain Allah.

Kemudian di akhir ayat 180 surah al-A‘raf, Allah mengancam mereka yang menyimpang daripada nama-nama Allah bahawasanya mereka akan dibalas dengan balasan yang setimpal di atas perbuatan jahat yang telah mereka lakukan.[10]


1.1.3 Munasabah Ayat 180 Surah al-A‘raf


Setelah Allah menerangkan tentang sifat ahli neraka Jahannam pada ayat sebelumnya iaitu ayat 179, yang mana sesungguhnya mereka merupakan golongan yang lalai kerana tidak menggunakan aqal dan hati mereka untuk memahami al-Qur’an, di samping membersihkan jiwa mereka dengan iman dan ilmu yang bermanfaat, maka ayat 180 ini hadir sebagai petunjuk tentang cara terbaik untuk merawat penyakit lalai dengan senantiasa mengingati dan menyeru nama-nama Allah yang baik itu.

Kemudian, ayat selepasnya menghuraikan tentang 2 golongan umat Muhammad iaitu golongan yang memberi petunjuk dengan hak dan adil , manakala satu golongan lagi merupakan golongan yang mendustakan ayat Allah dan menyesatkan. Justeru, ternyata kesinambungan ayat sebelum dan selepas bagi ayat 180 surah al-A‘raf telah disusun oleh Allah dengan begitu rapi dan menjadi pengajaran yang berguna kepada kita.[11]


1.1.4 Sabab al- Nuzul Ayat 180 Surah al-A‘raf

Muqatil berkata mengenai sabab nuzul ayat ini : Sesungguhnya seorang lelaki berdoa kepada Allah pada kali pertama , kemudian diikuti dengan lafaz al-Rahman pada kali kedua. Maka berkata Abu Jahal “ Bukankah Muhammad dan para sahabatnya menyembah Tuhan Yang Esa, jadi mengapakah pemuda ini menyeru Allah dengan dua nama ?”. Lalu turunlah ayat ini untuk menempelak Abu Jahal dengan menegaskan bahawa nama-nama yang terbaik (Asma-ul Husna) adalah milik mutlak Allah yang Maha Esa dan bukannya milik selain daripadaNya.[12]


[1] al-Zuhaily ,Dr.Wahbah, al-Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa al-Syari ‘ah wa al-Manhaj, Juz.Kelapan, Dar al-Fikr,Damsyiq, 1998, hal.133.
[2] Manna’ Khalil al-Qattan, Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an, cet.3, Mansyurat al-Asr al-Hadith, hal.212.
[3] Prof.Dr.Syeikh Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah(HAMKA), Tafsir al-Azhar, Juz.7-9, cet. 1984, Panji Masyarakat,Indonesia, hal.203
[4] Ibid, hal.204
[5] al-Zuhaily ,Dr.Wahbah, Op-Cit, hal.134.

[6] al-Maraghi, Ahmad Mustafa, Tafsir al-Maraghi, Juz.. Ketujuh, Cet.Ketiga, 1974, Dar al-Fikr, hal.116
[7] Syed Qutb, Fi Zilal al-Qur’an, Jil. 3, Juz. 8- 11, Dar al-Syuruq, 1973, hal. 1402
[8] al-Nisaburi , Al-‘Allamah Nizamuddin al-Hassan bin Muhammad bin Husain al-Qammi, Tafsir Ghara’ib al-Qur’an wa Ragha’ib al-Furqan, Jil.Ketiga, Juz. 7- 11,Dar al-Kutub al-Ilmiah, hal.351.
[9] Ibid
[10] al-Maraghi, Ahmad Mustafa, Op-Cit, hal.118

[11] al-Zuhaily ,Dr.Wahbah, Op-Cit, hal.180.
[12] Ibid, hal. 172

0 ulasan:

Catatan Terbaru Catatan Lama Laman utama

Langgan: Catat Ulasan (Atom)

AB KETIGA

PENGENALAN KEPADA AL-AMTHAL AL-QUR’AN

3.1 Pengenalan

al-Amthal merupakan perumpamaan-perumpamaan yang merupakan segugus ungkapan yang jelas, ringkas, padat, bernas, berisi hikmah yang senang diterima kebenarannya oleh sesiapa yang mendengar. Keindahan bahasa terserlah apabila disulam di dalam syarahan dan ucapan untuk meneguhkan kebenaran. [1]

3.2 Definisi al-Amthal

Berdasarkan kepada perbahasan para ‘ulama’, al-Amthal boleh dilihat pengertiannya dari 2 sudut iaitu takrif dari segi bahasa dan istilah.

3.2.1 Takrif al-Amthal dari segi Bahasa

Amthal berasal dari perkataan Arab iaitu jamak daripada perkataan mathal, mithil, mathil yang mempunyai maksud yang sama dengan syabah, syibh dan syabih yang bermakna sama, serupa, seperti, sebagaimana dan seumpama. [2] Mathal juga bermaksud perumpamaan, ibarat, bidalan, pepatah dan kiasan. [3] Menurut Kamus Dewan, amsal adalah kata jamak dari misal yang membawa maksud perumpamaan, perbandingan atau contoh. [4]

Ibn Manzur pula menyatakan mathal sebagai sesuatu yang dibandingkan dengan sesuatu yang seumpama dengannya, maka jadilah ia seumpamanya. (sama seperti yang dimisalkan) [5]

Sementara itu, Ibn al-‘Arabi berpandangan ada perbezaan makna di antara al-Mathal dan al-Mithl. al-Mathal ialah ungkapan tentang persamaan makna sesuatu yang difikirkan, manakala al-Mithl ialah ungkapan tentang persamaan sesuatu yang dapat dirasai oleh pancaindera. [6] Ibn al-Sikkit pula berkata, mathal adalah suatu ungkapan yang berbeza dari ungakapan yang dibandingkan tetapi mempunyai erti yang sama dengan makna ungkapan tersebut. [7]

3.2.2 Takrif al-Amthal dari segi istilah

Menurut Samih ‘Atif, ahli balaghah telah mendefinisikan al-Mathal dari segi istilah sebagai lafaz yang tersusun yang digunakan bukan pada tempatnya kerana terdapat persamaan di antara 2 perkara (perkara yang menyamai dan perkara yang disamakan dengannnya), serta terdapat halangan yang menegah penggunaan maknanya yang asal. [8]

Ibn Qayyim al-Jawziyyah pula mendefinisikan amthal al-Qur’an dengan menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam hal hukumnya, dan mendekatkan sesuatu yang abstrak (ma’qul) dengan yang indrawi (konkrit, mahsus), atau mendekatkan salah satu dari dua mahsus dengan yang lain dan menganggap salah satunya itu sebagai yang lain. [9]

Apabila diperhatikan mathal al-Qur’an yang disebutkan oleh para ‘ulama’, didapati bahawa mereka mengemukakan ayat-ayat yang menggambarkan keadaan sesuatu hal dengan keadaan hal lain, baik penggambaran itu dengan cara isti’arah mahupun dengan tasybih sarih (penyerupaan yang jelas); atau ayat-ayat yang menunjukkan makna yang menarik dengan kata-kata yang ringkas dan padat; atau ayat-ayat yang dapat dipergunakan bagi sesuatu, yang menyerupai dengan apa yang berkenaan dengan ayat itu kerana Allah mengungkapkan ayat-ayat itu secara langsung tanpa sumber yang mendahuluinya. Oleh itu, definisi yang paling sesuai dengan pengertian amthal dalam al-Qur’an ialah menunjukkan makna dalam bentuk perkataan yang menarik dan padat serta mempunyai pengaruh yang mendalam terhadap jiwa, baik berupa tasybih (penyerupaan) atau perkataan bebas (lepas, bukan tasybih). [10]


3.3. Bentuk-bentuk al-Amthal Dalam al-Qur’an

al-Amthal iaitu perumpamaan-perumpamaan yang dinyatakan dalam al-Qur’an bertujuan untuk memberi pengajaran kepada manusia tentang sesuatu perkara yang dibandingkan dengannya. Ilmu al-amthal merupakan di antara ilmu-ilmu yang berkaitan dengan al-Qur’an yang terpenting sehinggakan Imam al-Syafi‘i menegaskan adalah menjadi suatu kewajipan bagi seseorang mujtahid untuk menguasai ilmu ini.[11] Bahkan tegas Dr. Abu Sinnah dalam kitabnya, bahawa ilmu ini bukan sahaja memberi pengajaran kepada manusia tentang sesuatu perkara yang dibandingkan dengannya, tetapi juga untuk menyatakan kebenaran dan menghapuskan kebatilan.[12]

Allah menegaskan amthal bertujuan untuk memberi pengajaran dan peringatan sebagaimana firman-Nya di dalam surah al-Zumar ayat 27.

Maksudnya : “Dan Demi sesungguhnya! Kami telah mengemukakan kepada umat manusia berbagai perbandingan di dalam al-Qur’an ini, supaya mereka mengambil peringatan dan pelajaran”.


Berdasarkan perbahasan para ‘ulama’, terdapat 3 bentuk al-Amthal di dalam al-Qur’an iaitu :

3.3.1 al-Amthal al-Musarrahah. Ia merupakan ungkapan yang menggunakan perkataan mathal secara langsung dengan jelas dan nyata ataupun menggunakan perkataan yang menunjukkan tasybih (persamaan). Amthal seperti ini banyak terdapat di dalam al-Qur’an. [13] Di antaranya ialah:

a) Firman Allah mengenai orang munafiq :
مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَاراً فَلَمَّا أَضَاءتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لاَّ يُبْصِرُونَ (17) صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لاَ يَرْجِعُونَ (18) أَوْ كَصَيِّبٍ مِّنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصْابِعَهُمْ فِي آذَانِهِم مِّنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ واللّهُ مُحِيطٌ بِالْكافِرِينَ (19)
( Surah al-Baqarah; Ayat 17-20)

Maksudnya : “Perumpamaan (mathal) mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, Allah menghilangkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). Atau seperti orang-orang yang ditimpa hujan lebat dari langit disertai gelap gelita, guruh dan kilat;mereka menyumbat jarinya ke dalam telinga masing-masing dari mendengar suara petir kerana mereka takut mati.(Masakan mereka boleh terlepas) sedangkan(pengetahuan dan kekuasaan) Allah meliputi orang-orang yang kafir itu.”. Kilat itu pula hampir-hampir menyambar (menghilangkan) penglihatan mereka; tiap-tiap kali kilat itu menerangi mereka (dengan pancarannya), mereka berjalan dalam cahayanya dan apabila gelap menyelubungi mereka, berhentilah mereka (menunggu dengan bingungnya). dan sekiranya Allah menghendaki, nescaya dihilangkan-Nya pendengaran dan penglihatan mereka; Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.


Di dalam ayat-ayat ini, Allah membuat dua perumpamaan (mathal) bagi orang munafiq; mathal yang berkenaan dengan api (nari) dalam firmanNya, “…adalah seperti orang yang menyalakan api…”, kerana di dalam api terdapat unsur cahaya; dan mathal yang berkenaan dengan air (ma’i), “…atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit…”, kerana di dalam air merupakan sumber kehidupan. Dan wahyu yang turun dari langit, bermaksud untuk menerangi hati dan menghidupkannya. Allah menyebutkan juga kedudukan orang munafiq dalam dua keadaan. Di satu sisi, mereka bagaikan orang yang menyalakan api untuk penerangan dan kemanfaatan; mengingatkan mereka yang beroleh manfaat apabila memeluk agama Islam.

Namun di sisi lain, Islam tidak memberikan pengaruh ‘nur’Nya terhadap hati mereka kerana Allah menghilangkan cahaya (nur) yang ada dalam api itu, “….Allah menghilangkan cahaya (yang menyinari) mereka…”, dan membiarkan unsur ‘membakar’ yang ada padanya. Inilah perumpamaan mereka yang berkenaan dengan api.

Mengenai mathal mereka yang berkenaan dengan air (ma’i), Allah menyerupakan mereka dengan keadaan orang yang ditimpa hujan lebat yang disertai gelap gelita, guruh dan kilat sehingga terkoyaklah kekuatan orang itu dan ia meletakkan jari-jemari untuk menyumbat telinga serta memejamkan mata kerana takut petir menimpanya. Ini menunjukkan, bahawa al-Qur’an dengan segala peringatan, perintah dan larangan, bagi golongan munafiq tidak ubah seperti petir yang turun sambar-menyambar.

3.3.2 al-Amthal al-Kaminah. Ia merupakan ungkapan yang tidak disebutkan dengan jelas lafaz tamthil (perumpamaan), tetapi dapat difahami dari maknanya bahawa ia merujuk kepada sesuatu perumpamaan tertentu dari perumpamaan Arab. Ia berfungsi apabila dipindahkan kepada apa yang diumpamakan dengannya. [14] Di antara contoh-contohnya adalah seperti berikut :

a) Ayat-ayat yang senada dengan perkataan :
" خير الأمور الوسط "
“ Sebaik-baik urusan adalah pertengahannya”

(i) Misalnya firman Allah s.w.t. mengenai sapi betina :
إِنَّهَا بَقَرَةٌ لاَّ فَارِضٌ وَلاَ بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَلِكَ ...
( Surah al-Baqarah; Ayat 68)

Maksudnya : “ Sapi betina yang tidak tua dan tidak muda, pertengahan di antara itu….”

(ii) Misalnya firman Allah s.w.t. tentang nafkah :
وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا ...
( Surah al-Furqan; Ayat 67)

Maksudnya : “ Dan mereka apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir, dan adalah perbelanjaan itu di tengah-tengah antara yang demikian…”


b) Ayat yang senada dengan perkataan :
" ليس الخبر كالمعاينة "
“ Khabar itu tidak sama dengan menyaksikan sendiri”

(i) Misalnya firman Allah s.w.t. tentang Nabi Ibrahim a.s.:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِـي الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِن
قَالَ بَلَى وَلَـكِن لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِي ...

( Surah al-Baqarah; Ayat 260)

Maksudnya : “ Allah berfirman ; “Apakah kamu belum percaya?” Ibrahim menjawab : “ Saya telah percaya, akan tetapi agar bertambah tetap hati saya… ”


c) Ayat yang senada dengan perkataan :

" لا يلدغ المؤمن من جحر مرتين " [15]
Maksudnya : “ Orang mukmin tidak akan disengat dua kali dari lubang yang sama ”

(i) Misalnya firman Allah s.w.t. mengenai ucapan Nabi Ya‘qub a.s. :

قَالَ هَلْ آمَنُكُمْ عَلَيْهِ إِلاَّ كَمَا أَمِنتُكُمْ عَلَى أَخِيهِ مِن قَبْلُ
( Surah Yusuf; Ayat 64)

Maksudnya : “ Bagaimana aku mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, kecuali seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepadamu dahulu ”


d) Ayat yang senada dengan perkataan :
" كما تدين تدان "
Maksudnya : " Sebagaimana kamu telah berhutang, maka kamu
akan dibayar ”


(i) Misalnya firman Allah s.w.t. yang berbunyi :

مَن يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ
( Surah al-Nisa’; Ayat 123)

Maksudnya : " Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, nescaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu "

3.3.3 al-Amthal al-Mursalah. Ia merupakan ungkapan yang terdiri dari kalimah-kalimah bebas yang tidak menggunakan lafaz tasybih secara jelas. Namun demikian, kalimah-kalimah tersebut berfungsi sebagai mathal. Di antaranya adalah seperti : Misalnya seperti firman Allah s.w.t. yang berikut :
a)
الآنَ حَصْحَصَ الْحَقُّ
( Surah Yusuf; Ayat 51)

Maksudnya : “ Sekarang ini jelaslah kebenaran itu…”

b)
لَيْسَ لَهَا مِن دُونِ اللَّهِ كَاشِفَةٌ
( Surah al-Najm; Ayat 58)

Maksudnya : “Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain dari Allah”


c)
فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ
( Surah al-Hijr ; Ayat 74)

Maksudnya :“ Maka Kami jadikan negeri kaum Lut itu tunggang terbalik (tertimbus segala apa yang ada di muka buminya), dan Kami hujani atasnya dengan batu dari tanah yang dibakar”.

Di dalam ayat ini, perkataan mathal atau perumpamaan tidak disebutkan tetapi dari tafsirannya, ia jelas menggambarkan wujudnya perumpamaan. Dr. Hamka dalam tafsirnya menyatakan bahawa ayat ini diumpamakan dengan keadaan negeri yang ditunggang terbalik, dibongkar urat akarnya laksana pohon kayu besar yang ditumbangkan oleh angin. [16]

3.4 Kepentingan al-Amthal

al-Zarkasyi menyatakan al-Amthal memberikan manfaat sebagai peringatan, nasihat, galakan, celaan, iktibar, pengakuan dan memberi makna dengan sesuatu yang boleh dilihat. al-Amthal juga mengandungi penerangan tentang peringkat balasan, pujian, celaan, balasan baik dan jahat, memuliakan sesuatu dan menghinanya, di samping membenarkan sesuatu dan membatilkannya. [17]

Di samping itu, Ibrahim al-Nizam menegaskan bahawa, terdapat 4 perkara pada gaya bahasa al-Amthal yang tidak terdapat pada gaya bahasa lain iaitu : [18]
a) Keringkasan lafaz yang digunakan
b) Ketepatan dan kepadatan makna
c) Keelokan perbandingan
d) Keindahan kiasan

Ibn al-Muqfa’ pula menyebutkan bahawa al-mathal bertujuan untuk menjelaskan makna sesuatu yang dibandingkan dan memberikan gambaran yang baik kepada yang mendengar. [19] al-Khuffaji di dalam menyatakan kepentingan al-Amthal , menyatakan dinamakan mathal itu kerana ia merupakan perumpamaan yang hidup dan memberikan kesan kepada jiwa manusia untuk selama-lamanya. [20]

al-Zamakhsyari di dalam kitab tafsirnya juga menyebut tentang kepentingan al-Amthal. Di antara lain ia berperanan untuk meggambarkan sesuatu perkara yang diumpamakan dalam gambaran yang sebenar, meletakkan golongan yang ragu-ragu kepada golongan yang mempunyai keyakinan serta menghadirkan sesuatu yang ghaib dalam alam nyata. Jelasnya lagi, itulah di antara rahsia al-Qur'an yang terkandung di dalamnya al-Amthal. [21]

3.5 Faedah-faedah al-Amthal :

Mengikut al-Qattan, terdapat beberapa faedah al-Amthal kepada manusia. Di antaranya ialah : [22]
1. Menunjukkan sesuatu ma‘qul (yang hanya boleh diterima akal) dalam bentuk konkrit yang dapat dirasakan oleh pancaindera manusia, sehingga akal mudah menerimanya kerana pengertian-pengertian abstrak tidak akan tertanam di dalam fikiran kecuali jika ia dituangkan dalam bentuk indrawi (yang konkrit) yang dekat dengan pemahaman. Contohnya Allah membuat mathal bagi keadaan orang yang menafkahkan harta dengan riya ’, di mana ia tidak akan mendapat pahala sedikitpun dari perbuatannya itu. Seperti firman Allah s.w.t. :

فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لاَّ يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُواْ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ (264)
( Surah al-Baqarah ; ayat 264)


Maksudnya : “ Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadikan ia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan. Dan ingatlah Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum yang kafir”.

2. Menyingkap hakikat sesuatu perkara dan mengemukakan sesuatu yang tidak nampak seakan-akan sesuatu yang nampak. Contohnya :

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ...

( Surah al-Baqarah ; ayat 275)

Maksudnya : “ Mereka yang memakan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila”.

3. Mendorong orang yang diberi mathal untuk berbuat sesuai dengan isi mathal, jika ia merupakan sesuatu yang disenangi jiwa. Contohnya, Allah membuat mathal bagi keadaan orang yang menafkahkan harta di jalan Allah, di mana hal itu akan memberikan kepadanya kebaikan yang banyak. Allah berfirman :

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّئَةُ حَبَّةٍ وَاللّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ(261)

( Surah al-Baqarah ; ayat 261)

Maksudnya : “ Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan harta mereka di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan ganjaran bagi siapa yang Ia kehendaki. Dan Allah Maha luas kurnia-Nya lagi Maha Mengetahui”.


4. Menjauhkan (tanfir) jika isi mathal berupa sesuatu yang dibenci jiwa. Seperti larangan Allah tentang larangan mengumpat :

أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ
( Surah al-Hujurat ; ayat 12)

Maksudnya : “Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentu kamu merasa jijik kepadanya.”


5. Amthal lebih berpengaruh pada jiwa, lebih efektif dalam memberikan nasihat, lebih kuat dalam memberikan peringatan, dan lebih dapat memuaskan hati. Allah banyak meyebut amthal di dalam al-Qur’an untuk peringatan dan pengajaran. Allah berfirman :

وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْآنِ مِن كُلِّ مَثَلٍ لَّعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
( Surah al-Zumar ; ayat 27)

Maksudnya : “ Dan sungguh Kami telah membuat bagi manusia di dalam al-Qur’an ini setiap macam perumpamaan (mathal) supaya mereka mendapat pengajaran.”



6. Untuk memuji orang yang diberi mathal tentangnya. Sebagaimana firman Allah s.w.t tentang para sahabat yang pada mulanya adalah golongan yang sedikit di awal dakwah Islam, kemudian berkembang sehingga keadaan mereka menjadi kuat dan mengkagumkan hati, kerana kehebatan mereka bahkan menggerunkan golongan kafir dalam surah al-Fath :

ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ

( Surah al-Fath ; ayat 29)

" Demikianlah perumpamaan mereka dalam Taurat dan Injil, iaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat, lalu ia menjadi besar dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, kerana Allah hendak menjadikan orang-orang kafir merana (dengan kekuatan orang-orang mukmin)

3.6 Pengenalan Kitab al-Amthal fi al-Qur’an

Kitab al-Amthal fi al-Qur’an adalah salah sebuah kitab utama karangan Ibn Qayyim al-Jawziyyah. Kitab ini menampilkan kupasan beliau yang menarik tentang perumpamaan-perumpamaan yang telah disebutkan oleh Allah S.W.T. di dalam al-Qur’an. Huraian-huraian yang dibuat oleh pengarangnya mengandungi unsur-unsur nasihat dan iktibar yang cukup bermanfaat bagi mereka yang membacanya. Meskipun kitab ini hanya mempunyai 95 halaman muka surat sahaja dengan perbahasan terhadap 24 ayat-ayat amthal atau perumpamaan di dalam al-Qur’an, namun huraian yang dibuat oleh pengarangya cukup menarik dan mempunyai nilai keilmuan yang tinggi.

Di dalam kesibukan Ibn Qayyim al-Jawziyyah sebagai ulama yang terkenal pada zamannya dan sentiasa menjadi rujukan di kalangan masyarakat pada waktu itu, beliau masih berkesempatan menghasilkan 60 buah kitab dalam pelbagai bidang ilmu, [23] dan kitab yang akan dikaji oleh penulis di dalam bab keempat ini, di antara kitab terpenting yang perlu diteliti metodologi penulisannya dan diambil manfaatnya.

Penulis telah menemui dua buah karya setakat ini iaitu al-Amthal fi al-Qur’an, terbitan Matabi‘ al-Safa, Makkah al-Mukarramah, 1982 yang disunting oleh Dr. Nasir bin Sa‘d al-Rasyid dan al-Amthal fi al-Qur’an, terbitan Dar al-Ma‘rifah, Beirut, Lubnan, cetakan kedua tahun 1983 yang disunting oleh Sa‘id Muhammad Namr al-Khatib. Dalam kajian ini, penulis menggunakan kitab yang telah disunting oleh Sa‘id Muhammad Namr al-Khatib kerana ia lebih lengkap dan banyak membantu penulis dalam kajian ini.

3.7 Format Penyusunan Kitab al-Amthal fi al-Qur’an

Tatacara seorang penulis dalam mengarang kitab merupakan suatu kaedah yang digunakan oleh seorang pengarang untuk menyusun sesebuah kitab. Ia termasuklah penyusunan ayat, penyusunan mengikut topik atau bab dan sebagainya. Ia juga dikenali sebagai format penyusunan.

Sepanjang pengamatan penulis terhadap kitab al-Amthal fi al-Qur’an ini, terdapat beberapa perkara penting yang dapat dianggap sebagai format penyusunan kitab ini. Ia dapat dirumuskan sebagaimana berikut :

3.7.1 Bahagian Pendahuluan

Pada umumnya , kitab ini mengandungi muqaddimah atau pendahuluan yang
merupakan suatu penegasan oleh Ibn Qayyim al-Jawziyyah tentang perumpamaan-perumpamaan yang disebut oleh Allah di dalam al-Qur’an. Di dalam muqaddimahnya, beliau memulakan kitabnya dengan suatu peringatan bahawasanya manusia tidak akan memikirkan, merenung, serta menghayati perumpamaan yang dinyatakan oleh Allah di dalam al-Qur’an melainkan mereka yang berilmu dan yang memahami isi kandungan al-Qur’an dengan sebenar-benarnya. Beliau juga menyatakan sesungguhnya amthal al-Qur’an adalah menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam hal hukumnya, dan mendekatkan sesuatu yang abstrak (ma‘qul) dengan yang indrawi (konkrit), atau mendekatkan salah satu dari dua mahsus (konkrit) dengan yang lain dengan menganggap salah satunya itu sebagai yang lain.[24]

3.7.2 Isi Kandungan

Di dalam kitab ini, Ibn Qayyim al-Jawziyyah membahagikan kitabnya kepada 19 fasl yang mengandungi perbahasan beliau terhadap 23 ayat-ayat yang berkaitan dengan perumpamaan di dalam al-Qur’an iaitu :
1) Ayat 17-19 , Surah al-Baqarah (perihal bandingan sifat golongan munafiq)[25]
2) Ayat 17 , Surah al-Ra‘d (perihal bandingan peranan wahyu yang menghidupkan hati) [26]
3) Ayat 24, Surah Yunus (perihal bandingan kehidupan dunia yang fana) [27]
4) Ayat 24 , Surah Hud (perihal bandingan golongan kafir dan beriman) [28]
5) Ayat 41, Surah al-‘Ankabut (perihal bandingan golongan yang mengambil pelindung selain Allah) [29]
6) Ayat 39-40 , Surah al-Nur (perihal bandingan amalan golongan kafir) [30]
7) Ayat 35 , Surah al-Nur (perihal bandingan nur Allah) [31]
8) Ayat 44 , Surah al-Furqan (perihal bandingan golongan yang menolak petunjuk Allah) [32]
9) Ayat 30 , Surah al-Rum (perihal bandingan golongan musyrik yang mempersekutukan Allah dalam sembahan mereka) [33]
10) Ayat 75-76 , Surah al-Nahl (perihal bandingan golongan hamba abdi dan orang merdeka serta bandingan tentang Allah dan berhala sembahan musyrik) [34]
11) Ayat 49-51 , Surah al-Muddaththir (perihal bandingan golongan yang berpaling dari al-Qur’an) [35]
12) Ayat 5 , Surah al-Jumu‘ah (perihal bandingan golongan Yahudi yang mendustakan ayat-ayat Allah) [36]
13) Ayat 175-176 , Surah al-A‘raf (perihal bandingan orang yang mengutamakan dunia dan nafsunya) [37]
14) Ayat 16 , Surah al-Hujurat (perihal bandingan orang yang mengumpat) [38]
15) Ayat 18 , Surah Ibrahim (perihal bandingan amalan golongan kuffar) [39]
16) Ayat 24-27 , Surah Ibrahim (perihal bandingan kalimah yang baik dan kalimah yang buruk) [40]
17) Ayat 30-31 , Surah al-Hajj (perihal bandingan golongan yang mensyirikkan Allah) [41]
18) Ayat 73 , Surah al-Hajj (perihal bandingan kejahilan golongan yang menyembah berhala dan kelemahan berhala yang disembah) [42]
19) Ayat 171 , Surah al-Baqarah (perihal bandingan seruan kepada golongan kafir) [43]
20) Ayat 261 , Surah al-Baqarah (perihal bandingan golongan yang menafkahkan harta mereka di jalan Allah) [44]
21) Ayat 117-118, Surah Ali ‘Imran (perihal bandingan apa yang dibelanjakan golongan kafir di dunia) [45]
22) Ayat 29, Surah al-Zumar (perihal bandingan golongan kafir yang menyembah banyak Tuhan dan golongan beriman yang hanya menyembah Allah) [46]
23) Ayat 10 -11, Surah al-Tahrim (perihal bandingan golongan yang tetap kafir meskipun bersama dengan golongan beriman dan golongan beriman yang tidak terjejas keimanannya meskipun bersama dengan golongan kafir) [47]

Penulis berpandangan, kecenderungan Ibn Qayyim al-Jawziyyah memasukkan hanya 23 ayat amthal berbanding jumlah keseluruhan yang berjumlah 40 ayat, kerana kemungkinan ayat-ayat yang dipilih itu mempunyai keutamaan dan memberikan pengajaran yang lebih besar buat pembaca kitabnya berbanding ayat-ayat yang tidak dimasukkan. Ini berpandukan pandangan Ibn ‘Imad bahawa semasa Ibn Qayyim al-Jawziyyah dipenjarakan, beliau banyak menghabiskan masa dengan membaca al-Qur’an dengan memahami ayat-ayatnya serta meneliti maksudnya. Amalan ini telah membuka pintu kebaikan dan kelebihan kepada beliau. Antara yang dikagumi ialah, Ibn Qayyim al-Jawziyyah dapat memilki daya rasa yang benar dan mampu memperoleh maksud yang sahih daripada ayat-ayat al-Qur’an.[48]

Selain itu, penulis juga berpendapat ayat-ayat yang dibahaskan oleh beliau yang tidak disusun mengikut turutan surah di dalam al-Qur’an, menunjukkan bahawa kemungkinan beliau membahaskan ayat-ayat amthal yang terpenting dahulu berdasarkan firasat beliau yang mendapat petunjuk dari Allah.

3.7.3 Bahagian Penutup

Kitab ini tidak mempunyai mempunyai bahagian penutup yang khusus. Sebaliknya, Ibn Qayyim al-Jawziyyah telah mengakhiri penulisan beliau dengan perbahasan terhadap ayat 10 dan 11, Surah al-Tahrim yang menceritakan tentang perbandingan yang disebutkan oleh Allah tentang golongan yang kafir dan beriman ; merujuk kepada isteri Nabi Nuh dan isteri Nabi Lut yang ingkar dan kufur kepada Allah meskipun mereka adalah isteri para Nabi, sebaliknya Allah memberi hidayah kepada Asiah untuk beriman kepada-Nya sedangkan dia merupakan isteri Fir‘aun yang derhaka kepada Allah.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah sekali lagi menegaskan perumpamaan seperti ayat Allah dalam surah al-Tahrim ini tidak akan difahami rahsia perumpamaannya melainkan mereka yang alim dan mengetahui rahsia serta hikmah penurunan ayat-ayat tersebut.

3.8 Ciri-ciri Khusus Penyusunan Kitab al-Amthal fi al-Qur’an

Hasil pengamatan penulis terhadap kitab ini, Ibn Qayyim al-Jawziyyah telah menggunakan pendekatan tersendiri dalam menyusun kitab ini.

3.8.1 Beliau menulis berdasarkan fasl. Dalam setiap fasl akan mengandungi ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan mathal yang dinyatakan oleh Allah s.w.t di dalam al-Qur’an. Ini dapat dilihat pada setiap fasl yang keseluruhannya berjumlah 19 di dalam kitab ini. [49]

3.8.2 Setiap fasl tiada tajuk khusus, sebaliknya dimulakan dengan " dan di antara kata-kata-Nya .…..", lalu dinyatakan ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan mathal. Perkara ini dapat dibuktikan apabila kita meneliti setiap fasl [50]

3.8.3 Beliau tidak membahagikan kitabnya kepada topik-topik tertentu seperti pengertian al-amthal ataupun jenis-jenis amthal, sebaliknya beliau terus membahaskan sebahagian ayat-ayat al-Qur’an yang mengandungi mathal. Ini dapat dilihat , apabila beliau hanya memasukkan 23 ayat al-Qur’an sahaja yang berkaitan dengan mathal, daripada jumlah keseluruhan yang berjumlah hampir 40 ayat. [51]

3.8.4 Beliau tidak menyusun ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan mathal secara tertib mengikut susunan surah. Ia dapat dilihat dengan jelas apabila beliau masih membahaskan ayat 171 dan 261 dari Surah al-Baqarah serta ayat 117-118 dari Surah Ali Imran di bahagian akhir kitab.[52] Penulis berpandangan, kemungkinan beliau mengutamakan perkara yang hendak diutamakan.
3.8.5 Beliau menggunakan bahasa yang mudah difahami, mengesankan hati, gambaran yang paling tepat sesuai dengan mathal yang dinyatakan Allah s.w.t., serta pengajaran yang cukup bermakna kepada mereka yang membaca kitab ini. Misalnya seperti berikut :

Dalam membahaskan ayat 29, Surah al-Zumar, yang menceritakan tentang bandingan golongan kafir yang menyembah banyak Tuhan dan golongan beriman yang hanya menyembah Allah dengan perumpamaan seorang hamba lelaki yang dimiliki oleh beberapa orang yang berkongsi yang bertentangan tabiat dan kemahuannya dan seorang hamba lelaki yang lain hanya dimiliki oleh seorang sahaja. Maka Ibn Qayyim menegaskan, keadaan golongan kafir itu resah gelisah kerana tidak mengetahui Tuhan yang mana hendak dipuja dan dipohon bantuan dan tidak mungkin mereka memuaskan hati kesemua Tuhan mereka. Sedangkan golongan yang beriman berada dalam keadaan yang tenang dan tenteram apabila menyembah Allah, bahkan mereka beroleh keredhaan dan rahmat dari Allah. Lalu beliau bertanya sebagaimana soalan Allah di dalam ayat tersebut, adakah sama 2 bentuk sembahan ini? Sudah tentu tidak sama. Maka beliau merumuskan bahawa inilah perbandingan yang paling tepat dan sesungguhnya mereka yang ikhlas menyembah Allah Yang Maha Esa semata-mata akan mendapat pertolongan dan kebaikan dari-Nya, sedangkan golongan kafir sama sekali tidak berhak untuk mendapat 2 perkara tersebut kerana mereka adalah golongan yang menyembah banyak Tuhan dan mensyirikkan Allah. [53]

Ketika beliau menghuraikan ayat 117-118 Surah Ali ‘Imran, yang menceritakan perbandingan Allah tentang apa yang dibelanjakan oleh golongan kafir sewaktu di dunia seumpama angin yang membawa udara yang amat sejuk, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri mereka sendiri, lalu membinasakannya. Ibn Qayyim menjelaskan inilah perumpamaan yang ditunjukkan Allah tentang golongan kafir yang menafkahkan harta mereka bukan untuk mentaati-Nya dan mengharapkan keredhaan-Nya. Bahkan Allah menyamakan apa yang dibelanjakan oleh golongan kafir dari harta mereka demi mendapatkan kemasyhuran dan pujian agar menjadi sebutan ramai, seumpama tanaman yang ditanam oleh tuannya yang mengharapkan manfaat dari tanaman itu. Sebaliknya, tanaman itu dilanda angin yang sangat kuat yang akhirnya membinasakan keseluruhan tanaman tersebut. Inilah kerugian yang akan ditanggung oleh golongan kafir dan segala yang berlaku adalah disebabkan kezaliman yang dilakukan oleh mereka sendiri. [54]

Dalam menjelaskan ayat 49-51, surah al-Muddaththir, Ibn Qayyim al-Jawziyyah menegaskan inilah perbandingan bagi golongan yang berpaling dari kalam Allah dan tidak menghayatinya. Dan Allah menyamakan sifat golongan ini yang berpaling dan menolak al-Qur’an seumpama keldai yang lari apabila melihat singa. Jelas beliau lagi, inilah seburuk-buruk perbandingan bagi golongan ini. Ini kerana, keldai adalah haiwan yang tidak berakal tetapi apabila mendengar suara singa, maka ia lari dengan ketakutan yang amat sangat. Tambah beliau, perbandingan ini bertujuan menghina golongan ini yang berpaling dari petunjuk. [55]

Dalam menghuraikan ayat 44, surah al-Furqan yang menceritakan tentang kebanyakan manusia yang tidak mengambil petunjuk dari peringatan Allah dan Rasul umpama binatang ternak bahkan lebih sesat, Ibn Qayyim al-Jawziyyah menegaskan perumpamaan ini hadir kerana kebanyakan manusia tidak menerima petunjuk yang disampaikan kepada mereka. Jelas beliau lagi, binatang mampu menuju ke satu tempat yang diarah tanpa melencong ke kiri atau ke kanan, bahkan mampu membezakan tumbuhan apa yang bermanfaat dan memberi mudarat kepadanya. Sedangkan manusia, kebanyakannya tidak menerima seruan para Rasul bahkan tidak mahu mengikut petunjuk tersebut. Binatang ternak tidak diberikan akal untuk berfikir atau lidah untuk berkata-kata, tetapi manusia yang diberikan akal, mata, hati dan lidah tetapi tidak pula memanfaatkan kesemua kurniaan Allah tersebut. Maka, nyatalah manusia lebih sesat daripada binatang ternak yang serba kekurangan itu. [56]


Sebagai kesimpulan dalam pengenalan kepada kitab al-Amthal fi al-Qur’an ini, maka dapatlah penulis merumuskan bahawa kitab ini mempunyai beberapa keistimewaan yang perlu diambil manfaat oleh pembaca kitab ini terutamanya dalam usaha untuk mengkaji rahsia dan hikmah Allah di sebalik setiap ayat-ayat amthal di dalam al-Qur’an yang dibahaskan dalam kitab ini. Meskipun tiada penyusunan yang sistematik dari sudut pembahagian bab atau fasl di dalam kitab ini yang menceritakan tentang konsep al-amthal dan bahagian-bahagiannya, penulis berpandangan Ibn Qayyim al-Jawziyyah ingin mengajak pembaca kitabnya agar terus menelaah dan mentadabbur ayat-ayat amthal di dalam al-Qur’an, kerana kemungkinan pada pandangan beliau itulah yang lebih penting.

[1] Yusfaezah Yunos (1999/2000), al-Amthal Dalam Uslub Dakwah:Kajian Surah al-Kahfi;Ayat 32-34, Latihan Ilmiah, Universiti Malaya, Kuala Lumpur
[2] Ibrahim Madhkur (1985), al-Mu‘jam al-Wasit, j. 1, c.1, Kaherah : (T.P.), h. 888.
[3] Mohd. Idris ‘Abdul Rauf al-Marbawi (Dr.) (1990), Kamus Idris al-Marbawi, j. 1, Kuala Lumpur : Dar al-Fikr, h. 241.
[4] Teuku Iskandar (Dr.), op.cit., h. 893.
[5] Abu al-Fadl Jamal al-Din Muhammad bin Mukrim Ibn Manzur (1955), Lisan al-‘Arab, j. 2, Beirut :Dar al-Sadir li al-Tiba‘ah wa al-Nasyr, h. 611.
[6] al-Zarkasyi (1972), op.cit., h. 490.
[7] Abu al-Fadl Ahmad bin Muhammad al-Maydani (t.t.) (tahqiq), Muhammad Abu al-Fadl Ibrahim, Majmu‘ al-Amthal, j. 1, Kaherah : ‘Isa al-Bab al-Halabi al-Syurakah, h.7.
[8] Samih ‘Atif al-Zayn (1987), op.cit., h. 11.
[9] Ibn Qayyim al-Jawziyyah, op.cit, h. 173-174.
[10] al-Qattan, op.cit., h. 283.
[11] ‘Abd al-Fatah Abu Sinnah (Dr.) (1995), ‘Ulum al-Qur’an, Beirut : Dar al-Syuruq, h.40
[12] Ibid, hlm. 39
[13] Muhammad Jabir al-Fayyad (Dr.) (1995), op.cit., h. 202
[14] al-Qattan, op.cit, h. 285
[15] Abi ‘Abd Allah bin ‘Isma‘il bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardhibah al-Bukhari al-Ja‘fi (1987), Sahih al-Bukhari, Kitab al-Adab, Bab La Yuldagh al-Mu’min min Juhrin Wahidin Marrataini, no. Hadith 5780
[16] Abdul Malik Karim Amrullah (Dr.) (1993), Tafsir al-Azhar, j.5, c. 2, Singapura : Pustaka Nasional Pte. Ltd, h. 3870.
[17] al-Zarkasyi, op.cit., h. 486.
[18] ‘Abd al-Majid al-Bayanuni (1991), Darb al-Amthal fi al-Qur’an : Ahdafuhu wa al-Tarbawiyyah wa Atharuhu, Damsyiq : Dar al-Qalam, h. 35.
[19] ‘Abd Allah bin al-Muqfa’ (1961), al-Adab al-Saghir, Matba‘ah Muhammad ‘Ali Sabih, Kaherah : (T.P.), h. 40
[20] al-Maydani (t.t.), op.cit., j.1, h. 1.
[21] Jar Allah Mahmud bin ‘Umar al-Zamakhsyari (t.t.), al-Kasyaf ‘an Haqa’iq al-Tanzil wa ‘Uyun al-Aqawil, Dar al-‘Alamiyyah, j.1, h. 139.
[22] al-Qattan (2000), op.cit., h. 286-289.
[23] Ibn ‘Imad, op.cit., j. 6, h. 169.
[24] Ibn Qayyim al-Jawziyyah (1983), op.cit., h. 171.
[25] Ibid, h. 174 – 180.
[26] Ibid, h. 180 – 183.
[27] Ibid, h. 184 – 186.
[28] Ibid, h. 186 – 187.
[29] Ibid, h. 188 – 190.
[30] Ibid, h. 191 – 196.
[31] Ibid, h. 196 – 200.
[32] Ibid, h. 200 – 201.
[33] Ibid, h. 201 – 203.
[34] Ibid, h. 203 – 211.
[35] Ibid, h. 212 – 213.

BAB KEEMPAT

METODOLOGI IBN QAYYIM AL-JAWZIYYAH DALAM KITAB AL-AMTHAL FI AL-QUR’AN


4.1 Pendahuluan

Pengkajian metodologi penulisan seseorang tokoh merupakan suatu perkara yang amat penting dalam memahami gaya penulisan yang digunakan, pemikiran tokoh dalam mengulas sesuatu perkara, bahkan yang lebih penting untuk membuat suatu kesimpulan keseluruhan terhadap isi kandungan kitab yang ditulis untuk dijadikan suatu panduan umum tentang metodologi yang digunakan oleh tokoh tersebut.

Justeru itu, bab yang keempat ini merupakan bab yang terpenting di dalam kajian penulis. Di dalam bab ini, penulis akan membentangkan metodologi yang digunakan oleh Ibn Qayyim al-Jawziyyah untuk menulis kitab al-Amthal fi al-Qur’an. Ia juga gambaran kefahaman beliau dalam mengulas ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan amthal untuk dijadikan panduan selaras dengan ketokohan beliau sebagai ilmuan terkenal pada zamannya.

Sepanjang pengamatan penulis terhadap kitab ini, penulis mendapati metodologi Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam menulis kitab al-Amthal fi al-Qur’an masih berpandukan kaedah tradisi yang pernah digunapakai oleh ‘ulama’-‘ulama’ sebelumnya iaitu dengan mentafsirkan ayat-ayat amthal di dalam al-Qur’an dengan ayat al-Qur’an yang lain, dengan Hadith Nabawi, serta qawl al-Sahabah dan qawl al-tabi‘in. Ini dapat dibuktikan apabila penulis meneliti perbahasan beliau pada setiap ayat-ayat amthal di dalam kitab ini. Ibn Qayyim al-Jawziyyah akan membahaskan ayat amthal di dalam al-Qur’an dengan menggunakan kaedah- kaedah berikut :

4.1.1 Mentafsirkan ayat amthal di dalam al-Qur’an dengan ayat al-Qur’an yang lain

Sebaik-baik cara pentafsiran ialah hendaklah mentafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an, sebab perkara yang dijelaskan dengan mujmal (umum) pada suatu tempat maka ia telah diperincikan di tempat lain; atau diringkaskan pada suatu tempat telah pula diterangkan secara keseluruhan di tempat lain.[1] Ibn Kathir juga menegaskan bahawa mentasirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an merupakan cara pentafsiran yang lebih baik di mana lafaz atau ayat yang datang secara mujmal (umum) pada suatu tempat akan ditaqyidkan (diperincikan) di tempat lain. Melalui pemerhatian penulis, Ibn Qayyim al-Jawziyyah telah mentafsirkan ayat amthal yang dibahaskan di dalam kitabnya dengan ayat al-Qur’an yang lain. Di antara contohnya adalah seperti berikut :

1. Ketika beliau menyatakan perbahasan tentang ayat 10, surah al-Tahrim dengan menyandarkan huraiannya kepada ayat al-Qur’an yang lain.

Sebagai contoh, penulis mengemukakan ayat tersebut :
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَاِمْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئاً وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ(10)
( Surah al-Tahrim ; ayat 10)

Maksudnya : "Allah membuat isteri Nuh dan isteri Lut perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang soleh di antara hamba-hamba Kami ; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah ; dan dikatakan (kepada keduanya) ; “Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)”.


Beliau membahaskan bahawa kekufuran seseorang itu tidak akan menjejaskan mereka yang beriman yang bersama dengannya. Ibn Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan lagi, sekalipun Nabi Nuh dan Nabi Lut adalah utusan Allah dan suami kepada isteri mereka, ternyata hubungan pernikahan itu tidak dapat menyelamatkan mereka iaitu isteri Nabi Nuh dan Nabi Lut dari azab neraka Allah apabila mereka menentang agama Allah. Lalu Ibn Qayyim al-Jawziyyah membawa beberapa ayat yang menyokong hujahnya dengan bersandarkan kepada ayat-ayat berikut : [2]
i)
وَاتَّقُواْ يَوْماً لاَّ تَجْزِي نَفْسٌ عَن نَّفْسٍ شَيْئاً وَلاَ يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلاَ تَنفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَلاَ هُمْ يُنصَرُونَ (123)
( Surah Al-Baqarah ; ayat 123)

Maksudnya : “Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan (dosa dan pahala) seseorang lain, dan tidak akan diterima daripadanya sebarang tebusan, dan tidak akan memberi manfaat kepadanya sebarang syafa’at; dan orang-orang yang salah itu tidak akan ditolong(dari azab sengsara).”
ii)
لَن تَنفَعَكُمْ أَرْحَامُكُمْ وَ لاَ أَوْ لاَ دُكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَفْصِلُ بَيْنَكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ(3)
( Surah al-Mumtahanah; ayat 3)

Maksudnya : “Kaum kerabat dan anak-anakmu sekali-kali tiada bermanfaat bagimu pada Hari Qiyamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Melihat.”

iii)
يَوْمَ لاَ تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْئًا وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ (19)
( Surah al- al-Infitar ; ayat 19)

Maksudnya : “ (Iaitu) hari (ketika) seorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah”.

iv)

وَاخْشَوْا يَوْمًا لاَّ يَجْزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِ وَ لاَ مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِ شَيْئً .. (33)

( Surah al- al-Luqman; ayat 33)

Maksudnya : “ Dan takutlah kamu suatu hari yang padanya seseorang ibu atau bapa tidak dapat melepaskan anaknya dari azab dosanya, dan seorang anak tidak juga dapat melepaskan ibu atau bapanya dari azab dosa masing-masing sedikit pun”.

Tegas Ibn Qayyim al-Jawziyyah, kesemua ayat ini membuktikan kebatilan golongan yang mensyirikkan Allah, kerana mereka menyangka mendapat perlindungan dan syafaat daripada orang yang bersama dengan mereka atas ikatan darah daging atau pernikahan, sedangkan dosa syirik yang mereka lakukan tidak akan diampunkan oleh Allah. [3]

2. Ketika beliau membahaskan tentang ayat 41 Surah al-‘Ankabut, beliau menegaskan bahawa golongan musyrikin yang mengambil pelindung selain daripada Allah, akan mengalami penyesalan kerana apa yang diambil itu tidak sedikit pun memberikan manfaat bahkan adalah lemah. Lalu Ibn Qayyim al-Jawziyyah menampilkan ayat Allah yang lain untuk mengukuhkan penjelasannya iaitu ayat 86, surah Maryam, ayat 75, surah Yasin dan ayat 101 surah Hud yang secara kesimpulannya menegaskan, apa yang disembah oleh golongan musyrikin tidak sekali-kali memberi untung ataupun kerugian kepada mereka, di samping tidak mampu menjadi penolong kepada mereka. Tambah beliau lagi, inilah sebaik-baik perumpamaan sebagai dalil batilnya syirik yang dilakukan oleh mereka dan bukti bahawa mereka akan berada dalam kerugian kelak. [4]


3. Ketika beliau membahaskan perumpamaan amalan golongan kafir seperti fatamorgana yang disangka mampu menolong mereka pada Hari Kebangkitan pada ayat 39 dan 40, surah al-Nur, beliau membawa sepotong ayat al-Qur’an iaitu ayat 23, surah al-Furqan yang menyatakan sesungguhnya amalan mereka adalah seumpama debu-debu yang berterbangan apabila dihadapkan kepada Allah. Jelas Ibn Qayyim al-Jawziyyah, bahawasanya golongan kafir menyangka mereka di atas landasan petunjuk dan ilmu, sedangkan apabila hakikat sebenar disingkap, segala kepercayaan mereka dan amalan mereka hanyalah seumpama fatamorgana; suatu keadaan yang mana pada pandangan mata suatu tempat itu terdapat air sedangkan sebenarnya tidak. Hujah beliau lagi, inilah bandingan amalan golongan kafir yang dilakukan bukan kerana Allah dan mereka menyangka segala amalan tersebut boleh memberi manfaat kepada mereka, padahal ia tidak lebih seperti fatamorgana dan debu-debu yang berterbangan. [5]

4. Ketika beliau membicarakan tentang perumpamaan tentang kebatilan golongan yang mengambil Tuhan selain Allah dalam ayat 75, surah al-Nahl umpama hamba abdi yang dimiliki oleh seseorang; tidak berkuasa melakukan sesuatu dengan bebas, Ibn Qayyim al-Jawziyyah menjadikan ayat 73 dalam surah yang sama sebagai penguat hujahnya yang menyatakan Tuhan mereka itu tidak mampu dan tidak berkuasa untuk mengurniakan sebarang rezeki dari langit dan bumi dan Tuhan mereka itu sendiri tidak berdaya mendapat kuasa untuk memberikan rezeki itu. [6]

5. Sewaktu beliau membahaskan akhir ayat 76 surah al-Nahl yang membandingkan Allah seperti orang (yang boleh berkata-kata serta dapat) menyuruh orang ramai melakukan keadilan dan dia sendiri pula berada di atas jalan yang lurus (jalan yang benar), maka Ibn Qayyim al-Jawziyyah menguatkan huraian beliau bahawa Allah sesungguhnya memang berada di atas jalan yang lurus dengan membawa ayat 56, surah Hud yang merupakan doa Nabi Hud dalam berdepan dengan penentangan dari kaumnya yang ingkar terhadap seruan supaya beriman kepada Allah. [7]

6. Sewaktu beliau mengulas ayat 35, surah al-Nur yang menceritakan tentang perbandingan nur Allah adalah sebagai sebuah "misykat" yang berisi sebuah lampu; lampu itu dalam geluk kaca, geluk kaca itu pula (jernih terang) laksana bintang yang bersinar cemerlang; maka Ibn Qayyim al-Jawziyyah telah menghuraikan peranan nur Allah ini seumpama petunjuk atau wahyu Allah yang menghidupkan hati seseorang. Lalu beliau membawa datang ayat 2, surah al-Nahl, ayat 15, surah al-Ghafir dan ayat 52, surah al-Syura untuk menyokong hujahnya. Beliau menegaskan, barangsiapa yang tidak mendapat nur atau petunjuk dari Allah, maka sesungguhnya dia berada dalam kegelapan kejahilan. [8]

7. Sewaktu beliau membahaskan ayat 175, surah al-A'raf yang menceritakan tentang kesesatan Bal‘am bin Ba‘ura’; seorang ‘ulama’ Yahudi yang telah diberikan kelebihan oleh Allah tentang ayat-ayat Allah yang kemudiannya menyeleweng akibat godaan syaitan, maka Ibn Qayyim al-Jawziyyah telah menyatakan perbandingan Allah bahawa Bal‘am bin Ba‘ura’ seperti seekor anjing kerana lebih mengutamakan dunia dan hawa nafsunya dalam ayat 176, surah al-A‘raf adalah amat tepat. Kemudian, beliau menyatakan ayat 57, surah al-Kahfi sebagai dalil bahawa tidak berguna lagi sebarang petunjuk kepada Bal‘am bin Ba‘ura’ yang telah menyeleweng daripada ayat Allah serta dia telah disesatkan oleh syaitan. Tegas beliau lagi, Bal‘am bin Ba‘ura’ adalah ulama yang jahat kerana mengetahui kebenaran tetapi sebaliknya tidak beramal untuk menegakkan kebenaran tersebut. [9]

8. Ketika beliau membahaskan ayat 24, surah Ibrahim tentang perbandingan kalimah yang baik seumpama sebatang pohon yang baik, yang pangkalnya (akar tunjangnya) tetap teguh dan cabang pucuknya menjulang ke langit. Ibn Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahawa terdapat perkaitan di antara kalimah yang baik yang datang dari hati yang bersih dan ikhlas mengakui keEsaan Allah dengan amal saleh yang dibuktikan dengan seluruh anggota badan sebagai bukti ketaatan kepada Allah. Beliau menegaskan bahawa setiap kalimah yang baik dan amal saleh itu akan diangkat ke langit kepada Allah dan untuk membuktikan hujahnya, maka beliau membawa datang ayat 10, surah Fatir yang menjelaskan bahawa segala kalimah yang baik yang menegaskan keimanan dan tauhid dan amal yang saleh akan naik ke langit disaksikan oleh Allah. [10]

9. Ketika beliau mengulas ayat 27, surah Ibrahim yang menyatakan Allah menetapkan (pendirian) orang-orang yang beriman dengan kalimah yang tetap teguh dalam kehidupan dunia dan akhirat, maka beliau menampilkan ayat 74, surah al-Isra’, ayat 12, surah al-Anfal dan ayat 120, surah Hud yang kesimpulannya menegaskan bahawa Allah yang menetapkan pendirian Nabi Muhammad s.a.w., para Rasul dan orang-orang beriman untuk terus berpegang dengan kebenaran. [11]

4.1.2 Mentafsirkan ayat amthal di dalam al-Qur’an dengan Hadith Nabawi


Para ‘ulama’ telah mengakui bahawa hadith sebagai sumber kedua untuk mentafsirkan al-Qur’an. Pentafsiran tersebut telah dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. kerana baginda lebih mengetahui tentang maksud sesuatu ayat. Imam al-Syafi‘i telah berkata “Segala apa yang diberikan hukumnya oleh Rasulullah s.a.w., maka itu adalah apa yang Baginda fahami daripada al-Qur’an”. [12] Beliau menjelaskan lagi , apa yang disampaikan oleh Rasulullah s.a.w. daripada pihaknya adalah Sunnah, ia adalah hikmah yang disebutkan oleh Allah s.w.t., maka tidaklah ada yang diturunkan bersama kitab (sunnah), melainkan ia adalah bahagian daripada kitab Allah. Oleh itu, segala sesuatu yang Rasululullah s.a.w. bawa bersama (Kitab dan Sunnah) adalah merupakan nikmat Allah. [13]

Dalam membuat tafsiran dan ulasan terhadap ayat-ayat amthal di dalam kitab ini, Ibn Qayyim al-Jawziyyah membawa bersama hadith yang berkaitan untuk meneguhkan huraiannya. Dalam kajian penulis, beliau menampilkan hadith-hadith yang dirujuk kepada kitab Sahih Bukhari, Sahih Muslim, kitab Musnad dan kitab Sunan dengan isnad yang bagus. Ini jelas dapat dilihat di dalam contoh-contoh berikut :

1. Ketika beliau mengulas ayat 24 surah Ibrahim :

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاء(24) تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللّهُ الأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ(25)
(Surah Ibrahim ; Ayat 24-25)


Maksudnya : “Tidakkah engkau melihat (wahai Muhammad) bagaimana Allah mengemukakan satu perbandingan, iaitu: Kalimah yang baik adalah sebagai sebatang pohon yang baik, yang pangkalnya (akar tunjangnya) tetap teguh dan cabang pucuknya menjulang ke langit. Ia mengeluarkan buahnya pada tiap-tiap masa dengan izin Tuhannya dan Allah mengemukakan perbandingan-perbandingan itu untuk manusia, supaya mereka beringat (mendapat pelajaran)”.


Dalam menghuraikan ayat tersebut, beliau menyatakan bahawa yang kalimah Tauhid itu apabila disaksikan oleh orang beriman; yang mengetahui makna dan hakikatnya serta konsep nafi dan ithbat di dalamnya, maka semestinya seluruh anggota badannya, lidahnya dan hatinya akan mewajibkan dirinya untuk menegakkan kalimah tersebut dalam semua keadaan. Dengan penyaksian ini, maka akar yang teguh itu diumpamakan keyakinan yang mantap di dalam hati kepada Allah, dan pucuknya menjulang ke langit dan serta pokoknya berbuah diumpamakan diri orang beriman yang mengucap kalimah ini akan sentiasa melakukan amal saleh dan perkataan yang baik dari mulutnya akan naik ke langit disaksikan oleh Allah dan malaikat.

Lalu, beliau membawa sepotong hadith berdasarkan pandangan golongan salaf untuk menguatkan hujahnya mengenai bandingan pohon yang baik itu dalam realiti kehidupan manusia adalah pohon tamar dan Nabi s.a.w. pernah bersabda yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Umar yang tidak dinyatakan matannya. Namun begitu, penulis meyakini hadith tersebut adalah sebagaimana berikut berdasarkan apa yang dinyatakan oleh penyunting kitab [14] :

قال رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏إن من الشجر شجرة لا يسقط ورقها وإنها مثل المسلم فحدثوني ما هي؟ فوقع الناس في شجر البوادي, قال ‏ ‏عبد الله ‏ ‏ووقع في نفسي أنها النخلة فاستحييت ثم قالوا حدثنا ما هي يا رسول الله قال فقال هي النخلة قال فذكرت ذلك ‏ ‏لعمر ‏ ‏قال لأن تكون قلت هي النخلة أحب إلي من كذا وكذا


Maksudnya : Hadis riwayat ‘Abdullah bin ‘Umar r.a., dia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya di antara jenis pohon terdapat satu pohon yang tidak mudah gugur daunnya yang diumpamakan seperti seorang muslim. Sebutkanlah pohon apakah itu? Lalu orang-orang banyak yang mengira pohon padang pasir dan aku sendiri mengira bahwa itu adalah pohon kurma tetapi aku malu mengatakannya. Kemudian mereka berseru: Wahai Rasulullah, sebutkanlah kepada kami pohon apakah itu? Rasulullah saw. menjawab: Ia adalah pohon kurma. ‘Abdullah bin ‘Umar berkata: Lalu menceritakan hal itu kepada ‘Umar. Dia berkata: Seandainya kamu telah mengatakannya langsung itu pohon kurma adalah lebih aku sukai daripada kamu berkata begini, begini [15]

2. Ketika beliau membahaskan tentang ayat 39 surah al-Nur yang menjelaskan bahawa segala amalan golongan kafir adalah umpama fatamorgana, maka beliau membawa sepotong hadith sahih yang diriwayatkan oleh Abu Sa‘id al-Khudri tentang gambaran pada hari Kiamat yang akan menimpa golongan Yahudi dan Nasrani tentang kebatilan aqidah mereka yang disangka mampu menyelamatkan dari azab Allah.[16] Hadith tersebut bermaksud " Kemudian didatangkan Neraka Jahannam dan kelihatan seolah-olah ia ibarat fatamorgana. Maka Allah bertanya kepada golongan Yahudi " Apakah yang kamu sembah?" Maka jawab mereka " Kami menyembah Uzair anak Allah". Maka dikatakan kepada mereka " Kamu berdusta, Allah tidak mempunyai isteri mahupun anak, maka apa yang kamu mahu?" Golongan Yahudi berkata :"Kami mahu Kamu memberikan minuman kepada kami, lalu dikatakan kepada mereka :" Minumlah dan mereka dilemparkan ke dalam neraka Jahannam. Kemudian Allah bertanya kepada golongan Nasrani " Apakah yang kamu sembah?" Maka jawab mereka " Kami menyembah Isa al-Masih anak Allah". Maka dikatakan kepada mereka " Kamu berdusta, Allah tidak mempunyai isteri mahupun anak, maka apa yang kamu mahu?" Golongan Nasrani berkata :"Kami mahu Kamu memberikan minuman kepada kami, lalu dikatakan kepada mereka :" Minumlah dan mereka dilemparkan ke dalam neraka Jahannam".[17]

3. Ketika beliau mengulas tentang ayat 35, surah al-Nur yang menjelaskan tentang nur Allah, Ibn Qayyim al-Jawziyyah menegaskan bahawa golongan kafir tidak akan dikeluarkan dari kegelapan yang menyelubungi mereka kerana Allah merupakan pelindung kepada orang beriman sahaja dan akan mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dalam menyokong hujjahnya ini, beliau membawa hadith yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Umar r.a. yang bermaksud [18] :" Sesungguhnya Allah menciptakan makhluknya di dalam kegelapan. Dia akan mencampakkan nur-Nya, maka barangsiapa yang bertepatan dengan nur-Nya akan beroleh petunjuk dan barangsiapa yang bersalahan dengan nur-Nya adalah sesat". Maka oleh sebab itu aku berkata " Telah tersurat setiap kalam atas ilmu Allah ". [19] Maka Ibn Qayyim menegaskan bahawa barangsiapa yang dikehendaki Allah untuk mendapat petunjuk-Nya, maka diberikan kepadanya nur Allah yang akan menghidupkan hatinya. [20]

4. Ketika beliau membahaskan tentang ayat 76, surah al-Nahl yang menceritakan perbandingan sifat Allah itu seumpama seorang yang menyuruh orang lain untuk berlaku adil dan di atas jalan yang lurus, maka Ibn Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahawa Allah sentiasa bersifat Maha Adil dalam mensyariatkan suruhan agama. Allah tidak akan memerintahkan sesuatu melainkan dengan kebenaran dan keadilan, bahkan qada’ dan qadar-Nya tegak di atas dasar keadilan dan kebenaran. [21] Lalu beliau menampilkan suatu doa yang dipetik dari sepotong hadith sahih yang berbunyi [22] :

"اللهم إني عبدك وابن عبدك وابن أمتك ‏‏ ناصيتي ‏‏ بيدك ماض في حكمك ‏ ‏عدل ‏ ‏في قضاؤك"


5. Ketika beliau mengulas ayat 27, surah Ibrahim yang menyatakan Allah menetapkan (pendirian) orang-orang yang beriman dengan kalimah yang tetap teguh dalam kehidupan dunia dan akhirat, [23] maka Ibn Qayyim membawa datang hadith berikut : [24]
‏عن ‏ ‏البراء بن عازب عن النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏‏ قال يثبت الله الذين أمنوا بالقول الثابت قال نزلت في عذاب القبر فيقال له من ربك فيقول ‏ ‏ربي الله ونبيي ‏ ‏محمد ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏فذلك قوله عز وجل يثبت الله الذين أمنوا بالقول الثابت في الحياة الدنيا وفي الأخرة
Maksudnya : Daripada al-Barra’ bin ‘Azib daripada Nabi s.a.w. bersabda " Allah telah berfirman Allah menetapkan (pendirian) orang-orang yang beriman dengan kalimah yang tetap teguh dan ia telah diturunkan sewaktu azab kubur, maka disoal kepadanya " Siapa Tuhanmu? Maka dia menjawab "Allah Tuhanku dan Nabiku ialah Muhammad s.a.w. Maka demikianlah firman-Nya "Allah menetapkan (pendirian) orang-orang yang beriman dengan kalimah yang tetap teguh dalam kehidupan dunia dan akhirat”.

6. Ketika beliau mengulas ayat 26, surah Ibrahim yang menjelaskan bahawa Kalimah yang jahat dan buruk samalah seperti sebatang pohon yang tidak berguna yang mudah tercabut akar-akarnya dari muka bumi; tidak ada tapak baginya untuk tetap hidup, maka Ibn Qayyim al-Jawziyyah menekankan itulah bandingan sekiranya pohon Islam yang terletak di dalam hati tidak dibaja dan disiram dengan ilmu yang bermanfaat dan amal saleh, maka matilah ia dan tidak berbuah. Lalu Ibn Qayyim menegaskan perlunya pohon Islam itu dibaja dengan merenung dan berzikir supaya ia menjadi kukuh. [25] Untuk menguatkan hujahnya, beliau membawa sepotong hadith Nabi s.a.w. yang bermaksud " Sesungguhnya iman di dalam hati akan lusuh sebagaimana lusuhnya pakaian, oleh itu perbaharuilah iman kamu”. [26]

4.1.3 Mentafsirkan ayat amthal di dalam al-Qur’an dengan qawl al-Sahabah dan qawl al-Tabi‘in.

Apabila kita tidak mendapatkan tafsiran al-Qur’an daripada Sunnah, maka hendaklah kita merujuk kembali kepada perkataan sahabat, kerana mereka lebih mengetahui isi kandungan al-Qur’an. Mereka telah menyaksikan turunnya al-Qur’an dan mengetahui keadaan tertentu yang dikhaskan kepada mereka. Di samping itu, mereka memiliki pemahaman yang lengkap dan ilmu yang benar tentang al-Qur’an; terutamanya ‘ulama’-‘ulama’ mereka seperti a‘immah keempat-empat khalifah al-Rasyidin yang mendapat petunjuk, kemudian ‘Abdullah bin Mas‘ud, dan seumpamanya.[27]

Sementara itu, jika tidak dijumpai tafsir sesuatu ayat, sama ada daripada al-Qur’an, Hadith atau daripada para sahabat, maka kita hendaklah kembali kepada perkataan para tabi‘in seperti perkataan Mujahid bin Jabir kerana dia adalah ayat (tanda kebesaran Allah) dalam tafsir. [28]

Dalam rangka menyiapkan penulisannya, Ibn Qayyim al-Jawziyyah bukan mentafsirkan ayat-ayat amthal al-Qur'an berdasarkan fikirannya semata-mata. Sebaliknya beliau juga menyokong sesuatu huraian yang dibuat dengan membawa kata-kata sahabat untuk menguatkan huraiannya terhadap ayat-ayat tersebut.

Di antara contoh yang paling jelas dapat dilihat adalah seperti berikut :
1. Apabila beliau mengulas ayat Allah dalam Surah Ibrahim pada ayat ke-26 :

وَمَثلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِن فَوْقِ الأَرْضِ مَا لَهَا مِن قَرَارٍ(26)
(Surah Ibrahim ; Ayat 26)
Maksudnya : "Dan bandingan Kalimah yang jahat dan buruk samalah seperti sebatang pohon yang tidak berguna yang mudah tercabut akar-akarnya dari muka bumi; tidak ada tapak baginya untuk tetap hidup” .


Beliau menegaskan bahawa bandingan Allah itu tepat kerana kalimah yang jahat seumpama pohon yang tiada baja, akarnya rapuh, tiada air yang mengalirinya, tiada buah yang terhasil bahkan tidak mampu hidup di bumi. Lalu beliau membawa pandangan Ibn ‘Abbas [29] " Sesungguhnya kalimah yang jahat yang dimaksudkan Allah itu adalah syirik dan pohon yang tidak berguna itu adalah golongan kafir”.

2. Dalam menghuraikan ayat 75, surah al-Nahl yang menjelaskan perbandingan antara Allah dan berhala yang disembah oleh golongan musyrik seumpama seorang hamba abdi yang menjadi milik orang, yang tidak berkuasa melakukan dengan bebasnya sesuatupun dan seorang lagi (yang merdeka) yang dikurniakan kepadanya pemberian yang baik (harta kekayaan), maka dia pun membelanjakan hartanya dengan bebasnya, samada secara bersembunyi atau terbuka, Ibn Qayyim al-Jawziyyah membawa datang pandangan Mujahid. [30] Mujahid berkata " Sesungguhnya berhala itu lemah dan tidak berkuasa di atas sesuatu pun, maka bagaimana golongan kafir sanggup menyengutukan Allah dengan berhala sedangkan ternyata ada kecacatan yang besar pada berhala dan perbezaan yang ketara antara Allah dan berhala”. [31]

3. Ketika mengulas perbandingan Allah bahawa Bal‘am bin Ba‘ura’ seperti seekor anjing kerana lebih mengutamakan dunia dan hawa nafsunya dalam ayat 176, surah al-A‘raf , beliau membawa beberapa pandangan sahabat dan tabi‘in tentang perumpamaan tersebut. [32] Ibn Juraih menyatakan " Anjing terputus dari segala manfaat dan tiada manfaat baginya. Jika dihalau, ia akan menjulurkan lidahnya begitu juga jika ia dibiarkan;ia tetap menjulurkan lidahnya dan inilah perumpamaan bagi mereka yang meninggalkan petunjuk, tiada faedah untuknya dan sesungguhnya segala faedah terputus darinya". [33] Sementara itu, kata Mujahid " Ia merupakan perumpamaan bagi mereka yang dikurniakan kitab tetapi tidak beramal dengannya". [34] Ibn ‘Abbas pula menjelaskan, "Sekiranya diberikan kepadanya kalimah, dia tidak akan membawanya, dan jika dibiarkan sekalipun, dia tidak akan memperoleh petunjuk ke arah kebaikan seperti anjing". [35]

4. Sewaktu Ibn Qayyim al-Jawziyyah membahaskan ayat 24, surah Ibrahim tentang kalimah yang baik sebagai sebatang pohon yang baik, yang pangkalnya (akar tunjangnya) tetap teguh dan cabang pucuknya menjulang ke langit,[36] maka beliau membawa pandangan Ibn ‘Abbas r.a. " Kalimah yang baik ialah dua kalimah syahadah, dan pohon yang baik ialah orang yang beriman, akar yang teguh pula adalah kalimah La Ilaha Illallah di dalam hati orang yang beriman dan pucuk yang menjulang ke langit adalah amalan orang beriman yang akan diangkat ke langit”. [37]

5. Ketika menghuraikan ayat 117, surah Ali ‘Imran, yang menceritakan tentang segala apa yang dibelanjakan oleh golongan kafir di atas dunia seumpama angin yang membawa udara yang amat sejuk, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri mereka sendiri, [38] maka beliau menampilkan pandangan Ibn ‘Abbas tentang maksud udara yang amat sejuk itu ialah api; maka dengan itu, ia membakar seluruh tanaman. [39]

4.2 Pembahagian Ayat-ayat Mengikut Perumpamaan Di Dalam al-Qur’an

Berdasarkan penelitian penulis, ayat-ayat yang dipilih oleh Ibn Qayyim al-Jawziyyah mempunyai beberapa kategori yang menarik untuk dibahaskan walaupun beliau sendiri tidak membahagikan ayat-ayat amthal di dalam kitabnya berdasarkan kategori tertentu. Namun demikian, penulis merasakan penting untuk mengemukakan hasil kajian penulis seperti berikut :

4.2.1 Ayat amthal yang menceritakan perbandingan sesuatu perkara dengan haiwan.

Di antara ayat-ayat yang termasuk dalam kategori ini ialah :
1.
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَـكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ذَّلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُون (176)
(Surah al-A‘raf ; Ayat176)
Maksudnya : Dan kalau Kami kehendaki nescaya Kami tinggikan pangkatnya dengan (sebab mengamalkan) ayat-ayat itu. Tetapi dia bermati-mati cenderung kepada dunia dan menurut hawa nafsunya; maka bandingannya adalah seperti anjing, jika engkau menghalaunya: dia menghulurkan lidahnya termengah-mengah dan jika engkau membiarkannya: dia juga menghulurkan lidahnya termengah-mengah. Demikianlah bandingan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu supaya mereka berfikir.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah mengulas bahawa inilah perbandingan Allah tentang mereka yang telah menyeleweng daripada kitab dan ilmu yang diberikan kepadanya ; Bal‘am bin Ba‘ura’. Dia tidak beramal dengan apa yang ada padanya bahkan mengikut hawa nafsunya dan akhirnya mengundang kemurkaan Allah berbanding redha-Nya, mengutamakan dunia berbanding akhirat bahkan melebihkan makhluk berbanding al-Khaliq. Bandingannya seperti seekor anjing adalah kerana sifat anjing yang merupakan sekeji-keji binatang, apabila dilempar dengan batu nescaya ia akan kembali semula setelah lari sambil menjulurkan lidahnya. [40]

2.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَن يَخْلُقُوا ذُبَاباً وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإِن يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئاً لَّا يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ (73)

(Surah al-Hajj ; Ayat 73)
Maksudnya : “Wahai umat manusia, inilah diberikan satu misal perbandingan, maka dengarlah mengenainya dengan bersungguh-sungguh. Sebenarnya mereka yang kamu seru dan sembah, yang lain dari Allah itu, tidak sekali-kali akan dapat mencipta seekor lalat walaupun mereka berhimpun beramai-ramai untuk membuatnya dan jika lalat itu mengambil sesuatu dari mereka, mereka tidak dapat mengambilnya balik daripadanya. (Kedua-duanya lemah belaka), lemah yang meminta (dari mendapat hajatnya) dan lemah yang diminta (daripada menunaikannya)”.


Ibn Qayyim menegaskan supaya setiap hamba Allah merenungi ayat ini dengan renungan yang sebenar-benarnya. Ini kerana perumpamaan ini melambangkan bagaimana apa yang disembah oleh golongan yang mensyirikkan Allah amat lemah, bahkan tidak mampu memberikan manfaat dan menghilangkan mudarat kepada yang menyembahnya. Tuhan yang mereka sembah juga tidak mampu mencipta walaupun seekor lalat, meskipun berhimpun seluruh golongan musyrikin yang menyembahnya. Inilah perbandingan yang menghina dan memperkecilkan golongan musyrikin dan berhala yang mereka sembah, kerana kalau seekor lalat pun tidak mampu dicipta, apatah lagi makhluk lain yang lebih besar daripadanya. [41]

3.

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَاراً بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (5)

(Surah al-Jumu‘ah ; Ayat 5)
Maksudnya : “(Sifat-sifat Nabi Muhammad itu telahpun diterangkan dalam Kitab Taurat tetapi orang-orang Yahudi tidak juga mempercayainya, maka) bandingan orang-orang (Yahudi) yang dipertanggungjawabkan dan ditugaskan (mengetahui dan melaksanakan hukum) Kitab Taurat, kemudian mereka tidak menyempurnakan tanggungjawab dan tugas itu, samalah seperti keldai yang memikul bendela Kitab-kitab besar (sedang ia tidak mengetahui kandungannya). Buruk sungguh bandingan kaum yang mendustakan ayat-ayat keterangan Allah dan (ingatlah), Allah tidak memberi hidayat petunjuk kepada kaum yang zalim”.


Dalam ayat ini, Ibn Qayyim menjelaskan inilah perbandingan bagi mereka yang diberikan kitab (golongan Yahudi) supaya beriman dan beramal dengan isi kandungannya, tetapi akhirnya menyalahi apa yang sepatutnya bahkan hanya membawanya sahaja. Maka mereka ini diibaratkan seperti seekor keldai yang membawa barangan di belakangnya tetapi sama sekali tidak mengetahui apa yang dipikulnya. [42]

4.

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاء كَمَثَلِ الْعَنكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتاً وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (41)

(Surah al-‘Ankabut ; Ayat 41)
Maksudnya : “Misal bandingan orang-orang yang menjadikan benda-benda yang lain dari Allah sebagai pelindung-pelindung (yang diharapkan pertolongannya) adalah seperti labah-labah yang membuat sarang (untuk menjadi tempat perlindungannya); padahal sesungguhnya sarang-sarang yang paling reput ialah sarang labah-labah, kalaulah mereka orang-orang yang berpengetahuan”.


Penulis ingin mengemukakan perbahasan yang menarik oleh Ibn Qayyim al-Jawziyyah tentang ayat 41, Surah al-‘Ankabut. Beliau menegaskan bagaimana mereka yang mengambil pelindung dan Tuhan selain Allah adalah seumpama labah-labah yang membuat sarangnya yang memang diketahui lemah dan tidak kuat. Tambah beliau, perumpamaan ini Allah bandingkan dengan golongan kafir yang jauh dari kebenaran dan petunjuk Allah. Mereka bukan tidak tahu bahawa sembahan mereka tidak mampu mendatangkan manfaat atau mudharat kepada mereka sebagaimana mereka tahu sarang labah-labah adalah tempat perlindungan paling lemah, namun demikian, Allah sebenarnya telah menafikan ilmu mereka tentang kecenderungan mereka untuk mengambil Tuhan selain Allah sebagaimana labah-labah yang tetap juga membuat sarangnya sebagai tempat perlindungan. [43]

4.2.2 Ayat amthal yang menceritakan perbandingan sesuatu perkara dengan tumbuh-tumbuhan.

Di antara ayat-ayat yang termasuk dalam kategori ini ialah :

1.
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاء(24) تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللّهُ الأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ(25) وَمَثلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِن فَوْقِ الأَرْضِ مَا لَهَا مِن قَرَارٍ(26) يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللّهُ مَا يَشَاءُ (27)

(Surah Ibrahim ; Ayat 24-27)
Maksudnya : “Tidakkah engkau melihat (wahai Muhammad) bagaimana Allah mengemukakan satu perbandingan, iaitu: Kalimah yang baik adalah sebagai sebatang pohon yang baik, yang pangkalnya (akar tunjangnya) tetap teguh dan cabang pucuknya menjulang ke langit. Ia mengeluarkan buahnya pada tiap-tiap masa dengan izin Tuhannya dan Allah mengemukakan perbandingan-perbandingan itu untuk manusia, supaya mereka beringat (mendapat pelajaran).Dan bandingan Kalimah yang jahat dan buruk samalah seperti sebatang pohon yang tidak berguna yang mudah tercabut akar-akarnya dari muka bumi; tidak ada tapak baginya untuk tetap hidup. Allah menetapkan (pendirian) orang-orang yang beriman dengan kalimah yang tetap teguh dalam kehidupan dunia dan akhirat dan Allah menyesatkan orang-orang yang berlaku zalim (kepada diri mereka sendiri) dan Allah berkuasa melakukan apa yang dikehendaki-Nya”.

Ibn Qayyim menjelaskan kalimah yang baik seumpama pohon yang baik kerana kalimah yang baik itu membuahkan amal saleh dan pohon yang baik akan membuahkan buah yang baik dan bermanfaat. Beliau juga menegaskan bahawa pohon tauhid di dalam hati seumpama pohon yang baik, teguh akarnya kerana terukir teguh di dalam hati mukmin dan menjulang pucuknya kerana amal saleh akan naik ke langit. Kemudian beliau juga menghuraikan bahawa kalimah yang jahat dan buruk seumpama pohon yang tidak berguna, mudah tercabut akarnya dan tiada tapak untuk hidup. Ianya tidak berbuah dan layu. Inilah bandingan kepada golongan kafir yang mensyirikkan Allah dan tidak mendapat petunjuk dan Allah sama sekali tidak menerima amalan golongan yang hina ini. [44]

2.
مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلّ سُنبُلَةٍ مِّئَةُ حَبَّةٍ وَاللّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ(261)

(Surah al-Baqarah ; Ayat 261)
Maksudnya : “Bandingan (derma) orang-orang yang membelanjakan hartanya pada jalan Allah, ialah sama seperti sebiji benih yang tumbuh menerbitkan tujuh tangkai; tiap-tiap tangkai itu pula mengandungi seratus biji dan (ingatlah), Allah akan melipatgandakan pahala bagi sesiapa yang dikehendakiNya dan Allah Maha Luas (rahmat) kurniaNya, lagi Meliputi ilmu pengetahuan-Nya”.


Di dalam ayat 261 Surah al-Baqarah ini, Ibn Qayyim menjelaskan bahawa Allah telah mengumpamakan infaq golongan yang suka menafkahkan sesuatu di jalan Allah samada dalam bentuk jihad atau apa jua amal kebajikan pasti akan dibalas oleh Allah dengan ganjaran yang berlipat kali ganda seumpama sebiji benih yang terbit darinya tujuh tangkai dan setiap tangkai mengandungi seratus biji. Dan Allah akan menggandakan balasan baik mengikut keimanan, keikhlasan dan kebaikan golongan tersebut. Tegas beliau, golongan ini, tidak mengharapkan kebaikan selain redha Allah semata-mata. [45]


4.2.3 Ayat amthal yang menceritakan perbandingan sesuatu perkara dengan air dan api.
Di antara ayat-ayat yang termasuk dalam kategori ini ialah :
1.
أَنزَلَ مِنَ السَّمَاء مَاء فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَداً رَّابِياً وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاء حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِّثْلُهُ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاء وَأَمَّا مَا يَنفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللّهُ الأَمْثَالَ (17)
(Surah al-Ra‘d; Ayat 17)
Maksudnya : “Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu membanjiri tanah-tanah lembah (dengan airnya) menurut kadarnya yang ditetapkan Tuhan untuk faedah makhlukNya, kemudian banjir itu membawa buih yang terapung-apung dan dari benda-benda yang dibakar di dalam api untuk dijadikan barang perhiasan atau perkakas yang diperlukan, juga timbul buih seperti itu. Demikianlah Allah memberi misal perbandingan tentang perkara yang benar dan yang salah. Adapun buih itu maka akan hilang lenyaplah ia hanyut terbuang, manakala benda-benda yang berfaedah kepada manusia maka ia tetap tinggal di bumi. Demikianlah Allah menerangkan misal-misal perbandingan”.


Ibn Qayyim menjelaskan bahawa wahyu yang diturunkan Allah dari langit untuk kehidupan hati seumpama air hujan yang diturunkan oleh Allah untuk kehidupan bumi dengan tumbuh-tumbuhan. Dan hati diumpamakan dengan lembah. Arus air yang mengalir di lembah membawa buih dan sampah. Begitu juga hidayah dan ilmu apabila mengalir di hati akan berpengaruh terhadap nafsu syahwat dan menghilangkannya. Sementara itu, tentang perumpamaan api, jelas beliau semua jenis logam sama ada emas, perak atau tembaga, ketika dituangkan di dalam api, maka api akan menghilangkan kotoran dan karat yang melekat padanya dan memisahkan segala karat dan buih tersebut. Begitulah bandingannya dengan syahwat yang akan dilemparkan dan dibuang oleh hati orang mukmin sebagaimana api yang menyisihkan karat logam. [46]

2.

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَاراً فَلَمَّا أَضَاءتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لاَّ يُبْصِرُونَ (17) صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لاَ يَرْجِعُونَ (18) أَوْ كَصَيِّبٍ مِّنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصْابِعَهُمْ فِي آذَانِهِم مِّنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ واللّهُ مُحِيطٌ بِالْكافِرِينَ (19)

(Surah al-Baqarah ; Ayat 17-19)
Maksudnya : “Perbandingan hal mereka (golongan yang munafik itu) samalah seperti orang yang menyalakan api; apabila api itu menerangi sekelilingnya, (tiba-tiba) Allah hilangkan cahaya (yang menerangi) mereka dan dibiarkannya mereka dalam gelap-gelita, tidak dapat melihat (sesuatu pun). Mereka (seolah-olah orang yang) pekak, bisu dan buta; dengan keadaan itu mereka tidak dapat kembali (kepada kebenaran).Atau (bandingannya) seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit, bersama dengan gelap-gelita dan guruh serta kilat; mereka menyumbat jarinya ke dalam telinga masing-masing dari mendengar suara petir, kerana mereka takut mati. (Masakan mereka boleh terlepas), sedang (pengetahuan dan kekuasaan) Allah meliputi orang-orang yang kafir itu”.

Di dalam ayat-ayat ini, Ibn Qayyim al-Jawziyyah menyatakan, Allah membuat dua perumpamaan (mathal) bagi orang munafiq; mathal yang berkenaan dengan api (nari) dalam firmanNya, “…adalah seperti orang yang menyalakan api…”, kerana di dalam api terdapat unsur cahaya; dan mathal yang berkenaan dengan air (ma’i), “…atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit…”, kerana air terdapat sumber terpenting dalam kehidupan. Dan wahyu yang turun dari langit bermaksud untuk menerangi hati dan menghidupkannya. Allah menyebutkan juga kedudukan orang munafiq dalam dua keadaan. Di satu sisi, mereka bagaikan orang yang menyalakan api untuk penerangan dan kemanfaatan; mengingat mereka memperoleh kemanfaatan materi dengan sebab masuk Islam. Namun di sisi lain, Islam tidak memberikan pengaruh ‘nur’-Nya terhadap hati mereka kerana Allah menghilangkan cahaya (nur) yang ada dalam api itu, “….Allah menghilangkan cahaya (yang menyinari) mereka…”, dan membiarkan unsur ‘membakar’ yang ada padanya. Inilah perumpamaan mereka yang berkenaan dengan api.

Mengenai mathal mereka yang berkenaan dengan air (ma’i), beliau juga mengungkapkan Allah menyerupakan mereka dengan keadaan orang yang ditimpa hujan lebat yang disertai gelap gelita, guruh dan kilat sehingga terkoyaklah kekuatan orang itu dan ia meletakkan jari-jemari untuk menyumbat telinga serta memejamkan mata kerana takut petir menimpanya. Ini mengingat bahawa al-Qur’an dengan segala peringatan, perintah, larangan dan khitabnya bagi mereka tidak ubah seperti petir yang turun sambar-menyambar. [47]


4.2.4 Ayat amthal yang menceritakan perbandingan sesuatu perkara dengan abu (ramad) dan fatamorgana (sarab)
Di antara ayat-ayat yang termasuk dalam kategori ini ialah :

1.

مَّثَلُ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِرَبِّهِمْ أَعْمَالُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ لاَّ يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُواْ عَلَى شَيْءٍ ذَلِكَ هُوَ الضَّلاَلُ الْبَعِيدُ (18)
(Surah Ibrahim ; Ayat 18)
Maksudnya : “Bandingan (segala kebaikan amal dan usaha) orang-orang yang kufur ingkar terhadap Tuhannya ialah seperti abu yang diterbangkan angin pada hari ribut yang kencang; mereka tidak memperoleh sesuatu faedah pun dari apa yang mereka telah usahakan itu. Sia-sianya amalan itu ialah kesan kesesatan yang jauh dari dasar kebenaran”.


2.

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاء حَتَّى إِذَا جَاءهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئاً وَوَجَدَ اللَّهَ عِندَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ(39) أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُّجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِّن فَوْقِهِ مَوْجٌ مِّن فَوْقِهِ سَحَابٌ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا وَمَن لَّمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُوراً فَمَا لَهُ مِن نُّورٍ (40)

(Surah al-Nur; Ayat 39 - 40)
Maksudnya : “ Dan orang-orang yang kafir pula, amal-amal mereka adalah fatamorgana, umpama riak sinaran panas di tanah rata yang disangkanya air oleh orang yang dahaga, (lalu dia menuju ke arahnya) sehingga apabila dia datang ke tempat itu, tidak didapati sesuatu pun yang disangkanya itu; (demikianlah keadaan orang kafir, tidak mendapat faedah dari amalnya sebagaimana yang disangkanya) dan dia tetap mendapati hukum Allah di sisi amalnya, lalu Allah menyempurnakan hitungan amalnya (serta membalasnya); dan (ingatlah) Allah Amat segera hitungan hisabNya.Atau (orang-orang kafir itu keadaannya) adalah umpama keadaan (orang yang di dalam) gelap-gelita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak bertindih ombak; di sebelah atasnya pula awan tebal (demikianlah keadaannya) gelap-gelita berlapis-lapis, apabila orang itu mengeluarkan tangannya, dia tidak dapat melihatnya sama sekali dan (ingatlah) sesiapa yang tidak dijadikan Allah menurut undang-undang peraturanNya mendapat cahaya (hidayat petunjuk) maka dia tidak akan beroleh sebarang cahaya (yang akan memandunya ke jalan yang benar)”.


Dalam kedua-dua ayat di atas, kita dapat melihat bagaimana Allah membandingkan segala amal-amal orang kafir seumpama abu yang akan diterbangkan oleh angin pada hari yang kencang ributnya dan seumpama fatamorgana (suatu keadaan yang disangka dari jauh adalah air tetapi tidak). Ibn Qayyim al-Jawziyyah mengulas, inilah seburuk-buruk perumpamaan kepada golongan kafir yang menyangka diri mereka benar dengan segala perbuatan baik yang mereka lakukan serta kepercayaan mereka dengan mengambil Tuhan selain Allah, tetapi semuanya itu adalah sia-sia belaka kerana tiada nilai sedikit pun di sisi Allah s.w.t . Segala amalan mereka itu umpama abu yang akan diterbangkan oleh angin kencang kerana ia sama sekali tidak diterima oleh Allah kerana perbuatan mensyirikkan Allah. Tegas Ibn Qayyim, Allah hanya akan menerima amalan yang dilakukan dengan ikhlas dan bertepatan dengan apa yang disyariatkan-Nya.[48]

Tentang perbandingan amalan golongan kafir seperti fatamorgana, Ibn Qayyim al-Jawziyyah menyatakan ia adalah perbandingan yang tepat. Ini kerana perbuatan mereka yang tidak mentaati Allah dan Rasul umpama fatamorgana sedangkan mereka menyangka perbuatan mereka adalah baik. Ini kerana hati mereka kosong daripada iman dan petunjuk sebagaimana fatamorgana yang kosong dari tumbuhan dan air walaupun disangka tedapat air menurut pandangan mata. Beliau juga menegaskan bahawa golongan kafir lebih suka kepada kesesatan berbanding petunjuk, buta daripada kebenaran bahkan mengingkari kebenaran bila mereka mengetahuinya. Justeru itu, jelas Ibn Qayyim al-Jawziyyah, mereka telah dilaknat oleh Allah. [49]

4.3 Pendekatan Ibn Qayyim al-Jawziyyah Dalam Penulisan

Hasil pengamatan dan penelitian penulis terhadap kitab ini, penulis dapat menyimpulkan pendekatan yang diguna pakai oleh Ibn Qayyim al-Jawziyyah sewaktu beliau menghuraikan ayat-ayat amthal di dalam kitabnya. Di antaranya ialah :

1. Menggunakan kaedah perbahasan mengikut tajuk atau pendekatan maudu‘i. Ini dapat dilihat apabila beliau membahaskan ayat 10 dan 11 surah al-Tahrim tentang kisah isteri Nabi Lut dan isteri Nabi Nuh yang tetap ingkar kepada Allah meskipun suami mereka adalah seorang Nabi, manakala Asiah isteri Fir‘aun yang tetap beriman walaupun suaminya adalah penentang seruan Allah dan Nabi Musa a.s. Dalam menyatakan tentang ikatan persaudaraan yang berasaskan darah daging seperti Nabi Ibrahim dan bapanya, mahupun atas dasar ikatan pernikahan seperti Nabi Nuh, Nabi Lut dan Fir‘aun dengan isteri mereka, Ibn Qayyim menegaskan bahawa kesemua jenis ikatan ini ini tidak dapat membantu mereka yang kufur kepada Allah dengan membawa datang ayat 19, surah al-Infitar, ayat 123 surah al-Baqarah dan ayat 33, surah Luqman yang kesemuanya menjelaskan bahawa ikatan darah daging mahupun ikatan pernikahan di antara seseorang dengan seorang yang lain tidak dapat membantu sewaktu Hari Kiamat untuk menyokong hujahnya. [50]

2. Menggunakan kaedah al-iqtibas (menggunakan kata-kata yang dipetik dari kalam Allah atau Rasul lalu dimasukkan dalam ulasan untuk mengukuhkan sesuatu perkara yang dibahas). Ini jelas dapat dilihat sewaktu beliau menghuraikan ayat 35, surah al-Nur yang menceritakan tentang nur Allah yang akan diberikan kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya. Beliau menegaskan, golongan kafir tidak akan dikeluarkan dari kegelapan yang menyelubungi mereka kerana Allah merupakan pelindung kepada orang beriman sahaja dan akan mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Ulasan ini sebenarnya diambil daripada ayat Allah dalam ayat 257, surah al-Baqarah yang bermaksud " Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kufur) kepada cahaya (iman).." [51].

Begitu juga sewaktu beliau menghuraikan ayat 24, surah Ibrahim tentang perbandingan kalimah yang baik seumpama pohon yang baik. Beliau menjelaskan bahawa barangsiapa yang terukir teguh kalimah yang baik di dalam hatinya, maka hatinya akan sentiasa terikat dengannya dan sekiranya ia dicelup dengan celupan Allah, maka sesungguhnya tidak ada celupan yang sebaik celupan-Nya. Ulasan tentang celupan Allah sebenarnya diambil daripada maksud ayat 138, surah al-Baqarah yang berbunyi “ Celupan Allah dan siapakah yang lebih baik celupannya daripada Allah. Dan kepada-Nya jualah kami beribadah”" . [52]

3. Menggunakan kaedah tarjih (menentukan pandangan mana yang lebih tepat berdasarkan 2 pandangan tentang sesuatu perkara). Ia dapat dibuktikan apabila beliau mengulas ayat ayat 75, surah al-Nahl yang menjelaskan perbandingan antara Allah dan berhala yang disembah oleh golongan musyrik seumpama seorang hamba abdi yang menjadi milik orang, yang tidak berkuasa melakukan dengan bebasnya sesuatupun dan seorang lagi (yang merdeka) yang dikurniakan kepadanya pemberian yang baik (harta kekayaan), maka dia pun membelanjakan hartanya dengan bebasnya, samada secara bersembunyi atau terbuka, Ibn Qayyim al-Jawziyyah membawa datang pandangan Mujahid dan pandangan Ibn ‘Abbas. [53] Mujahid berkata “ Sesungguhnya berhala itu lemah dan tidak berkuasa di atas sesuatu pun, maka bagaimana golongan kafir sanggup menyengutukan Allah dengan berhala sedangkan ternyata ada kecacatan yang besar pada berhala dan perbezaan yang ketara antara Allah dan berhala”. [54] Manakala Ibn ‘Abbas pula berpandangan “ Ini adalah perbandingan Allah tentang golongan mukmin dan golongan kafir. Adapun golongan mukmin berada dalam kebaikan, diberikan kepadanya rezeki yang baik lalu diinfaqkan untuk dirinya ataupun untuk orang lain dengan bebas samada dalam keadaan sembunyi atau terang. Manakala golongan kafir adalah golongan yang lemah dan tidak berkuasa atas sesuatu pun kerana tiada kebaikan untuk mereka”. [55] Lalu Ibn Qayyim bertanya adakah sama dua golongan ini bagi orang yang berfikir? Lalu beliau mentarjihkan bahawa pandangan Mujahid lebih tepat dengan perumpamaan Allah ini, kerana inilah yang dimaksudkan oleh Allah dalam menyatakan kebatilan perbuatan syirik dan lebih dekat bagi mereka yang memahami perumpamaan ini.[56]

3. Menggunakan kaedah muqaran (perbandingan). Ia dapat dilihat dengan jelas sewaktu beliau menghuraikan ayat 44, surah al-Furqan yang menceritakan tentang kebanyakan manusia yang tidak mengambil petunjuk dari peringatan Allah dan Rasul umpama binatang ternak bahkan lebih sesat, Ibn Qayyim al-Jawziyyah menegaskan perumpamaan ini hadir kerana kebanyakan manusia tidak menerima petunjuk yang disampaikan kepada mereka. Jelas beliau lagi, binatang mampu menuju ke satu tempat yang diarah tanpa melencong ke kiri atau ke kanan, bahkan mampu membezakan tumbuhan apa yang bermanfaat dan memberi mudarat kepadanya. Sedangkan manusia, kebanyakannya tidak menerima seruan para Rasul bahkan tidak mahu mengikut petunjuk tersebut. Binatang ternak tidak diberikan akal untuk berfikir atau lidah untuk berkata-kata, tetapi manusia yang diberikan akal, mata, hati dan lidah tetapi tidak pula memanfaatkan kesemua kurniaan Allah tersebut. Maka nyatalah manusia lebih sesat daripada binatang ternak yang serba kekurangan itu. Ternyata perbandingan yang diterapkan oleh Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam huraiannya mampu menyentak pembaca yang meneliti ayat Allah ini. [57]

4.4 Pemikiran Ibn Qayyim al-Jawziyyah Dalam Kitab al-Amthal fi al-Qur'an

Setelah penulis meneliti dan mengkaji perbahasan tentang keseluruhan 23 ayat amthal di dalam kitab ini, maka penulis dapat merumuskan beberapa idea dan pemikiran beliau dalam mengulas ayat-ayat amthal di dalam kitabnya sebagaimana berikut :

1. Ibn Qayyim al-Jawziyyah ingin menyatakan kepada pembaca kitabnya ini bahawa segala perumpamaan dan rahsia yang terkandung di dalam al-Qur’an tidak akan difahami, direnungi dan difikirkan dengan sebaik-baiknya melainkan oleh orang-orang yang berilmu. Ini dapat dibuktikan apabila beliau memulakan perbahasan tentang ayat-ayat amthal di dalam kitabnya di bahagian muqaddimah [58] dengan ungkapan ini dan mengakhirinya dengan ungkapan yang sama di bahagian akhir kitab. [59]

2. Apabila penulis meneliti kesemua 23 ayat yang dipilih oleh Ibn Qayyim al-Jawziyyah di dalam kitabnya, maka penulis mendapati sebahagian besar ayat-ayat amthal adalah yang berkaitan tentang golongan kafir, musyrikin, Yahudi dan munafik. Ini dapat dilihat dengan jelas apabila beliau membahaskan ayat-ayat berikut :

1) Ayat 17-19 , Surah al-Baqarah (perihal bandingan sifat golongan munafiq)[60]
2) Ayat 24 , Surah Hud (perihal bandingan golongan kafir dan beriman) [61]
3) Ayat 41, Surah al-‘Ankabut (perihal bandingan golongan yang mengambil pelindung selain Allah) [62]
4) Ayat 39-40 , Surah al-Nur (perihal bandingan amalan golongan kafir) [63]
5) Ayat 44 , Surah al-Furqan (perihal bandingan golongan yang menolak petunjuk Allah) [64]
6) Ayat 30 , Surah al-Rum (perihal bandingan golongan musyrik yang mempersekutukan Allah dalam sembahan mereka) [65]
7) Ayat 75-76 , Surah al-Nahl (perihal bandingan golongan hamba abdi dan orang merdeka serta bandingan tentang Allah dan berhala sembahan musyrik) [66]
8) Ayat 49-51 , Surah al-Muddaththir (perihal bandingan golongan yang berpaling dari al-Qur'an) [67]
9) Ayat 5 , Surah al-Jumu‘ah (perihal bandingan golongan Yahudi yang mendustakan ayat-ayat Allah) [68]
10) Ayat 175-176 , Surah al-A‘raf (perihal bandingan orang yang mengutamakan dunia dan nafsunya) [69]
11) Ayat 18 , Surah Ibrahim (perihal bandingan amalan golongan kuffar) [70]
12) Ayat 24-27 , Surah Ibrahim (perihal bandingan kalimah yang baik dan kalimah yang buruk) [71]
13) Ayat 30-31 , Surah al-Hajj (perihal bandingan golongan yang mensyirikkan Allah) [72]
14) Ayat 73 , Surah al-Hajj (perihal bandingan kejahilan golongan yang menyembah berhala dan kelemahan berhala yang disembah) [73]
15) Ayat 171 , Surah al-Baqarah (perihal bandingan seruan kepada golongan kafir) [74]
16) Ayat 117-118, Surah Ali ‘Imran (perihal bandingan apa yang dibelanjakan golongan kafir di dunia) [75]
17) Ayat 29, Surah al-Zumar (perihal bandingan golongan kafir yang menyembah banyak Tuhan dan golongan beriman yang hanya menyembah Allah) [76]
18) Ayat 10 -11, Surah al-Tahrim (perihal bandingan golongan yang tetap kafir meskipun bersama dengan golongan beriman dan golongan beriman yang tidak terjejas keimanannya meskipun bersama dengan golongan kafir) [77]

Penulis berpandangan inilah mesej utama yang hendak disampaikan kepada pembaca kitabnya supaya berwaspada daripada menjadi golongan yang dihina dan dicela oleh Allah ini. Penulis merasakan situasi semasa di zamannya yang dipenuhi dengan ahli bid‘ah, golongan munafik dan golongan kafir meyakinkan penulis, bahawa inilah antara sebab utama mengapa beliau membahaskan sejumlah besar ayat-ayat amthal yang berkaitan dengan golongan ini.

3. Ibn Qayyim al-Jawziyyah pada waktu yang sama tidak lupa untuk menerapkan pemikirannya dalam menggalakkan golongan beriman supaya menjadi golongan yang sentiasa mendapat keredhaan Allah serta memperoleh keberkatan-Nya. Ini kerana untuk mendapatkan ganjaran yang besar di sisi Allah perlu melakukan pengorbanan yang besar dengan mentaati segala suruhan dan meninggalkan segala larangan-Nya. Beliau juga menekankan betapa pentingya golongan beriman supaya mentauhidkan Allah dalam apa jua keadaan, mengutamakan akhirat berbanding dunia, serta berusaha bersungguh-sungguh untuk menjadi golongan yang dikasihi oleh Allah. Ia dapat dilihat apabila beliau mengulas dengan panjang lebar dengan kupasan yang menarik dan menyentuh hati setiap pembaca kitabnya pada ayat-ayat berikut :

1) Ayat 17 , Surah al-Ra‘d (perihal bandingan peranan wahyu yang menghidupkan hati) [78]
2) Ayat 24, Surah Yunus (perihal bandingan kehidupan dunia yang fana) [79]
3) Ayat 24 , Surah Hud (perihal bandingan golongan kafir dan beriman) [80]
4) Ayat 35 , Surah al-Nur (perihal bandingan nur Allah) [81]
5) Ayat 24-27 , Surah Ibrahim (perihal bandingan kalimah yang baik dan kalimah yang buruk) [82]
6) Ayat 261 , Surah al-Baqarah (perihal bandingan golongan yang menafkahkan harta mereka di jalan Allah) [83]

4.5 Kesimpulan

Sepanjang pengkajian penulis terhadap kitab ini, penulis mengesan beberapa kekurangan yang terdapat dalam kitab ini. Di antaranya ialah Ibn Qayyim al-Jawzyyah tidak menyatakan ayat berapa dan surah mana dalam membahaskan ayat-ayat amthal yang disebut oleh Allah di dalam al-Qur’an.Terdapat juga kesilapan dalam menukilkan doa Nabi Hud dengan mengatakan ianya adalah doa Nabi Syu‘aib sewaktu beliau membahaskan akhir ayat 76 surah al-Nahl yang membandingkan Allah seperti orang (yang boleh berkata-kata serta dapat) menyuruh orang ramai melakukan keadilan dan dia sendiri pula berada di atas jalan yang lurus (jalan yang benar), dengan membawa datang ayat 56, surah Hud untuk menguatkan huraian beliau, bahawa Allah sesungguhnya memang berada di atas jalan yang lurus yang merupakan doa Nabi Hud dalam berdepan dengan penentangan dari kaumnya yang ingkar terhadap seruan supaya beriman kepada Allah. [84]

Selain itu, penulis juga bertemu dengan kesukaran untuk menterjemahkan makna sesetengah perkataan yang digunakan oleh beliau. Penulis mengakui kekurangan yang ada, namun demikian dengan bantuan pentahqiq kitab ini ; Sa‘id Muhammad Namr al-Khatib, sedikit sebanyak telah membantu penulis untuk memahami maksud yang hendak disampaikan oleh beliau. Walau bagaimanapun, secara keseluruhannya, kekurangan tersebut hanyalah merupakan suatu yang kecil berbanding isi kandungan keseluruhan kitab yang ternyata amat bermanfaat bagi pembacanya.

Oleh yang demikian, penulis amat berharap agar kajian penulis dalam bab ini dapat memberikan manfaat kepada kita dalam memahami metodologi Ibn Qayyim al-Jawziyyah di dalam kitab al-Amthal fi al-Qur’an, pendekatan yang digunakan oleh beliau sewaktu mengarang kitab ini serta buah pemikiran dan mesej yang ingin beliau sampaikan melalui kitab ini yang sangat baik untuk kita jadikan panduan dan pengajaran.


BAB KELIMA

PENUTUP


Bab ini merupakan konklusi dan penutup bagi keseluruhan kajian penulis. Penulis akan mengemukakan rumusan dan beberapa kesimpulan berdasarkan kepada kajian dan analisa dalam keseluruhan bab kajian ini. Seterusnya, penulis akan membuat beberapa saranan untuk diambil perhatian oleh pihak-pihak yang berkenaan.

1.1 Kesimpulan

Natijah daripada penghuraian, perbahasan dan perbincangan dalam bab-bab yang sebelum ini, dapatlah penulis membuat beberapa kesimpulan. Di antaranya ialah sebagaimana berikut :

1. Amthal yang dinyatakan oleh Allah di dalam al-Qur’an ternyata lebih berpengaruh kepada jiwa, lebih efektif dalam menyampaikan nasihat, lebih kukuh dalam memberikan peringatan serta lebih dapat memuaskan hati bagi mereka yang menghayatinya.[85] Ini kerana berdasarkan pengalaman penulis, sebelum mengkaji kitab ini yang berkaitan dengan al-amthal di dalam al-Qur’an, penulis tidak begitu terkesan dengan mathal yang diungkapkan oleh Allah. Namun demikian, suatu pengalaman baru dan ketenangan jiwa diperoleh apabila meneliti mathal di dalam al-Qur’an yang telah dikupas dengan begitu menarik oleh Ibn Qayyim al-Jawziyyah.

2. Bagi pengkaji ‘ulum al-Qur’an, penulis mendapati al-amthal merupakan suatu pendekatan yang digunakan oleh Allah untuk memberikan iktibar buat manusia. Justeru, bidang al-amthal perlu diberikan perhatian dalam menyelami isi kandungan al-Qur’an, kerana dengannya kita beroleh panduan dan pengajaran. Ini selaras dengan hadith Nabi s.a.w. yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. : [86]

"ان القران نزل على خمسة أوجه : حلال , وحرام , ومحكم , ومتشابه , وأمثال , فاعملوا بالحلال , واجتنبوا الحرام , واتبعوا المحكم , وامنوا بالمتشابه , واعتبروا بالأمثال "

Maksudnya :
"Sesungguhnya al-Qur’an itu diturunkan dengan 5 perkara ; halal, haram, hukum, penyerupaan(tentang 2 perkara yang disamakan) dan perumpamaan. Maka beramallah dengan yang halal, dan jauhilah yang haram, dan ikutilah hukum, dan berimanlah dengan penyerupaan(tentang 2 perkara yang disamakan)serta ambillah pengajaran dengan perumpamaan."

3. Para pendakwah masa kini perlu menggunakan amthal dalam menyampaikan dakwah mereka sebagai hujah yang kuat dalam menegakkan kebenaran dan mencegah kebatilan sebagaimana yang dikehendaki oleh agama.

4. Para pendidik semestinya menggunakan pendekatan amthal sebagai medium untuk menjelaskan sesuatu dan membangkitkan semangat di kalangan anak didiknya. Amthal juga penting sebagai wasilah untuk memujuk dan melarang, serta memuji dan mencaci dalam membincangkan sesuatu perkara.

5. Penulis mendapati Ibn Qayyim al-Jawziyyah telah dianugerahkan oleh Allah dengan pelbagai kelebihan; sesuai dengan ketokohan beliau sebagai ilmuan yang disanjungi pada zamannya. Kitab yang dikaji oleh penulis dalam kajian ini, ternyata memberikan gambaran bahawa beliau termasuk di kalangan orang berilmu yang dapat menyingkap hikmah dan maksud yang hendak disampaikan oleh Allah melalui amthal di dalam al-Qur’an.

6. Ibn Qayyim al-Jawziyyah perlu dicontohi dari segi kesungguhannya yang menguasai pelbagai bidang ilmu serta kemampuannya menghasilkan puluhan kitab. Ia perlu dijadikan contoh kepada generasi muda hari ini dalam usaha untuk mengembalikan kegemilangan Islam yang pernah dicapai suatu ketika dahulu.

5.2 Saranan

Di dalam ruangan ini, penulis ingin mengemukakan beberapa saranan yang perlu diambil perhatian oleh pihak-pihak yang berkenaan.

1. Pendedahan mengenai sumbangan besar Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam pelbagai bidang ilmu perlu dibuat supaya masyarakat mengenali dan menghargai jasa beliau melalui seminar, kuliah ilmu dan sebagainya.
2. Penulis ingin mencadangkan kepada Jabatan al-Qur’an dan al-Hadith, Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya khususnya dan fakulti pengajian Islam di IPTA lain, supaya menjadikan kitab al-Amthal fi al-Qur'an ini dijadikan satu silibus khusus dalam mata pelajaran ‘Ulum al-Qur’an. Ini kerana penulis mendapati kitab ini amat bermanfaat untuk dipelajari dan dihayati isi kandungannya di kalangan pelajar jurusan Pengajian Islam.

3. Penulis amat berharap supaya mereka yang berkemampuan dalam bidang penterjemahan kitab-kitab ilmu di dalam Bahasa Arab ke dalam Bahasa Melayu, agar dapat mengusahakan penterjemahan kitab ini. Penulis yakin, umat Islam secara keseluruhannya dapat mengambil iktibar yang besar berdasarkan perbahasan tentang amthal di dalam al-Qur’an yang dibincangkan di dalam kitab ini.

5.3 Penutup

Setelah meneliti keseluruhan kajian ini, tidak dapat dinafikan lagi tentang kepentingan amthal dalam kehidupan kita sebagai hamba Allah. Apatah lagi, rahsia Allah di sebalik amthal yang terkandung di dalam kitabnya, memberikan kita pengajaran dan panduan kepada kita untuk menghayati dan mengamalkannya dalam kehidupan.

Pada waktu yang sama, mutakhir ini umat Islam berada dalam situasi yang kian kabur dalam usaha untuk menjadi umat yang disegani. Ternyata, melalui pengajaran dari amthal, penulis yakin ia dapat mengukuhkan iman kita terhadap kebenaran kitab Allah dan mukjizat Nabi s.aw. ; al-Qur’an al-Karim yang semestinya menjadi pegangan hidup umat Islam.

Penulis secara jujur dan ikhlas, amat berterima kasih kepada Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah di atas segala contoh yang baik pada dirinya meliputi keperibadiannya, keilmuannya serta kesungguhannya sebagai ulama besar pada zamannya.

Buat akhirnya, penulis amat berharap agar usaha yang sekelumit ini, dapat memberikan sumbangan kepada penghayatan dan praktikal Islam pada akhir zaman ini. Dengan hati yang terbuka, penulis bersedia menerima teguran demi kebaikan umum khasnya dan Islam amnya. Penulis memohon maaf di atas segala kekurangan yang terdapat di dalam kajian ini dan semoga mendapat keampunan dari Allah s.w.t.


Bibiliografi

Rujukan Utama
Al-Qur’an al-Karim.

Terjemahan al-Qur’an
Sheikh ‘Abdullah Basmeh (1982), Tafsir al-Rahman Kepada Pengertian al-Qur’an, c. 2, Kuala Lumpur : Darul Fikir.

Kamus Bahasa Arab
Ibn Manzur, Abu al-Fadl Jamal al-Din Muhammad (1990), Lisan al-‘Arab, j.8, Beirut : Dar al-Sadir.

Ibrahim Madhkur (1985), al-Mu‘jam al-Wasit , j.1, c. 1, Kaherah,: (T.P.)

Mohd. Idris ‘Abdul Rauf al-Marbawi (Dr.) (1990), Kamus Idris al-Marbawi, j.1, Kuala Lumpur : Dar al-Fikr.


Kamus Bahasa Melayu
Teuku Iskandar (Dr.) (2000), Kamus Dewan, c. 5, Kuala Lumpur : Dewan Bahasa dan Pustaka.

Rujukan Bahasa Arab
‘Ani , Dr. ‘Abd al-Qahhar Dawud al- (2001), Dirasat fi ‘Ulum al-Qur’an , c. 1, UIA : Markaz al-Ibhath.

Abu Sinnah, ‘Abd al-Fattah (Dr.) (1995), ‘Ulum al-Qur’an , c. 1, Kaherah : Dar al-Syuruq.

Abu Zahrah, Muhammad (1970), al-Mu‘jizat al-Kubra al-Qur’an: Nuzulihi-Katabatihi-Jam‘ihi-I‘jazihi-Jadalihi-‘Ulumihi-Tafsirihi-Hukm al-Ghina’Bihi, Beirut : Dar al-Fikr al- ‘Arabi.
Abu Zayd, Bakr bin ‘Abd Allah (1980), Ibn Qayyim al-Jawziyyah Hayatuhu wa Atharuhu, c.1, al-Riyad al-Hilal.

Amin, Bakri Syeikh (Dr.) (1979) , al-Ta‘bir al-Fanniy fi al-Qur’an, c. 3, Beirut : Dar al-Syuruq, Beirut.

Amir, Fathi Ahmad (Dr.) (1976), al-Ma‘ani al-Thaniyyah fi Uslub al-Qur’ani , c. 1, Kaherah : Mansya’ah al-Ma‘ arif.

‘Asqalani, Ahmad bin ‘Ali bin Muhammad Ibn Hajar al- (t.t.), al-Durar al-Kaminah fi A‘yan al-Mi’ah al-Thaminah, j. 3, Maktab al-Hind.

Baghdadi, Isma‘il Basha al- (1955), Hadyah al- ‘Arifin al-Asma’ al-Mu’allifin, Baghdad : Maktabah al-Mathna.

Baqari, Ahmad Mahir al- (1990), Ibn Qayyim min Atharuhu al-‘Ilmiyyah, c. 4, Kaherah : Maktabah Nahdah al-Syarh.

Baqilani, Abi Bakr Muhammad Ibn al-Tayyib al- (1991), I‘jaz al-Qur’an, Beirut : Dar al-Jil.

Bayanuni : ‘Abd al-Majid al- (1991), Darb al-Amthal fi al-Qur’an : Ahdafuhu wa al-Tarbawiyyah wa Atharuhu, Damsyiq : Dar al-Qalam.

Bayhaqi, Abu Bakr Ahmad bin Husayn al- (1989) Sunan al-Bayhaqi, j.2, Beirut : Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Bukhari, Abi ‘Abd Allah bin ‘Isma‘il bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardhibah al-(1987), Sahih al- Bukhari, Kaherah : Matba‘ah al-Halabi.

Fayyad, Muhammad Jabir al- (Dr.) (1995), al-Amthal fi al-Qur’an al-Karim, Riyad : Dar al-‘Alamiyyah al-Kitab al-Islami.

Ghunaimi, Muhammad Muslim al- (1977), Hayah al-Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Damsyiq : al-Maktabah al-Islamiyyah.

Hassan, ‘Ali Ibrahim (1967), Tarikh al-Mamalik, c. 3, Kaherah : Maktabah al-Nahdah, al-Misriyyah.

Ibn Abd Hadi, Abi ‘Abd Allah Muhammad al-(1938) (tahqiq) Muhammad Hamad al-Faqy, al-‘Uqud al-Durriyyah, Beirut : Dar al-Kitab al- ‘Ilmiyyah.

Ibn Hanbal, Ahmad bin Muhammad Hanbal (1955), Musnad Imam Ahmad bin Hanbal bi hamisyih Muntakhab Kanz al-Ummal, Kaherah : Dar al-Ma‘arif

Ibn ‘Imad, Abi al-Falah ‘Abd al-Hayy (t.t.), Syadharat al-Dhahab fi Akhbar Min Dhahab, j. 6, Beirut, Al-Maktabah al-Tijari.

Ibn Kathir, Abu al-Fida’ al-Hafiz (1994) , al-Bidayah wa al-Nihayah, j.13-14, Beirut : Maktabah al-Ma’arif.

Ibn Kathir, Abu al-Fida’ al-Hafiz, Tafsir al-Qur'an al-Azim, j. 2, Beirut : Dar al-Ma‘rifah.

Ibn Qayyim Jawziyyah, Syams al-Din Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Abu Bakr bin Ayyub bin Sa‘id al-Zar‘i al-1982) (tahqiq) Dr. Nasir bin Sa‘ad al-Rasyid, , al-Amthal fi al-Qur’an al-Karim, Makkah al-Mukarramah : Matabi‘ al-Safa.

Ibn Qayyim Jawziyyah, Syams al-Din Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Abu Bakr bin Ayyub bin Sa‘id al-Zar‘i al- (1983) (tahqiq) Sa‘id Muhammad Namr al-Khatib, al-Amthal fi al-Qur’an al-Karim, c. 2, Dar al-Ma‘rifah, Beirut, Lubnan.
Ibn Qayyim Jawziyyah, Syams al-Din Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Abu Bakr bin Ayyub bin Sa‘id al-Zar‘i al- (1972) (tahqiq) Muhammad Hamad al-Faqy, 3 j, Madarij al-Salikin, Beirut : Dar al-Kutub.

Ibn Qayyim Jawziyyah, Syams al-Din Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Abu Bakr bin Ayyub bin Sa‘id al-Zar‘i al-(1982) (tahqiq) ‘Abd al-Qadir al-Arnawwut, Zad al-Ma‘ad fi Hadyi Khair al-‘Ibad, c.3, Beirut : Mu’assasah al-Risalah.

Ibn Qayyim Jawziyyah, Syams al-Din Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Abu Bakr bin Ayyub bin Sa‘id al-Zar‘i al- (t.t.) (tahqiq) Muhammad Zuhri al-Najar, al-Tibyan fi Aqsam al-Qur’an, Riyad : al-Mu'assasah al-Sa‘idiyyah.

Ibn Qayyim Jawziyyah, Syams al-Din Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Abu Bakr bin Ayyub bin Sa‘id al-Zar‘i al- (2001) (tahqiq) Haitham Khalifah Tua‘imi., Jala’ al-Afham fi al-Salah wa al-Salam ‘ala Khair al-Anam, c. 1, Beirut : Maktabah al-‘Asriyyah.

Ibn Qayyim Jawziyyah, Syams al-Din Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Abu Bakr bin Ayyub bin Sa‘id al-Zar‘i al- (1994) (tahqiq) ‘Ali Muhammad, Miftah Dar al-Sa‘adah, c. 1, Kaherah : Dar al-Hadith.

Ibn Rajab, Zayn al-Din Abu al-Farj ‘Abd Rahman bin Syihab al-Din Ahmad al-Baghdadi (t.t.), al-Dhail al ‘ala Tabaqat al-Hanabilah, j. 2, Beirut : Dar al-Ma‘rifah.

Jundi, ‘Abd Halim al- (1984), al-Qur’an wa al-Manhaj al- ‘Alami al-Mu‘asir, Kaherah : Dar al-Ma‘arif.

Kahhalah, ‘Umar Rida (1957), Mu‘jam Al-Mu’allifin, j. 9, Damsyiq : al-Maktabah al- ‘Arabiyyah.

Lasyin, Musa Syahin (Dr.) (2002), al-Laiy al-Hasan fi ‘Ulum al-Qur’an, c. 1, Kaherah : Dar al-Syuruq.
Maqrizi, Ahmad bin ‘Ali bin ‘Abd al-Qadir bin Muhammad bin Ibrahim bin Muhammad bin Tamin bin ‘Abd al-Samad al- (t.t.), al-Khuttat al-Maqriziyyah, Beirut : Dar al-Sadir.

Maydani, ‘Abd al-Rahman Hassan Hanbakah al- (1989), Qawa‘id al-Tadabbur al-Amthal li Kitabillah ‘Azza Wajalla, c. 2, Damsyiq : Dar al-Qalam.

Maydani, Abu al-Fadl Ahmad bin Muhammad al- (t.t.) (tahqiq), Muhammad Abu al-Fadl Ibrahim, Majmu‘ al-Amthal, j. 1, Kaherah : ‘Isa al-Bab al-Halabi al-Syurakah.

Muqfa’, Abd Allah al- (1961), al-Adab al-Sa

Dalam tradisi keilmuan Islam khazanah ilmu-ilmu al-Quran merupakan bidang yang paling banyak dikaji dan ditulis oleh para ulamak. Kitab-kitab tafsir yang memenuhi perpustakaan merupakan bukti nyata yang menunjukkan kegigihan para ulama untuk menggali dan memahami makna-makna yang terkandung dalam al-Quran. Terdapat empat jenis metode penafsiran al-Quran iaitu metode al-Tahlili (Tafsiran analisa), metode al-Ijmaliy (Tafsiran global), metode al-Muqaran (Tafsiran Perbandingan) dan metode al-Maudhu’iyy (Tafsiran Bertema) . Dalam tulisan ini, penulis akan menumpukan kepada tafsiran bertema, takrif, manhaj, keistimewaan dan sebab-sebab kemunculan alirannya pada masa kini.


Tafsir analisa adalah suatu metode yang menjelaskan kandungan ayat-ayat al-Quran dari seluruh aspeknya. Penafsir mengikut ketertiban ayat sebagaimana yang tersusun dalam al-Quran. Misalnya Tafsir al-Tabari, Tafsir al-Razi, Tafsir al-Baidawi, dan Tafsir al-Qurtubi. Tafsir global ialah suatu metode tafsir yang menafsirkan ayat-ayat al-Quran dengan cara mengemukakan makna global.

Penafsir akan membahaskan ayat-ayat mengikut susunan kemudian mengemukakan makna secara global seperti yang dimaksudkan dalam ayat tersebut. Segala lafaz bahasa penafsiran ini hampir sama dengan lafaz al-Quran. Contohnya seperti Tafsir al-Jalalain, Safwat al-Bayan li Ma’ani al-Quran oleh Hussin Makhluf. Tafsir perbandingan ialah mengemukakan penafsiran ayat-ayat al-Quran dengan meneliti sejumlah kitab-kitab tafsir serta membuat perbandingan ayat-ayat dalam kitab tersebut. Tafsir Bertema iaitu menghimpunkan ayat dalam satu topik kemudian menafsirkannya bersesuaian dengan tujuan dan matlamat al-Quran.

Dr. Abdul Satar Fathullah dalam bukunya Madhal ‘ila Tafsir al-Maudhu’iyy (Pengantar Tafsir Bertema memberi definisi sebagai menghimpunkan ayat-ayat al-Quran yang mempunyai makna yang satu dan meletakkan dalam satu tajuk yang satu dan mengkaji mengenainya dalam satu perbahasan dengan mengeluarkan ayat-ayat al-Quran dalam satu bentuk yang khusus. Sementara itu, Dr. Mustafa Muslim dalam bukunya Mubahis fi Tafsir al-Quran menyebutkannya sebagai ilmu yang berkaitan dengan isu-isu semasa bersesuaian dengan tujuan-tujuan al-Quran dari perspektif satu surah atau lebih.

Sesetengah ulamak menerangkan maksud tafsir bertema ialah mengutarakan tajuk-tajuk yang tertentu selepas itu menerangkan isu-isu yang besar yang terdapat dari ayat-ayat al-Quran. Kemudian kita mempelajari tajuk itu dengan membuat analisa dari segenap sudut berdasarkan ayat-ayat sambil membuat perbandingan antara nas-nas tersebut hingga akhirnya kita mendapat gambaran yang jelas mengenai tajuk tersebut.

Tajuk-tajuk ini akan menerangkan pandangan-pandangan Islam yang dinaungi dengan nur al-Quran sambil meninggalkan perkara-perkara yang bertentangan dengan nas-nas al-Quran. Pengajian al-Quran ini sungguh bermanfaat, banyak menyelesaikan persoalan dalam al-Quran dan mudah difahami. Bagi menafsirkan ayat-ayat al-Quran melalui aliran ini, seseorang itu mestilah membaca keseluruhan isi surah tersebut. Perkara ini amat penting supaya ia dapat mengupas tajuk-tajuk itu dengan gambaran yang jelas. Ada juga yang mendefinasikan dengan menghimpun ayat-ayat yang berselerakkan dalam surah-surah al-Quran dalam satu tajuk dari segi lafaz atau hukum dan menafsirkannya bersesuaian dengan tujuan dan matlamat al-Quran.

Muhammad al-Ghazali berpendapat bahawa tafsir bertema ialah menggarap sesuatu surah dengan seutuhnya, melakar gambaran menyeluruh dan menghubungkaitkan aspek kesepaduan serta kaitan bahawa awalnya ialah pengantar dan penghujungnya ialah kebenaran kepada pengantar. Fathi Uthman menyebutkan tafsir bertema ialah mengumpulkan dan menyusun kesemua ayat-ayat yang berkaitan dengan sesuatu tema untuk melihat bagaimana al-Quran menangani konsep secara padu dan utuh.

Para pengkaji bersepakat bahawa tafsir bertema merupakan suatu ilmu yang amat penting kerana ia mengabungkan tafsir dengan isu-isu semasa. Isu-isu yang diutarakan oleh al-Quran merupakan asas dalam pembinaan umat. Ini bererti bahawa al-Quran bukanlah jauh dari kehidupan dan pemikiran, tidak lari dari segala permasalahan manusia dalam setiap masa dan zaman.Al-Quran bukan sahaja kitab rohani semata-mata malah ia merupakan kitab yang menerangi jalan ke arah mendekatkan diri kepada Allah tanpa mengurangkan keperluan kehidupan seharian manusia. Oleh itu, tafsir bertema ini mampu untuk berkembang dan menonjolkan matlamat Islam yang betul.

Tafsiran bertema juga dapat membetulkan banyak perkara dari segi pendekatan kaedah dan hukum-hukum yang telah diperkatakan oleh ulamak-ulamak dalam pelbagai disiplin ilmu.Malik bin Nabi, seorang pemikir Islam menyebutkan bahawa umat Islam sekarang perlu mengembalikan kekuatannya. Cara yang paling utama ialah mewajibkan pengajian al-Quran secara sistematik iaitu menghubungkaitkan wahyu secara tersusun kepada setiap jiwa muslim dengan hakikat al-Quran yang sebenar.

Antara sebab timbulnya aliran tafsir bertema ini ialah keadaan umat Islam yang jauh daripada ajaran al-Quran. Oleh kerana itu, para ulama memainkan peranan dalam menyeru umat Islam kembali kepada penghayatan al-Quran. Dengan sebab demikian, pentingnya para ulama mengupas isu-isu kemasyarakatan berdasarkan tema-tema dalam al-Quran supaya dapat difahami secara mudah.

Begitu juga, zaman ini merupakan zaman perkembangan ilmu yang pesat yang menyebabkan para pengkaji meneliti sesuatu ilmu dengan mendalam. Para ulamak tafsir dapat mengeluar dan menghimpunkannya mengikut situasi semasa dengan teliti. Di samping itu, penerbitan mu’ajam, cakera padat yang berkaitan dengan al-Quran semakin banyak. Perkara ini memudahkan lagi para pengkaji mengeluarkan tajuk-tajuk dari ayat-ayat al-Quran.

Penubuhan jabatan-jabatan tafsir yang memberi bimbingan kepada pelajar peringkat sarjana dan Ph.d untuk membuat pengkajian mengenai tafsir bertema ini menyebabkan perkembangannya semakin cepat dan meluas. Dari huraian di atas, kita dapati tafsir bertema amat penting dalam konteks umat Islam kini kerana ia merupakan asas dalam menyelesaikan masalah umat berdasarkan panduan al-Quran. Tafsir bertema dapat mengemukakan alternatif dan menonjolkan matlamat dan maqasid al-Quran. Ia juga mampu mengemukakan manhaj dakwah dan Islah menurut perspektif al-Quran yang sebenar.

Di samping itu, ia merupakan metode tafsir yang paling ideal untuk membimbing manusia mengenal pelbagai petunjuk yang terkandung dalam al-Quran dan menegaskan kepada manusia bahawa isu-isu dan tema-tema yang terkandung dalam al-Quran tersebut tidak hanya bersifat teoritis semata-mata tanpa memiliki hubungan yang sebenar dengan apa yang dialami oleh individu dan masyarakat dalam kehidupan mereka. Tafsiran bertema ini merupakan satu istilah baru yang mana pengkajian dan penulisannya adalah lahir daripada tuntutan masyarakat dan massa. Ulamak-ulamak silam tidak mengenalinya seperti mana yang kita kenali hari ini. Mereka hanya menafsir al-Quran secara analisa dari satu ayat ke satu ayat mengikut tertib ayat dan surah.

Perkara ini tidaklah mengurangkan taraf mereka atau mengaibkan keilmuan mereka kerana mereka telahpun menyempurnakan hak serta keperluan masyarakat ketika itu. Kita tidak perlu meminta keperluan yang baru ini daripada mereka. Kita yang sepatutnya menunaikan keperluan masyarakat kini yang memerlukan tafsiran bertema ini dan tanggungjawabnya adalah terletak kepada para alim ulamak kini. Para ulamak berkewajipan memperbaharui arah tafsir menuju kepada kajian al-Quran secara bertema, suatu kajian yang akan melengkapkan kepada manusia maksud dan tujuan al-Quran dengan metode dan pemahaman yang relevan dengan perkembangan umat zaman sekarang.

Penafsiran bertema ini diharapkan mampu melenyapkan segala tuduhan negatif yang dilontarkan oleh pihak Barat dan kaum orientalis sebagai akibat dari kajian mereka yang tidak secara bertema atau secara bertema yang terputus-putus ataupun kajian secara bertema yang tidak betul. Oleh itu, keperluan umat Islam akan metode tafsir bertema ini amat penting dan dapat memberi sumbangan yang besar dalam pembaharuan metode dakwah terutama dalam konteks masyarakat Malaysia.

Antara manhaj tafsir bertema ialah memilih atau menetapkan satu topik dalam al-Quran yang akan dikaji secara bertema, mencari dan menghimpunkan ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah yang ditetapkan sama ada ayat makkiyyah dan madaniyat, menyusun ayat-ayat tersebut secara tertib menurut kronologi masa turunnya dan asbab al-Nuzul, mengetahui munasabah ayat-ayat tersebut dalam tiap-tiap surahnya, menyusun tema perbahasan dalam kerangka yang sistematik dan sempurna, melengkapi perbahasan dan huraian dengan hadis sehingga ia menjadi mantap, menyelusuri ayat tersebut secara bertema, menyesuaikan pengertian am dan khas, antara mutlaq dan muqayyad, nasikh dan mansukh sehingga semua ayat tersebut bertemu pada satu muara tanpa ada percanggahan.


Tafsir Bertema ini terbahagi kepada tiga kategori iaitu

1. tafsiran bertema bagi Istilah al-Quran,

2. tafsiran bertema bagi tema-tema al-Quran; dan

3.tafsiran bertema bagi surah al-Quran.

Tafsiran bertema bagi istilah al-Quran ialah seorang penafsir akan membahaskan istilah-istilah dalam al-Quran seperti sabar, jihad, keadilan, amanah, iman dan lain-lain. Antara tafsir jenis ini ialah kitab al-Ummah fi dalalatuha al-Arabiah wa al-Quraniyah oleh Dr. Ahmad Farhat.

Tafsir bertema bagi tema-tema al-Quran iaitu seseorang penafsir akan mencari satu tema dalam al-Quran seperti akidah dalam al-Quran, Rasul dalam al-Quran dan Munafiq dalam al-Quran. Aliran ini lebih luas perbahasannya daripada aliran istilah tadi yang hanya terbatas kepada makna istilah yang terdapat di dalam mu’ajam dan perbezaan lafaz. Antara tafsir jenis ini ialah al-Sabr fi al-Quran oleh Yusuf al-Qardhawi dan al-Wasatiyyah fi al-Quran oleh Nasr al-Amri.

Tafsir bertema bagi surah dalam al-Quran iaitu menghuraikan nama-nama surah dan hikmah penamaannya denga tajuk-tajuk yang terdapat di dalamnya. Penafsiran jenis ini pernah dikemukan oleh Zamakhsari, al-Razi dan al-Biqa’iyy. Antara tafsir jenis ini ialah Nahw Tafsir Maudhu’iyy oleh Muhammad al-Ghazali.

Antara langkah-langkah yang perlu diberi perhatian semasa tafsiran bertema ialah dengan memilih tajuk dan tema al-Quran yang ingin dikaji seperti kerasulan dalam al-Quran atau kisah nabi Ibrahim dalam al-Quran. Kemudian mengarap sebab-sebab pemilihan tajuk itu dan matlamat dari kajiannya serta keperluan tajuk tersebut untuk umat Islam dari segi menyelesaikan masalah mereka.

Penafsir hendaklah menghimpunkan ayat-ayat yang membicarakan tajuk tersebut sama ada dari lafaz yang nyata atau lafaz yang membawa maksud kepadanya seperti tajuk kerasulan dalam al-Quran maka penafsir boleh menghimpunkan ayat-ayat dan perkataan al-Rasul, al-Nabi, al-Wahy, al-Kitab dan al-dakwah. Kemudian beliau mengeluarkan dan membahaskan makna-makna lafaz tersebut dari kamus-kamus yang muktabar seperti Muqayyis al-Lughah oleh Ibn Faris dan Mufaradat al- Alfaz al-Quran oleh Raghib al-Asfahani serta menganalisa istilah-istilah asas bagi topik tersebut.

Analisa ini boleh dilakukan dengan mengunakan mu’ajam al-Quran dan merekodkan perkara-perkara penting mengenai ayat-ayat tersebut seperti asbab al-Nuzul.

Penafsir perlu membaca ayat-ayat tersebut dari kitab-kitab muktabar seperti Tafsir al-Tabari, Tafsir Ibn Kathir dan menerangkan topik tersebut dengan suasana masyarakat kini dan penyelesaian permasalahan manusia berdasarkan ayat dan topik itu. Kemudian barulah membuat kesimpulan, iktibar dan instisari dari topik bertema itu..

Di samping itu, penafsir hendaklah mengemukakan pengajian dan kajian al-Quran semasa yang khusus yang mempunyai hubungan dengan topik al-Quran dan mengetahui manfaat kajian tersebut kepada pengajian tafsiran bertema.


Oleh demikian, tafsiran bertema dapat memberi gambaran menyeluruh mengenai isu dan topik-topik yang terdapat dalam al-Quran secara utuh dan padu. Al-Quran harus ditanggapi sebagai kitab hidayah dari Allah untuk memandu manusia kepada kebenaran dan sesuai untuk semua zaman. Memahami al-Quran secara cebisan akan menyebabkan fahaman yang dangkal tentang sesuatu fenomena lalu menatijahkan sikap yang simplistik dengan kesimpulan yang silap. Muhammad al-Ghazali berkeyakinan era sekarang merupakan era tafsir bertema yang mana ia dapat menonjolkan matlamat dan mampu berbakti kepada Islam dengan lebih jelas dan jaya.

Printer Friendly Page

Sejarah Turunnya dan Tujuan Pokok Al-Quran

Agama Islam, agama yang kita anut dan dianut oleh ratusan juta kaum Muslim di seluruh dunia, merupakan way of life yang menjamin kebahagiaan hidup pemeluknya di dunia dan di akhirat kelak. Ia mempunyai satu sendi utama yang esensial: berfungsi memberi petunjuk ke jalan yang sebaik-baiknya. Allah berfirman, Sesungguhnya Al-Quran ini memberi petunjuk menuju jalan yang sebaik-baiknya (QS, 17:9).

Al-Quran memberikan petunjuk dalam persoalan-persoalan akidah, syariah, dan akhlak, dengan jalan meletakkan dasar-dasar prinsip mengenai persoalan-persoalan tersebut; dan Allah SWT menugaskan Rasul saw., untuk memberikan keterangan yang lengkap mengenai dasar-dasar itu: Kami telah turunkan kepadamu Al-Dzikr (Al-Quran) untuk kamu terangkan kepada manusia apa-apa yang diturunkan kepada mereka agar mereka berpikir (QS 16:44).

Disamping keterangan yang diberikan oleh Rasulullah saw., Allah memerintahkan pula kepada umat manusia seluruhnya agar memperhatikan dan mempelajari Al-Quran: Tidaklah mereka memperhatikan isi Al-Quran, bahkan ataukah hati mereka tertutup (QS 47:24).

Mempelajari Al-Quran adalah kewajiban. Berikut ini beberapa prinsip dasar untuk memahaminya, khusus dari segi hubungan Al-Quran dengan ilmu pengetahuan. Atau, dengan kata lain, mengenai "memahami Al-Quran dalam Hubungannya dengan Ilmu Pengetahuan."( Persoalan ini sangat penting, terutama pada masa-masa sekarang ini, dimana perkembangan ilmu pengetahuan demikian pesat dan meliputi seluruh aspek kehidupan.

Kekaburan mengenai hal ini dapat menimbulkan ekses-ekses yang mempengaruhi perkembangan pemikiran kita dewasa ini dan generasi-generasi yang akan datang. Dalam bukunya, Science and the Modern World, A.N. Whitehead menulis: "Bila kita menyadari betapa pentingnya agama bagi manusia dan betapa pentingnya ilmu pengetahuan, maka tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa sejarah kita yang akan datang bergantung pada putusan generasi sekarang mengenai hubungan antara keduanya."6

Tulisan Whithead ini berdasarkan apa yang terjadi di Eropa pada abad ke-18, yang ketika itu, gereja/pendeta di satu pihak dan para ilmuwan di pihak lain, tidak dapat mencapai kata sepakat tentang hubungan antara Kitab Suci dan ilmu pengetahuan; tetapi agama yang dimaksudkannya dapat mencakup segenap keyakinan yang dianut manusia.

Demikian pula halnya bagi umat Islam, pengertian kita terhadap hubungan antara Al-Quran dan ilmu pengetahuan akan memberi pengaruh yang tidak kecil terhadap perkembangan agama dan sejarah perkembangan manusia pada generasi-generasi yang akan datang.

Periode Turunnya Al-Quran

Al-Quran Al-Karim yang terdiri dari 114 surah dan susunannya ditentukan oleh Allah SWT. dengan cara tawqifi, tidak menggunakan metode sebagaimana metode-metode penyusunan buku-buku ilmiah. Buku-buku ilmiah yang membahas satu masalah, selalu menggunakan satu metode tertentu dan dibagi dalam bab-bab dan pasal-pasal. Metode ini tidak terdapat di dalam Al-Quran Al-Karim, yang di dalamnya banyak persoalan induk silih-berganti diterangkan.

Persoalan akidah terkadang bergandengan dengan persoalan hukum dan kritik; sejarah umat-umat yang lalu disatukan dengan nasihat, ultimatum, dorongan atau tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam semesta. Terkadang pula, ada suatu persoalan atau hukum yang sedang diterangkan tiba-tiba timbul persoalan lain yang pada pandangan pertama tidak ada hubungan antara satu dengan yang lainnya. Misalnya, apa yang terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 216-221, yang mengatur hukum perang dalam asyhur al-hurum berurutan dengan hukum minuman keras, perjudian, persoalan anak yatim, dan perkawinan dengan orang-orang musyrik.

Yang demikian itu dimaksudkan agar memberikan kesan bahwa ajaran-ajaran Al-Quran dan hukum-hukum yang tercakup didalamnya merupakan satu kesatuan yang harus ditaati oleh penganut-penganutnya secara keseluruhan tanpa ada pemisahan antara satu dengan yang lainnya. Dalam menerangkan masalah-masalah filsafat dan metafisika, Al-Quran tidak menggunakan istilah filsafat dan logika. Juga dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan. Yang demikian ini membuktikan bahwa Al-Quran tidak dapat dipersamakan dengan kitab-kitab yang dikenal manusia.

Tujuan Al-Quran juga berbeda dengan tujuan kitab-kitab ilmiah. Untuk memahaminya, terlebih dahulu harus diketahui periode turunnya Al-Quran. Dengan mengetahui periode-periode tersebut, tujuan-tujuan Al-Quran akan lebih jelas.

Para ulama 'Ulum Al-Quran membagi sejarah turunnya Al-Quran dalam dua periode: (1) Periode sebelum hijrah; dan (2) Periode sesudah hijrah. Ayat-ayat yang turun pada periode pertama dinamai ayat-ayat Makkiyyah, dan ayat-ayat yang turun pada periode kedua dinamai ayat-ayat Madaniyyah. Tetapi, di sini, akan dibagi sejarah turunnya Al-Quran dalam tiga periode, meskipun pada hakikatnya periode pertama dan kedua dalam pembagian tersebut adalah kumpulan dari ayat-ayat Makkiyah, dan periode ketiga adalah ayat-ayat Madaniyyah. Pembagian demikian untuk lebih menjelaskan tujuan-tujuan pokok Al-Quran.

Periode Pertama

Diketahui bahwa Muhammad saw., pada awal turunnya wahyu pertama (iqra'), belum dilantik menjadi Rasul. Dengan wahyu pertama itu, beliau baru merupakan seorang nabi yang tidak ditugaskan untuk menyampaikan apa yang diterima. Baru setelah turun wahyu kedualah beliau ditugaskan untuk menyampaikan wahyu-wahyu yang diterimanya, dengan adanya firman Allah: "Wahai yang berselimut, bangkit dan berilah peringatan" (QS 74:1-2).

Kemudian, setelah itu, kandungan wahyu Ilahi berkisar dalam tiga hal. Pertama, pendidikan bagi Rasulullah saw., dalam membentuk kepribadiannya. Perhatikan firman-Nya: Wahai orang yang berselimut, bangunlah dan sampaikanlah. Dan Tuhanmu agungkanlah. Bersihkanlah pakaianmu. Tinggalkanlah kotoran (syirik). Janganlah memberikan sesuatu dengan mengharap menerima lebih banyak darinya, dan sabarlah engkau melaksanakan perintah-perintah Tuhanmu (QS 74:1-7).

Dalam wahyu ketiga terdapat pula bimbingan untuknya: Wahai orang yang berselimut, bangkitlah, shalatlah di malam hari kecuali sedikit darinya, yaitu separuh malam, kuranq sedikit dari itu atau lebih, dan bacalah Al-Quran dengan tartil (QS 73:1-4).

Perintah ini disebabkan karena Sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu wahyu yang sangat berat (QS 73:5).

Ada lagi ayat-ayat lain, umpamanya: Berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat. Rendahkanlah dirimu, janganlah bersifat sombong kepada orang-orang yang beriman yang mengikutimu. Apabila mereka (keluargamu) enggan mengikutimu, katakanlah: aku berlepas dari apa yang kalian kerjakan (QS 26:214-216).

Demikian ayat-ayat yang merupakan bimbingan bagi beliau demi suksesnya dakwah.

Kedua, pengetahuan-pengetahuan dasar mengenai sifat dan af'al Allah, misalnya surah Al-A'la (surah ketujuh yang diturunkan) atau surah Al-Ikhlash, yang menurut hadis Rasulullah "sebanding dengan sepertiga Al-Quran", karena yang mengetahuinya dengan sebenarnya akan mengetahui pula persoalan-persoalan tauhid dan tanzih (penyucian) Allah SWT.

Ketiga, keterangan mengenai dasar-dasar akhlak Islamiah, serta bantahan-bantahan secara umum mengenai pandangan hidup masyarakat jahiliah ketika itu. Ini dapat dibaca, misalnya, dalam surah Al-Takatsur, satu surah yang mengecam mereka yang menumpuk-numpuk harta; dan surah Al-Ma'un yang menerangkan kewajiban terhadap fakir miskin dan anak yatim serta pandangan agama mengenai hidup bergotong-royong.

Periode ini berlangsung sekitar 4-5 tahun dan telah menimbulkan bermacam-macam reaksi di kalangan masyarakat Arab ketika itu. Reaksi-reaksi tersebut nyata dalam tiga hal pokok:

  1. Segolongan kecil dari mereka menerima dengan baik ajaran-ajaran Al-Quran.
  2. Sebagian besar dari masyarakat tersebut menolak ajaran Al-Quran, karena kebodohan mereka (QS 21:24), keteguhan mereka mempertahankan adat istiadat dan tradisi nenek moyang (QS 43:22), dan atau karena adanya maksud-maksud tertentu dari satu golongan seperti yang digambarkan oleh Abu Sufyan: "Kalau sekiranya Bani Hasyim memperoleh kemuliaan nubuwwah, kemuliaan apa lagi yang tinggal untuk kami."
  3. Dakwah Al-Quran mulai melebar melampaui perbatasan Makkah menuju daerah-daerah sekitarnya.

Periode Kedua

Periode kedua dari sejarah turunnya Al-Quran berlangsung selama 8-9 tahun, dimana terjadi pertarungan hebat antara gerakan Islam dan jahiliah. Gerakan oposisi terhadap Islam menggunakan segala cara dan sistem untuk menghalangi kemajuan dakwah Islamiah.

Dimulai dari fitnah, intimidasi dan penganiayaan, yang mengakibatkan para penganut ajaran Al-Quran ketika itu terpaksa berhijrah ke Habsyah dan para akhirnya mereka semua --termasuk Rasulullah saw.-- berhijrah ke Madinah.

Pada masa tersebut, ayat-ayat Al-Quran, di satu pihak, silih berganti turun menerangkan kewajiban-kewajiban prinsipil penganutnya sesuai dengan kondisi dakwah ketika itu, seperti: Ajaklah mereka ke jalan Tuhanmu (agama) dengan hikmah dan tuntunan yang baik, serta bantahlah mereka dengan cara yang sebaik-baiknya (QS 16:125).

Dan, di lain pihak, ayat-ayat kecaman dan ancaman yang pedas terus mengalir kepada kaum musyrik yang berpaling dari kebenaran, seperti: Bila mereka berpaling maka katakanlah wahai Muhammad: "Aku pertakuti kamu sekalian dengan siksaan, seperti siksaan yang menimpa kaum 'Ad dan Tsamud" (QS 41:13).

Selain itu, turun juga ayat-ayat yang mengandung argumentasi-argumentasi mengenai keesaan Tuhan dan kepastian hari kiamat berdasarkan tanda-tanda yang dapat mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari, seperti: Manusia memberikan perumpamaan bagi kami dan lupa akan kejadiannya, mereka berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-tulang yang telah lapuk dan hancur?" Katakanlah, wahai Muhammad: "Yang menghidupkannya ialah Tuhan yang menjadikan ia pada mulanya, dan yang Maha Mengetahui semua kejadian. Dia yang menjadikan untukmu, wahai manusia, api dari kayu yang hijau (basah) lalu dengannya kamu sekalian membakar." Tidaklah yang menciptakan langit dan bumi sanggup untuk menciptakan yang serupa itu? Sesungguhnya Ia Maha Pencipta dan Maha Mengetahui. Sesungguhnya bila Allah menghendaki sesuatu Ia hanya memerintahkan: "Jadilah!"Maka jadilah ia (QS 36:78-82).

Ayat ini merupakan salah satu argumentasi terkuat dalam membuktikan kepastian hari kiamat. Dalam hal ini, Al-Kindi berkata: "Siapakah di antara manusia dan filsafat yang sanggup mengumpulkan dalam satu susunan kata-kata sebanyak huruf ayat-ayat tersebut, sebagaimana yang telah disimpulkan Tuhan kepada Rasul-Nya saw., dimana diterangkan bahwa tulang-tulang dapat hidup setelah menjadi lapuk dan hancur; bahwa qudrah-Nya menciptakan seperti langit dan bumi; dan bahwa sesuatu dapat mewujud dari sesuatu yang berlawanan dengannya."7

Disini terbukti bahwa ayat-ayat Al-Quran telah sanggup memblokade paham-paham jahiliah dari segala segi sehingga mereka tidak lagi mempunyai arti dan kedudukan dalam rasio dan alam pikiran sehat.

Periode Ketiga

Selama masa periode ketiga ini, dakwah Al-Quran telah dapat mewujudkan suatu prestasi besar karena penganut-penganutnya telah dapat hidup bebas melaksanakan ajaran-ajaran agama di Yatsrib (yang kemudian diberi nama Al-Madinah Al-Munawwarah). Periode ini berlangsung selama sepuluh tahun, di mana timbul bermacam-macam peristiwa, problem dan persoalan, seperti: Prinsip-prinsip apakah yang diterapkan dalam masyarakat demi mencapai kebahagiaan? Bagaimanakah sikap terhadap orang-orang munafik, Ahl Al-Kitab, orang-orang kafir dan lain-lain, yang semua itu diterangkan Al-Quran dengan cara yang berbeda-beda?

Dengan satu susunan kata-kata yang membangkitkan semangat seperti berikut ini, Al-Quran menyarankan: Tidakkah sepatutnya kamu sekalian memerangi golongan yang mengingkari janjinya dan hendak mengusir Rasul, sedangkan merekalah yang memulai peperangan. Apakah kamu takut kepada mereka? Sesungguhnya Allah lebih berhak untuk ditakuti jika kamu sekalian benar-benar orang yang beriman. Perangilah! Allah akan menyiksa mereka dengan perantaraan kamu sekalian serta menghina-rendahkan mereka; dan Allah akan menerangkan kamu semua serta memuaskan hati segolongan orang-orang beriman (QS 9:13-14).

Adakalanya pula merupakan perintah-perintah yang tegas disertai dengan konsiderannya, seperti: Wahai orang-orang beriman, sesungguhnya minuman keras, perjudian, berhala-berhala, bertenung adalah perbuatan keji dari perbuatan setan. Oleh karena itu hindarilah semua itu agar kamu sekalian mendapat kemenangan. Sesungguhnya setan tiada lain yang diinginkan kecuali menanamkan permusuhan dan kebencian diantara kamu disebabkan oleh minuman keras dan perjudian tersebut, serta memalingkan kamu dari dzikrullah dan sembahyang, maka karenanya hentikanlah pekerjaan-pekerjaan tersebut (QS 5:90-91).

Disamping itu, secara silih-berganti, terdapat juga ayat yang menerangkan akhlak dan suluk yang harus diikuti oleh setiap Muslim dalam kehidupannya sehari-hari, seperti: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki satu rumah selain rumahmu kecuali setelah minta izin dan mengucapkan salam kepada penghuninya. Demikian ini lebih baik bagimu. Semoga kamu sekalian mendapat peringatan (QS 24:27).

Semua ayat ini memberikan bimbingan kepada kaum Muslim menuju jalan yang diridhai Tuhan disamping mendorong mereka untuk berjihad di jalan Allah, sambil memberikan didikan akhlak dan suluk yang sesuai dengan keadaan mereka dalam bermacam-macam situasi (kalah, menang, bahagia, sengsara, aman dan takut). Dalam perang Uhud misalnya, di mana kaum Muslim menderita tujuh puluh orang korban, turunlah ayat-ayat penenang yang berbunyi: Janganlah kamu sekalian merasa lemah atau berduka cita. Kamu adalah orang-orang yang tinggi (menang) selama kamu sekalian beriman. Jika kamu mendapat luka, maka golongan mereka juga mendapat luka serupa. Demikianlah hari-hari kemenangan Kami perganti-gantikan di antara manusia, supaya Allah membuktikan orang-orang beriman dan agar Allah mengangkat dari mereka syuhada, sesungguhnya Allah tiada mengasihi orang-orangyang aniaya (QS 3:139-140).

Selain ayat-ayat yang turun mengajak berdialog dengan orang-orang Mukmin, banyak juga ayat yang ditujukan kepada orang-orang munafik, Ahli Kitab dan orang-orang musyrik. Ayat-ayat tersebut mengajak mereka ke jalan yang benar, sesuai dengan sikap mereka terhadap dakwah. Salah satu ayat yang ditujukan kepada ahli Kitab ialah: Katakanlah (Muhammad): "Wahai ahli kitab (golongan Yahudi dan Nasrani), marilah kita menuju ke satu kata sepakat diantara kita yaitu kita tidak menyembah kecuali Allah; tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, tidak pula mengangkat sebagian dari kita tuhan yang bukan Allah." Maka bila mereka berpaling katakanlah: "Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim" (QS 3:64).

Dakwah menurut Al-Quran

Dan ringkasan sejarah turunnya Al-Quran, tampak bahwa ayat-ayat Al-Quran sejalan dengan pertimbangan dakwah: turun sedikit demi sedikit bergantung pada kebutuhan dan hajat, hingga mana kala dakwah telah menyeluruh, orang-orang berbondong-bondong memeluk agama Islam. Ketika itu berakhirlah turunnya ayat-ayat Al-Quran dan datang pulalah penegasan dari Allah SWT: Hari ini telah Kusempurnakan agamamu dan telah Kucukupkan nikmat untukmu serta telah Kuridhai Islam sebagai agamamu (QS 5:3).

Uraian di atas menunjukkan bahwa ayat-ayat Al-Quran disesuaikan dengan keadaan masyarakat saat itu. Sejarah yang diungkapkan adalah sejarah bangsa-bangsa yang hidup di sekitar Jazirah Arab. Peristiwa-peristiwa yang dibawakan adalah peristiwa-peristiwa mereka. Adat-istiadat dan ciri-ciri masyarakat yang dikecam adalah yang timbul dan yang terdapat dalam masyarakat tersebut.

Tetapi ini bukan berarti bahwa ajaran-ajaran Al-Quran hanya dapat diterapkan dalam masyarakat yang ditemuinya atau pada waktu itu saja. Karena yang demikian itu hanya untuk dijadikan argumentasi dakwah. Sejarah umat-umat diungkapkan sebagai pelajaran/peringatan bagaimana perlakuan Tuhan terhadap orang-orang yang mengikuti jejak-jejak mereka.

Sebagai suatu perbandingan, Al-Quran dapat diumpamakan dengan seseorang yang dalam menanamkan idenya tidak dapat melepaskan diri dari keadaan, situasi atau kondisi masyarakat yang merupakan objek dakwah. Tentu saja metode yang digunakannya harus sesuai dengan keadaan, perkembangan dan tingkat kecerdasan objek tersebut. Demikian pula dalam menanamkan idenya, cita-cita itu tidak hartya sampai pada batas suatu masyarakat dan masa tertentu; tetapi masih mengharapkan agar idenya berkembang pada semua tempat sepanjang masa.

Untuk menerapkan idenya itu, seorang da'i tidak boleh bosan dan putus asa. Dan dalam merealisasikan cita-citanya, ia harus mampu menyatakan dan mengulangi usahanya walaupun dengan cara yang berbeda-beda. Demikian pula ayat-ayat Al-Quran yang mengulangi beberapa kali satu persoalan. Tetapi untuk menghindari terjadinya perasaan bosan, susunan kata-katanya --oleh Allah SWT-- diubah dan dihiasi sehingga menarik pendengarannya. Bukankah argumentasi-argumentasi Al-Quran mengenai soal-soal yang dipaparkan dapat dipergunakan di mana, kapan dan bagi siapa saja, serta dalam situasi dan kondisi apa pun?

Argumen kosmologis (cosmological argument) --yang oleh Immanuel Kant dikatakan sebagai suatu argumen yang sangat dikagumi dan merupakan salah satu dalil terkuat mengenai wujud Pencipta (Prime Cause)-- merupakan salah satu argumentasi Al-Quran untuk maksud tersebut. Bukankah juga penolakan Al-Quran terhadap syirik (politeisme) meliputi segala macam dan bentuk politeisme yang telah timbul, termasuk yang dianut oleh orang-orang Arab ketika turunnya Al-Quran?

Dapat diperhatikan pula, bahwa tiada satu filsafat pun yang memaparkan perincian-perinciannya dari A sampai Z dalam bentuk abstrak tanpa memberikan contoh-contoh hidup dalam masyarakat tempat ia muncul atau berkembang. Cara yang demikian ini tidak mungkin akan mewujud; kalau ada, maka ia hanya sekadar merupakan teori-teori belaka yang tidak dapat diterapkan dalam suatu masyarakat.

Tidakkah menjadi keharusan satu gerakan yang bersifat universal untuk memulai penyebarannya di forum internasional. Tapi, cara paling tepat adalah menyebarkan ajaran-ajarannya dalam masyarakat tempat timbulnya gerakan itu, dimana penyebar-penyebarnya mengetahui bahasa, tradisi dan adat-istiadat masyarakat tadi. Kemudian, bila telah berhasil menerapkan ajaran-ajarannya dalam suatu masyarakat tertentu, maka masyarakat tersebut dapat dijadikan "pilot proyek" bagi masyarakat lainnya. Hal ini dapat kita lihat pada Fasisme, Zionisme, Komunisme, Nazisme, dan lain-lain. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa ajaran-ajaran Al-Quran itu khusus untuk masyarakat pada masa diturunkannya saja.

Tujuan Pokok Al-Quran

Dari sejarah diturunkannya Al-Quran, dapat diambil kesimpulan bahwa Al-Quran mempunyai tiga tujuan pokok:

  1. Petunjuk akidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia yang tersimpul dalam keimanan akan keesaan Tuhan dan kepercayaan akan kepastian adanya hari pembalasan.
  2. Petunjuk mengenai akhlak yang murni dengan jalan menerangkan norma-norma keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupannya secara individual atau kolektif.
  3. Petunjuk mengenal syariat dan hukum dengan jalan menerangkan dasar-dasar hukum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan sesamanya. Atau dengan kata lain yang lebih singkat, "Al-Quran adalah petunjuk bagi selunih manusia ke jalan yang harus ditempuh demi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat."

Catatan kaki

6 Whitehead, Science and the Modern World, hal. 180.

7 Lihat 'Abdul Halim Mahmud, Al-Tafsir Al-Falsafiy fi Al-Islam, Dar Al-Kitab Al-Lubnaniy, Beirut, 1982, h. 73-74.





MEMBUMIKAN AL-QURAN
Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat
Dr. M. Quraish Shihab

Oleh HAEDAR NASHIR

Salafi merupakan genre keagamaan dalam tradisi Islam klasik yang kini banyak hadir kembali di sejumlah negara muslim dengan spirit militansi yang luar biasa. Tak kecuali di Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim di era keterbukaan pada saat ini.

Kehadiran kelompok Islam yang menisbahkan diri sebagai pengikut jejak generasi panutan pasca-Nabi yang saleh (salaf al-shalih) itu, selain militan, tak jarang menampilkan corak keagamaan yang keras. Lebih-lebih ketika kelompok Islam lainnya yang serumpun juga bermunculan ke permukaan dengan tampilan keagamaan yang tak kalah keras dan militan. Ibarat pepatah, air mengalir ke tepian, kerbau pun pulang kandang. Keras pandangan, siapa pun pemiliknya, akan melahirkan peluang gampang silang sengketa yang mengalir deras ke segala arah.

Salafi (salafy) adalah sebutan bagi orang yang mengikuti atau mengklaim diri sebagai pengikut ajaran salaf. Salaf adalah masa terdahulu, suatu era kehidupan tiga generasi sesudah Nabi, yaitu para sahabat, tabi’in (pengikut sahabat), dan tabi’in-tabi’in (pengikut para tabi’in) yang pola kehidupan keagamaannya dipandang ideal.

Salafi juga sering disamakan dengan “jamaah berpaham salaf”, mirip dengan salafiyah (salafiyyah) sebagai aliran atau mazhab. Orang yang mengikuti paham salafi disebut salafiyyun atau salafiyyin, yakni mereka yang menjadi pengikut ajaran salaf, baik karena klaim dirinya maupun predikat orang terhadapnya.

Pada awalnya, salafi atau salafiyah terbatas pada paham semata, yang muncul dari para pengikut mazhab Imam Hanbali pada abad ke-7 Hijriah. Paham ini makin populer pada abad ke-12 Hijriah di tangan Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah. Secara normatif, salafi merupakan idealisasi paling harfiah untuk menjalankan praktek agama sebagaimana generasi salaf as-shalih. Praktek hidup generasi terdahulu itu, menurut sementara pandangan, termasuk yang dirujuk hadis sebagai khairu-kum qarniy, suatu generasi terbaik pasca-Nabi.

Generasi yang juga dinisbahkan sebagai ash-shabiqun al-awwalun (Q.S. At-Taubah: 100), para perintis Islam generasi awal dari Muhajirin dan Anshar yang menjalani hidup keemasan masa Nabi dan sesudahnya. Hingga di sini, kategorisasi salafi menjadi absurd, sebab kualitas ideal generasi Nabi itu menjadi hak milik setiap orang Islam untuk meraihnya, bukan milik kelompok tertentu, lebih-lebih secara given.

Dalam perkembangan berikutnya, sejarah mencatat bahwa salafiyah tumbuh dan berkembang pula menjadi aliran (mazhab) atau paham golongan, sebagaimana Khawarrij, Mu’tazilah, Maturidiyah, dan kelompok-kelompok Islam klasik lainnya. Salafiyah bahkan sering dilekatkan dengan ahl-sunnah wa al-jama’ah, di luar kelompok Syiah.

Salafi atau salafiyah bukan hanya tumbuh beragam cabang, bahkan menampilkan perbedaan paham yang sangat keras satu sama lain. Perbedaan paham yang serba ekstrem sering mengantarkan kaum salafi pada sikap gampang saling menyesatkan. Karena soal paham dan pertentangan yang keras, tidak jarang mereka melakukan mubahalah, sumpah keagamaan untuk menentukan siapa benar dan siapa salah di antara mereka.

Rentang paham keagamaan kaum salafi memang tajam dan keras. Kelompok salafi aqidah atau “dakwah” membatasi diri hanya pada praktek keagamaan yang mereka klaim bersih dari syirik, bid’ah, dan kurafat. Kelompok ini pada tingkat yang paling rigid membid’ahkan apa saja yang di luar mereka pahami, termasuk membid’ahkan organisasi dan lebih-lebih politik. Kelompok salafi “haraki”, sebagaimana namanya, melibatkan diri dalam pergerakan keagamaan, tak kecuali dalam politik.

Yusuf Qaradhawi bahkan memperkenal kelompok salafi “politik”, yang menceburkan diri dalam kegiatan-kegiatan politik praktis. Penulis, melalui disertasi tentang Gerakan Islam Syariat, mengamati kecenderungan kelompok salafi lain yang tipikal, yakni salafi “ideologis”. Mereka adalah kelompok salafiyah yang mengusung isu-isu keagamaan serba harfiah dan doktrinal, sekaligus memiliki agenda politik untuk mewujudkan cita-cita keagamaannya dalam struktur negara dan memformat ulang negara Islam.

Kelompok Islam modernis seperti Muhammadiyah dan Persatuan Islam juga dikategorikan sebagai salafiyah, yang mempraktekkan Islam murni, terutama dalam akidah dan ibadah. Azyumardi Azra memasukkan Muhammadiyah ke dalam salafiyyah washathiyyah, salafi yang moderat. Dalam istilah penulis, Muhammadiyah termasuk salafiyah tajdidiyah atau salafiyah reformis karena melakukan pemurnian sekaligus pembaruan pemikiran Islam.

Bahkan Nahdlatul Ulama dikaitkan pula dengan salafiyah, ketika merujuk pada paham keagamaannya sebagai ahl al-sunnah wa al-jama’ah. Kedua gerakan Islam tersebut malah dikenal sebagai moderat. Dari titik ini tergambar betapa majemuk sekaligus absurd paham dan kelompok salafi yang muncul ke permukaan, sekaligus sebagai bayangan langsung pluralitas Islam dalam konstruksi dan latar sosio-historis para pemeluknya yang pusparagam.

Tampilan perilaku keagamaan kaum salafi pun laksana diaspora. Karena ada kategori salafi yang moderat, maka ada pula salafi “radikal”. Orang boleh tak setuju dengan kategori yang stigmatik seperti itu, tapi salafi yang disebut terakhir itu, selain serba harfiah dalam memahami Islam, juga menampilkan praktek keagamaan yang serba militan dan keras. Taliban di Afghanistan, yang pernah tampil sebagai rezim Islam, merupakan prototipe paling signifikan salafi yang super-rigid dan keras itu.

Bahkan Imam Samudra yang terlibat dalam tragedi bom Bali 12 Oktober 2002, sebagaimana dalam biografinya, Aku Melawan Teroris, mengklaim diri sebagai pengikut ajaran salaf al-shalih. Imam Samudra dengan klaim ajaran salafiyahnya bahkan menampilkan sosok penggiat Islam garis keras yang dengan terang-terangan menyatakan “aku memang demen yang ribut-ribut dan berbau kematian”, kendati dinyatakan pula bahwa dirinya bukanlah seorang anarkis dan paranoid.

Pada titik inilah kaum salafi “radikal” kemudian bersentuhan dengan format keagamaan fundamentalisme dan revivalisme Islam. Mereka seolah mendaur ulang salafiyah Wahabbiyah sekaligus bersinergi dengan neo-revivalisme Ikhwanul Muslimin, Jama’at-i-Islamy, bahkan Taliban dalam bermacam ragam tampilan. Dalam konteks ini pula wajah Islam yang serba harfiah dan doktriner itu bersenyawa dengan militansi dan gerak politik ideologis yang sama kakunya, sehingga melahirkan polarisasi dan konflik keagamaan yang seringkali keras.

Maka, ketika kaum salafi berbeda dan berebut tafsir, jangan salah bahwa mereka tidak terlalu sulit untuk saling berbenturan paham dengan keras. Baik karena salafiyah maupun tidak, manakala Islam dikonstruksi serba harfiah dan doktriner dengan klaim kebenaran dan tafsir mutlak, maka yang muncul adalah perselisihan keras dan tajam.

Absolutisasi pandangan tentang Islam memang selalu menjadi titik rawan lahirnya perseteruan. Islam salafiyah maupun penganut Islam “murni” lainnya, sepanjang selalu menganggap dirinya paling Islami sambil menganggap pihak lain tidak Islami, maka pada saat itulah ruang untuk kenisbian paham dan toleransi menjadi menyempit.

Selalu ada rujukan teologis untuk bertengkar keras memperebutkan tafsir Islam. Al-Shadek Al-Nahyoum menyebutnya sebagai fenomena Islam dhidhu’ Al-Islam, Islam dengan ikon nakirah (tak berpredikat, tak bernama) versus Al-Islam dengan idiom ma’rifah (berpredikat, bernama), yang melahirkan perbedaan paham dan pandangan yang serba diametral. Manakala perbedaan tafsir itu bersenyawa dengan urusan politik, maka wilayah perselisihan menjadi kian keras. Politik dan agama bahkan menjadi sarat ambisi untuk memenangkan wilayah kekuasaan, baik kekuasaan diniyah maupun dakwah sekaligus dunyaawiyah.

Dalam konteks gerakan salafiyah, fenomena konflik keagamaan tersebut juga menampilkan genre baru kaum salafi yang radar teologis dan ideologisnya begitu sensitif untuk saling menegasikan dan bertikai paham dengan keras. Ketika kaum salafi maupun sesama kelompok Islam lain saling berebut tafsir keagamaan dengan harga mati, maka seringkali wilayah perseteruan berbuntut rumit.

Paham agama yang serba doktrinal dan absolut, ditambah ambisi-ambisi kekuasaan duniawi dan fanatisme hizbiyah yang tinggi, kemudian bersenyawa dengan situasi krisis dan marjinal yang serba menekan, akan melahirkan konflik paham dan kepentingan agama yang keras. Sementara ruang dialog yang disediakan pun bukan wahana cair untuk berwacana, melainkan masuk ke wilayah pertempuran saling memenangkan tafsir, sambil melibatkan massa masing-masing.

Kalau boleh berharap, jangan sampai tesis Thariq Ali tentang benturan antar-fundamentalisme (the clash of fundamentalism) bersemi di tubuh umat Islam pada saat ini. Perbedaan paham tak perlu berbuntut permusuhan dan tindakan kekerasan. Wacana keislaman pun semestinya tak berujung ke pengadilan. Di titik inilah betapa cahaya kearifan dari setiap elite dan kelompok Islam untuk mengutamakan kemaslahatan bersama menjadi sangat penting laksana mutiara.

Islam itu sangatlah luas melampaui hamparan samudra, tak perlu diperkecil ke wilayah sempit. Boleh berbeda paham, tapi tak perlu bermusuhan. Jika tak mampu bersatu, setidaknya tak perlu saling mengganggu. Toleran dalam perbedaan perlu diutamakan, sambil saling memberi maaf. Itulah kearifan Islam yang autentik. Wa’tashimu bi habl Allah jami’a wa laa tafarraquu!

Haedar Nashir, Ketua PP Muhammadiyah, doktor sosiologi yang menulis disertasi tentang Salafi. [Gatra Nomor 35 Beredar Kamis 12 Juli 2007]

« ABU AQIL, Sebung

3 Responses to “Ketika Salafi Berebut Tafsir”

  1. nedi, di/pada September 1st, 2007 pada 3:36 pm Said:

begini kalau orang awam ngomong salaf, sama seperti dokter kandungan disuruh ngomongin penyakit gila. ngawur

  1. Alamsyah, di/pada September 13th, 2007 pada 4:18 pm Said:

muslim itu argumentatif dan rendah hati. Kalau merasa ada yang ngawur dijelaskan di bagian mana yang dianggap ngawur. Salam…

  1. hunaydah, di/pada September 14th, 2007 pada 7:40 am Said:

Anda Salah Paham Tentang Manhaj Salaf!!
(Tanggapan terhadap komentar Akhuna Suripan)

Penulis: Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, sahabat dan seluruh orang yang mengikuti jejaknya hingga hari kiamat, amiin.
Selanjutnya berikut saya akan menanggapi tulisan saudara kita Suripan, yang menurut saya banyak mengandung kebenaran, tetapi di waktu yang sama juga mengandung banyak kekeliruan atau kerancuan. Agar lebih jelas tanggapan saya, maka akan saya sebutkan terlebih dahulu penggalan ucapan saudara kita Suripan yang perlu ditanggapi, kemudian akan saya lanjutkan dengan komentar saya, yang dimulai dengan tanda // (dua garis miring), dan diakhiri dengan // (dua garis miring) juga.

Akhuna Suripan berkata:
Bismillahirrahmanirrakhim
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Saudaraku Seiman yang saya cintai karena Alloh. Puji syukur ke hadirat Alloh dan Salawat beserta Salam kepada junjungan kita Muhammad SAW, keluarga, para sahabat beliau yang mulia. Saya bukanlah orang yang alim di antara kalian dan bukan juga syaikh yang diagung-agungkan. Saya hanya seorang muslim biasa yang sangat prihatin melihat perkembangan umat Islam dewasa ini khususnya yang melibatkan saudara-saudara yang mengaku dirinya sebagai Salafiyun.
Maha Suci Alloh yang telah mengkaruniakan ilmuNya kepada saudara-saudara hingga saudara-saudara mempunyai kemampuan hujjah yang baik dalam menyampaikan ajaran Addin ini kepada ummat. Bak ibarat pedang saudara-saudara mempunyai pedang dengan mata pedang yang sangat tajam, segala puji hanya milik Alloh yang berhak menerima pujian.
//
Alhamdulillah pada pembukaan tulisan ini, akhuna Suripan menunjukkan sikap jujur dan semoga ini keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam. Sikap jujur yang membawanya berterus terang mengutarakan fenomena yang terjadi di medan dakwah, yaitu yang berkaitan dengan keutamaan dan kelebihan yang ada pada diri ikhwah-ikhwah yang mendakwahkan dan berupaya meniti metode ulama salaf dalam beragama. Yaitu kelebihan berupa karunia dari Alloh berupa ilmu agama, sehingga mereka seperti yang diutarakan oleh akhuna Suripan memiliki kemampuan hujjah yang baik dalam menyampaikan ajaran agama kepada umat. Sikap jujur ini semoga senantiasa membawa keberkahan dalam kehidupan akhuna Suripan, dan menjadi modal besar baginya dalam mencari kebenaran dan mengamalkannya, Amin.

Selanjutnya untuk sedikit membuktikan kepada para pembaca bahwa karunia ini ilmu yang didasari oleh hujjah yang jelas nan shahih/otentik adalah karunia terbesar yang didapatkan oleh umat manusia setelah hidayah mengikrarkan syahadat La ilaha illAlloh Muhammad Rasulullah, saya akan sebutkan beberapa dalil yang membuktikan hal itu:

يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات
“Alloh akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujaadalah: 11)
Ulama ahli tafsir menegaskan bahwa maksud dari ayat ini adalah: Alloh akan meninggikan kedudukan orang-orang yang beriman sebagai balasan bagi amalan mereka, sebagaimana Alloh juga akan memberikan kelebihan bagi orang-orang yang berilmu dari kaum kalangan orang-orang yang beriman, sehingga kedudukan mereka lebih tinggi dibanding orang mukmin lainnya beberapa derajat. (Baca Tafsir Ibnu Jarir At Thabary 28/19).
Dan di antara dalil yang menunjukkan akan keutamaan ilmu dan orang yang berilmu adalah firman Alloh Ta’ala:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لاَيَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُوا اْلأَلْبَابِ
“Katakanlah: ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az Zumar: 9)
Ibnu Katsir rohimahulloh ketika menafsirkan ayat ini berkata: “Sesungguhnya yang dapat mengetahui perbedaan antara kelompok ini (yang berilmu) dari kelompok itu (yang tidak berilmu) hanyalah orang-orang yang memiliki akal.” (Tafsir Ibnu Katsir 4/48).
Ini sebagian dari sekian banyak dalil yang membuktikan bahwa orang yang berilmu lebih utama dibanding orang yang tidak berilmu. Dan bukan hanya sekedar itu, pada ayat ke-2 Alloh mengisyaratkan bahwa yang dapat membedakan antara mereka hanyalah orang-orang yang memiliki akal sehat, sehingga dengan akalnya yang sehat ia dapat mengetahui bahwa orang yang berilmu lebih utama dibanding yang tidak berilmu. Saya rasa hal ini sangat jelas dan gamblang bagi orang-orang yang benar-benar berakal sehat, dan hatinya tidak ditutupi oleh dosa fanatis golongan, ashabiyah terhadap guru, atau noda-noda perbuatan dosa. Dan saya yakin, akhuna Suripan adalah termasuk salah seorang yang dapat mengetahui perbedaan antara keduanya, sehingga dengan jujur dan tanpa rasa malu akhuna Suripan mengakui akan kelebihan ilmu yang ada pada orang-orang yang mengakui dan berusaha meniti manhaj salaf, dibanding lainnya. Dan menurut akhuna, mereka yang mengakui meniti manhaj salaf (salafiyyin) bak telah memiliki senjata tajam, dan ini adalah modal besar untuk berjihad dan beramal. Dan ini adalah pengakuan bahwa bila salafiyyun berhasil mengarahkan senjata tajamnya ini dengan baik dan benar, niscaya akan berhasil mengalahkan musuh. Tentu dari pengakuan ini tersirat pengakuan lain bahwa, selain mereka (salafiyyun) belum atau tidak memiliki senjata yang tajam, sehingga mana mungkin mereka dapat mengalahkan musuh bila senjatanya tumpul atau bahkan tidak memiliki senjata sama sekali. Atau bahkan yang dimilikinya adalah racun yang ia anggap sebagai obat, sehingga bukannya sembuh dari penyakit yang ia derita, akan tetapi kebinasaanlah yang akan ia temui.
Untuk mengetahui kebenaran dari pengakuan tersirat dari akhuna Suripan, maka kita harus tahu bahwa sumber kekuatan dan sebab datangnya pertolongan Alloh kepada umat islam ialah iman dan amal shalih yang didasari oleh dalil dari Al Quran dan As Sunnah, bukan dengan rekayasa sendiri-sendiri, oleh karena itu Alloh memerintahkan kita dengan firmannya:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang teguhlah kamu dengan tali (agama) Alloh, dan jangan sekali-kali kamu bercerai berai”. (QS. Ali Imran: 103)
Sebagaimana Alloh juga memerintahkan agar tidak bercerai berai dan saling berselisih, karena perselisihan itu adalah sumber petaka, di dunia dan akhirat, dan sebab terjadinya kekalahan ketika menghadapi musuh. Alloh ta’ala berfirman:
وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِن بَعْدِ مَاجَآءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلاَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمُ يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهُُ وَتَسْوَدُّ وُجُوهُُ
“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang kepada mereka keterangan yang jelas. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri dan ada pula muka yang hitam muram.” (QS. Ali Imran: 104-105)
Dan bila kita bertanya: Apakah tolok ukur persatuan dan kesatuan menurut Alloh dan Rasul-Nya?
Untuk mengetahui jawaban pertanyaan cerdas ini, maka marilah kita merenungkan firman Alloh berikut:
وَأَطِيعُوا اللهَ وَرَسُولَهُ وَلاَتَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
“Dan ta’atlah kepada Alloh dan Rasul-Nya dan janganlah kamu saling berselisih, sehingga kamu menemui kegagalan dan hilanglah kekuatanmu.”(QS. Al Anfaal: 46)
Amatilah, pada ayat ini Alloh ta’ala menjadikan ketaatan kepada Alloh dan Rosul-Nya sebagi lawan dari perselisihan, dan perselisihan/perbedaan adalah sumber/biang kerok bagi kelemahan dan hilangnya kekuatan umat islam.
Dan sudah barang tentu, kita semua sadar bahwa ketaatan kepada Alloh dan Rasul-Nya hanyalah akan terealisasi, bila kita benar-benar mengamalkan Al Quran dan As Sunnah, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam , sahabatnya dan ulama’ terdahulu (salafus sholeh). Dan sudah barang tentu ini semua tidak akan dapat terealisasi tanpa adanya ilmu.
Wasiat dari Alloh ini juga ditegaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau berikut:
لا تختلفوا فإن من كان قبلكم اختلفوا فهلكوا
“Janganlah kamu saling berselisih, karena umat sebelummu telah berselisih, sehingga mereka binasa/ runtuh.” (HSR. Muslim)
Inilah sumber permasalahan, dan inilah sumber kelemahan yang harus segera dibenahi dan diperangi, yaitu adanya berbagai penyelewengan dari ajaran Al Quran dan As Sunnah. Inilah sebab terjadinya kemunduran sekaligus kekalahan umat islam dari selain mereka dalam berbagai aspek kehidupan. Umat Islam mundur dan kalah bukanlah karena kekurangan pengikut, atau kalah dalam hal teknologi atau persenjataan. Akan tetapi sebab utamanya ialah apa yang telah saya jabarkan di atas, yaitu umat islam pada zaman ini berusaha mencari kemuliaan dari selain jalan Alloh dan Rasul-Nya, dan mencampakkan jauh-jauh syariat yang telah diajarkan dalam Al Quran dan As Sunnah.
Saya harap akhuna Suripan sudi menjawab pertanyaan saya berikut: Apakah yang dapat dipetik oleh umat islam sekarang ini dari kemajuan Pakistan & Iran dalam hal persenjataan nuklir yang telah mereka miliki? Bukankah antum tahu bahwa banyak dari umat islam yang telah berhasil mencapai kemajuan dalam berbagai IPTEK, memiliki kekayaan yang melimpah ruah, akan tetapi apa yang dapat dirasakan oleh umat islam dari berbagai kemajuan dan kekayaan mereka?
Ini semua membuktikan kebenaran sabda Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam berikut:
يوشك الأمم أن تداعى عليكم كما تداعى الأكلة إلى قصعتها. فقال قائل: ومن قلة نحن يومئذ؟ قال: بل أنتم يومئذ كثير ولكنكم غثاء كغثاء السيل، ولينزعن الله من صدور عدوكم المهابة منكم وليقذفن الله في قلوبكم الوهن. فقال قائل يا رسول الله وما الوهن: قال حب الدنيا وكراهية الموت. رواه أحمد وأبو داود وصححه الألباني
“Sebentar lagi berbagai umat akan bersekongkol untuk menindas/menggerogoti (mengeroyok) kalian, sebagaimana para pemakan akan ramai-ramai menyantap hidangan mereka. Maka ada salah seorang sahabat yang berkata: Apakah hal itu terjadi karena jumlah kami sedikit? Beliau menjawab: Bahkan kalian kala itu berjumlah banyak, akan tetapi kalian buih (lemah) bak buih air bah, dan sungguh-sungguh Alloh akan mencabut dari dada musuh-musuh kalian rasa segan terhadap kalian, dan Alloh benar-benar akan mencampakkan ke dalam hati kalian rasa wahan (lemah). Maka ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan wahn? Beliau menjawab: Rasa cinta terhadap dunia dan takut akan kematian.” (HRS. Ahmad dan Abu Dawud, dan disahihkan oleh Al Albani)
Inilah sumber permasalahan dan inti problematika umat pada zaman ini. Oleh karena itu marilah kita semua kembali kepada ajaran agama, dengan menimba ilmu agama sebanyak-banyaknya dan berupaya menghidupkannya dalam diri kita, keluarga, masyarakat kita. Tentunya semua ini harus dengan metode yang bijak, penuh dengan hikmah, lembut dan dengan tidak terburu-buru ingin segera memetik hasil dalam sekejap mata, bak membalikkan telapak tangan. Karena bila kita terburu-buru, niscaya yang akan terjadi adalah kekecewaan dan kegagalan yang pasti, seperti dalam pepatah:
من استعجل الشيء قبل أوانه عوقب بحرمانه
“Barang siapa yang tergesa-gesa ingin memetik sesuatu sebelum saatnya, niscaya ia akan dihukumi dengan kegagalan mendapatkannya.”
Dan ini pula yang sekarang kita lihat di negeri kita: Orang-orang yang ingin menegakkan syariat islam dengan cara pengeboman, mereka hanya mendatangkan petaka dan permasalahan bagi umat, setiap yang berusaha menjalankan syariat agama islam sekarang malah dicurigai sebagai anggota teroris, dst.
Begitu juga kelompok lainnya, yang menempuh jalan demokrasi, dan membentuk partai dan hanyut dalam kehidupan berpolitik, semua ini dengan alasan ingin segera mengubah sistem dan menerapkan syariat islam sesegera mungkin. Akan tetapi apa yang terjadi, mereka malah ikut andil dalam mengesahkan berbagai undang-undang yang menyelisihi syariat, dan ikut melakukan berbagai amalan yang jelas-jelas diharamkan dalam syariat. Dan yang lebih ironis, seruan untuk menerapkan syariat sekarang ini telah hilang dan sirna 100 % dari pembicaraan mereka, setelah kebagian jabatan dan mendapatkan jatah kursi dst. La haula wala quwwata illa billah.
Hendaknya kita sadar dan mengamati, dan janganlah kita menutup mata dari fenomena yang ada di lapangan, hanya sekedar terbuai oleh cita-cita dan slogan-slogan kosong mlompong, bagaikan mimpi di siang bolong.
Hendaknya kisah yang disebutkan oleh ulama’ ahli sirah Nabi berikut ini menjadi pelajaran penting bagi kita semua:
“Tatkala pasukan orang-orang Quraisy telah menghadang Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam beserta kaum muslimin, dan kemudian terjadi negosiasi antara kedua belah pihak, di antara tawaran yang ditawarkan oleh orang-orang Quraisy kepada beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam ialah tawaran yang disampaikan oleh ‘Utbah bin Rabi’ah:
يا ابن أخي إن كنت إنما تريد بما جئت به من هذا الأمر مالا جمعنا لك من أموالنا حتى تكون أكثرنا مالا وإن كنت تريد به شرفا سودناك علينا حتى لا نقطع أمرا دونك وإن كنت تريد به ملكا ملكناك علينا وإن كان هذا الذي يأتيك رئيا تراه لا تستيطع رده عن نفسك طلبنا لك رآق وبذلنا فيه أموالنا حتى نبرئك منه
“Wahai keponakanku, bila yang engkau kehendaki dari apa yang engkau lakukan ini adalah karena ingin harta benda, maka akan kami kumpulkan untukmu seluruh harta orang-orang Quraisy, sehingga engkau menjadi orang paling kaya dari kami, dan bila yang engkau kehendaki ialah kedudukan, maka akan kami jadikan engkau sebagai pemimpin kami, hingga kami tidak akan pernah memutuskan suatu hal melainkan atas perintahmu, dan bila engkau menghendaki menjadi raja, maka akan kami jadikan engkau sebagai raja kami, dan bila yang menimpamu adalah penyakit (kesurupan jin) dan engkau tidak mampu untuk mengusirnya, maka akan kami carikan seorang dukun, dan akan kami gunakan seluruh harta kami untuk membiayainya hingga engkau sembuh”. Sirah Ibnu Hisyam 2/131, Dan Dalail An Nubuwah oleh Al Asbahani 1/194, dan kisah ini dihasankan oleh Syeikh Al Albani dalam fiqhus sirah.
Mendengar tawaran yang demikian ini, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak lantas menerima salah satu tawarannya yang berupa tawaran menjadi raja/pemimpin –sebagaimana yang diteorikan oleh banyak harokah islamiyyah zaman sekarang- agar dapat memimpin dan kemudian baru akan mengadakan perubahan undang-undang dst. Nabi tetap meneruskan perjuangannya membentuk tatanan masyarakat muslim yang berakidahkan aqidah islam/tauhid dan berakhlakkan dengan akhlak islamiah. Oleh karena itu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab tawaran orang ini dengan membacakan surat Fushshilat, yang intinya menyebutkan maksud diturunkannya Al Quran, yaitu guna mendakwahi manusia agar beribadah hanya kepada Alloh Ta’ala.
Inilah metode penegakan khilafah islamiyyah yang diajarkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu membina generasi islam yang benar-benar islam dan bersih dari berbagai noda kesyirikan dan bid’ah/penyelewengan dalam hal ibadah atau lainnya.
//
Namun akhir-akhir ini saya jadi bertanya-tanya atas sikap saudara-saudara Salafiyin yang menggunakan kelihaian hujjahnya, dengan mengatasnamakan menjaga kemurnian aqidah mengarahkan mata pedangnya kesesama muslim, dan hal ini sungguh dilakukan dengan tanpa rasa sungkan dan malu, bahkan seakan mereka tidak berfikir bahwa disamping kanan kiri banyak kaum kuffar yang melihatnya.hal ini tidak dapat dipungkiri karena kita jumpai di internet di website-website Salafy sangat banyak kita jumpai hal-hal tersebut sebagai contoh seperti yang turut saya lampirkan diatas. Website Salafy tumbuh bak jamur dimusim hujan, sebenarnya itu hal sangat baik sebagai wasilah da’wah, namun bila kita lihat, kita baca dan kita amat-amati secara mendalam disana akan kita dapati bahwa mata pedang kaum salafy hari ini tidak diarahkan kepada musuh-musuh Alloh namun sebaliknya malah diarahkan kepada kaum muslimin yang lain khususnya gerakan-gerakan Islam, dan tidak perlu saya sebutkan nama gerakan tersebut disini karena semua orang tahu hal itu. Saudaraku salafiyin yang saya cintai karena Alloh, dari tulisan-tulisan yang saya dapat di website Salafy dan dari diskusi serta dari bertanya kepada orang-orang salafy bahwa saudara-saudara punya cita-cita besar yaitu tegaknya Khilafah Islamiyah, bahkan politikpun diharamkan sebelum tegaknya Khilafah Islamiah.saudara-saudaraku ini adalah pekerjaan besar dan bukan pekerjaan sederhana, itu perlu persiapan dengan melibatkan seluruh komponen ummat Islam bukan Yahudi, Nasrani dan Musyrikin, tetapi ummat Islam, mengapa? Karena ummat Islamlah yang akan menjadi subjek (pelaku) dari keKhilafahan tersebut, sedang diluar itu mereka harus tunduk kalau memang mereka sudah ummat Islam tundukkan, nah berangkat dari sini izinkan saya mengkritisi apa yang sudah saudara-saudara lakukan saat ini:
//
Saya rasa, pada penggalan ucapan akhuna Suripan diatas kita dapat pahami bahwa akhuna Suripan juga menunjukkan sikap jujur yang patut dipuji, yaitu akhuna mengakui bahwa di tengah-tengah umat islam terjadi perbedaan atau dengan lebih tegas nan lugas: terjadi perpecahan. Perpecahan yang oleh akhuna disebut dengan kata-kata lembut, yaitu “gerakan-gerakan Islam” Hal ini adalah pengakuan yang patut diacungi jempol, sebab –Insya Alloh- pengakuan ini akan membimbing akhuna kepada kebenaran.
Terjadinya perpecahan dan perselisihan ini jauh-jauh hari telah dikabarkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Beliau mengabarkan fenomena ini, bukan dalam rangka berbangga-banga dengan keanekaragaman alur dan manhaj yang akan muncul di tengah-tengah umatnya, akan tetapi beliau mengabarkannya dalam rangka memperingatkan umatnya dari keanekaragaman tersebut. Cermatilah hadits berikut:
“Dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sunguh-sungguh kamu akan mengikuti/mencontoh tradisi orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta, hingga seandainya mereka masuk ke dalam lubang dhob, niscaya kamu akan meniru/mencontoh mereka. Kami pun bertanya: Apakah (yang engkau maksud adalah) kaum Yahudi dan Nasrani? Beliau menjawab: Siapa lagi?” (HRS. Muttafaqun ‘Alaih)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rohimahullah- berkata: “Beliau mengabarkan bahwa akan ada dari umatnya orang-orang yang meniru orang-orang Yahudi dan Nasrani, yang mereka adalah ahlul kitab, dan diantara mereka ada yang meniru bangsa Persia dan Romawi, yang keduanya adalah orang-orang non arab”. (Iqtidlo’ Sirathol Mustaqim 6)
Pada hadits lain beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Dari sahabat Abu Hurairah shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Umat Yahudi telah berpecah belah menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan, dan umat nasrani berpecah belah seperti itu pula, sedangkan umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan.” (HRS. Ahmad, Abu Dawud, At Tirmizy, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al Hakim, Ibnu Abi ‘Ashim, dan disahihkan oleh Al Albani)
Inilah fenomena yang sedang terjadi di masyarakat kita sekarang, umat Islam benar-benar telah terpecah belah menjadi berbagai kelompok, dan setiap kelompok memiliki metode dan manhaj tersendiri. Nah, karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengabarkan fenomena ini bukan dalam rangka menceritakan kenikmatan yang akan didapatkan oleh umatnya, akan tetapi dalam rangka memperingatkan mereka dari petakan ini. Oleh karena itu dalam hadits lain beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepada umatnya agar senantiasa meniti manhaj yang beliau ajarkan dan meninggalkan berbagai manhaj dan golongan/gerakan lainnya yang tidak menerapkan manhaj beliau . Simaklah wasiat beliau ini:
الزم جماعة المسلمين وإمامهم. قلت: فإن لم يكن لهم جماعة ولا إمام؟ قال: فاعتزل تلك الفرق كلها ولو أن تعض بأصل شجرة حتى يدركك الموت وأنت على ذلك
“Berpegang teguhlah engkau dengan jama’atul muslimin dan pemimpin (imam/kholifah) mereka. Aku pun bertanya: Seandainya tidak ada jama’atul muslimin, juga tidak ada pemimpin (imam/kholifah)? Beliau pun menjawab: Tinggalkanlah seluruh kelompok-kelompok tersebut, walaupun engkau harus menggigit batang pepohonan, hingga datang ajalmu, dan engkau dalam keadaan demikian itu.” (HRS. Al Bukhory dan Muslim)
Pendek kata, upaya menikam dan meruntuhkan berbagai gerakan dan manhaj yang tidak sesuai dengan manhaj Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah metode berdakwah dan beragama yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan diwasiatkan oleh beliau kepada umatnya. Dan sebagai salah satu buktinya amatilah hadits berikut:
“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya dari tulang rusuk orang ini akan lahir suatu kaum yang mereka membaca Al Quran akan tetapi bacaannya tidak dapat melewati tenggorokannya (mereka tidak memahami apa yang mereka baca), mereka membunuhi kaum muslimin, dan membiarkan para penyembah berhala, mereka akan keluar dari Islam, layaknya anak panah yang keluar dan menembus binatang buruan. Seandainya aku menemui mereka, niscaya akan aku membunuh mereka hingga habis, layaknya kaum ‘Ad dibinasakan hingga habis.” (Muttafaqun ‘alaih)
Ya Akhi Suripan, untuk sedikit membuktikan kepada antum, bahwa sebenarnya gerakan-gerakan islam yang tidak sesuai dengan manhaj Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdakwah dan beragama, maka hendaknya antum baca sejarah berikut ini:
Tatkala kaum muslimin telah berhasil menggulingkan dua negara adi daya kala itu (Persia dan Romawi), dan tidak ada lagi kekuatan musuh yang mampu menghadang laju perluasan dan penebaran agama Islam, mulailah musuh-musuh Islam menyusup dan menebarkan isu-isu bohong, guna menimbulkan perpecahan di tengah-tengah umat Islam. Dan ternyata mereka berhasil menjalankan tipu muslihat mereka ini, sehingga timbullah fitnah pada zaman Khalifah Usman bin Affan, yang berbuntut terbunuhnya sang Khalifah, dan berkepanjangan dengan timbulnya perang saudara antara sahabat Ali bin Abi Tholib dengan sahabat Mu’awiyyah bin Abi Sufyan. (Untuk lebih lengkapnya, silakan baca buku-buku sejarah dan tarikh, seperti: Al Bidayah Wa An Nihayah, oleh Ibnu Katsir, dll.)
Bukankah runtuhnya khilafah Umawiyyah, akibat pemberontakan yang dilakukan oleh Bani Abbasiyyah, demi memperebutkan kekuasaan? Berapa banyak jumlah kaum muslimin yang tertumpahkan darahnya akibat pemberontakan tersebut?!
Bukankah jatuhnya kota Baghdad ke tangan orang-orang Tartar pada tahun 656 H akibat pengkhianatan seorang Syi’ah yang bernama Al Wazir Muhammad bin Ahmad Al ‘Alqamy? Pengkhianatan ini ia lakukan tatkala ia menjabat sebagai Wazir (perdana menteri) pada zaman Khalifah Al Musta’shim Billah, ia berusaha mengurangi jumlah pasukan khilafah, dari seratus ribu pasukan, hingga menjadi sepuluh ribu pasukan. Dan dia pulalah yang membujuk orang-orang Tatar agar membunuh sang Kholifah beserta keluarganya. (Baca kisah selengkapnya di kitab Al Bidayah wa An Nihayah oleh Ibnu Katsir jilid 13)
Sepanjang sejarah, tidak ada orang Yahudi atau Nasrani yang berani menyentuh kehormatan Ka’bah, apalagi sampai merusaknya. Akan tetapi kejahatan ini pernah dilakukan oleh satu kelompok yang mengaku sebagai umat Islam, yaitu oleh (Qaramithoh) salah satu sekte aliran kebatinan. Pada tanggal 8 Dzul Hijjah tahun 317 H, mereka menyerbu kota Mekkah, dan membantai beribu-ribu jamaah haji, dan kemudian membuang mayat-mayat mereka ke dalam sumur zamzam. Ditambah lagi mereka memukul hajar Aswad hingga terbelah, dan kemudian mencongkelnya dan dibawa pulang ke negeri mereka Hajer di daerah Bahrain. (Untuk lebih lengkap, silakan simak kisah kejahatan mereka di Al Bidayah wa An Nihayah 11/171)
Perlu diketahui, bahwa kelompok Qoromithoh ini adalah kepanjangan tangan dari kelompok fathimiyyah, yang merupakan salah satu sempalan dari sekte Syi’ah, dan mereka pernah menguasai negri Mesir selama satu abad lamanya. (Untuk lebih mengenal tentang siapa itu Qoromithoh, silahkan baca kitab: Al Aqoid Al Bathiniyyah wa Hukmul Islam Fiha, oleh Dr. Shobir Thu’aimah)
Oleh karena itu dalam memperjuangkan Islam, hendaknya kita tidak melupakah sejarah kita sendiri, dan hendaknya kita menggali pelajaran dan hikmah dari sejarah kita sendiri, sehingga kita tidak mengulang kegagalan, dan berhasil mengembalikan kejayaan umat yang telah hilang. Akhuna Suripan camkanlah perkataan Imam Malik berikut:
لن يصلح آخر هذه الأمة إلا ما أصلح أولها
“Tidaklah mungkin akan dapat membaguskan urusan generasi akhir umat ini kecuali hal yang telah membaguskan urusan generasi pendahulu mereka.”
Dan saya rasa akhuna Suripan juga tahu bahwa Islam mengajarkan prinsip amar ma’ruf nahi mungkar, dan bahwasanya prinsip ini memiliki tiga tahapan, yaitu ingkar dengan hati, dengan membenci amalan mungkar tersebut, kedua: ingkar dengan lisan: yaitu dengan menjelaskan bahwa amalan itu mungkar dan haram, dan yang ketiga: ingkar dengan kekuatan:
من رأى من منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya (kekuatannya), jika tidak bisa, maka dengan lisannya dan bila tidak bisa maka dengan hatinya.”(HR. Muslim)
Dan apa yang antum sesali dari manhaj salaf, yaitu membongkar kesesatan dan kesalahan pelaku kesesatan dan kesalahan, dan memperingatkan umat masyarakat dari perbuatan tersebut adalah bagian dari ingkar al mungkar.
Sudah barang tentu syariat amar ma’ruf nahi mungkar ini dan wasiat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya di saat menghadapi perpecahan yang telah saya nukilkan di atas, sangat bertentangan dengan metode yang didengung-dengungkan oleh sebagian orang, yaitu metode yang dikenal dalam bahasa Arab:
نتعاون فيما اتفقنا ويعذر بعضنا بعضا فيما اختلفنا
“Kita saling bekerja-sama dalam hal persamaan kita, dan saling toleransi dalam segala perbedaan kita”.
Sepintas metode ini bagus sekali, akan tetapi bila kita sedikit berpikir saja, niscaya kita akan terkejut, terlebih-lebih bila kita memperhatikan fenomena penerapannya. Hal ini dikarenakan metode ini terlalu luas dan tidak ada batasannya, sehingga konsekuensinya kita harus toleransi kepada setiap orang, dengan berbagai aliran dan pemahamannya, karena setiap kelompok dan aliran yang ada di agama islam, syi’ah, jahmiyah, qadariyah, ahmadiyah, JIL (Jaringan Islam Liberal) dan lain-lain memiliki persamaan dengan kita, yaitu sama-sama mengaku sebagai kaum muslimin. Bahkan seluruh umat manusia pasti memiliki persamaan dengan kita, minimal persamaan dalam hal menentang praktek kanibalisme, yaitu memakan daging manusia. Kalau demikian lantas akan ke mana kita menyembunyikan prinsip-prinsip akidah kita, dan negara islam model apakah yang hendak didirikan?!
//
–Bersambung–
Anda Salah Paham Tentang Manhaj Salaf !! (Bag. 2)
Penulis: Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.
Tulisan berikut ini adalah bagian ke-2 (lanjutan) sekaligus bagian terakhir dari tulisan Ustadz Muhammad Arifin sebelumnya yang menanggapi atas tulisan akhuna Suripan. Sekali lagi kami berharap agar tulisan ini bukan hanya bermanfaat bagi akhuna Suripan namun juga bermanfaat bagi kita semua yang mungkin memiliki pemikiran yang sama dengan akhuna Suripan.

Akhuna Suripan berkata:
1. Kalau cita-cita mulia itu ingin saudara Salafiyin wujudkan dengan menikamkan mata pedang saudara ke dada-dada kaum muslimin yang lain, hingga mereka tersungkur tidak berdaya, lalu kepada siapa syariat Islam itu akan diimplementasikan/diterapkan? Mungkin saudara-saudara akan katakan kepada kaum muslimin yang seaqidah dengan aqidah Salafy, kalau demikian saudara-saudara sudah menganggap saudara-saudara muslim yang lain itu kafir dst. Kalau demikian adanya maka Fiqud Da’wah yang saudara-saudara terapkan perlu diulang kaji.Tidak layak seorang Muslim yang katanya mengikuti manhaj Salaf tapi berlaku berlawanan dengan manhaj Salaf itu sendiri yaitu menghujat, mencela dan memberikan gelar-gelar yang tidak baik ke sesama muslim dimuka umum (website). Bukankah demikian pendapat-pendapat saudara dalam mengingatkan seorang penguasa, harusnya juga berlaku kepada sesama saudara muslim. Saudara-saudaraku, orang-orang yang dihatinya ada penyakit, yang mereka benci kepada Islam (kaum kuffar) akan bersorak sorai melihat apa yang saudara-saudara lakukan tersebut, maka selayaknya mata pedang saudara-saudara arahkanlah kepada kaum kuffar, dan dekatilah saudara sesama muslim dengan pendekatan kasih sayang yang tulus, Insya Alloh, Alloh akan membukakan pintu kemenangan kepada kaum muslimin.
//
Wah, kayaknya akhuna Suripan tidak pernah membaca sejarah islam, dan asal usul berbagai sekte atau firqah yang ada di masyarakat sekarang ini. Agar akhuna Suripan dapat menyadari bahwa ucapannya di atas amat tidak realistis, maka hendaknya membaca sejarah islam, sehingga akhuna tahu bahwa semenjak dahulu kala, para sahabat, tabi’in, dan ulama salaf setelah mereka senantiasa memerangi sekte-sekte/firqah-firqah yang menyelisihi aqidah ahlu sunnah. Walau demikian negara Islam (Khilafah Islamiyyah) masih bisa berjalan dengan baik, dan hukum islam tetap diterapkan. Bahkan di antara penerapan hukum islam ialah dengan memerangi bid’ah dan para pelakunya. Sebagai bukti, sahabat Ali mengadakan/mengobarkan peperangan melawan sekte (firqah) khawarij yang mereka itu adalah nenek moyang orang-orang yang dengan enteng mengkafirkan selain golongannya, terutama para penguasa, sehingga mereka mengkafirkan sahabat Ali beserta seluruh orang yang taat dan mengakui kekhilafahannya, dan juga mengkafirkan sahabat Mu’awiyyah dan seluruh orang yang mendukungnya. Peperangan antara mereka terjadi di daerah yang disebut Nahrawan, sebagaimana dikisahkan/diriwayatkan oleh Imam Bukhari (no: 3414) & Muslim (no: 1066). Bukankah khawarij adalah kaum muslimin? Akan tetapi mengapa sahabat Ali Memerangi mereka? Apakah sahabat Ali hanya ingin menerapkan/menjadikan pengikutnya saja sebagai obyek kekhilafahannya? Ataukah Ali telah mengkafirkan mereka? Agar akhuna Suripan tahu dengan benar alasan sahabat Ali memerangi mereka, maka simaklah riwayat berikut:
لما قتل علي رضي الله عنه الحرورية قالوا: من هؤلاء يا أمير المؤمنين أكفار هم؟ قال: من الكفر فروا. قيل: فمنافقين؟ قال: إن المنافقين لا يذكرون الله إلا قليلا، وهؤلاء يذكرون الله كثيرا. قيل: فما هم؟ قال: قوم أصابتهم فتنة فعموا فيها. رواه عبد الرزاق 10/150 ومحمد بن نصر المروزي في تعظيم قدر الصلاة 2/543.
“Tatkala Ali rodhiallohu ‘anhu telah selesai memerangi orang-orang haruriyyah (khawarij), sebagian pasukannya bertanya: Siapakah sebenarnya mereka itu wahai Amirul Mukminin, apakah mereka itu orang-orang kafir? Ia menjawab: Mereka itu melarikan diri dari kekufuran. Ditanya lagi: Kalau begitu apakah mereka itu orang-orang munafik? Ia menjawab: Sesungguhnya orang-orang munafik tidaklah mengingat Alloh selain sedikit sekali, sedangkan mereka itu banyak mengingat Alloh. Ditanya lagi: lalu siapakah sebenarnya mereka itu? Ia menjawab: Mereka adalah orang-orang yang tertimpa fitnah (kesesatan) hingga mereka buta mata karenanya.” (Riwayat Abdurrazzaq 10/150, dan Muhammad bin Nashr Al Marwazi dalam kitab Ta’zhim Qadr AsS Shalah, 2/543)
Akhuna Suripan, cermatilah baik-baik kisah ini, niscaya antum akan sadar bahwa orang-orang khawarij yang suka mengkafirkan selain kelompok mereka, seperti yang dilakukan oleh kelompok (baca: sekte LDII, JI dll) layak untuk dijauhi dan dibeberkan kesesatannya di hadapan umat, bahkan kalau perlu diperangi seperti yang pernah dilakukan oleh khalifah sekaligus menantu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu khalifah Ali bin Abi Thalib.
Bahkan, sahabat Ali bukan hanya melakukan peperangan terhadap sekte khawarij saja, bahkan kepada sekte yang mengkultuskan beliau pun, yaitu yang terkenal dengan sebutan sekte Syi’ah, sahabat Ali juga mengadakan peperangan, bukan hanya peperangan, bahkan malah dihukumi dengan dibakar hidup-hidup, sebagaimana yang dikisahkan dalam kitab Al Bad’u wa At Tarikh 5/125.
Kemudian berbagai kitab dan karya ilmiah yang ditulis oleh para ulama semenjak zaman dahulu hingga sekarang, yang menjelaskan dan membongkar kesesatan sekte-sekte yang ada di masyarakat, adalah salah satu bukti bahwa di antara metode dakwah yang diajarkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya ialah menepis segala kesesatan dengan segala sarana yang kita miliki. Bukan malah berupaya menutup-nutupi kesesatan mereka, karena sesungguhnya pertolongan Alloh, dan kemenangan umat islam tidak akan pernah datang selama umat islam tercerai berai oleh bid’ah dan kesesatan. Umat Islam akan jaya bila mereka benar-benar memurnikan agama mereka selaras dengan Al Quran dan As Sunnah.
الَّذِينَ ءَامَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُوْلَئِكَ لَهُمُ اْلأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al An’am 82)
Dan janji berikutnya:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al A’raaf: 96)
وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي اْلأَرْضِ كَمَااسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لاَيُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan Alloh telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menggantikan (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam keadaan ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tiada menyekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barang siapa yang kafir sesudah janji itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS An Nur: 55)
Dan juga firman-Nya :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن تَنصُرُوا اللهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
“Hai, orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama)Alloh, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad: 7)
Jadi jangan takut kalah oleh musuh bila kita benar-benar telah memurnikan iman dan amal shaleh kita sesuai dengan sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Adapun ucapan antum bahwa ikhwah salafiyyin yang membeberkan kesesatan sekte-sekte yang ada di masyarakat berarti mereka telah menganggap kafir sekte-sekte tersebut, adalah suatu tuduhan yang tanpa dasar, sebab menyebutkan kesalahan, bahkan memerangi tidak relevan dengan mengkafirkan, sebagai salah satu buktinya adalah ucapan dan penjelasan sahabat Ali di atas. Dan perlu antum ketahui bahwa manhaj salaf mengenal perbedaan antara mengklaim kafir pelaku dosa dengan menyatakan bahwa perbuatan dosa itu adalah kekufuran, sebab tidak setiap pelaku kekufuran itu kafir. Oleh karena itu manhaj Ahlusunnah mengajarkan adanya iqamatul hujjah (menegakkan hujjah, -red) dan izalatus syubhat (menghilangkan syubhat, -red). Dan pada kesempatan ini saya anjurkan akhuna Suripan untuk mengkaji permasalahan ini, yaitu iqamatul hujjah dan izalatus syubhat menurut pemahaman salaf, dan silakan antum bertanya kepada salah seorang ustad salafi yang antum kenal, semoga antum dapat membedakan antara mengklaim kafir pelaku kekufuran dengan mengklaim kafir perbuatan kekufuran.
Kemudian dalam hal mengingkari kemungkaran, memang Ahlusunnah membedakan antara mengingkari kemungkaran yang dilakukan oleh pemerintah dengan yang dilakukan oleh masyarakat biasa. Walau demikian, Ahlusunnah juga tetap mengajarkan bahwa selama kemungkaran dapat diingkari dan ditanggulangi tanpa menyebutkan nama pelakunya, maka itulah yang harus dilakukan, akan tetapi bila tidak mungkin, atau telah terlanjur menyebar di masyarakat, maka melindungi agama masyarakat banyak lebih didahulukan dibanding menjaga kehormatan satu orang atau satu kelompok tertentu. Akan tetapi bila kesalahan itu dilakukan oleh pemerintah atau penguasa, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita agar pengingkarannya dilakukan dengan cara tersembunyi, dan tidak dibeberkan di hadapan khalayak ramai, demi menjaga kemaslahatan umum dan agar tidak menimbulkan fitnah yang lebih besar, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
من أراد أن ينصح لذي سلطان في أمر فلا يبده علانية ولكن ليأخذ بيده فيخلو به فإن قبل منه فذاك وإلا كان قد أدى الذي عليه. رواه ابن أبي عاصم وصححه الألباني
“Barang siapa yang hendak menasihati seorang penguasa dalam suatu urusan, maka janganlah disampaikan di depan khalayak ramai, akan tetapi hendaknya ia sampaikan di saat ia menyendiri dengannya, dan bila ia menerima nasihatnya, maka itulah yang diinginkan, dan bila tidak menerima, maka ia telah menunaikan kewajibannya.” (Riwayat Ibnu Abi ‘Ashim, dan disahihkan oleh Al Albani)
Bila akhuna Suripan merasa terusik oleh sikap ikhwah salafiyyin yang mengkritik kesesatan sekte-sekte berbagai tokoh firqoh yang ada, maka ini pulalah yang akan dilakukan oleh para pemimpin/penguasa yaitu akan marah dan tersinggung. Akan tetapi antara kemarahan penguasa dengan sekte-sekte yang ada terdapat perbedaan, yaitu bila yang marah adalah pemerintah, maka akan terjadi kerusakan yang luas, sedangkan bila yang marah adalah ketua sekte/firqah, maka mereka tidak dapat berbuat apa-apa, selain menelan ludah pahit (terlebih-lebih bila supremasi pemerintah tegak dan kuat). Selain itu bila kesalahan pemerintah diungkit-ungkit di khalayak ramai, maka akan merusak kepatuhan masyarakat kepada pemerintah, dan menjadikan para penjahat semakin berani melancarkan kejahatannya, bukankah antum sudah merasakan sendiri perbedaan yang terjadi di masyarakat kita Indonesia antara masa Suharto/ORBA dengan berbagai kejahatannya, dengan masa Reformasi? Keamanan hilang, harga bahan pangan menjadi mahal, kejahatan dan kemaksiatan semakin merajalela, dst. Ini semua sebagian dari dampak buruk sikap mengkritik/menyebarkan kesalahan penguasa di khalayak ramai.
//
Akhuna Suripan berkata:
2. Dalam mensikapi keadaan yang demikian cepatnya berobah, saudara-saudara Salafiyin tidak perlu panik, tenanglah dan bermohonlah kepada Alloh, bermusyawarahlah untuk mengambil langkah-langkah yang terbaik, hingga langkah-langkah yang saudara-saudara ambil akan bermanfaat kepada saudara-saudara dan kaum muslimin umumnya, dan tidak sebaliknya menjadi bumerang bagi saudara-saudara dan kaum muslimin itu sendiri. Tidak usah buru-buru menimpakan suatu keburukan kepada sesama gerakan muslim lain hanya karena ingin selamat dari tudingan orang-oarang yang tidak senang kepada Islam. Lalu membuat tulisan-tulisan dimuka umum (website) dengan menghujat salah satu gerakan Islam, padahal itu bisa menelanjangi saudara-saudara sendiri. Contoh hal seperti apa yang tertulis diwebsite Salafy yang turut saya lampirkan ini. Bagaimana kok bisa dikatakan menelanjangi saudara-saudara sendiri? Izinkan saya menguraikannya.
a. Kata Presiden kami SBY Kata-kata diatas itu bisa diartikan bahwa saudara-saudara itu mengakui dan turut memiliki Presiden tersebut, dan seakan-akan keberadaan Presiden tersebut itu ada berkat kerja keras saudara-saudara pada saat pemilu yang lalu, karena mekanisme pemilihan Presiden dilakukan melalui Pemilu, padahal saudara-saudara adalah kelompok orang-orang yang menyakini dan memfatwakan bahwa Pemilu (Demokrasi) itu haram sehingga saudara-saudara Salafiyin pada saat itu tidak ada yang turut mencoblos, alias Golput.nah sekarang kok ujuk-ujuk dengan merasa tidak bersalah mengatakan Presiden kami Susilo bambang Yudoyono, kalau saya tidak salah yang mendukung pencalonan SBY-Kala itu kan PKS dan PD, inikan lucu? Mungkin saudara-saudara akan memberi hujjah, boleh melakukan hal itu bila dalam keadaan darurat, setahu saya belum ada pernayataan pemerintah yang menyudutkan saudara-saudara? Mbok ya mohon kepada Alloh semoga Alloh melindungi saudara-saudara.Dan tidak perlu disembunyi-sembunyikan akan jati diri saudara-saudara, bahwa saudara-saudara Salafiyin itu dimata musuh-musuh Alloh adalah penganut Islam garis keras (Islam Fundamentalis) karena menurut mereka orang-orang/kelompok atau apalah itu namanya kalau yang tidak mengakui Demokrasi maka mereka adalah musuh. Apa lagi? Sedang saudara-saudara sudah jelas-jelas mengharamkan Demokrasi, jelas dimata mereka adalah musuh laten.
//
Aduuh, akhuna Suripan, mbok yo jangan buru-buru menyalahkan suatu pendapat yang antum belum tahu dasar dan dalil-dalilnya. Dan menurut hemat saya, akhuna Suripan benar-benar kurang membaca sejarah Islam. Untuk sedikit membuktikan ucapan ini, saya harap akhuna Suripan membaca sejarah berdirinya khilafah Umawiyyah, Abbasiyyah, Utsmaniyyah. Ketiga dinasti (baca: khilafah) islam ini dimulai dengan kesalahan, yaitu menentang dan melawan khalifah yang sah. Khilafah Umawiyyah dimulai dari perlawanan sahabat Mu’awiyyah terhadap khalifah yang sah yaitu sahabat Ali Bin Abi Thalib, dan setelah melalui berbagai kejadian sejarah, akhirnya terjadilah penyerahan kekuasaan oleh sahabat Hasan bin Ali bin Abi Thalib kepada sahabat Mu’awiyyah. Khilafah Abbasiyyah dimulai dari pemberontakan besar-besaran yang dilakukan oleh Bani Abbasiyyah melawan khilafah yang sah, yaitu khilafah Bani Umawiyyah, dan akibat pemberontakan ini tertumpahlah ratusan ribu jiwa umat islam. Begitu juga halnya dengan khilafah Utsmaniyyah.
Walau proses perebutan kekuasaan ini telah disepakati oleh ulama sebagai tindakan yang diharamkan, dan pelakunya berdosa karenanya, akan tetapi bila kekuasaan berhasil direbut, dan para pemberontak berhasil menata kekhilafahan sehingga terciptalah stabilitas keamanan, kekuatan, perekonomian dll, maka umat islam semenjak dahulu telah sepakat untuk mengakui khalifah hasil pemberontakan tersebut. Jadi bisa jadi metode perebutan kekuasaan diharamkan, akan tetapi bila telah berhasil direbut dan yang merebutnya memiliki kemampuan untuk menjalankan khilafah, maka umat islam seluruhnya diwajibkan untuk mengakui khalifah tersebut, dan khalifah tersebut menjadi khalifah yang sah dan wajib ditaati. Oleh karena itu tidak pernah ada seorang ulama’-pun yang menyatakan bahwa khilafah Abbasiyah tidak sah, dan wajib digulingkan, walaupun semua orang tahu bahwa mereka dapat sampai kepada kekuasaan/khilafah dengan cara yang diharamkan. Bukankah demikian sejarahnya wahai akhuna Suripan?!
Oleh karena itu kami juga berkata: Pemilu dan demokrasi adalah haram dan bukan ajaran islam, akan tetapi ajaran orang-orang kafir, akan tetapi bila dari pemilu ada seorang yang berhasil menjadi pemimpin, maka kami akan mengakuinya dan taat kepadanya dan menentang setiap upaya pemberontakan kepadanya, kecuali bila pemimpin tersebut melakukan kekufuran yang nyata-nyata kufur dan tidak ada lagi keraguan padanya, dan umat islam memiliki kekuatan untuk menggantinya, tanpa mengakibatkan pertumpahan darah yang lebih berat dibanding berada di bawah kekuasaannya, maka kita akan katakan boleh untuk menggantinya dengan paksa. Inilah metode berpikir Ahlusunnah yang penuh dengan hikmah dan senantiasa mementingkan kepentingan umat dibanding kepentingan pribadi.
Dari sedikit uraian di atas, jelaslah bahwa khilafah/kekuasaan bukanlah tujuan utama yang harus ditegakkan. Akan tetapi khilafah adalah sarana untuk menegakkan hukum Alloh. Jadi bila upaya menegakkan khilafah dengan jalur kekuatan hanya akan menimbulkan kerusakan, dan pertumpahan darah yang tiada hentinya, maka apalah artinya. Karena khilafah ada di antara tujuannya adalah guna melindungi jiwa dan agama umat islam. Oleh karena itu saya harap akhuna Suripan kembali membaca dan merenungi kisah negosiasi yang dilakukan oleh ‘Utbah bin Rabi’ah kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Walau demikian saya katakan menurut sunnatullah, hukum-hukum Alloh tidak akan dapat ditegakkan dengan sempurna tanpa adanya khilafah yang islamiah.
//
Akhuna Suripan berkata:
b. Permasalahan Bom Bunuh Diri (BBD) Secara terang-terangan bahwa saudara-saudara telah mengarahkan kesalah satu gerakan Islam, padahal pemerintah sendiri dalam hal ini polisi tidak berani melakukan hal itu.Bahkan tuduhan-tuduhan itu saudara-saudara lakukan tanpa kajian mendalam dan tanpa melakukan tawazunitas terlebih dulu, hanya karena ada fatwa bahwa BBD yang dilakukan kaum muslimin palestina adalah bukan BBD tapi Bom Syahid lalu dengan entengnya saudara-saudara kait-kaitkan bahwa BBD itu karena akibat dari fatwa tersebut.Padahal fatwa tersebut jelas-jelas menyebutkan bahwa bila BBD itu yang dilakukan diwilayah konflik ummat Islam seperti Palestina hari ini yang boleh dikatakan sebagai Bom Syahid, bukan BBD yang dilakukan di wilayah aman seperti di wilayah Indonesia, itu jelas tidak termasuk yang difatwakan. (Penjelasan lebih lanjut masalah bom syahid, lain kali akan saya terlampir).
//
Ya akhi pernahkah antum bertanya, siapakah korban pengeboman yang terjadi di JW Mariot, Kedubes Australia, dll, siapakah yang menjadi korbannya? Apakah orang-orang muslim ataukah orang non muslim atau campur antara keduanya? Nah dengan dosa dan sebab apa orang muslim menjadi korban pengeboman? Pernahkah anda menelusuri dalil-dalil tentang haramnya penumpahan darah seorang muslim? Sebagai pengingat diri saya dan diri antum, saya ajak antum untuk merenungi hadits berikut:
عن عبد الله بن عمرو أن النبي قال : (لزوال الدنيا أهون على الله من قتل رجل مسلم) رواه الترمذي والنسائي وصححه الألباني
“Dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bahwasannya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh sirnanya dunia seisinya lebih ringan di sisi Alloh dibanding membunuh seorang muslim.” (Tirmizy dan An Nasa’I dan disahihkan oleh Al Albani).
Dan berikut saya nukilkan fatwa ulama’ tentang masalah ini:
Jawaban Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah
Pertanyaan: Apa hukumnya orang yang meletakkan bom ditubuhnya, guna membunuh segerombolan orang yahudi?
Jawaban: Menurut saya (dan tentang hal ini, kami telah ingatkan berkali-kali) bahwa aksi tersebut tidak benar, sebab aksi ini merupakan aksi bunuh diri. Alloh berfirman:
ولا تقتلوا انفسكم
“Janganlah kamu membunuh dirimu”.
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
من قتل نفسه بشيئ عذب به يوم القيامة
“Barang siapa membunuh dirinya dengan cara sesuatu, maka ia akan disiksa dengannya pada hari Kiamat.”
Seorang muslim harus berusaha melindungi jiwanya, dan jika telah dikumandangkan panggilan jihad, maka dia pergi berjihad bersama kaum muslimin, kalau ia terbunuh maka Alhamdulillah. Adapun ia membunuh dirinya sendiri dengan cara mengikatkan bahan peledak pada dirinya, agar terbunuh bersama diri orang-orang yahudi, maka ini adalah metode yang salah dan tidak boleh, atau dengan menikam dirinya agar ada orang kafir yang terbunuh bersamanya. Tapi jalan yang benar adalah, jika telah disyariatkan jihad, ia berjihad bersama umat Islam lainnya. Adapun aksi yang dilakukan remaja-remaja Palestina, adalah satu kesalahan, lagi tidak baik. Kewajiban mereka adalah berdakwah, mendidik dan membimbing serta menasihati, tanpa melakukan aksi kekerasan. (Kaset Aqwalul Ulama Fil Jihad. Studio Minhajus Sunnah Riyadh)
Jawaban Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin rohimahulloh
Beliau rohimahulloh pada waktu menjelaskan kisah ashhabul ukhdud (Kisah mereka diriwayatkan oleh Imam Muslim, pada Kitab Az Zuhud wa Ar Raqaiq, bab: Kisah Ashhabil Ukhdud, No:3005), tatkala menyebutkan faedah darinya, berkata: “Sesungguhnya boleh bagi seseorang untuk mengorbankan dirinya demi kemaslahatan seluruh kaum muslimin, karena anak ini telah menunjukkan raja tersebut kepada hal yang bisa membunuhnya dan membinasakan dirinya, yaitu dengan mengambil anak panah dari tempatnya…
Syeikhul Islam berkomentar: “Karena perbuatan anak tersebut adalah jihad fii sabilillah, satu umat beriman (karenanya), sedang dia tidak kehilangan sesuatu apapun, walau dia mati, karena dia pasti mati, cepat atau lambat”.
Adapun yang dilakukan sebagian orang, dengan membawa bahan peledak (bom), dan maju kepada orang-orang kafir, kemudian apabila telah berada di tengah-tengah mereka, ia meledakkannya, maka sesungguhnya tindakan ini termasuk bunuh diri wal’iyadzu billah, dan barang siapa yang bunuh diri, maka dia akan kekal di neraka jahanam selama-lamanya, seperti yang disebutkan dalam hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam (Beliau mengisyaratkan kepada Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, pada kitab: At Thib, bab: Hukum meminum racun dan obat yang dapat mematikan, No:5778). Karena orang ini, telah membunuh dirinya sendiri, tanpa mendatangkan kemaslahatan sedikit pun bagi kaum muslimin, karena apabila dia telah membunuh dirinya dan membunuh 10 atau 100 atau 200 orang kafir, agama islam tidak mendapat manfaat darinya, manusia tidak juga masuk islam, berbeda dengan kisah anak kecil tersebut, barangkali musuh akan lebih mengganas, hingga membantai kaum muslimin dengan membabi buta.
Sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi terhadap penduduk Palestina, karena penduduk Palestina apabila satu di antara mereka mati dengan sebab bom bunuh diri, dan berhasil membunuh 6 atau 7 orang yahudi, maka orang-orang yahudi itu akan membunuh 60 orang atau lebih dengan sebab perbuatannya itu, maka hal ini tidak mendatangkan manfaat bagi kaum muslimin, dan juga bagi orang yang bunuh diri tersebut.
Oleh karena itu, kami berpendapat bahwa tindakan sebagian orang, dengan melakukan bom bunuh diri, tergolong dalam perbuatan bunuh diri tanpa alasan yang dibenarkan, dan menjadikan pelakunya masuk neraka wal‘iyadzu billah, dan pelakunya tidak dikatakan syahid. Akan tetapi jika orang itu melakukan tindakan tersebut karena menta’wil, dia mengira bahwa hal ini diperbolehkan, kami mengharap dia terbebas dari dosa, adapun untuk kemudian dia dijuluki sebagai orang syahid, maka tidak bisa, karena dia tidak menempuh jalan syahadah (cara mati syahid yang benar), barang siapa yang berijtihad dan dia salah, maka ia mendapat satu pahala” (Syarah Riyadhus Sholihin 1/165-166 )
Pertanyaan: Apa hukum syariat mengenai orang yang meletakkan bom di tubuhnya dan kemudian meledakkan dirinya sendiri di tengah-tengah kerumunan orang-orang kafir, dalam rangka membantai mereka? apakah benar berdalil dengan kisah anak kecil yang seorang raja memerintahkan agar dibunuh (kisah Ashhabul Ukhdud) ?
Jawaban: Orang yang meletakkan bom di tubuhnya dengan tujuan untuk kemudian meledakkan dirinya di tempat keramaian musuh, maka dia telah membunuh dirinya, dan akan diazab di neraka jahanam dengan alat yang ia gunakan untuk membunuh dirinya, ia kekal di neraka selama-lamanya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang yang membunuh dirinya dengan sesuatu, maka dia akan diazab dengan alat tersebut di neraka jahanam. Sungguh mengherankan orang-orang yang melakukan perbuatan seperti ini, padahal mereka telah membaca firman Alloh Ta’ala:
وَلاَتَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“Dan janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Alloh amat kasih sayang terhadapmu.” (QS An-Nisa’: 29) lalu tetap nekat melakukan tindakan tersebut, apakah mereka berhasil memetik sesuatu? apakah musuh terkalahkah dengan cara itu? apakah malah sebaliknya, musuh bertambah ganas terhadap orang-orang yang melakukan tindakan ini, seperti yang kita saksikan di negara Yahudi. Mereka tidaklah jera dengan adanya tindakan seperti ini, bahkan semakin brutal, bahkan kita dapatkan negara Yahudi pada jajak pendapat terakhir, kelompok garis kanan yang berkeinginan membasmi orang-orang Arab berhasil meraih kemenangan.
Akan tetapi orang yang melakukan tindakan ini dengan dasar ijtihad, dia mengira hal itu termasuk amal baik yang akan mendekatkan dirinya kepada Alloh subhanahu wa ta’ala, maka kami mohon kepada Alloh ta’ala untuk tidak menyiksanya, karena dia menta’wil dan jahil.
Adapun berdalih dengan kisah anak kecil (ashhabul ukhdud), maka kisah anak kecil itu menyebabkan masuknya satu umat ke dalam agama islam, bukan membantai musuh, oleh karena itu ketika sang raja tersebut mengumpulkan masyarakat dan mengambil anak panah dari tempatnya anak kecil tersebut, sambil berkata: dengan menyebut nama Alloh Tuhan anak kecil ini, manusia berteriak semuanya: Tuhan Yang Benar adalah Tuhannya anak kecil ini, dari sinilah suatu umat yang banyak masuk islam, seandainya dihasilkan seperti kisah ini, maka kami akan mengatakan mungkin bahwa ada benarnya berdalil dengan kisah ini, dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkannya kepada kita, agar kita mengambil pelajaran darinya. Akan tetapi mereka yang melakukan peledakan dirinya sendiri, apabila berhasil membunuh 10 atau 100 orang musuh, maka musuh semakin brutal dan kokoh dalam berpegang teguh dengan prinsip mereka.
Pertanyaan: Ada orang yang mengaku bahwa dirinya melakukan aksi jihad dengan model bunuh diri, sebagai contoh, seseorang dari mereka memuati kendaraannya dengan bahan peledak dan kemudian menerobos musuh, dan dia yakin bahwa ia pasti akan menemui ajalnya dalam aksi tersebut:
Jawaban: Aksi ini menurut saya, adalah aksi bunuh diri dan ia akan disiksa di Jahanam dengan cara yang dia tempuh untuk menghabisi nyawanya, seperti yang dikatakan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits shohih.
Namun orang bodoh yang tidak mengerti dan ia melakukannya dengan anggapan bahwa perbuatannya tersebut baik dan diridhoi Alloh, saya harap semoga Alloh mengampuninya, karena ia melakukannya berdasarkan ijtihad. Meskipun saya berpendapat bahwa dia tidak memiliki alasan di masa kini, sebab bunuh diri dengan bentuk di atas, telah dikenal dan menyebar di kalangan umat. Seharusnya ia menanyakannya kepada ulama, agar jelas baginya kebenaran dari kesesatan. Yang mengherankan, mereka membunuh diri mereka sendiri, padahal Alloh melarangnya.
Alloh berfirman:
وَلاَتَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Alloh Maha Penyayang kepadamu” (QS An Nisaa: 29). Kebanyakan mereka hanya terdorong oleh keinginan balas dendam terhadap musuh, dengan cara apapun, baik itu cara yang haram ataupun yang halal, ia hanya ingin memuaskan dirinya. Semoga Alloh memberikan kepada kita penguasaan terhadap ilmu agama dan mengamalkan setiap yang membuat-Nya ridho. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Majalah Ad Dakwah, edisi 1598)
//
Akhuna Suripan berkata:
c. Walaupun berjenggot tetapi beda antara salafiyin dengan harakah lain Saudara-saudara Salafiyin yang di Rahmati Alloh. Musuh-musuh Alloh tidak perlu dikecoh dengan pernyataan-pernyataan seperti itu, mereka sudah kenyang dengan bermacam-macam tipu daya, 32 tahun mereka berkuasa (khusus Indonesia) dengan perlakuan zolimnya, intelijen mereka banyak lebih banyak dari jumlah saudara-saudara, lagi pula Alloh juga sudah mengingatkan kita didalam salah satu ayatnya (QS.2:120) agar kita hati-hati kepada mereka, disana Alloh nyatakan dengan jelas bahwa mereka tidak akan senang kepada sampai engkau mengikuti millah mereka. Jelas, mereka benci kita bukan karena jenggot tapi karena kita punya millah yang hanif yaitu millah yang mengakui bahwa Alloh itu Esa, Syariat Alloh adalah yang tertinggi tidak boleh ada yang lain, karena itulah mereka benci, kebencian mereka akan hilang kalau kita mau ikut millah mereka.Mereka sudah tahu siapa saudara-saudara, fatwa-fawta saudara yang saudara-saudara rilis di website saudara terlihat jelas bahwa saudara-saudara mengharamkan, Pemilu, Demokrasi, Demontrasi dll dan itu sudah cukup bagi mereka untuk memasukkan saudara-saudara kedaftar pengikut Islam garis keras.Mungkin kalau selama ini mereka tidak mengutik-utik saudara-saudara, bukan berarti bahwa mereka senang pada saudara-saudara, menurut saya sekurang-kurangnya ada 2 hal, mengapa mereka tidak mengganggu saudara salafiyin sbb:
1. Selama ini, secara tidak langsung sikap saudara-saudara kepada harakah Islam yang lain sangat menguntungkan mereka, dimana salafiyin sikapnya keras terhadap kaum muslimin dan lemah lembut terhadap kaum kafirin?. Inilah poin penting bagi mereka untuk tetap memelihara saudara-saudara, mereka tidak susah susah mengeluarkan banyak energi, tenaga dan biaya untuk membunuh gerakan-gerakan Islam, cukup dengan tulisan dan lisan saudara salafiyin.Nanti bila tiba saatnya, manakala kekuatan Islam yang selama ini bisa menghambat kezaliman mereka sudah lumpuh, maka mata meriam-meriam mereka akan mereka arahkan kepada sasaran tunggal yaitu kaum yang mengaku kaum Salafy. Bukankah saudara-saudara sadar dan ingat bahwa manusia paling licik dan jahat adalah Yahudi? Contoh peristiwa dari kelicikan mereka adalah Afganistan, dan Iraq. Dulu mereka adalah negara yang mereka bantu, namun sekarang mereka hujani mereka dengan misil, bom dan meriam.
2. Saudara-saudara salafiyin yang dirahmati Alloh.Saudara-saudara dimata musuh-musuh Alloh masih dikatagorikan da’wah yang masih difase teoritis, pada fase ini mereka tidak ambil pusing dengan beberapa fatwa yang saudara-saudara keluarkan yang hakikatnya sangat bertentangan dengan prinsip mereka. Nanti pada saatnya saudara-saudara mau melangkah ke fase aplikatif, nah disini pereng sesungguhnya dimulai, saudara-saudara harus siap mengerahkan segala kemampuan baik materi, sumber daya manusia dan tenaga bahkan juga nyawa.Mereka tidak akan segan-segan untuk menggunakan cara-cara yang keji untuk melumpuhkan musuh-musuhnya, sementara saudara-saudara umat islam (harokah islam) yang lain mungkin sudah duluan terkubur bahkan mungkin jadi mereka terkubur oleh andil dari tangan dan lisan saudara-saudara. Ah, kan masih ada Alloh yang akan membantu hambanya. Saudara-saudara harusnya malu kepada seorang salafus shaleh yang mengatakan bahwa : yang haq tidak akan bisa mengalahkan yang bathil kalau yang haq itu bercerai berai sedang kebathilan begitu kuat dan rapinya.
//
Ya akhi, sebenarnya yang menjadikan pemerintah ORBA senantiasa menguber-uber berbagai macam sekte/firqah yang ada di Indonesia adalah karena rasa khawatir akan kekuasaannya, yang mereka sadari sedang diganggu oleh firqoh-firqoh tersebut. Adapun bila kita tidak berupaya mengganggu kekuasaan mereka, niscaya mereka tidak akan mengusik dakwah kita. Apalagi bila mereka sadar bahwa kekuasaan akan tetap berada di tangan mereka bila mereka menerima dakwah kita, niscaya mereka akan tenang dan tidak akan nguber-nguber dakwah kita. Bukankah antum semenjak dahulu sering membaca dan mendengar sebutan “Subversi”, akan tetapi apakah antum pernah mendengar bahwa ORBA menangkap orang atau memenjarakan orang karena ia sholat dengan benar, atau tidak mau syirik, tidak mau menyembah kuburan dll? Saya yakin antum tahu dengan pasti hal ini. Nah inilah rahasianya mengapa pemerintah di manapun senantiasa nguber-nguber setiap sekte yang berupaya merebut kekuasaan, dan senantiasa mengawas-awasi setiap gerak mereka. Apalagi sekte yang mengajarkan kepada para pengikutnya bai’at kepada pemimpin mereka atau mengaku mendirikan negara Islam bawah tanah atau yang serupa.
Adapun musuh-musuh Islam dari orang-orang Yahudi dan Nasrani, maka sebenarnya yang paling mereka takuti adalah orang-orang yang bertauhid dengan benar, dan senantiasa memerangi tindak kesyirikan dan bid’ah, oleh karena itu mereka dengan dana besar-besaran mendukung berbagai program kesesatan, dimulai dari seruan persatuan agama melalui JIL Paramadina, gerakan tasawuf melalui Zikir berjama’ah, Jama’ah Tabligh, dll. Ini semua mereka lakukan demi mencari budak-budak yang akan menjadi kambing hitam dalam menghancurkan kekuatan umat Islam.
Dan di antara makar yang senantiasa mereka persiapkan untuk menghancurkan umat islam ialah dengan mendidik sekte-sekte garis keras, baik secara langsung atau tidak, agar suatu saat dapat dijadikan kambing hitam, dan alasan untuk menyerang negara islam, sebagaimana yang mereka lakukan dengan Usamah Bin Laden dan kelompoknya. Dahulu Amerika mendidik mereka menggunakan senjata, dan juga mempersenjatai mereka, bahkan menurut pengakuan sebagian kawan saya yang berasal dari Afghanistan dan pernah ikut andil dalam melawan Uni Soviet: setiap orang Afghan yang angkat senjata melawan Uni Soviet setiap hari mendapat gaji 1/2 dolar US. sebagaimana dan ketika tiba saatnya mereka ingin menyerang Afghanistan dan menguasai negeri muslim ini, mereka jadikan antek-antek mereka (Usamah bin laden CS) sebagai dalih /kambing hitam. (Lah, akhuna Suripan di tulisannya di atas telah menyadari akan hal ini, kok ya tidak mengambil Ibrah). Dan tidak mustahil, berbagai pengeboman di negeri Islam termasuk Indonesia ada campur tangan dari mereka, baik dengan suplai bahan peledak, atau pendidikan/kaderisasi para perakit bom dll.
Saya menjadi heran dengan akhuna Suripan, mengesankan bahwa ikhwah salafiyyin keras terhadap sesama muslim, padahal yang mereka lakukan hanyalah mengkritik, dan membuktikan kesalahan dan penyelewengan sekte-sekte yang ada kepada masyarakat. Akan tetapi mengapa akhuna Suripan tidak merasa kebakaran jenggot melihat nyawa sebagian kaum muslimin direnggut dan jasad sebagian umat islam bergelimpangan akibat terkena bom yang dipasang oleh sebagian sekte yang mengebom pasar umum atau perhotelan, atau fasilitas umum lainnya? Ataukah akhuna Suripan memang menganut paham, bahwa selain kelompoknya adalah kafir, sebagaimana yang diyakini oleh LDII? Ataukah akhuna Suripan menganggap bahwa masyarakat kita adalah masyarakat jahiliyyah, sehingga seluruh anggota masyarakat kita selain anggota kelompoknya layak untuk menjadi tumbal atau dikorbankan? La haula wala quwwata illa billah.
Pada kesempatan ini saya anjurkan antum untuk mengkaji sejarah perjuangan umat Islam di Indonesia melawan penjajah Belanda. Perjuangan yang dilakukan oleh Umat Islam di bawah kepemimpinan Imam Bonjol melawan Nasrani dan budak mereka yaitu kaum adat. Dan hendaknya antum juga mengkaji sejarah perjuangan umat Islam di India melawan Nasrani Inggris beserta anteknya Ahmadiyyah. Bila antum telah mengkaji sejarah ini, saya yakin antum akan berkesimpulan lain.
Yang sangat mengherankan lagi dari seluruh tulisan akhuna Suripan adalah: Akhuna Suripan merasa bersedih dan seakan tersayat-sayat hatinya melihat sebagian orang dan sekte yang dikritik dan dibongkar kesesatannya, akan tetapi Akhuna Suripan tidak merasa terusik dengan kesalahan dan penyelewengan yang dilakukan oleh berbagai sekte dari ajaran agama, misalnya seperti yang dilak

Leave a Reply

Substansi Penelitian
Dimulai dari bab I yang berisi pendahuluan, yang meliputi,


Latar Belakang Masalah
Latar belakang masalah yang baik adalah latar belakang masalah yang berdasar pada realitas yang terjadi, bukan dari teori. Menjadi lebih menarik jika realitas tersebut didukung dengan data-data sekunder dari media massa atau melalui pra survey jika penelitianya menggunakan metode survey.Jika persoalan semakin up to date, kontroversial dan fenomenal maka penelitian akan semakin menarik.
Latar belakang masalah juga harus fokus pada apa yang diteliti.


Rumusan Masalah
Rumusan masalah harus berdasar pada apa yang tertulis di latar belakang masalah, dan umumnya dalam bentuk kalimat tanya.


Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian berisi tujuan apa saja yang hendak dicapai dengan melakukan penelitian.


Manfaat Penelitian
Berisi kontribusi penelitian secara teoritis maupun praktis.


Kerangka Teori
Kerangka teori yang baik adalah kerangka yang terdiri dari teori-teori yang akan digunakan untuk menganalisis masalah yang diteliti. Minimal kerangka teori harus menjabarkan kata-kata yang ada di judul penelitian. Sebaiknya menggunakan literatur buku atau jurnal.


Metode Penelitian
Metode penelitian harus sesuai dengan masalah dan operational saat digunakan untuk melaksanakan penelitian. Metode penelitian harus tegas berada di wilayah paradigma positivistik, kritis atau konstruktivionis. Posisi peneliti di salah satu paradigma di atas harus selalu dijaga untuk berada di koridor saat melaksanakan penelitian.


Sistematika penulisan
Berisi apa saja yang akan ditulis dalam skripsi, mulai bab pertama sampai terakhir. Setidaknya memuat uraian singkat dari masing-masing bab.


Pada bab II, yang ditulis adalah gambaran umum dari obyek penelitian yang dilaksanakan. Misalnya ada sebuah penelitian berjudul ”Kontroversi Penerbitan Playboy di Kompas dan Republika, Analisis Wacana Penerbitan Playboy di Kompas dan Republika”, maka pada bab II ditulis mengenai Kompas dan Republika secara komprehensif, seperti mengenai sejarah, struktur redaksi, kebijakan jurnalisme yang dianut, relasi keduanya dengan subsistem yang lain di masyarakat dsb.


Pada bab III, hasil penelitian harus dapat digambarkan secara komprehensif sesuai dengan metodologi yang digunakan dan selalu merujuk pada kerangka teori. Hal ini penting agar tidak lepas dari paradigma penelitian yang digunakan. Selain itu, mahasiswa sebagai peneliti harus selalu berorientasi untuk menjawab rumusan masalah di bab I di dalam pembahasan pada bab III.


Pada bab IV, yang ditulis adalah bab penutup yang meliputi kesimpulan dan jika diperlukan adalah saran. Kesimpulan tidak boleh lepas dari pembahasan di bab III, karena kesimpulan adalah narasi singkat hasil penelitian yang pada intinya berusaha menjawab rumusan masalah. Sedangkan saran dibuat tidak lepas juga dari hasil penelitian dalam relasinya dengan manfaat penelitian yang ingin dicapai sebagaimana telah ditulis di bab I.


Setelah skripsi selesai dibuat, maka mahasiswa dapat membuat abstraksi dengan ketentuan maksimal 1 halaman dengan menggunakan spasi tunggal. Abstraksi terdiri dari 3 paragraf. Paragraf 1 berasal dari bab I dan II, paragraf 2 berasal dari bab III dan paragraf 3 bersumber dari bab IV. Jika skripsi menggunakan Bahasa Indonesia, maka abstraksi menggunakan Bahasa Inggris, begitu juga sebaliknya.

Redaksional
Bagi orang komunikasi persoalan redaksional adalah persoalan yang sangat substansial. Sebagai panduan singkat, penulisan harus sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Beberapa persoalan yang sering dijumpai adalah sebagai berikut.


Huruf Kapital
Digunakan untuk nama orang, perusahaan, organisasi, pulau, laut dsb. Juga digunakan kepada predikat yang diikuti oleh nama-nama yang tersebut di atas. Jika tidak diikuti nama, maka predikat tersebut tetap huruf kecil.
Contoh : Setelah gempa, Presiden SBY berkunjung ke Kota Yogyakarta.
Bandingkan dengan kalimat berikut : Menurut beberapa pemberitaan, presiden tidak jadi ke luar negeri.


Huruf Miring
Digunakan untuk semua kata asing/daerah yang belum diserap dalam Bahasa Indonesia.
Contoh : Louis Althusser menyatakan bahwa ideological state’s apparatuss merupakan perangkat ideologi negara.
”di” dan ”ke” sebagai awalan atau kata depan
Jika merujuk pada tempat, maka di/ke merupakan kata depan sehingga dipisah. Contoh : di kamar, ke sawah dsb.
Jika tidak merujuk pada tempat, maka di/ke merupakan awalan yang harus digandeng dengan kata yang mengikutinya. Contoh : dipisah, kehujanan dsb.


Awalan + frase + akhiran
Jika ada awalan+frase+akhiran, maka semua digandeng. Contoh : per+tanggung jawab+an = pertanggungjawaban.


Penulisan rujukan
Yang populer dewasa ini adalah bodynote karena lebih sederhana dan mudah dibaca. Cara penulisan adalah ...............(nama kedua, tahun penerbitan : halaman). Contoh :...........(Littlejohn, 2005 : 6).


Penulisan daftar pustaka
Nama kedua, Nama pertama, (tahun terbit). Judul. Kota penerbitan, nama penerbit. Contoh : Littlejohn, Stephen W (1996). Theories of Human Communication, 5th Edition. Belmont, W

Name

George Berkeley

Birth

12 March 1685

Death

14 January 1753

School/tradition

Idealism, Empiricism

Main interests

Metaphysics, Epistemology, Language, Mathematics, Perception

Notable ideas

Subjective Idealism, The Master Argument

Influences

John Locke

Influenced

David Hume, Immanuel Kant, Arthur Schopenhauer

George Berkeley (pronounced /ˈbɑrkli/, like Bark-Lee) (12 March 168514 January 1753), also known as Bishop Berkeley, was an Irish philosopher a primary philosophical achievement was the advancement of a theory he called "immaterialism" (later referred to as "subjective idealism" by others). This theory, summed up in his dictum, "Esse est percipi" ("To be is to be perceived"), contends that individuals can only directly know sensations and ideas of objects, not abstractions such as "matter." His most widely-read works are A Treatise Concerning the Principles of Human Knowledge (1710) and Three Dialogues between Hylas and Philonous (1713), in which the characters Philonous and Hylas represent Berkeley himself and his contemporary John Locke. In 1734 he published The Analyst, a critique of the foundations of calculus, which was influential in the development of mathematics.

Berkeley's influence is also reflected in the institutions of education named in his honour. Both University of California, Berkeley and the city that grew up around the university, were named after him, although the pronunciation has evolved to suit American English. The naming was suggested in 1866 by a trustee of the then College of California, Frederick Billings. Billings was inspired by Berkeley's Verses on the Prospect of Planting Arts and Learning in America, particularly the final stanza: "Westward the course of empire takes its way; The first four Acts already past, A fifth shall close the Drama with the day; Time's noblest offspring is the last." A residential college in Yale University also bears Berkeley's name, as does a reading room of the Library at Trinity College, Dublin

Berkeley was born in Kilcrene, County Kilkenny and grew up at Dysart Castle, near Thomastown, Ireland, the eldest son of William Berkeley, a cadet of the noble family of Berkeley. He was educated at Kilkenny College and attended Trinity College, Dublin, completing a Master's degree in 1707. He remained at Trinity College after completion of his degree as a tutor and Greek lecturer. His earliest publication was a mathematical one; but the first which brought him into notice was his Essay towards a New Theory of Vision, published in 1709. Though giving rise to much controversy at the time, its conclusions are now accepted as an established part of the theory of optics. The following publication to appear was the Treatise concerning the Principles of Human Knowledge in 1710, which was followed in 1713 by Three Dialogues between Hylas and Philonous, in which he propounded his system of philosophy, the leading principle of which is that the world as represented to our senses depends for its existence, as such, on being perceived. Of this theory the Principles gives the exposition and the Dialogues the defence. One of his main objects was to combat the prevailing materialism of the time. The theory was largely received with ridicule; while even those, such as Samuel Clarke and William Whiston, who did acknowledge his "extraordinary genius," were nevertheless convinced that his first principles were false. Shortly afterwards he visited England, and was received into the circle of Addison, Pope, and Steele. In the period between 1714 and 1720 he interspersed his academic endeavours with periods of extensive travel in Europe. In 1721, he took Holy Orders in the Church of Ireland, earning his doctorate in divinity, and once again chose to remain at Trinity College Dublin lecturing this time in Divinity and in Hebrew. In 1724 he was made Dean of Derry.

In 1725 he formed the project of founding a college in Bermuda for training ministers for the colonies, and missionaries to the Indians, in pursuit of which he gave up his deanery with its income of £1100. In 1728 he married Anne Forster, daughter of the Lord Chief Justice of Ireland. He then went to America on a salary of £100. He landed near Newport, Rhode Island where he bought a plantation — the famous "Whitehall." On October 4, 1730, Berkeley purchased "a Negro man named Philip aged Fourteen years or thereabout." A few days later he purchased "a negro man named Edward aged twenty years or thereabouts." On June 11, 1731, "Dean Berkeley baptized three of his negroes, 'Philip, Anthony, and Agnes Berkeley'" (The bills of sale can be found in the British Museum (Ms. 39316)[1]

Berkeley's sermons explained to the colonists why Christianity supported slavery, and hence slaves should become baptized Christians: "It would be of advantage to their [slave masters'] affairs to have slaves who should 'obey in all things their masters according to the flesh, not with eye-service as men-pleasers, but in singleness of heart, as fearing God;' that gospel liberty consists with temporal servitude; and that their slaves would only become better slaves by being Christian"[2]

He lived at the plantation while he waited for funds for his college to arrive. The funds, however, were not forthcoming and in 1732 he returned to London. In 1734, he was appointed Bishop of Cloyne. Soon afterwards he published Alciphron, or The Minute Philosopher, directed against both Shaftesbury and Bernard de Mandeville, and in 1734–37 The Querist. His last publications were Siris, a treatise on the medicinal virtues of tar-water, and Further Thoughts on Tar-water.

While living on London's Saville Street, he took part in the efforts to create a home for the city's abandoned children. The Foundling Hospital was founded by Royal Charter in 1739 and Berkeley is listed as one of its original governors.

He remained at Cloyne until 1752, when he retired and went to Oxford to live with his son. His affectionate disposition and genial manners made him much loved and held in warm regard by many of his contemporaries. He is buried in Christ Church Cathedral.

Contributions to philosophy

Berkeley's theorizing was empiricism at its most extreme. In his first publication, regarding vision, he stated that we only really perceive two spatial dimensions, height and width. The third spatial dimension of depth is not directly known; rather, it is inferred by the mind. As a young man, Berkeley theorized that individuals cannot know if an object is, individuals can only know if an object is perceived by a mind. He stated that individuals cannot think or talk about an object's being but rather think or talk about an object's being perceived by someone; individuals cannot know any "real" object or matter "behind" the object as they perceive it, which "causes" their perceptions. He thus concludes that all that individuals know about an object is their perception of it.

Under his empiricism, the object individuals perceive is the only object that they know and experience. If individuals need to speak at all of the "real" or "material" object, the latter in particular being a confused term which Berkeley sought to dispose of, it is this perceived object to which all such names should exclusively refer.

This raises the question whether this perceived object is "objective" in the sense of being "the same" for fellow humans, in fact if even the concept of other human beings, beyond individual perception of them, is valid. Berkeley argues that since an individual experiences other humans in the way they speak to him —something which is not originating from any activity of his own —and since they learn that their view of the world is consistent with his, he can believe in their existence and in the world being identical or similar for everyone.

It follows that:

  1. Any knowledge of the empirical world is to be obtained only through direct perception.
  2. Error comes about through thinking about what individuals perceive.
  3. Knowledge of the empirical world of people and things and actions around them may be purified and perfected merely by stripping away all thought, and with it language, from their pure perceptions.

From this it follows that:

  1. The ideal form of scientific knowledge is to be obtained by pursuing pure de-intellectualized perceptions.
  2. If individuals would pursue these, we would be able to obtain the deepest insights into the natural world and the world of human thought and action which is available to man.
  3. The goal of all science, therefore, is to de-intellectualize or de-conceptualize, and thereby purify, human perceptions.

Theologically, one consequence of Berkeley's views is that they require God to be present as an immediate cause of all our experiences. God is not the distant engineer of Newtonian machinery that in the fullness of time led to the growth of a tree in the university's quadrangle. Rather, my perception of the tree is an idea that God's mind has produced in mine, and the tree continues to exist in the Quad when "nobody" is there simply because God is an infinite mind that perceives all.

The philosophy of David Hume concerning causality and objectivity is an elaboration of another aspect of Berkeley's philosophy. As Berkeley's thought progressed, his works took on a more Platonic character: Siris, in particular, displays an interest in highly abstruse and speculative metaphysics which is not to be found in the earlier works. However, A.A. Luce, the most eminent Berkeley scholar of the twentieth century, constantly stressed the continuity of Berkeley's philosophy. The fact that Berkeley returned to his major works throughout his life, issuing revised editions with only minor changes, also counts against any theory that attributes to him a significant volte-face.

Over a century later Berkeley's thought experiment was summarised in a limerick and reply by Ronald Knox;

There was a young man who said "God

Must find it exceedingly odd

To think that the tree

Should continue to be

When there's no one about in the quad."

"Dear Sir: Your astonishment's odd;

I am always about in the quad.

And that's why the tree

Will continue to be

Since observed by, Yours faithfully, God."

In reference to Berkeley's philosophy, Dr. Samuel Johnson kicked a heavy stone and exclaimed, "I refute it thus!" A philosophical empiricist might reply that the only thing that Dr. Johnson knew about the stone was what he saw with his eyes, felt with his foot, and heard with his ears. That is, the existence of the stone consisted exclusively of Dr. Johnson's perceptions. It might be possible that Dr. Johnson had actually kicked an unusually grey tree stump, or perhaps that a sudden attack of arthritis had flared up just when he was about to kick a random patch of grass with a painting of a rock. Whatever the stone really was, apart from the sensations that he felt and the ideas or mental pictures that he perceived, was completely unknown to him. The kicked stone existed, ultimately, as an idea in his mind, nothing more and nothing less.

Berkeley shows this in the Dialogues by saying we define an object by its primary and secondary qualities. He takes heat as an example of a secondary quality. If you put one hand in a bucket of cold water, and your other hand in a bucket of warm water, then put both hands in a bucket of lukewarm water, one of your hands is going to tell you that the water is cold and the other that the water is hot. Berkeley says that since two different objects (your hands) perceive the water to be hot and cold, then the heat is not a quality of the water.

Primary qualities are treated the same way. Berkeley says that size is not a quality of an object because the size of the object depends on the distance between the observer and the object, or the size of observer. Since an object is a different size to different observers, then size is not a quality of the object. Berkeley refutes shape with a similar argument, then asks: if neither primary qualities nor secondary qualities are of the object, then how can we say that there is anything more than the qualities we observe?

Berkeley's Treatise Concerning the Principles of Human Knowledge was published three years before the publication of Arthur Collier's Clavis Universalis, which made assertions similar to those of Berkeley. However, there seemed to have been no influence between the two writers.

German philosopher Arthur Schopenhauer once wrote of him: "Berkeley was, therefore, the first to treat the subjective starting-point really seriously and to demonstrate irrefutably its absolute necessity. He is the father of idealism…"[3].

There are problems with Berkeley's argument however. He uses the image of God's 'thoughts', that are actually what we are; he postulated that God does not directly see us; but he is thinking of us as an image in his mind, and is thus creating our very existence. Several philosophers disagreed with his theory, however none could prove him wrong because of one very simple reason; it is impossible to know for sure in a philosopher's world, or indeed the world of society, that God exists or not. Since nobody can physically prove that he exists, and nobody can prove that he doesn't, you are essentially heading for a corner-stone.

[edit] The Analyst controversy

In addition to his contributions to philosophy, Bishop Berkeley was also very influential in the development of mathematics, although in a rather indirect sense. In 1734 he published The Analyst, subtitled A DISCOURSE Addressed to an Infidel Mathematician. The infidel mathematician in question is believed to have been either Edmond Halley, or Isaac Newton himself, although the discourse would then have been posthumously addressed as Newton died in 1727. The Analyst represented a direct attack on the foundations and principles of calculus, and in particular the notion of fluxion or infinitesimal change which Newton and Leibniz had used to develop the calculus.

Berkeley regarded his criticism of calculus as part of his broader campaign against the religious implications of Newtonian mechanics – as a defence of traditional Christianity against deism, which tends to distance God from His worshippers.

As a consequence of the resulting controversy, the foundations of calculus were rewritten in a much more formal and rigorous form using limits. It was not until 1966, with the publication of Abraham Robinson's book Non-standard Analysis, that the concept of the infinitesimal was made rigorous, thus giving an alternative way of overcoming the difficulties which Berkeley discovered in Newton's original approach.

[edit] See also

George Berkeley

First published Fri 10 Sep, 2004

George Berkeley, Bishop of Cloyne, was one of the great philosophers of the early modern period. He was a brilliant critic of his predecessors, particularly Descartes, Malebranche, and Locke. He was a talented metaphysician famous for defending idealism, that is, the view that reality consists exclusively of minds and their ideas. Berkeley's system, while it strikes many as counter-intuitive, is strong and flexible enough to counter most objections. His most-studied works, the Treatise Concerning the Principles of Human Knowledge (Principles, for short) and Three Dialogues between Hylas and Philonous (Dialogues), are beautifully written and dense with the sort of arguments that delight contemporary philosophers. He was also a wide-ranging thinker with interests in religion (which were fundamental to his philosophical motivations), the psychology of vision, mathematics, physics, morals, economics, and medicine. Although many of Berkeley's first readers greeted him with incomprehension, he influenced both Hume and Kant, and is much read (if little followed) in our own day.


1. Life and philosophical works

Berkeley was born in 1685 near Kilkenny, Ireland. After several years of schooling at Kilkenny College, he entered Trinity College, in Dublin, at age 15. He was made a fellow of Trinity College in 1707 (three years after graduating) and was ordained in the Anglican Church shortly thereafter. At Trinity, where the curriculum was notably modern, Berkeley encountered the new science and philosophy of the late seventeenth century, which was characterized by hostility towards Aristotelianism. Berkeley's philosophical notebooks (sometimes styled the Philosophical Commentaries), which he began in 1707, provide rich documentation of Berkeley's early philosophical evolution, enabling the reader to track the emergence of his immaterialist philosophy from a critical response to Descartes, Locke, Malebranche, Newton, Hobbes, and others.

Berkeley's first important published work, An Essay Towards a New Theory of Vision (1709), was an influential contribution to the psychology of vision and also developed doctrines relevant to his idealist project. In his mid-twenties, he published his most enduring works, the Treatise concerning the Principles of Human Knowledge (1710) and the Three Dialogues between Hylas and Philonous (1713), whose central doctrines we will examine below.

In 1720, while completing a four year tour of Europe as tutor to a young man, Berkeley composed De Motu, a tract on the philosophical foundations of mechanics which developed his views on philosophy of science and articulated an instrumentalist approach to Newtonian dynamics. After his continental tour, Berkeley returned to Ireland and resumed his position at Trinity until 1724, when he was appointed Dean of Derry. At this time, Berkeley began developing his scheme for founding a college in Bermuda. He was convinced that Europe was in spiritual decay and that the New World offered hope for a new golden age. Having secured a charter and promises of funding from the British Parliament, Berkeley set sail for America in 1728, with his new bride, Anne Forster. They spent three years in Newport, Rhode Island awaiting the promised money, but Berkeley's political support had collapsed and they were forced to abandon the project and return to Britain in 1731. While in America, Berkeley composed Alciphron, a work of Christian apologetics directed against the "free-thinkers" whom he took to be enemies of established Anglicanism. Alciphron is also a significant philosophical work and a crucial source of Berkeley's views on language.

Shortly after returning to London, Berkeley composed the Theory of Vision, Vindicated and Explained, a defense of his earlier work on vision, and the Analyst, an acute and influential critique of the foundations of Newton's calculus. In 1734 he was made Bishop of Cloyne, and thus he returned to Ireland. It was here that Berkeley wrote his last, strangest, and best-selling (in his own lifetime) philosophical work. Siris (1744) has a three-fold aim: to establish the virtues of tar-water (a liquid prepared by letting pine tar stand in water) as a medical panacea, to provide scientific background supporting the efficacy of tar-water, and to lead the mind of the reader, via gradual steps, toward contemplation of God. Berkeley died in 1753, shortly after moving to Oxford to supervise the education of his son George, one of the three out of seven of his children to survive childhood.

2. Berkeley's critique of materialism in the Principles and Dialogues

In his two great works of metaphysics, Berkeley defends idealism by attacking the materialist alternative. What exactly is the doctrine that he's attacking? Readers should first note that “materialism” is here used to mean “the doctrine that material things exist”. This is in contrast with another use, more standard in contemporary discussions, according to which materialism is the doctrine that only material things exist. Berkeley contends that no material things exist, not just that some immaterial things exist. Thus, he attacks Cartesian and Lockean dualism, not just the considerably less popular (in Berkeley's time) view, held by Hobbes, that only material things exist. But what exactly is a material thing? Interestingly, part of Berkeley's attack on matter is to argue that this question cannot be satisfactorily answered by the materialists, that they cannot characterize their supposed material things. However, an answer that captures what exactly it is that Berkeley rejects is that material things are mind-independent things or substances. And a mind-independent thing is something whose existence is not dependent on thinking/perceiving things, and thus would exist whether or not any thinking things (minds) existed. Berkeley holds that there are no such mind-independent things, that, in the famous phrase, esse est percipi (aut percipere) — to be is to be perceived (or to perceive).

Berkeley charges that materialism promotes skepticism and atheism: skepticism because materialism implies that our senses mislead us as to the natures of these material things, which moreover need not exist at all, and atheism because a material world could be expected to run without the assistance of God. This double charge provides Berkeley's motivation for questioning materialism (one which he thinks should motivate others as well), though not, of course, a philosophical argument against materialism. Fortunately, the Principles and Dialogues overflow with such arguments. Below, we will examine some of the main elements of Berkeley's argumentative campaign against matter.

2.1 The attack on representationalist materialism

2.1.1 The core argument

The starting point of Berkeley's attack on the materialism of his contemporaries is a very short argument presented in Principles 4:

It is indeed an opinion strangely prevailing amongst men, that houses, mountains, rivers, and in a word all sensible objects have an existence natural or real, distinct from their being perceived by the understanding. But with how great an assurance and acquiescence soever this principle may be entertained in the world; yet whoever shall find in his heart to call it in question, may, if I mistake not, perceive it to involve a manifest contradiction. For what are the forementioned objects but the things we perceive by sense, and what do we perceive besides our own ideas or sensations; and is it not plainly repugnant that any one of these or any combination of them should exist unperceived?

Berkeley presents here the following argument (see Winkler 1989, 138):

(1) We perceive ordinary objects (houses, mountains, etc.).

(2) We perceive only ideas.

Therefore,

(3) Ordinary objects are ideas.

The argument is valid, and premise (1) looks hard to deny. What about premise (2)? Berkeley believes that this premise is accepted by all the modern philosophers. In the Principles, Berkeley is operating within the idea-theoretic tradition of the seventeenth and eighteenth centuries. In particular, Berkeley believes that some version of this premise is accepted by his main targets, the influential philosophers Descartes and Locke.

However, Berkeley recognizes that these philosophers have an obvious response available to this argument. This response blocks Berkeley's inference to (3) by distinguishing two sorts of perception, mediate and immediate. Thus, premises (1) and (2) are replaced by the claims that (1′) we mediately perceive ordinary objects, while (2′) we immediately perceive only ideas. From these claims, of course, no idealist conclusion follows. The response reflects a representationalist theory of perception, according to which we indirectly (mediately) perceive material things, by directly (immediately) perceiving ideas, which are mind-dependent items. The ideas represent external material objects, and thereby allow us to perceive them.

Whether Descartes, Malebranche, and Locke were representationalists of this kind is a matter of some controversy (see e.g. Yolton 1984, Chappell 1994). However, Berkeley surely had good grounds for understanding his predecessors in this way: it reflects the most obvious interpretation of Locke's account of perception and Descartes' whole procedure in the Meditations tends to suggest this sort of view, given the meditator's situation as someone contemplating her own ideas, trying to determine whether something external corresponds to them.

2.1.2 The likeness principle

Berkeley devotes the succeeding sections of the Principles to undermining the representationalist response to his initial argument. In effect, he poses the question: What allows an idea to represent a material object? He assumes, again with good grounds, that the representationalist answer is going to involve resemblance:

But say you, though the ideas themselves do not exist without the mind, yet there may be things like them whereof they are copies or resemblances, which things exist without the mind, in an unthinking substance. I answer, an idea can be like nothing but an idea; a colour or figure can be like nothing but another colour or figure. (PHK 8)

Berkeley argues that this supposed resemblance is nonsensical; an idea can only be like another idea.

But why? The closest Berkeley ever comes to directly addressing this question is in his early philosophical notebooks, where he observes that “Two things cannot be said to be alike or unlike till they have been compar'd” (PC 377). Thus, because the mind can compare nothing but its own ideas, which by hypothesis are the only things immediately perceivable, the representationalist cannot assert a likeness between an idea and a non-ideal mind-independent material object. (For further discussion, see Winkler 1989, 145-9.)

If Berkeley's Likeness Principle, the thesis that an idea can only be like another idea, is granted, representationalist materialism is in serious trouble. For how are material objects now to be characterized? If material objects are supposed to be extended, solid, or colored, Berkeley will counter that these sensory qualities pertain to ideas, to that which is immediately perceived, and that the materialist cannot assert that material objects are like ideas in these ways. Many passages in the Principles and Dialogues drive home this point, arguing that matter is, if not an incoherent notion, at best a completely empty one.

2.1.3 Anti-abstractionism

One way in which Berkeley's anti-abstractionism comes into play is in reinforcing this point. Berkeley argues in the “Introduction” to the Principles[1] that we cannot form general ideas in the way that Locke often seems to suggest—by stripping particularizing qualities from an idea of a particular, creating a new, intrinsically general, abstract idea.[2] Berkeley then claims that notions the materialist might invoke in a last-ditch attempt to characterize matter, e.g. being or mere extension, are objectionably abstract and unavailable.[3]

2.1.4 What does materialism explain?

Berkeley is aware that the materialist has one important card left to play: Don't we need material objects in order to explain our ideas? And indeed, this seems intuitively gripping: Surely the best explanation of the fact that I have a chair idea every time I enter my office and that my colleague has a chair idea when she enters my office is that a single enduring material object causes all these various ideas. Again, however, Berkeley replies by effectively exploiting the weaknesses of his opponents' theories:

…though we give the materialists their external bodies, they by their own confession are never the nearer knowing how our ideas are produced: since they own themselves unable to comprehend in what manner body can act upon spirit, or how it is possible it should imprint any idea in the mind. Hence it is evident the production of ideas or sensations in our minds, can be no reason why we should suppose matter or corporeal substances, since that is acknowledged to remain equally inexplicable with, or without this supposition. (PHK 19)

Firstly, Berkeley contends, a representationalist must admit that we could have our ideas without their being any external objects causing them (PHK 18). (This is one way in which Berkeley sees materialism as leading to skepticism.) More devastatingly, however, he must admit that the existence of matter does not help to explain the occurrence of our ideas. After all, Locke himself diagnosed the difficulty:

Body as far as we can conceive being able only to strike and affect body; and Motion, according to the utmost reach of our Ideas, being able to produce nothing but Motion, so that when we allow it to produce pleasure or pain, or the Idea of a Colour, or Sound, we are fain to quit our Reason, go beyond our Ideas, and attribute it wholly to the good Pleasure of our Maker. (Locke 1975, 541;Essay 4.3.6)

And, when Descartes was pressed by Elizabeth as to how mind and body interact,[4] she rightly regarded his answers as unsatisfactory. The basic problem here is set by dualism: how can one substance causally affect another substance of a fundamentally different kind? In its Cartesian form, the difficulty is particularly severe: how can an extended thing, which affects other extended things only by mechanical impact, affect a mind, which is non-extended and non-spatial?

Berkeley's point is thus well taken. It is worth noting that, in addition to undermining the materialist's attempted inference to the best explanation, Berkeley's point also challenges any attempt to explain representation and mediate perception in terms of causation. That is, the materialist might try to claim that ideas represent material objects, not by resemblance, but in virtue of being caused by the objects. (Though neither Descartes nor Locke spells out such an account, there are grounds in each for attributing such an account to them. For Descartes see Wilson 1999, 73-76; for Locke see Chappell 1994, 53.) However, PHK 19 implies that the materialists are not in a position to render this account of representation philosophically satisfactory.

2.2 Contra direct realist materialism

As emphasized above, Berkeley's campaign against matter, as he presents it in the Principles, is directed against materialist representationalism and presupposes representationalism. In particular, Berkeley presupposes that all anyone ever directly or immediately perceives are ideas. As contemporary philosophers, we might wonder whether Berkeley has anything to say to a materialist who denies this representationalist premise and asserts instead that we ordinarily directly/immediately perceive material objects themselves. The answer is ‘yes’.

2.2.1 The master argument?

However, one place where one might naturally look for such an argument is not, in fact, as promising as might initially appear. In both the Principles (22-3) and the Dialogues (200), Berkeley gives a version of what has come to be called “The Master Argument”[5] because of the apparent strength with which he endorses it:

… I am content to put the whole upon this issue; if you can but conceive it possible for one extended moveable substance, or in general, for any one idea or any thing like an idea, to exist otherwise than in a mind perceiving it, I shall readily give up the cause…. But say you, surely there is nothing easier than to imagine trees, for instance, in a park, or books existing in a closet, and no body by to perceive them. I answer, you may so, there is no difficulty in it: but what is all this, I beseech you, more than framing in your mind certain ideas which you call books and trees, and at the same time omitting to frame the idea of any one that may perceive them? But do not you your self perceive or think of them all the while? This therefore is nothing to the purpose: it only shows you have the power of imagining or forming ideas in your mind; but it doth not shew that you can conceive it possible, the objects of your thought may exist without the mind: to make out this, it is necessary that you conceive them existing unconceived or unthought of, which is a manifest repugnancy. When we do our utmost to conceive the existence of external bodies, we are all the while only contemplating our own ideas. But the mind taking no notice of itself, is deluded to think it can and doth conceive bodies existing unthought of or without the mind; though at the same time they are apprehended by or exist in it self. (PHK 22-23)

The argument seems intended to establish that we cannot actually conceive of mind-independent objects, that is, objects existing unperceived and unthought of. Why not? Simply because in order to conceive of any such things, we must ourselves be conceiving, i.e., thinking, of them. However, as Pitcher (1977, 113) nicely observes, such an argument seems to conflate the representation (what we conceive with) and the represented (what we conceive of—the content of our thought). Once we make this distinction, we realize that although we must have some conception or representation in order to conceive of something, and that representation is in some sense thought of, it does not follow (contra Berkeley) that what we conceive of must be a thought-of object. That is, when we imagine a tree standing alone in a forest, we (arguably) conceive of an unthought-of object, though of course we must employ a thought in order to accomplish this feat.[6] Thus (as many commentators have observed), this argument fails.

A more charitable reading of the argument (see Winkler 1989, 184-7; Lennon 1988) makes Berkeley's point that we cannot represent unconceivedness, because we have never and could never experience it.[7] Because we cannot represent unconceivedness, we cannot conceive of mind-independent objects. While this is a rather more promising argument, it clearly presupposes representationalism, just as Berkeley's earlier Principles arguments did.[8] (This, however, is not necessarily a defect of the interpretation, since the Principles, as we saw above, is aimed against representationalism, and in the Dialogues the Master Argument crops up only after Hylas has been converted to representationalism (see below).)[9]

2.2.1 The First Dialogue and relativity arguments

Thus, if we seek a challenge to direct realist materialism, we must turn to the Three Dialogues, where the character Hylas (the would-be materialist) begins from a sort of naïve realism, according to which we perceive material objects themselves, directly. Against this position, Philonous (lover of spirit—Berkeley's spokesperson) attempts to argue that the sensible qualities—the qualities immediately perceived by sense—must be ideal, rather than belonging to material objects. (The following analysis of these first dialogue arguments is indebted to Margaret Wilson's account in “Berkeley on the Mind-Dependence of Colors,” Wilson 1999, 229-242.[10])

Philonous begins his first argument by contending that sensible qualities such as heat are not distinct from pleasure or pain. Pleasure and pain, Philonous argues, are allowed by all to be merely in the mind; therefore the same must be true for the sensible qualities. The most serious difficulties with this argument are (1) whether we should grant the “no distinction” premise in the case of the particular sensory qualities invoked by Berkeley (why not suppose that I can distinguish between the heat and the pain?) and (2) if we do, whether we should generalize to all sensory qualities as Berkeley would have us do.

Secondly, Philonous invokes relativity arguments to suggest that because sensory qualities are relative to the perceiver, e.g. what is hot to one hand may be cold to the other and what is sweet to one person may be bitter to another, they cannot belong to mind-independent material objects, for such objects could not bear contradictory qualities.

As Berkeley is well aware, one may reply to this sort of argument by claiming that only one of the incompatible qualities is truly a quality of the object and that the other apparent qualities result from misperception. But how then, Berkeley asks, are these “true” qualities to be identified and distinguished from the “false” ones (3D 184)? By noting the differences between animal perception and human perception, Berkeley suggests that it would be arbitrary anthropomorphism to claim that humans have special access to the true qualities of objects. Further, Berkeley uses the example of microscopes to undermine the prima facie plausible thought that the true visual qualities of objects are revealed by close examination. Thus, Berkeley provides a strong challenge to any direct realist attempt to specify standard conditions under which the true (mind-independent) qualities of objects are (directly) perceived by sense.

Under this pressure from Philonous, Hylas retreats (perhaps a bit quickly) from naïve realism to a more “philosophical” position. He first tries to make use of the primary/secondary quality distinction associated with mechanism and, again, locatable in the thought of Descartes and Locke. Thus, Hylas allows that color, taste, etc. may be mind-dependent (secondary) qualities, but contends that figure, solidity, motion and rest (the primary qualities) exist in mind-independent material bodies. The mechanist picture behind this proposal is that bodies are composed of particles with size, shape, motion/rest, and perhaps solidity, and that our sensory ideas arise from the action of such particles on our sense organs and, ultimately, on our minds. Berkeley opposes this sort of mechanism throughout his writings, believing that it engenders skepticism by dictating that bodies are utterly unlike our sensory experience of them. Here Philonous has a two-pronged reply: (1) The same sorts of relativity arguments that were made against secondary qualities can be made against primary ones. (2) We cannot abstract the primary qualities (e.g. shape) from secondary ones (e.g. color), and thus we cannot conceive of mechanist material bodies which are extended but not (in themselves) colored.[11]

When, after some further struggles, Hylas finally capitulates to Philonous' view that all of existence is mind-dependent, he does so unhappily and with great reluctance. Philonous needs to convince him (as Berkeley needed to convince his readers in both books) that a commonsensical philosophy could be built on an immaterialist foundation, that no one but a skeptic or atheist would ever miss matter. As a matter of historical fact, Berkeley persuaded few of his contemporaries, who for the most part regarded him as a purveyor of skeptical paradoxes (Bracken 1965). Nevertheless, we can and should appreciate the way in which Berkeley articulated a positive idealist philosophical system, which, if not in perfect accord with common sense, is in many respects superior to its competitors.

3. Berkeley's positive program: idealism and common sense

3.1 The basics of Berkeley's ontology

3.1.1 The status of ordinary objects

The basics of Berkeley's metaphysics are apparent from the first section of the main body of the Principles:

It is evident to any one who takes a survey of the objects of human knowledge, that they are either ideas actually imprinted on the senses, or else such as are perceived by attending to the passions and operations of the mind, or lastly ideas formed by help of memory and imagination, either compounding, dividing, or barely representing those originally perceived in the aforesaid ways. By sight I have the ideas of light and colours with their several degrees and variations. By touch I perceive, for example, hard and soft, heat and cold, motion and resistance, and of all these more and less either as to quantity or degree. Smelling furnishes me with odours; the palate with tastes, and hearing conveys sounds to the mind in all their variety of tone and composition. And as several of these are observed to accompany each other, they come to be marked by one name, and so to be reputed as one thing. Thus, for example, a certain colour, taste, smell, figure and consistence having been observed to go together, are accounted one distinct thing, signified by the name apple. Other collections of ideas constitute a stone, a tree, a book, and the like sensible things; which, as they are pleasing or disagreeable, excite the passions of love, hatred, joy, grief, and so forth.

As this passage illustrates, Berkeley does not deny the existence of ordinary objects such as stones, trees, books, and apples. On the contrary, as was indicated above, he holds that only an immaterialist account of such objects can avoid skepticism about their existence and nature. What such objects turn out to be, on his account, are bundles or collections of ideas. An apple is a combination of visual ideas (including the sensible qualities of color and visual shape), tangible ideas, ideas of taste, smell, etc.[12] The question of what does the combining is a philosophically interesting one which Berkeley does not address in detail. He does make clear that there are two sides to the process of bundling ideas into objects: (1) co-occurrence, an objective fact about what sorts of ideas tend to accompany each other in our experience, and (2) something we do when we decide to single out a set of co-occurring ideas and refer to it with a certain name (NTV 109).

Thus, although there is no material world for Berkeley, there is a physical world, a world of ordinary objects. This world is mind-dependent, for it is composed of ideas, whose existence consists in being perceived. For ideas, and so for the physical world, esse est percipi.

3.1.2 Spirits as active substances

Berkeley's ontology is not exhausted by the ideal, however. In addition to perceived things (ideas), he posits perceivers, i.e., minds or spirits, as he often terms them. Spirits, he emphasizes, are totally different in kind from ideas, for they are active where ideas are passive. This suggests that Berkeley has replaced one kind of dualism, of mind and matter, with another kind of dualism, of mind and idea. There is something to this point, given Berkeley's refusal to elaborate upon the relation between active minds and passive ideas. At Principles 49, he famously dismisses quibbling about how ideas inhere in the mind (are minds colored and extended when such sensible qualities “exist in” them?) with the declaration that “those qualities are in the mind only as they are perceived by it, that is, not by way of mode or attribute, but only by way of idea”. Berkeley's dualism, however, is a dualism within the realm of the mind-dependent.

3.1.3 God's existence

The last major item in Berkeley's ontology is God, himself a spirit, but an infinite one. Berkeley believes that once he has established idealism, he has a novel and convincing argument for God's existence as the cause of our sensory ideas. He argues by elimination: What could cause my sensory ideas? Candidate causes, supposing that Berkeley has already established that matter doesn't exist, are (1) other ideas, (2) myself, or (3) some other spirit. Berkeley eliminates the first option with the following argument (PHK 25):

(1) Ideas are manifestly passive—no power or activity is perceived in them.

(2) But because of the mind-dependent status of ideas, they cannot have any characteristics which they are not perceived to have.

Therefore,

(3) Ideas are passive, that is, they possess no causal power.

It should be noted that premise (2) is rather strong; Phillip Cummins (1990) identifies it as Berkeley's “manifest qualities thesis” and argues that it commits Berkeley to the view that ideas are radically and completely dependent on perceivers in the way that sensations of pleasure and pain are typically taken to be.[13]

The second option is eliminated with the observation that although I clearly can cause some ideas at will (e.g. ideas of imagination), sensory ideas are involuntary; they present themselves whether I wish to perceive them or not and I cannot control their content. The hidden assumption here is that any causing the mind does must be done by willing and such willing must be accessible to consciousness. Berkeley is hardly alone in presupposing this model of the mental; Descartes, for example, makes a similar set of assumptions.

This leaves us, then, with the third option: my sensory ideas must be caused by some other spirit. Berkeley thinks that when we consider the stunning complexity and systematicity of our sensory ideas, we must conclude that the spirit in question is wise and benevolent beyond measure, that, in short, he is God.

3.2 Replies to objections

With the basic ingredients of Berkeley's ontology in place, we can begin to consider how his system works by seeing how he responds to a number of intuitively compelling objections to it. Berkeley himself sees very well how necessary this is: Much of the Principles is structured as a series of objections and replies, and in the Three Dialogues, once Philonous has rendered Hylas a reluctant convert to idealism, he devotes the rest of the book to convincing him that this is a philosophy which coheres well with common sense, at least better than materialism ever did.

3.2.1 Real things vs. imaginary ones

Perhaps the most obvious objection to idealism is that it makes real things no different from imaginary ones—both seem fleeting figments of our own minds, rather than the solid objects of the materialists. Berkeley replies that the distinction between real things and chimeras retains its full force on his view. One way of making the distinction is suggested by his argument for the existence of God, examined above: Ideas which depend on our own finite human wills are not (constituents of) real things. Not being voluntary is thus a necessary condition for being a real thing, but it is clearly not sufficient, since hallucinations and dreams do not depend on our wills, but are nevertheless not real. Berkeley notes that the ideas that constitute real things exhibit a steadiness, vivacity, and distinctness that chimerical ideas do not. The most crucial feature that he points to, however, is order. The ideas imprinted by the author of nature as part of rerum natura occur in regular patterns, according to the laws of nature (“the set rules or established methods, wherein the mind we depend on excites in us the ideas of sense, are called the Laws of Nature” PHK 30). They are thus regular and coherent, that is, they constitute a coherent real world.

3.2.2 Hidden structures and internal mechanisms

The related notions of regularity and of the laws of nature are central to the workability of Berkeley's idealism. They allow him to respond to the following objection, put forward in PHK 60:

…it will be demanded to what purpose serves that curious organization of plants, and the admirable mechanism in the parts of animals; might not vegetables grow, and shoot forth leaves and blossoms, and animals perform all their motions, as well without as with all that variety of internal parts so elegantly contrived and put together, which being ideas have nothing powerful or operative in them, nor have any necessary connexion with the effects ascribed to them? […] And how comes it to pass, that whenever there is any fault in the going of a watch, there is some corresponding disorder to be found in the movements, which being mended by a skilful hand, all is right again? The like may be said of all the clockwork of Nature, great part whereof is so wonderfully fine and subtle, as scarce to be discerned by the best microscope. In short, it will be asked, how upon our principles any tolerable account can be given, or any final cause assigned of an innumerable multitude of bodies and machines framed with the most exquisite art, which in the common philosophy have very apposite uses assigned them, and serve to explain abundance of phenomena.

Berkeley's answer, for which he is indebted to Malebranche,[14] is that, although God could make a watch run (that is, produce in us ideas of a watch running) without the watch having any internal mechanism (that is, without it being the case that, were we to open the watch, we would have ideas of an internal mechanism), he cannot do so if he is to act in accordance with the laws of nature, which he has established for our benefit, to make the world regular and predictable. Thus, whenever we have ideas of a working watch, we will find that if we open it,[15] we will see (have ideas of) an appropriate internal mechanism. Likewise, when we have ideas of a living tulip, we will find that if we pull it apart, we will observe the usual internal structure of such plants, with the same transport tissues, reproductive parts, etc.

3.2.3 Scientific explanation

Implicit in the answer above is Berkeley's insightful account of scientific explanation and the aims of science. A bit of background is needed here to see why this issue posed a special challenge for Berkeley. One traditional understanding of science, derived from Aristotle, held that it aims at identifying the causes of things. Modern natural philosophers such as Descartes narrowed science's domain to efficient causes and thus held that science should reveal the efficient causes of natural things, processes, and events.[16] Berkeley considers this as the source of an objection at Principles 51:

Seventhly, it will upon this be demanded whether it does not seem absurd to take away natural causes, and ascribe every thing to the immediate operation of spirits? We must no longer say upon these principles that fire heats, or water cools, but that a spirit heats, and so forth. Would not a man be deservedly laughed at, who should talk after this manner? I answer, he would so; in such things we ought to think with the learned, and speak with the vulgar.

On Berkeley's account, the true cause of any phenomenon is a spirit, and most often it is the same spirit, namely, God.

But surely, one might object, it is a step backwards to abandon our scientific theories and simply note that God causes what happens in the physical world! Berkeley's first response here, that we should think with the learned but speak with the vulgar, advises us to continue to say that fire heats, that the heart pumps blood, etc. What makes this advice legitimate is that he can reconstrue such talk as being about regularities in our ideas. In Berkeley's view, the point of scientific inquiry is to reveal such regularities:

If therefore we consider the difference there is betwixt natural philosophers and other men, with regard to their knowledge of the phenomena, we shall find it consists, not in an exacter knowledge of the efficient cause that produces them, for that can be no other than the will of a spirit, but only in a greater largeness of comprehension, whereby analogies, harmonies, and agreements are discovered in the works of Nature, and the particular effects explained, that is, reduced to general rules, see Sect. 62, which rules grounded on the analogy, and uniformness observed in the production of natural effects, are most agreeable, and sought after by the mind; for that they extend our prospect beyond what is present, and near to us, and enable us to make very probable conjectures, touching things that may have happened at very great distances of time and place, as well as to predict things to come…. (PHK 105)

Natural philosophers thus consider signs, rather than causes (PHK 108), but their results are just as useful as they would be under a materialist system. Moreover, the regularities they discover provide the sort of explanation proper to science, by rendering the particular events they subsume unsurprising (PHK 104). The sort of explanation proper to science, then, is not causal explanation, but reduction to regularity.[17]

3.2.4 Unperceived objects—Principles vs. Dialogues

Regularity provides a foundation for one of Berkeley's responses to the objection summarized in the famous limerick:

There was a young man who said God,
must find it exceedingly odd
when he finds that the tree
continues to be
when noone's about in the Quad.[18]

The worry, of course, is that if to be is to be perceived (for non-spirits), then there are no trees in the Quad at 3 a.m. when no one is there to perceive them and there is no furniture in my office when I leave and close the door. Interestingly, in the Principles Berkeley seems relatively unperturbed by this natural objection to idealism. He claims that there is no problem for

…anyone that shall attend to what is meant by the term exist when applied to sensible things. The table I write on, I say, exists, that is, I see and feel it; and if I were out of my study I should say it existed, meaning thereby that if I was in my study I might perceive it, or that some other spirit actually does perceive it. (PHK 3)

So, when I say that my desk still exists after I leave my office, perhaps I just mean that I would perceive it if I were in my office, or, more broadly, that a finite mind would perceive the desk were it in the appropriate circumstances (in my office, with the lights on, with eyes open, etc.). This is to provide a sort of counterfactual analysis of the continued existence of unperceived objects. The truth of the counterfactuals in question is anchored in regularity: because God follows set patterns in the way he causes ideas, I would have a desk idea if I were in the office.

Unfortunately, this analysis has counterintuitive consequences when coupled with the esse est percipi doctrine (McCracken 1979, 286). If to be is, as Berkeley insists, to be perceived, then the unperceived desk does not exist, despite the fact that it would be perceived and thus would exist if someone opened the office door. Consequently, on this view the desk would not endure uninterrupted but would pop in and out of existence, though it would do so quite predictably. One way to respond to this worry would be to dismiss it—what does it matter if the desk ceases to exist when unperceived, as long as it exists whenever we need it? Berkeley shows signs of this sort of attitude in Principles 45-46, where he tries to argue that his materialist opponents and scholastic predecessors are in much the same boat.[19] This “who cares?” response to the problem of continued existence is fair enough as far as it goes, but it surely does conflict with common sense, so if Berkeley were to take this route he would have to moderate his claims about his system's ability to accommodate everything desired by the person on the street.

Another strategy, however, is suggested by Berkeley's reference in PHK 3 and 48 to “some other spirit,” a strategy summarized in a further limerick:

Dear Sir, your astonishment's odd
I'm always about in the Quad
And that's why the tree
continues to be
Since observed by, yours faithfully, God

If the other spirit in question is God, an omnipresent being, then perhaps his perception can be used to guarantee a completely continuous existence to every physical object. In the Three Dialogues, Berkeley very clearly invokes God in this context. Interestingly, whereas in the Principles, as we have seen above, he argued that God must exist in order to cause our ideas of sense, in the Dialogues (212, 214-5) he argues that our ideas must exist in God when not perceived by us.[20] If our ideas exist in God, then they presumably exist continuously. Indeed, they must exist continuously, since standard Christian doctrine dictates that God is unchanging.

Although this solves one problem for Berkeley, it creates several more. The first is that Berkeley's other commitments, religious and philosophical, dictate that God cannot literally have our ideas. Our ideas are sensory ideas and God is a being who “can suffer nothing, nor be affected with any painful sensation, or indeed any sensation at all” (3D 206). Nor can our sensory ideas be copies of God's nonsensory ones (McCracken 1979):

How can that which is sensible be like that which is insensible? Can a real thing in itself invisible be like a colour; or a real thing which is not audible, be like a sound? (3D 206)

A second problem is that God's ideas are eternal, whereas physical objects typically have finite duration. And, even worse, God has ideas of all possible objects (Pitcher 1977, 171-2), not just the ones which we would commonsensically wish to say exist.

A solution (proposed by McCracken) to these related problems is to tie the continued existence of ordinary objects to God's will, rather than to his understanding. McCracken's suggestion is that unperceived objects continue to exist as God's decrees. Such an account in terms of divine decrees or volitions looks promising: The tree continues to exist when unperceived just in case God has an appropriate volition or intention to cause a tree-idea in finite perceivers under the right circumstances. Furthermore, this solution has important textual support: In the Three Dialogues, Hylas challenges Philonous to account for the creation, given that all existence is mind-dependent, in his view, but everything must exist eternally in the mind of God. Philonous responds as follows:

May we not understand it [the creation] to have been entirely in respect of finite spirits; so that things, with regard to us, may properly be said to begin their existence, or be created, when God decreed they should become perceptible to intelligent creatures, in that order and manner which he then established, and we now call the laws of Nature? You may call this a relative, or hypothetical existence if you please. (3D 253)

Here Berkeley ties the actual existence of created physical beings to God's decrees, that is, to his will.

As with the counterfactual analysis of continued existence, however, this account also fails under pressure from the esse est percipi principle:

Hylas. Yes, Philonous, I grant the existence of a sensible thing consists in being perceivable, but not in being actually perceived.

Philonous. And what is perceivable but an idea? And can an idea exist without being actually perceived? These are points long since agreed between us. (3D 234)

Thus, if the only grounds of continued existence are volitions in God's mind, rather than perceived items (ideas), then ordinary objects do not exist continuously, but rather pop in and out of existence in a lawful fashion.

Fortunately, Kenneth Winkler has put forward an interpretation which goes a great distance towards resolving this difficulty. In effect, he proposes that we amend the “volitional” interpretation of the existence of objects with the hypothesis that Berkeley held “the denial of blind agency” (Winkler 1989, 207-224). This principle, which can be found in many authors of the period (including Locke), dictates that any volition must have an idea behind it, that is, must have a cognitive component that gives content to the volition, which would otherwise be empty or “blind”. While the principle is never explicitly invoked or argued for by Berkeley, in a number of passages he does note the interdependence of will and understanding. Winkler plausibly suggests that Berkeley may have found this principle so obvious as to need no arguing. With it in place, we have a guarantee that anything willed by God, e.g. that finite perceivers in appropriate circumstances should have elm tree ideas, also has a divine idea associated with it. Furthermore, we have a neat explanation of Berkeley's above-noted leap in the Dialogues from the claim that God must cause our ideas to the claim that our ideas must exist in God.

Of course, it remains true that God cannot have ideas that are, strictly speaking, the same as ours. This problem is closely related to another that confronts Berkeley: Can two people ever perceive the same thing? Common sense demands that two students can perceive the same tree, but Berkeley's metaphysics seems to dictate that they never truly perceive the same thing, since they each have their own numerically distinct ideas. One way to dissolve this difficulty is to recall that objects are bundles of ideas. Although two people cannot perceive/have the numerically same idea, they can perceive the same object, assuming that perceiving a component of the bundle suffices for perception of the bundle.[21] Another proposal (Baxter 1991) is to invoke Berkeley's doctrine that “same” has both a philosophical and a vulgar sense (3D 247) in order to declare that my tree-idea and your tree-idea are strictly distinct but loosely (vulgarly) the same. Either account might be applied in order to show either that God and I may perceive the same object, or that God and I may perceive, loosely speaking, the same thing.

From this discussion we may draw a criterion for the actual existence of ordinary objects, one which summarizes Berkeley's considered views:

An X exists at time t if and only if God has an idea that corresponds to a volition that if a finite mind at t is in appropriate circumstances (e.g. in a particular place, looking in the right direction, or looking through a microscope), then it will have an idea that we would be disposed to call a perception of an X.

This captures the idea that existence depends on God's perceptions, but only on the perceptions which correspond to or are included in his volitions about what we should perceive. It also captures the fact that the bundling of ideas into objects is done by us.[22]

3.2.5 The possibility of error

A further worry about Berkeley's system arises from the idea-bundle account of objects.[23] If there is no mind-independent object against which to measure my ideas, but rather my ideas help to constitute the object, then how can my ideas ever fail—how is error possible? Here is another way to raise to raise the worry that I have in mind: We saw above that Berkeley's arguments against commonsense realism in the first Dialogue attempt to undermine (1) claims that heat, odor, taste are distinguishable from pleasure/pain and (2) the claim that objects have one true color, one true shape, one true taste, etc. If we then consider what this implies about Berkeleyian objects, we must conclude that Berkeley's cherry is red, purple, gray, tart, sweet, small, large, pleasant, and painful! It seems that Berkeley's desire to refute the mechanist representationalism which dictates that objects are utterly unlike our experience of them has lead him to push beyond common sense to the view that objects are exactly like our experience of them.[24] There is no denying that Berkeley is out of sync with common sense here. He does, however, have an account of error, as he shows us in the Dialogues:

Hylas. What say you to this? Since, according to you, men judge of the reality of things by their senses, how can a man be mistaken in thinking the moon a plain lucid surface, about a foot in diameter; or a square tower, seen at a distance, round; or an oar, with one end in the water, crooked?

Philonous. He is not mistaken with regard to the ideas he actually perceives; but in the inferences he makes from his present perceptions. Thus in the case of the oar, what he immediately perceives by sight is certainly crooked; and so far he is in the right. But if he thence conclude, that upon taking the oar out of the water he shall perceive the same crookedness; or that it would affect his touch, as crooked things are wont to do: in that he is mistaken. (3D 238)

Extrapolating from this, we may say that my gray idea of the cherry, formed in dim light, is not in itself wrong and forms a part of the bundle-object just as much as your red idea, formed in daylight. However, if I judge that the cherry would look gray in bright light, I'm in error. Furthermore, following Berkeley's directive to speak with the vulgar, I ought not to say (in ordinary circumstances) that “the cherry is gray,” since that will be taken to imply that the cherry would look gray to humans in daylight.

3.2.6 Spirits and causation

We have spent some time examining the difficulties Berkeley faces in the “idea/ordinary object” half of his ontology. Arguably, however, less tractable difficulties confront him in the realm of spirits. Early on, Berkeley attempts to forestall materialist skeptics who object that we have no idea of spirit by arguing for this position himself:

A spirit is one simple, undivided, active being: as it perceives ideas, it is called the understanding, and as it produces or otherwise operates about them, it is called the will. Hence there can be no idea formed of a soul or spirit: for all ideas whatever, being passive and inert, vide Sect. 25, they cannot represent unto us, by way of image or likeness, that which acts. A little attention will make it plain to any one, that to have an idea which shall be like that active principle of motion and change of ideas, is absolutely impossible. Such is the nature of spirit or that which acts, that it cannot be of it self perceived, but only by the effects which it produceth. (PHK 27)

Surely the materialist will be tempted to complain, however, that Berkeley's unperceivable spiritual substances, lurking behind the scenes and supporting that which we can perceive, sound a lot like the material substances which he so emphatically rejects.

Two very different responses are available to Berkeley on this issue, each of which he seems to have made at a different point in his philosophical development. One response would be to reject spiritual substance just as he rejected material substance. Spirits, then, might be understood in a Humean way, as bundles of ideas and volitions. Fascinatingly, something like this view is considered by Berkeley in his early philosophical notebooks (see PC 577ff). Why he abandons it is an interesting and difficult question;[25] it seems that one worry he has is how the understanding and the will are to be integrated and rendered one thing.

The second response would be to explain why spiritual substances are better posits than material ones. To this end, Berkeley emphasizes that we have a notion of spirit, which is just to say that we know what the word means. This purportedly contrasts with “matter,” which Berkeley thinks has no determinate content. Of course, the real question is: How does the term “spirit” come by any content, given that we have no idea of it? In the Principles, Berkeley declares only that we know spirit through our own case and that the content we assign to “spirit” is derived from the content each of us assigns to “I” (PHK 139-140). In the Dialogues, however, Berkeley shows a better appreciation of the force of the problem that confronts him:

[Hylas.] You say your own soul supplies you with some sort of an idea or image of God. But at the same time you acknowledge you have, properly speaking, no idea of your own soul. You even affirm that spirits are a sort of beings altogether different from ideas. Consequently that no idea can be like a spirit. We have therefore no idea of any spirit. You admit nevertheless that there is spiritual substance, although you have no idea of it; while you deny there can be such a thing as material substance, because you have no notion or idea of it. Is this fair dealing? To act consistently, you must either admit matter or reject spirit. (3D 232)

To the main point of Hylas' attack, Philonous replies that each of us has, in our own case, an immediate intuition of ourselves, that is, we know our own minds through reflection (3D 231-233). Berkeley's considered position, that we gain access to ourselves as thinking things through conscious awareness, is surely an intuitive one. Nevertheless, it is disappointing that he never gave an explicit response to the Humean challenge he entertained in his notebooks:

+ Mind is a congeries of Perceptions. Take away Perceptions & you take away the Mind put the Perceptions & you put the mind. (PC 580)

A closely related problem which confronts Berkeley is how to make sense of the causal powers that he ascribes to spirits. Here again, the notebooks suggest a surprisingly Humean view:

+ The simple idea call'd Power seems obscure or rather none at all. but onely the relation ‘twixt cause & Effect. Wn I ask whether A can move B. if A be an intelligent thing. I mean no more than whether the volition of A that B move be attended with the motion of B, if A be be senseless whether the impulse of A against B be follow'd by ye motion of B. 461[26]

S What means Cause as distinguish'd from Occasion? nothing but a Being wch wills wn the Effect follows the volition. Those things that happen from without we are not the Cause of therefore there is some other Cause of them i.e., there is a being that wills these perceptions in us. 499

S There is a difference betwixt Power & Volition. There may be volition without Power. But there can be no Power without Volition. Power implyeth volition & at the same time a Connotation of the Effects following the Volition. 699

461 suggests the Humean view that a cause is whatever is (regularly)[27] followed by an effect. 499 and 699 revise this doctrine by requiring that a cause not only (regularly) precede an effect but also be a volition. Berkeley's talk of occasion here reveals the immediate influence of Malebranche. Malebranche held that the only true cause is God and that apparent finite causes are only “occasional causes,” which is to say that they provide occasions for God to act on his general volitional policies. Occasional “causes” thus regularly precede their “effects” but are not truly responsible for producing them. In these notebook entries, however, Berkeley seems to be suggesting that all there is to causality is this regular consequence, with the first item being a volition. Such an account, unlike Malebranche's, would make my will and God's will causes in exactly the same thin sense.

Some commentators, most notably Winkler, suppose that Berkeley retains this view of causality in the published works. The main difficulty with this interpretation is that Berkeley more than once purports to inspect our idea of body, and the sensory qualities included therein, and to conclude from that inspection that bodies are passive (DM 22, PHK 25). This procedure would make little sense if bodies, according to Berkeley, fail to be causes by definition, simply because they are not minds with wills.[28] What is needed is an explanation of what Berkeley means by activity, which he clearly equates with causal power. Winkler (1989, 130-1) supplies such an account, according to which activity means direction towards an end. But this is to identify efficient causation with final causation, a controversial move at best which Berkeley would be making without comment or argument.

The alternative would be to suppose, as De Motu 33 suggests, that Berkeley holds that we gain a notion of activity, along with a notion of spirit as substance, through reflective awareness/internal consciousness:

[W]e feel it [mind] as a faculty of altering both our own state and that of other things, and that is properly called vital, and puts a wide distinction between soul and bodies. (DM 33)

On this interpretation, Berkeley would again have abandoned the radical Humean position entertained in his notebooks, as he clearly did on the question of the nature of spirit. One can only speculate as to whether his reasons would have been primarily philosophical, theological, or practical. Berkeley's writings, however, are not generally characterized by deference to authority, quite the contrary,[29] as he himself proclaims:

… one thing, I know, I am not guilty of. I do not pin my faith on the sleeve of any great man. I act not out of prejudice & prepossession. I do not adhere to any opinion because it is an old one, a receiv'd one, a fashionable one, or one that I have spent much time in the study and cultivation of. (PC 465)

Bibliography

Berkeley's Works

The standard edition of Berkeley's works is:

  • Berkeley, G. (1948-1957). The Works of George Berkeley, Bishop of Cloyne. A.A. Luce and T.E. Jessop (eds.). London, Thomas Nelson and Sons. 9 vols.

I use the following abbreviations for Berkeley's works:

PC

"Philosophical Commentaries"

Works 1:9-104

NTV

An Essay Towards a New Theory of Vision

Works 1:171-239

PHK

Of the Principles of Human Knowledge: Part 1

Works 2:41-113

3D

Three Dialogues between Hylas and Philonous

Works 2:163-263

DM

De Motu, or The Principle and Nature of Motion and the Cause of the Communication of Motions, trans. A.A. Luce

Works 4:31-52

References to these works are by section numbers (or entry numbers, for PC), except for 3D, where they are by page number.

Other useful editions include:

  • Berkeley, G. (1944). Philosophical commentaries, generally called the Commonplace book [of] George Berkeley, bishop of Cloyne. A.A. Luce (ed.). London, Thomas Nelson and Sons.
  • Berkeley, G. (1975). Philosophical Works; Including the Works on Vision. M. Ayers (ed.). London, Dent.
  • Berkeley, G. (1987). George Berkeley's Manuscript Introduction. B. Belfrage (ed.). Oxford, Doxa.
  • Berkeley, G. (1992). "De Motu” and "The Analyst": A Modern Edition with Introductions and Commentary. D. Jesseph (trans. and ed.). Dordrecht: Kluwer Academic Publishers.

Bibliographical studies

  • Jessop, T. E. (1973). A bibliography of George Berkeley, by T.E. Jessop. With inventory of Berkeley's manuscript remains, by A.A. Luce. The Hague, M. Nijhoff.
  • Turbayne, C., Ed. (1982). Berkeley: Critical and Interpretive Essays. Minneapolis, University of Minnesota Press. [Contains a bibliography of George Berkeley 1963-1979.]

References cited

  • Atherton, M. (1987). Berkeley's Anti-Abstractionism. In Essays on the Philosophy of George Berkeley. E. Sosa (ed.). Dordrecht, D. Reidel: 85-102.
  • Atherton, M. (1990). Berkeley's Revolution in Vision. Ithaca, Cornell University Press.
  • Atherton, M., Ed. (1994). Women Philosophers of the Early Modern Period. Indianapolis, Hackett.
  • Atherton, M. (1995). Berkeley Without God. In Berkeley's Metaphysics: Structural, Interpretive, and Critical Essays. R. G. Muehlmann (ed.). University Park, Pennsylvania State University Press: 231-248.
  • Bennett, J. (1971). Locke, Berkeley, Hume: Central Themes. Oxford, Clarendon Press.
  • Bolton, M. B. (1987). Berkeley's Objection to Abstract Ideas and Unconceived Objects. In Essays on the Philosophy of George Berkeley. E. Sosa (ed.). Dordrecht, D. Reidel.
  • Bracken, H. M. (1965). The Early Reception of Berkeley's Immaterialism 1710-1733. The Hague, Martinus Nijhoff.
  • Campbell, J. (2002). Berkeley's Puzzle. In Conceivability and Possibility. T. S. Gendler and J. Hawthorne (eds.). Oxford, Oxford University Press: 127-143.
  • Chappell, V. (1994). Locke's theory of ideas. In The Cambridge Companion to Locke. V. Chappell (ed.). Cambridge, Cambridge University Press: 26-55.
  • Cummins, P. (1990). "Berkeley's Manifest Qualities Thesis." Journal of the History of Philosophy 28: 385-401.
  • Downing, L. (forthcoming). Berkeley's Natural Philosophy and Philosophy of Science. In The Cambridge Companion to Berkeley. K. P. Winkler (ed.). Cambridge, Cambridge University Press.
  • Fleming, N. (1985). "The Tree in the Quad." American Philosophical Quarterly 22: 22-36.
  • Gallois, A. (1974). "Berkeley's Master Argument." The Philosophical Review 83: 55-69.
  • Jesseph, D. (1993). Berkeley's Philosophy of Mathematics. Chicago, University of Chicago Press.
  • Lennon, T. M. (1988). "Berkeley and the Ineffable." Synthese 75: 231-250.
  • Locke, J. (1975). An essay concerning human understanding. Oxford, Clarendon Press.
  • Luce, A. A. (1963). The Dialectic of Immaterialism. London, Hodder & Stoughten.
  • Malebranche, N. (1980). The Search After Truth. Columbus, The Ohio State University Press.
  • McCracken, C. (1979). "What Does Berkeley's God See in the Quad?" Archiv fur Geschichte der Philosophie 61: 280-92.
  • McCracken, C. J. (1995). Godless Immaterialism: On Atherton's Berkeley. In Berkeley's Metaphysics: Structural, Interpretive, and Critical Essays. R. G. Muehlmann (ed.). University Park, Pennsylvania State University Press: 249-260.
  • McKim, R. (1997-8). "Abstraction and Immaterialism: Recent Interpretations." Berkeley Newsletter 15: 1-13.
  • Muehlmann, R. G. (1992). Berkeley's Ontology. Indianapolis, Hackett.
  • Nadler, S. (1998). Doctrines of Explanation in Late Scholasticism and in the Mechanical Philosophy. In The Cambridge History of Seventeenth-Century Philosophy. D. Garber and M. Ayers (eds.). Cambridge, Cambridge University Press. 1: 513-552.
  • Pappas, G. S. (2000). Berkeley's Thought. Ithaca, Cornell University Press.
  • Pitcher, G. (1977). Berkeley. London, Routledge.
  • Saidel, E. (1993). "Making Sense of Berkeley's Challenge." History of Philosophy Quarterly 10(4): 325-339.
  • Tipton, I. C. (1974). Berkeley: The Philosophy of Immaterialism. London, Methuen & Co Ltd.
  • Wilson, M. D. (1999). Ideas and mechanism: essays on early modern philosophy. Princeton, Princeton University Press.
  • Winkler, K. P. (1989). Berkeley: An Interpretation. Oxford, Clarendon Press.
  • Yolton, J. W. (1984). Perceptual Acquaintance from Descartes to Reid. Minneapolis, University of Minnesota Press.

Additional Selected Secondary Literature

  • Berman, D. (1994). George Berkeley: Idealism and the Man. Oxford, Clarendon Press.
  • Creery, W. E., Ed. (1991). George Berkeley: Critical Assessments. London, Routledge. 3 vols.
  • Fogelin, R. J. (2001). Berkeley and the Principles of Human Knowledge. London, Routledge.
  • Foster, J. and H. Robinson, Eds. (1985). Essays on Berkeley: A Tercentennial Celebration. Oxford, Clarendon Press.
  • Stoneham, T. (2002). Berkeley's World. Oxford, Oxford Univer

Rumah Kiri - Media Progresif Kaum Kiri Indonesia

http://rumahkiri.net

_PDF_POWERED

_PDF_GENERATED 8 November, 2007, 13:55


Page 2

sekalipun terus-menerus diserang dengan ganas sejak kelahirannya, teori Marxisme tentang perkembangan sosial telah

menjadi satu faktor penentu dalam perkembangan ilmu-ilmu sosial modern. Untuk bukti tentang kebugaran dan

keperkasaan teori ini, cukuplah kita melihat fakta bahwa serangan kepadanya bukan hanya berlanjut, tapi malah

semakin meningkat intensitasnya seiring dengan berjalannya waktu.

Di masa lalu, perkembangan ilmu pengetahuan, yang selalu terkait erat dengan perkembangan kekuatan produktif,

belumlah mencapai tingkat yang cukup tinggi untuk membuat orang sanggup memahami dunia yang mereka huni.

Karena ketiadaan satu pengetahuan yang ilmiah, atau alat material untuk menggapai pengetahuan itu, mereka terpaksa

menyandarkan diri pada satu-satunya alat milik mereka yang dapat membantu mereka untuk memahami dunia, dan

untuk dapat mengendalikannya - nalar manusia. Perjuangan untuk memahami dunia sangat dekat dengan perjuangan

umat manusia untuk melepaskan diri dari tingkatan kesadaran hewani, untuk menguasai kekuatan alam yang membabi-

buta itu dan untuk membebaskan diri dalam makna yang sejati, bukan legalistik. Perjuangan ini adalah benang merah

yang merajut seluruh rangkaian kesejarahan manusia.

Peran Agama

"Mahluk yang bernama Manusia itu agaknya gila. Ia mustahil dapat menciptakan seekor ulat sekalipun, tapi ia

menciptakan lusinan tuhan." (Montaigne)

"Semua mitologi mengatasi dan mendominasi dan membentuk kekuatan alam dalam imajinasi dan oleh karena

imajinasi; maka mitologi itu akan lenyap bersamaan dengan penguasaan sejati atas kekuatan-kekuatan alam itu." (Marx)

Hewan tidak memiliki agama, dan di masa lalu dikatakan bahwa itulah perbedaan utama antara manusia dan "mahluk

biadab". Tapi sebenarnya itu cuma cara lain untuk mengatakan bahwa hanya manusia yang memiliki kesadaran dalam

makna yang sepenuhnya. Di tahun-tahun terakhir, terdapatlah beberapa reaksi terhadap ide bahwa Manusia adalah

sebuah Ciptaan yang khusus dan unik. Sanggahan ini tepat, tak usah diragukan lagi, dalam makna bahwa manusia ber-

evolusi dari hewan, dan dalam banyak aspek, tetaplah hewani. Bukan hanya kita memiliki pula berbagai fungsi tubuh

yang sama dengan hewan-hewan lain, tapi perbedaan genetik antara manusia dan simpanse hanya dua persen saja. Ini

adalah jawaban yang keras terhadap hal-hal tidak masuk nalar yang dikemukakan para Kreasionis.

Riset-riset terbaru terhadap simpanse bonobo telah membuktikan tanpa keraguan lagi bahwa primata yang paling mirip

manusia itu sanggup melakukan aktivitas mental yang mirip dalam beberapa aspek dengan aktivitas mental seorang

anak kecil. Ini adalah bukti yang mengejutkan tentang hubungan kekerabatan antara manusia dan primata-primata

termaju, tapi kemiripannya hanya sampai di sini saja. Sekalipun para peneliti melakukan berbagai usaha, kera-kera

bonobo dalam kurungan itu tidak pernah dapat bicara atau menciptakan alat batu yang mirip dengan alat-alat primitif

yang dulu diciptakan nenek moyang manusia. Perbedaan genetik yang dua persen antara manusia dan simpanse

menandai lompatan kualitatif dari hewan menuju manusia. Hal ini dicapai, bukan oleh tangan suatu Pencipta, tapi dari

perkembangan otak yang didorong oleh kerja-kerja fisik.

Ketrampilan untuk membuat alat batu yang paling sederhana pun menuntut satu tingkat kemampuan mental dan

pemikiran abstrak yang amat tinggi. Kemampuan untuk memilih jenis batu yang tepat dan menolak jenis yang lain;

pemilihan sudut pukulan yang tepat untuk mengukir ujung batu menjadi tajam, dan penggunaan kekuatan pukulan yang

tepat agar batu itu tidak rusak - hal-hal ini adalah tindakan-tindakan yang menuntut intelektualitas yang sangat rumit.

Rangkaian tindakan ini menentut derajat perencanaan dan kemampuan memperkirakan masa depan yang tidak dapati

bahkan di tengah primata yang paling maju sekalipun. Sekalipun demikian, penggunaan dan pembuatan alat-alat batu

bukanlah hasil dari perencanaan yang sadar, tapi merupakan sesuatu yang dijejalkan ke dalam otak nenek moyang

manusia oleh kebutuhan-kebutuhan yang dihadapinya. Bukan kesadaran yang menghasilkan umat manusia, melainkan

desakan keadaan hidup manusia yang mendorong perbesaran ukuran otak, penciptaan kemampuan bicara dan

kebudayaan, termasuk agama.

Kebutuhan untuk memahami dunia terkait erat dengan kebutuhan untuk bertahan hidup. Mahluk-mahluk hominid

pertama, yang menemukan penggunaan keping-keping batu untuk memotong daging hewan yang berkulit tebal,

mendapat keuntungan yang sangat besar untuk bertahan hidup ketimbang mahluk-mahluk lain yang tidak sanggup

meraih sumber protein dan lemak yang luar biasa itu. Mereka yang sanggup menyempurnakan alat-alat batu mereka

dan sanggup mencari tempat yang menyediakan batu-batu terbaik akan memiliki kesempatan lebih besar untuk

bertahan hidup. Dengan perkembangan teknik itu, muncullah pula perkembangan nalar, dan kebutuhan untuk

menjelaskan berbagai gejala alam yang mengatur hidup mereka. Dalam jangka jutaan tahun, melalui trial and error,

nenek-moyang kita mulai menetapkan berbagai hubungan antar benda-benda. Mereka mulai membuat abstraksi, yaitu,

menggeneralisasi pengalaman dan praktek yang mereka temui sehari-hari.

Selama berabad-abad, pertanyaan mendasar dari filsafat adalah hubungan dari pemikiran terhadap keberadaan.

Kebanyakan orang hidup dengan cukup bahagia tanpa perlu memikirkan persoalan ini. Mereka berpikir dan bertindak,

bicara dan bekerja, tanpa secuilpun kesulitan. Lebih jauh lagi, mustahil bagi mereka untuk menganggap dua aktivitas

dasar manusia itu sebagai dua hal yang terpisah, karena dalam praktek keduanya saling tergantung satu sama lain.

Bahkan tindakan-tindakan yang paling sederhana, jika kita mengabaikan tindakan-tindakan yang didorong semata oleh

insting biologis, membutuhkan pemikiran. Sampai tingkat tertentu, hal ini benar bukan hanya untuk manusia tapi juga

Rumah Kiri - Media Progresif Kaum Kiri Indonesia

http://rumahkiri.net

_PDF_POWERED

_PDF_GENERATED 8 November, 2007, 13:55


Page 3

untuk hewan, seperti ketika seekor kucing bersembunyi untuk menyergap sang tikus. Di tengah manusia, walau

demikian, jenis pemikiran dan perencanaan yang dimilikinya memiliki karakter yang secara kualititatif lebih tinggi

daripada segala aktivitas mental hewan lain, bahkan dari kera-kera yang paling maju sekalipun.

Fakta ini terkait erat dengan kapasitas berpikir abstrak, yang memungkinkan manusia untuk melampaui kondisi-kondisi

mendesak yang dialaminya melalui indera-inderanya. Kita dapat menimbang situasi, bukan hanya yang terjadi di masa

lalu (hewan juga memiliki ingatan, seperti seekor anjing yang mengkerut seketika ia melihat sebatang tongkat) tapi juga

apa yang mungkin terjadi di masa depan. Kita dapat mengantisipasi situasi yang kompleks, merencanakan, dan dengan

demikian menentukan apa yang akan terjadi selanjutnya. Termasuk, sampai titik tertentu, menentukan nasib kita sendiri.

Sekalipun kita tidak biasanya berpikir tentang hal ini, sebenarnya ini adalah satu penaklukan mahabesar yang

membedakan umat manusia dari lain-lain mahluk. "Apa yang khas dari cara berpikir manusia," ujar Professor Gordon

Childe, "adalah bahwa cara itu menjelajah tempat yang luar biasa jauh dari situasi yang sedang dihadapi, dibandingkan

apapun yang dapat dipikirkan hewan tentang hal itu."[i] Dari kemampuan ini, lahirlah segala jenis ciptaan peradaban,

kebudayaan, kesenian, musik, literatur, ilmu pengetahun, filsafat dan agama. Kita juga menganggap wajar bahwa semua

itu tidak jatuh dari langit, melainkan satu hasil dari pengembangan selama jutaan tahun.

Filsuf Yunani, Anaxagoras (500-428 SM), dalam sebuah deduksi yang gemilang, menyatakan bahwa perkembangan

mental manusia tergantung dari terbebaskannya tangan. Dalam artikelnya yang penting, The Part Played by Labour in

the Transition from Ape to Man, Engels menunjukkan dengan rinci cara yang ditempuh oleh transisi ini. Ia membuktikan

bahwa posisi berdiri tegak, yang membebaskan tangan untuk kerja-kerja, bentuk tangan, dengan posisi ibu jari yang

berseberangan dengan jari lainnya, yang memungkinkan tangan manusia menggenggam dengan erat, adalah prakondisi

fisik yang dituntut untuk pembuatan alat-alat. Pembuatan alat ini, pada gilirannya, adalah perangsang utama untuk

perkembangan otak manusia. Kemampuan bicara itu sendiri, yang tidak terpisahkan dari pemikiran, muncul dari

kebutuhan untuk produksi sosial, kebutuhan untuk menjalankan berbagai fungsi kerja sama yang rumit. Teori-teori

Engels ini telah dibuktikan secara mencolok oleh penemuan-penemuan terbaru dalam bidang paleontologi, yang

menunjukkan bahwa kera-kera hominid muncul di Afrika jauh lebih dahulu dari apa yang diperkirakan sebelumnya, dan

mereka memiliki otak yang jauh lebih kecil dari simpanse modern. Maka dapat dikatakan bahwa perkembangan otak

muncul setelah dihasilkannya alat-alat batu, dan merupakan hasil dari proses penciptaan alat-alat itu. Jadi, tidaklah

benar bahwa "Pada awalnya adalah Sabda," tapi seperti yang dikemukakan oleh penyair Jerman, Goethe - "Pada

awalnya adalah Kerja."

Kemampuan untuk bergelut dengan pemikiran abstrak terkait erat dengan bahasa. Sejarawan ternama Gordon Childe

menyatakan:

"Nalar, dan segala yang kita sebut berpikir, termasuk proses berpikir seekor simpanse, harus menyertakan satu operasi

mental dengan apa yang disebut oleh para psikolog sebagai citra. Satu citra visual, satu gambaran mental dari,

katakanlah, sebuah pisang, selalu bergantung dari an akan sebuah pisang tertentu yang berada dalam sebuah

lingkungan tertentu. sebuah kata, seperti yang telah dijelaskan, adalah lebih umum dan abstrak, setelah menyingkirkan

kondisi-kondisi khusus yang membedakan satu pisang dengan pisang yang lain. Gambaran mental dari kata-kata

(gambaran dari bunyi atau gerakan otot yang dibutuhkan untuk mengutarakannya) membentuk satu tanggapan yang

merangsang proses berpikir. Berpikir dengan bantuan kata-kata, dengan demikian, mengandung persis kualitas

abstraksi dan generalisasi yang tidak dimiliki oleh proses berpikir hewan. Manusia dapat berpikir, dan juga bicara,

tentang kelas benda-benda yang dikenal sebagai 'pisang'; simpanse tidak pernah dapat berpikir lebih jauh dari 'pisang di

dalam kantung yang itu'. Dengan cara ini, alat sosial yang dinamakan bahasa berperan serta dalam apa yang secara

bombastis digambarkan sebagai 'emansipasi umat manusia dari keterikatan menuju kekongkritan'."[ii]

Manusia-manusia pertama, setelah jangka waktu yang panjang, membentuk ide umum tentang, katakanlah, sebatang

tanaman atau seekor hewan. Ide ini tumbuh dari pengamatan kongkrit terhadap berbagai tanaman atau hewan. Tapi

ketika kita tiba pada konsep umum "tanaman", kita tidak lagi melihat di hadapan kita tanaman ini atau itu secara khusus,

tapi apa yang jamak menjadi sifat umum di antara mereka. Kita menyerap makna hakikat tanaman, keberadaannya yang

paling mendasar. Bila dibandingkan dengan hakikat ini, ciri-ciri khusus dari tanaman tertentu dipandang sekunder dan

tidak stabil. Apa yang selalu ada dan universal terkandung dalam pandangan umum tentang tanaman. Kita tidak akan

pernah melihat "tanaman" seperti gambaran tertentu, seperti ketika kita menyebut satu jenis tanaman atau semak

tertentu. Konsep itu adalah abstraksi yang dilakukan oleh nalar manusia. Namun demikian, abstraksi itu justru

merupakan pernyataan yang lebih dalam dan lebih sejati tentang apa yang hakiki di dalam sifat tanaman setelah sifat-

sifat yang sekunder dilucuti daripadanya.

Walau demikian, abstraksi dari manusia-manusia pertama masih jauh dari watak-watak ilmiah. Abstraksi itu adalah

penjelajahan yang tentatif sifatnya, seperti kesan yang didapat anak-anak kecil - terkaan dan hipotesis, yang kadang

keliru, tapi selalu berani dan imajinatif. Bagi nenek-moyang kita tempo dulu, matahari adalah satu mahluk agung yang

kadang menghangatkan mereka, kadang membakar mereka. Bumi adalah seorang raksasa yang sedang tidur. Api

adalah hewan buas yang menggigit mereka ketika mereka menyentuhnya. Manusia-manusia pertama mengamati kilat

dan guntur. Kedua hal itu pasti menakutkan bagi mereka, seperti ketakutan yang masih dialami baik oleh hewan atau

manusia sampai sekarang. Tapi, tidak seperti hewan, manusia mencari satu penjelasan umum atas gejala-gejala itu.

Karena mereka tidak memiliki pengetahuan ilmiah, penjelasan itu niscaya akan berupa penjelasan yang supernatural -

Rumah Kiri - Media Progresif Kaum Kiri Indonesia

http://rumahkiri.net

_PDF_POWERED

_PDF_GENERATED 8 November, 2007, 13:55


Page 4

dewa-dewa tertentu, yang menghantam landasan tempa dengan palu godamnya. Bagi kita, penjelasan itu kelihatannya

lucu, seperti penjelasan naif yang diberikan oleh anak-anak kecil. Walau demikian, pada masa itu, penjelasan-

penjelasan itu adalah hipotesis yang sangat penting - satu upaya untuk menemukan satu sebab rasional dari gejala-

gejala termaksud. Penting untuk manusia agar dapat membedakan antara berbagai pengalaman hidup yang

dihadapinya, dan melihat sesuatu yang berdiri di luar pengalaman-pengalaman itu.

Bentuk yang paling berciri dari agama-agama pertama adalah animisme - pandangan bahwa segala hal, yang hidup

maupun yang tidak hidup, memiliki roh. Kita melihat reaksi yang sama dari seorang anak kecil ketika ia, setelah terbentur

pada sebuah meja, memukul meja itu. Dengan cara yang sama, manusia-manusia pertama, dan juga beberapa suku

tertentu sampai sekarang, akan memohon maaf pada pohon-pohon sebelum mereka menebangnya. Animisme berjaya

dalam satu masa ketika manusia masih belum terpisah jauh dari dunia hewan dan alam secara umum. Kedekatan

manusia pada dunia hewan dibuktikan oleh kesegaran dan keindahan dari gambar-gambar gua, di mana kuda, kijang

dan bison digambarkan dengan satu kealamian yang tidak akan pernah lagi dapat diguratkan oleh artis-artis modern.

Masa itu adalah masa kecil dari peradaban manusia, yang telah pergi dan tak akan kembali. Kita hanya dapat

membayangkan psikologi dari nenek-moyang jauh kita itu. Tapi, dengan menggabungkan penemuan-penemuan

paleontologi dengan antropologi, dimungkinkan bagi kita untuk merekonstruksi, setidaknya secara garis besar, dunia

yang telah memunculkan peradaban umat manusia itu.

Dalam studi antropologi klasiknya tentang asal-usul sihir dan agama, Sir James Frazer menulis:

"Seorang barbar hampir sama sekali tidak membuat pembedaan yang biasanya dibuat oleh orang-orang yang lebih maju

antara apa yang natural dan yang supernatural. Baginya, dunia ini secara umum digerakkan oleh unsur-unsur

supernatural, yaitu, oleh mahluk-mahluk yang digambarkan mirip manusia, yang bekerja dengan dorongan impuls dan

motif seperti yang dimilikinya, seperti dirinya juga tergerak oleh belas kasihan dan permohonan-permohonan, harapan

dan juga ketakutan. Dalam sebuah dunia yang digambarkan seperti itu, ia tidak melihat batasan bagi kekuatan ini untuk

mempengaruhi jalannya alam bagi keuntungannya sendiri. Doa-doa, janji-janji, atau ancaman-ancaman dapat

menjaminkan baginya cuaca yang baik dan panen yang melimpah sebagai berkat dewata; dan jika dewa-dewa sampai

menitis ke dalam dirinya, seperti yang kadang dipercaya demikian, maka ia tidak lagi perlu memohon pada sesuatu yang

lebih tinggi dari dirinya; ia, orang barbar itu, memiliki di dalam dirinya seluruh kekuatan yang diperlukan untuk

memajukan kesejahteraannya sendiri maupun bagi sesamanya."[iii]

Pandangan bahwa jiwa hadir terpisah dan tersendiri dari tubuh diwariskan dari masa paling lampau dari jaman

kebiadaban. Basis untuk pandangan itu sangatlah jelas. Ketika kita tidur, jiwa nampak meninggalkan tubuh dan

mengembara di dalam mimpi. Jika pandangan ini dikembangkan lebih jauh, kemiripan antara kematian dan tidur

("saudara kembar dari Kematian", seperti kata Shakespeare) menimbulkan ide bahwa jiwa akan terus hadir sesudah

kematian. Maka manusia-manusia pertama menyimpulkan bahwa terdapat sesuatu di dalam tubuh yang terpisah dari

tubuh itu sendiri. Inilah jiwa, yang menguasai tubuh, dan dapat melakukan segala macam hal yang luar biasa, bahkan

ketika tubuh sedang tertidur. Mereka juga mengamati bagaimana sabda-sabda kebijaksanaan diucapkan oleh para

tetua, dan menyimpulkan bahwa, sekalipun tubuh mati, jiwa akan terus hidup. Bagi orang-orang yang terbiasa dengan

ide-ide tentang migrasi, kematian dilihat sebagai migrasi jiwa, yang membutuhkan makanan dan peralatan lain untuk

perjalanannya.

Pada awalnya, roh tidak memiliki kediaman tertentu. Mereka hanya mengembara, biasanya membuat kekacauan, yang

memaksa semua yang hidup untuk menempuh berbagai kesulitan untuk menenangkan roh-roh itu. Di sini kita mendapati

asal-usul upacara-upacara keagamaan. Pada akhirnya, muncullah satu ide bahwa kita dapat memohon pula bantuan

dari para roh melalui doa-doa. Pada tingkatan ini, agama (sihir), seni dan ilmu tidak dibedakan satu sama lain. Karena

mereka tidak memiliki alat untuk benar-benar mengendalikan lingkungan mereka, manusia-manusia pertama mencoba

menundukkan lingkungan itu melalui penyatuan sihir dengan alam. Sikap manusia-manusia pertama terhadap dewa-

dewa dan pemujaan-pemujaan agaknya praktis. Doa-doa ditujukan untuk mendapatkan hasil. Seseorang akan membuat

gambar dengan tangannya lalu berlutut menyembah gambar itu. Tapi jika tindakan itu tidak membawa hasil ia akan

mengutuk gambar itu dan menginjak-injaknya. Jika permohonan tidak membawa hasil ia akan menggunakan kekerasan.

Dalam dunia aneh yang penuh dengan hantu dan mimpi ini, dunia agamawi ini, pemikiran-pemikiran primitif melihat

segala peristiwa sebagai karya dari roh yang tak kasat mata. Tiap semak dan aliran sungai dilihat sebagai mahluk yang

hidup, yang bersahabat atau bermusuhan. Tiap kejadian, tiap mimpi, rasa sakit atau sensasi, disebabkan oleh roh.

Penjelasan religius mengisi kekosongan yang disebabkan tiadanya penjelasan yang ilmiah tentang hukum-hukum alam.

Bahkan kematian tidak dilihat sebagai satu kejadian yang alami, melainkan sebagai satu akibat dari pelanggaran-

pelanggaran tertentu terhadap perintah dewata.

Selama sebagian besar masa keberadaan umat manusia, pikiran manusia terisi penuh dengan hal-hal semacam ini. Dan

bukan hanya dalam apa yang dianggap orang sebagai masyarakat primitif. Jenis tahyul yang sama terus hadir dalam

kedok yang agak berbeda saat ini. Di bawah tabir tipis peradaban merunduklah satu kecenderungan dan ide-ide

irasional primitif yang memiliki akar jauh di masa lalu, masa-masa yang telah lama terlupakan tapi belum sepenuhnya

ditinggalkan. Dan juga tidak akan sepenuhnya dapat ditinggalkan selama umat manusia masih belum berhasil

menegakkan kendali sepenuhnya atas kondisi kehidupannya sendiri.

Pembagian Kerja

Rumah Kiri - Media Progresif Kaum Kiri Indonesia

http://rumahkiri.net

_PDF_POWERED

_PDF_GENERATED 8 November, 2007, 13:55


Page 5

Frazer menunjukkan bahwa pembagian antara kerja-kerja fisik dan mental dalam masyarakat primitif, mau tidak mau,

terkait kepada pembentukan kasta pendeta, shaman (dukun) atau tukang sihir.

"Kemajuan sosial, seperti yang kita tahu, terutama terdiri dari berbagai pengkhususan fungsi yang terjadi berturutan,

atau, dalam bahasa yang lebih sederhana, pembagian kerja. Kerja-kerja yang dalam masyarakat primitif dikerjakan oleh

semua orang tanpa kecuali, termasuk oleh orang-orang yang tidak sanggup mengerjakan pekerjaan itu, semakin hari

semakin dibagi ke dalam berbagai kelas pekerja dan dikerjakan dengan semakin sempurna; jadi, selama hasil kerja

terspesialisasi itu, baik yang material atau imaterial, dimiliki bersama oleh semua orang, keseluruhan masyarakat masih

akan terus mendapat keuntungan yang semakin tinggi sejalan dengan meningkatnya spesialisasi. Kini, para tukang sihir

dan dukun kelihatannya menyusun kelas artifisial atau profesional pertama dalam evolusi masyarakat. Karena para

tukang sihir itu ditemui di berbagai suku primitif yang masih kita kenal saat ini; dan di antara masyarakat yang paling

primitif, seperti aborigin Australia, merekalah satu-satunya kelas profesional yang ada."[iv]

Dualisme yang memisahkan jiwa dari tubuh, nalar dari materi, pikiran dari perbuatan, mendapat impuls yang maha kuat

dari perkembangan pembagian kerja dalam tahap tertentu dari evolusi sosial. Pemisahan antara kerja-kerja fisik dan

mental adalah satu gejala yang terjadi berbarengan dengan pembagian masyarakat ke dalam kelas-kelas. Hal itu

menandai kemajuan besar dalam perkembangan umat manusia. Untuk pertama kalinya sekelompok kecil orang dalam

masyarakat terbebaskan dari keharusan untuk bekerja agar dapat memperoleh apa-apa yang dibutuhkannya untuk

bertahan hidup. Kepemilikan dari komoditas yang paling mahal harganya itu - waktu luang - berarti bahwa orang dapat

mengabdikan hidupnya kepada studi mengenai bintang-bintang. Seperti yang diterangkan oleh Ludwig Feuerbach, filsuf

materialis Jerman itu, ilmu pengetahuan teoritik dimulai dengan astrologi:

"Hewan hanya dapat memahami berkas-berkas sinar yang langsung mempengaruhi kehidupannya; sementara manusia

memberi tanggapan terhadap berkas-berkas sinar, yang sebenarnya tidak berbeda satu sama lain secara fisik, yang

datang dari bintang-bintang. Hanya Manusia yang memiliki kegembiraan dan gairah yang murni intelektual dan tanpa

kepentingan; hanya mata manusia yang dapat menangkap festival-festival teoritik. Mata yang menjelajah langit

berbintang, yang menantap sinar dari mereka, yang tidak mengandung kegunaan maupun bahaya, yang sama sekali

tidak ada hubungannya dengan segala yang di bumi dan apa yang dibutuhkan di sini - mata ini melihat dalam berkas-

berkas sinar itu karakternya sendiri, asal-usulnya sendiri. Mata itu dari sifat dasarnya terikat pada langit. Dengan

demikian manusia mengangkat dirinya terbang di atas bumi hanya dengan menggunakan matanya; dengan demikian

teori dimulai dengan perenungan atas langit. Para filsuf yang pertama adalah para ahli perbintangan."[v]

Sekalipun pada tahap awalnya ini teori masih tercampur-aduk dengan agama, dan kebutuhan dan kepentingan dari satu

kasta pendeta, perkembangan ini juga menandai kelahiran peradaban manusia. Hal ini telah disadari oleh Aristoteles,

yang menulis:

"Seni teoritik ini, lebih jauh lagi, diperkembangkan di tempat-tempat di mana manusia memiliki banyak waktu luang:

matematika, contohnya, berasal dari Mesir, di mana satu kasta pendeta menikmati waktu luang yang dibutuhkan untuk

memperkembangkannya."[vi]

Pengetahuan adalah sumber kekuatan. Di masyarakat manapun di mana seni, ilmu pengetahuan dan pemerintahan

dimonopoli oleh segelintir orang, kaum minoritas itu akan terus menggunakan dan menyalahgunakan kekuasaan di

tangannya itu demi kepentingannya sendiri. Meluapnya sungai Nil adalah persoalan hidup-mati bagi banyak orang, yang

hasil panennya bergantung dari tingkat luapan sungai itu. Kemampuan para pendeta Mesir untuk meramalkan,

berdasarkan pengamatan atas bintang-bintang, tentang kapan sungai Nil akan meluap pasti telah mengangkat tinggi

prestise dan kekuasaan yang mereka nikmati di dalam masyarakat. Seni menulis, penemuan yang paling dahsyat itu,

adalah satu rahasia yang dijaga maha ketat oleh kasta pendeta. Seperti yang menjadi komentar Ilya Prigogine dan

Isabelle Stenger:

"Orang-orang Sumeria menemukan tulisan; para pendeta Sumeria berspekulasi bahwa masa depan mungkin tertulis

dengan cara-cara rahasia dalam urutan terjadinya peristiwa-peristiwa pada masa kini. Mereka bahkan mensistematisir

kepercayaan itu, mencampurkan baik unsur-unsur sihir maupun rasional."[vii]

Pengembangan lebih jauh atas pembagian kerja menimbulkan jurang yang tak terseberangi antara kaum elit intelektual

dan mayoritas umat manusia, yang dikutuk untuk bekerja sepanjang hidup dengan kedua tangannya. Kaum intelektual,

baik para pendeta Babilonia maupun para teoritisi fisika di jaman modern ini, hanya mengenal satu jenis pekerjaan, kerja

mental. Setelah melalui puluhan milenia, superioritas kerja mental atas kerja fisik yang "kasar" menjadi semakin terukir

dan akhirnya membangun semacam kekuatan prasangka. Bahasa, kata-kata dan pemikiran akhirnya memperoleh

berkah kekuatan mistis. Kebudayaan menjadi monopoli dari kaum elit yang teristimewakan, yang dengan maha ketat

menjaga rahasia mereka, dan menggunakan dan menyalahgunakan posisi mereka demi kepentingan mereka sendiri.

Di masa lalu, aristokrasi intelektual tidak berupaya untuk menyembunyikan kejijikan mereka akan kerja-kerja fisik.

Kutipan berikut berasal dari teks Mesir yang dikenal sebagai The Satire on the Traders, yang ditulis sekitar tahun 2000

SM dan diperkirakan berisi nasehat dari seorang ayah kepada anaknya, yang ia kirim ke Sekolah Menulis untuk berlatih

Rumah Kiri - Media Progresif Kaum Kiri Indonesia

http://rumahkiri.net

_PDF_POWERED

_PDF_GENERATED 8 November, 2007, 13:55


Page 6

menjadi seorang juru tulis:

"Saya telah melihat bagaimana seorang pekerja kasar disuruh untuk bekerja kasar - kamu harus mengeraskan hati

kamu dalam mempelajari tulisan. Dan saya telah mengamati bagaimana seseorang dapat menghindari pekerjaannya

[sic!] - lihatlah, tidak sesuatupun yang dapat melebihi tulisan....

"Saya telah melihat bagaimana seorang pandai besi bekerja di depan mulut tungku apinya. Jari-jarinya menjadi mirip jari-

jari buaya; batu tubuhnya melebihi bau seekor ikan busuk....

"Seorang kuli pembangun rumah mengusung lumpur.... Ia lebih kotor dari seorang gelandangan atau babi karena ia

mengarungi lumpur. Bajunya kaku karena dilumuri tanah liat....

"Para pembuat anak panah, kasihan sekali nasibnya ketika ia harus berjalan mengarungi padang pasir [untuk mencari

batu-batu tajam]. Lebih agung apa yang ia berikan pada keledainya daripada apa yang setelah itu dikerjakannya ...

"Para pencuci pakaian mencuci di tepi sungai, bertetangga dengan buaya....

"Lihatlah, tidak ada pekerjaan yang tidak memiliki majikan - kecuali para juru tulis: ia adalah majikan....

"Lihatlah, tidak ada juru tulis yang kekurangan makan dari harta Istana Para Raja - kehidupan, kemakmuran, kesehatan!

... Ayah dan ibunya memuja para dewa, ia dibebaskan dari keharusan mencari penghidupan. Lihatlah hal-hal ini - saya

[telah menguraikannya] di hadapanmu dan anak-cucumu."[viii]

Sikap yang sama berkembang pula di tengah orang-orang Yunani:

"Apa yang disebut seni mekanik," kata Xenophon, "menanggung satu stigma sosial yang dengan tepat dicela di tengah

kota-kota kita, karena seni semacam ini merusak tubuh dari mereka yang bekerja di dalamnya atau yang bekerja

sebagai mandornya, karena kerja-kerja ini mengutuk mereka ke dalam hidup yang terikat dan kepada kehidupan

rumahan dan, pada beberapa kasus, untuk menghabiskan seluruh hari di depan tungku-tungku api. Pembusukan fisik itu

menghasilkan pula pembusukan dalam jiwa. Lebih jauh lagi, para pekerja dalam bidang-bidang ini tidak akan pernah

memiliki waktu untuk menjalankan kerja-kerja pemerintahan atau perkawanan. Sebagai akibatnya mereka dilihat sebagai

kawan yang buruk atau warga negara yang buruk, dan di beberapa kota, terutama yang gemar berperang, adalah hal

yang ilegal bagi seorang warga negara untuk terlibat dalam kerja-kerja mekanik."[ix]

Perceraian radikal antara kerja-kerja mental dan fisik memperdalam ilusi bahwa ide, pemikiran dan kata-kata memiliki

keberadaan yang mandiri. Pandangan yang keliru ini terpancang dalam jantung semua agama dan filsafat idealisme.

Bukanlah dewa yang menciptakan manusia seturut citranya, tapi, sebaliknya, manusialah yang menciptakan dewa-dewa

sesuai dengan citra dan keinginan mereka. Ludwig Feuerbach pernah berkata bahwa jika burung memiliki agama, Tuhan

mereka akan bersayap. "Agama adalah sebuah mimpi, di mana pandangan dan emosi kita muncul di hadapan kita

sebagai satu keberadaan yang mandiri, yang hadir di luar diri kita. Pemikiran religius tidaklah membedakan mana yang

subjektif, mana yang objektif - pemikiran itu tidak memiliki keraguan; ia memiliki berkah, bukan dalam kemampuan

memahami hal-hal lain di luar dirinya, tapi dalam melihat dirinya sesuai pandangannya sendiri sebagai satu keberadaan

yang khusus dan istimewa."[x] Hal ini juga dipahami oleh orang-orang semacam Xenophanes dari Colophon (565-c.470

SM), yang menulis "Homer dan Hesiod telah membebankan pada para dewa setiap tindakan yang memalukan dan tidak

terhormat di kalangan manusia: pencurian dan perjinahan dan penipuan satu di antara yang lain... Orang-orang Ethiopia

membuat dewa-dewa mereka berkulit hitam dan berhidung pesek, dan orang-orang Thracia membuat dewa-dewa

mereka bermata pucat dan berambut merah.... Jika hewan dapat melukis dan menciptakan benda-benda, kuda-kuda

dan sapi-sapi juga akan membuat dewa-dewa mereka sesuai dengan citra mereka sendiri."[xi]

Mitos tentang Penciptaan yang hidup di dalam hampir setiap agama selalu mengambil kisahnya dari kehidupan sehari-

hari, contohnya, citra seorang tukang keramik yang "menghidupkan" seonggok tanah liat tak berbentuk. Menurut

pendapat Gordon Childe, kisah Penciptaan dalam buku pertama Kejadian mencerminkan fakta bahwa, di Mesopotamia

daratan memang terpisah dari lautan "pada Awal Jaman," tapi bukan oleh sebuah karya ilahi:

"Daratan di mana kota-kota Babilonia yang agung itu didirikan telah secara harafiah diciptakan; pendahulu pra-sejarah

dari Erech yang tercantum di kitab-kitab suci mereka didirikan di atas semacam platform dari jerami, yang disusun silang-

menyilang di atas gundukan lumpur aluvial. Buku Kejadian kaum Yahudi telah mengakrabkan kita dengan tradisi yang

jauh lebih tua dari kondisi alami orang-orang Sumeria - satu keadaan 'chaos' di mana batas antara air dan tanah kering

masih terus maju-mundur. Satu insiden yang esensial dalam "Penciptaan" adalah pemisahan dari unsur-unsur ini. Walau

demikian, bukanlah para dewa, melainkan orang-orang Sumeria sendirilah yang menciptakan daratan; mereka menggali

saluran-saluran untuk mengairi ladang dan mengeringkan rawa; mereka membuat parit-parit dan gundukan-gundukan

untuk melindungi manusia dan ternak dari air dan menghindari banjir; mereka membuka rawa-rawa ganggang dan

menjelajah daratan di antara rawa-rawa itu. Kemampuan bertahan yang membuat ingatan akan perjuangan ini terus

hidup dalam tradisi Sumeria adalah satu ukuran akan beratnya perjuangan yang dihadapi oleh orang-orang Sumeria

Rumah Kiri - Media Progresif Kaum Kiri Indonesia

http://rumahkiri.net

_PDF_POWERED

_PDF_GENERATED 8 November, 2007, 13:55


Page 7

kuno. Imbalan bagi mereka adalah satu jaminan akan pasokan bahan makanan bergizi, panen yang melimpah dari

ladang yang telah mereka rebut dari air, dan ladang penggembalaan yang subur bagi ternak dan piaraan mereka."[xii]

Upaya pertama Manusia untuk menjelaskan dunia ini dan posisinya di dalamnya bercampur aduk dengan mitologi.

Orang-orang Babilonia percaya bahwa dewa Marduk menciptakan Keteraturan dari Kekacauan, memisahkan daratan

dari air, langit dari bumi. Mitos Penciptaan biblikal ini diambil-alih oleh orang Yahudi dari tangan orang Babilonia, dan di

kemudian hari jatuh ke tangan orang Kristen. Sejarah sejati dari pemikiran ilmiah dimulai ketika orang-orang mulai

menyingkirkan mitologi, dan mencoba untuk memperoleh satu pemahaman yang rasional atas alam, tanpa campur-

tangan dewa-dewa. Baru setelah itulah, perjuangan sejati untuk emansipasi umat manusia dari belenggu-belenggu

material dan spiritual dapat dimulai.

Munculnya filsafat merupakan wakil satu revolusi sejati dalam pemikiran manusia. seperti kebanyakan peradaban

modern, kita berhutang budi pada orang-orang Yunani kuno untuk hal itu. Walaupun kemajuan-kemajuan besar dicapai

pula oleh orang-orang India dan Tiongkok, dan juga kemudian orang-orang Arab, orang-orang Yunanilah yang

mengembangkan filsafat dan ilmu pengetahuan sampai tingkatan yang tertinggi sebelum terjadinya Renaisans (Jaman

Pencerahan). Sejarah pemikiran Yunani dalam masa empat ratus tahun, sejak pertengahan abad ke-7 SM, mengandung

satu dari bagian-bagian yang terpenting dalam kitab sejarah umat manusia.

Materialisme dan Idealisme

Seluruh sejarah filsafat dari jaman Yunani sampai hari ini tersusun atas pergulatan antara dua aliran pemikiran yang

persis berseberangan - materialisme dan idealisme. Di sini kita mendapati satu contoh yang sempurna tentang

bagaimana kedua istilah yang dipergunakan dalam filsafat ini berbeda makna secara hakiki dengan maknanya yang

dipergunakan sehari-hari.

Ketika kita merujuk seseorang sebagai "idealis", kita biasanya berpikir tentang seseorang yang memiliki ideal-ideal yang

tinggi dan moralitas yang tak bercacat. Seorang materialis, sebaliknya, dipandang sebagai seorang yang tidak punya

prinsip, seorang pengeruk uang, seorang individualis yang hanya memikirkan diri sendiri, dengan nafsu serakah untuk

makanan dan benda-benda duniawi lain - pendeknya, seorang yang sama sekali tidak menyenangkan.

Kedua pemaknaan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan materialisme dan idealisme di dunia filsafat. Dalam

makna filosofis, idealisme memiliki akar dari pandangan bahwa dunia ini hanyalah cerminan dari ide, pikiran, roh atau,

lebih tepatnya Ide, yang hadir sebelum segala dunia ini hadir. Benda-benda material kasar yang kita kenal melalui indera

kita, menurut aliran ini, hanyalah salinan yang kurang sempurna dari Ide yang sempurna itu. Para pendukung filsafat ini

yang paling konsisten sepanjang sejarah kuno adalah Plato. Walau demikian, ia bukan merupakan pencipta idealisme,

yang telah lahir sebelum jamannya.

Para pengikut Pythagoras percaya bahwa hakikat dari segala hal adalah Angka (satu pandangan yang agaknya dimiliki

pula oleh beberapa ahli matematika modern). Para Pythagorean ini menunjukkan penghinaan terhadap dunia material

secara umum dan tubuh manusia secara khusus, yang mereka pandang sebagai penjara di mana jiwa terperangkap.

Pandangan ini memiliki kemiripan yang mengejutkan dengan pandangan-pandangan para biarawan abad pertengahan.

Benar, mungkin saja bahwa Gereja mengambil banyak ide mereka dari kaum Pythagorean, Platonis dan Neo-Platonis.

Hal ini tidaklah mengejutkan. Semua agama niscaya memiliki akar dalam pandangan idealis terhadap dunia.

Perbedaannya adalah bahwa agama mempengaruhi emosi, dan mengaku menyediakan satu pemahaman yang mistis

dan intuitif terhadap dunia ("Penglihatan"), sementara kebanyakan filsuf idealis berupaya menyajikan satu argumen yang

logis untuk teori-teori mereka.

Pada dasarnya, bagaimanapun juga, akar dari segala bentuk idealisme adalah religius dan mistis. Kejijikan terhadap

"dunia material kasar" dan pengangkatan "Ide" ke posisi yang tinggi mengalir langsung dari gejala yang telah kita lihat

dalam hubungannya dengan agama. Bukanlah sebuah kebetulan jika idealisme Platonis berkembang di Athena ketika

sistem perbudakan sedang berada dalam puncak kejayaannya. Kerja-kerja fisik, pada saat itu, dilihat secara harafiah

sebagai sebuah penanda perbudakan. Satu-satunya kerja yang dapat dihargai adalah kerja-kerja intelektual. Secara

hakiki, filsafat idealisme adalah satu produk dari pembedaan yang ekstrim antara kerja-kerja fisik dan mental yang telah

hadir dari sejak menyingsingnya fajar sejarah sampai hari ini.

Sejarah filsafat Barat, walau demikian, tidak dimulai dengan idealisme melainkan dengan materialisme. Filsafat ini

menunjukkan kepada kita persis kebalikan dari idealisme: bahwa dunia material, yang kita kenal dan jelajahi melalui ilmu

pengetahuan, nyata adanya; bahwa satu-satunya dunia yang nyata adalah dunia material; bahwa pikiran, ide, dan

perasaan adalah hasil dari materi yang terorganisir dalam cara tertentu (sistem syaraf dan otak); bahwa pikiran tidak

dapat hadir dari dirinya sendiri, tapi hanya dapat timbul dari dunia objektif yang menyatakan dirinya kepada kita melalui

alat-alat indera kita.

Para filsuf Yunani yang paling awal dikenal sebagai "hylozois" (dari bahasa Yunani, yang berarti "mereka yang percaya

bahwa materi itu hidup"). Di sini kita mendapati sederetan panjang pahlawan yang mempelopori perkembangan

pemikiran. Orang-orang Yunani menemukan bahwa dunia itu bulat, jauh sebelum Columbus. Mereka menerangkan

bahwa manusia berevolusi dari ikan jauh sebelum Darwin. Mereka membuat penemuan-penemuan luar biasa dalam

Rumah Kiri - Media Progresif Kaum Kiri Indonesia

http://rumahkiri.net

_PDF_POWERED

_PDF_GENERATED 8 November, 2007, 13:55


Page 8

bidang matematik, yang tak diubah banyak selama satu setengah milenia. Mereka menemukan mekanika dan bahkan

membuat satu mesin uap. Hal baru yang mengejutkan dalam cara memandang dunia ini adalah bahwa cara itu tidaklah

religius. Berseberangan mutlak dengan orang-orang Mesir dan Babilonia, dari mana mereka banyak belajar, orang-orang

Yunani tidaklah menyerahkan penjelasan atas gejala alam kepada para dewa dan dewi. Untuk pertama kalinya, manusia

mencoba bekerjanya alam murni dengan mempelajari alam itu sendiri. Ini adalah satu dari titik balik terbesar dalam

seluruh sejarah perkembangan pemikiran manusia. Ilmu pengetahuan yang sejati bermula di sini.

Aristoteles, yang terbesar dari seluruh filsuf jaman kuno, dapat dianggap seorang materialis, sekalipun ia tidaklah

sekonsisten para hylozois pertama. Ia membuat serangkaian penemuan ilmiah yang merupakan basis bagi pencapaian-

pencapaian besar sepanjang masa-masa Alexander.

Abad pertengahan yang menyusul runtuhnya Jaman Kuno adalah satu padang tandus di mana pemikiran ilmiah berdiri

terkucil selama berabad-abad. Bukan satu kebetulan bahwa masa ini didominasi oleh Gereja. Idealisme adalah satu-

satunya filsafat yang diperbolehkan, apakah itu dalam bentuk Platonis karikatural atau bahkan, lebih buruk lagi, satu

penyimpangan atas filsafat Aristoteles.

Ilmu pengetahuan muncul kembali dengan jaya dalam masa Jaman Pencerahan. Di sana ia dipaksa untuk melancarkan

perang yang ganas terhadap pengaruh agama (bukan hanya Katolik, melainkan juga Protestan). Banyak martir yang

harus membayar harga kebebasan ilmiah dengan nyawanya sendiri. Giordano Bruno dibakar hidup-hidup di tiang

bakaran. Galileo dua kali diadili oleh Pengadilan Inkuisisi, dan dipaksa dengan siksaan untuk meyangkal pandangan-

pandangannya.

Kecenderungan filosofis yang dominan dalam Jaman Pencerahan adalah materialisme. Di Inggris, kecenderungan ini

mengambil bentuk empirisisme, aliran pemikiran yang menyatakan bahwa semua pengetahuan merupakan turunan dari

perasaan inderawi. Pelopor dari aliran ini adalah Francis Bacon (1561-1626), Thomas Hobbes (1588-1679) dan John

Locke (1632-1704). Aliran materialis berkisar dari Inggris ke Perancis di mana ia memperoleh satu suntikan isi

revolusioner. Di tangan Diderot, Rousseau, Holbach, dan Helvetius, filsafat menjadi satu alat untuk mengkritisi seluruh

tatanan masyarakat yang ada. Para pemikir besar ini menyiapkan jalan untuk penggulingan revolusioner atas monarki

feudal di tahun 1789-93.

Pandangan filosofis yang baru ini merangsang perkembangan ilmu pengetahuan, mendorong dilakukannya percobaan-

percobaan dan pengamatan-pengamatan. Di abad ke-18 terjadilah satu kemajuan yang luar biasa dalam ilmu

pengetahuan, terutama di bidang mekanika. Tapi fakta ini memiliki sisi negatif, seiring dengan sisi positifnya.

Materialisme lama di abad ke-18 bersifat sempit dan kaku, suatu cerminan dari perkembangan ilmu pengetahuan yang

masih terbatas. Newton menyatakan batasan empirisisme dalam kalimatnya yang terkenal, "Saya tidak membuat

hipotese apapun." Pandangan mekanis yang sepihak ini akhirnya terbukti fatal bagi materialisme lama. Secara

paradoks, perkembangan terbesar dalam filsafat setelah 1700 justru dibuat oleh para filsuf idealis.

Di bawah pengaruh revolusi Perancis, filsuf idealis Jerman Immanuel Kant (1724-1804) meletakkan semua filsafat yang

hadir sebelum jamannya ke bawah hujan badai kritisisme. Kant membuat penemuan-penemuan penting bukan hanya

dalam filsafat dan logika tapi juga dalam bidang ilmu pengetahuan. Hipetesisnya tentang asal-usul alam semesta yang

diperkirakannya berasal dari kabut gas nebula (yang kemudian diberi basis matematik oleh Laplace) sekarang secara

umum diterima sebagai kebenaran. Di bidang filsafat, adikarya Kant The Critique of Pure Reason adalah karya pertama

yang menganalisa bentuk-bentuk logika yang telah tinggal tak berubah setelah bentuk-bentuk itu dirumuskan pertama

kali oleh Aristoteles. Kant menunjukkan kontradiksi yang secara implisit terdapat dalam kebanyakan proposisi mendasar

filsafat. Walau demikian, ia gagal menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi ini ("Antinomi"), dan akhirnya menarik

kesimpulan bahwa mustahil kita mendapatkan kebenaran yang sejati tentang alam semesta. Walau kita dapat

mengetahui apa yang nampak, kita tidak akan pernah tahu "apa yang ada di dalamnya".

Ide ini bukanlah sesuatu yang baru. Ide ini adalah tema yang telah berulang berkali-kali dalam sejarah filsafat, dan

merupakan apa yang dikenal dengan istilah idealisme subjektif. Ini dikemukakan sebelum Kant oleh seorang uskup dan

filsuf dari Irlandia, George Berkeley, dan digemakan juga oleh empirisis klasik Inggris, David Hume. Argumen dasarnya

dapat diringkaskan sebagai berikut: "Saya menginterpretasi dunia melalui indera saya. Dengan demikian, semua yang

saya tahu benar-benar ada adalah citra yang ditangkap oleh indera saya. Dapatkah saya, contohnya, bersumpah bahwa

sebuah apel benar-benar ada? Tidak. Apa yang saya dapat katakan adalah saya melihatnya, saya merasakannya, saya

menciumnya, saya mengecapnya. Dengan demikian, saya tidak dapat benar-benar menyatakan bahwa dunia material

benar-benar ada." Logika dari idealisme subjektif adalah bahwa, jika saya menutup mata saya, dunia ini akan

menghilang. Pada ujungnya, filsafat ini akan membawa kita pada solipisme (dari bahasa Latin "solo ipsus" - "saya

sendiri"), ide bahwa hanya saya sendiri yang ada, yang lain tidak ada.

Ide ini mungkin tidak masuk nalar bagi kita, tapi mereka telah terbukti tetap bertahan. Melalui satu atau lain cara,

prasangka idealisme subjektif telah merasuki bukan hanya filsafat tapi juga ilmu pengetahuan, bahkan pada sebagian

besar abad ke-20. Kita akan melihat kecenderungan ini lebih lanjut di belakang.

Terobosan terbesar datang dalam dekade pertama abad ke-19 melalui George Wilhelm Hegel (1770-1831). Hegel

Rumah Kiri - Media Progresif Kaum Kiri Indonesia

http://rumahkiri.net

_PDF_POWERED

_PDF_GENERATED 8 November, 2007, 13:55


Page 9

adalah seorang filsuf idealis Jerman, seorang yang kejeniusannya menjulang setinggi langit, yang dengan efektif telah

meringkas dalam tulisannya seluruh kesejarahan filsafat.

Hegel menunjukkan bahwa satu-satunya cara untuk mengatasi "Antinomi" Kant adalah dengan menerima bahwa

kontradiksi itu benar-benar ada, bukan hanya dalam pemikiran, tapi juga dalam dunia nyata. Sebagai seorang idealis

objektif, Hegel tidak mempedulikan argumen kaum idealis subjektif bahwa pikiran manusia tidak mungkin memahami

dunia nyata. Bentuk-bentuk pikiran harus mencerminkan dunia objektif semirip mungkin. Proses pengetahuan

mengandung satu penetrasi yang semakin lama semakin dalam menerobos realitas, maju dari yang abstrak ke yang

kongkrit, dari yang diketahui ke yang tidak diketahui, dari yang khusus menuju yang umum.

Metode berpikir yang dialektik ini telah memainkan satu peran besar di Jaman Kuno, khususnya dalam ujar-ujar yang

naif tapi brilian dari Heraclitus (c. 500 SM), tapi juga dalam pemikiran Aristoteles dan yang lain-lain. metode ini

ditinggalkan di Abad Pertengahan, ketika Gereja mengubah logika formal Aristoteles menjadi dogma yang kaku dan

mati. Metode ini tidak muncul-muncul lagi sampai Kant mengembalikannya ke tempat yang terhormat. Walau demikian,

dalam filsafat Kant dialektika tidaklah menerima perlakuan yang cukup untuk memperkembangkannya. Tugas untuk

membawa ilmu berpikir dialektik ke tingkat perkembangannya yang tertinggi jatuh ke tangan Hegel.

Kebesaran Hegel ditunjukkan oleh fakta bahwa hanya dia sendiri yang siap menantang filsafat mekanisme yang

dominan pada masa itu. Filsafat dialektika Hegel mengurusi proses, bukan hal-hal yang saling terisolasi satu sama lain.

Filsafat itu mengurusi segala hal dalam masa kehidupannya, bukan dalam kematiannya, dalam kesalingterhubungannya,

bukan dalam kesalingterpisahannya. Ini adalah cara memandang dunia yang benar-benar modern dan ilmiah.

Sesungguhnya, dalam banyak aspek, Hegel maju jauh lebih dahulu dari jamannya. Walau demikian, sekalipun ia

memiliki pandangan yang sering gemilang, filsafat Hegel pada akhirnya tidaklah cukup memuaskan. Kekurangannya

yang utama adalah sudut pandangnya yang idealis, yang menghalanginya dalam menerapkan metode dialektika pada

dunia nyata dengan cara yang ilmiah dan konsisten. Bukannya mendapat dunia material, kita malah mendapat dunia Ide

Absolut, di mana benda-benda nyata, proses dan manusia digantikan oleh bayangan-bayangan tak berbentuk. Mengutip

Frederick Engels, dialektika Hegelian adalah filsafat yang paling abortif [gugur sebelum waktunya, pen.] sepanjang

sejarah filsafat. Ide-ide yang tepat di sini terlihat berdiri di atas kepala mereka sendiri. Untuk menempatkan dialektika di

atas pondasi yang kukuh, sangatlah penting untuk memutarbalikkan filsafat Hegel, untuk mengubah dialektika idealis

menjadi materialisme dialektik. Yang ini adalah pencapaian besar dari Karl Marx dan Frederick Engels. Studi kita dimulai

dengan satu ulasan ringkas tentang hukum-hukum dasar materialisme dialektik yang mereka kemukakan.

Catatan [i] Gordon Childe, What Happened in History, p. 19.

[ii] Ibid., pp. 19-20.

[iii] Sir James Frazer, The Golden Bough, p. 10.

[iv] Ibid., p. 105.

[v] Ludwig Feuerbach, The Essence of Christianity, p. 5.

[vi] Aristoteles, Metaphysics, p. 53.

[vii] I. Prigogine dan I. Stengers, Order Out of Chaos, Man's New Dialogue with Natu

SEKlLAS PANDANG TENTANG ALlRAN FILSAFAT MODERN

Dra.Erika Revida

Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik

Universitas Sumatera Utara

SEKlLAS PANDANG TENTANG ALlRAN FILSAFAT MODERN

I. IDEALISME

a. Pengertian Pokok.

Idealisme adalah suatu ajaran/faham atau aliran yang menganggap bahwa

realitas ini terdiri atas roh-roh (sukma) atau jiwa. ide-ide dan pikiran atau yang

sejenis dengan i tu.

b. Perkembangan Idealisme.

Aliran ini merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangan

sejarah pikiran manusia. Mula-mula dalam filsafat Barat kita temui dalam bentuk

ajaran yang murni dari Plato. yang menyatakan bahwa alam, cita-cita itu adalah

yang merupakan kenyataan sebenarnya. Adapun alam nyata yang menempati ruang

ini hanyalah berupa bayangan saja dari alam idea itu.

Aristoteles memberikan sifat kerohanian dengan ajarannya yang

menggambarkan alam ide sebagai sesuatu tenaga (entelechie) yang berada dalam

benda-benda dan menjalankan pengaruhnya dari benda itu. Sebenarnya dapat

dikatakan sepanjang masa tidak pernah faham idealisme hilang sarna sekali. Di

masa abad pertengahan malahan satu-satunya pendapat yang disepakati oleh

semua ahli pikir adalah dasar idealisme ini.

Pada jaman Aufklarung ulama-ulama filsafat yang mengakui aliran serba dua

seperti Descartes dan Spinoza yang mengenal dua pokok yang bersifat kerohanian

dan kebendaan maupun keduanya mengakui bahwa unsur kerohanian lebih penting

daripada kebendaan.

Selain itu, segenap kaum agama sekaligus dapat digolongkan kepada

penganut Idealisme yang paling setia sepanjang masa, walaupun mereka tidak

memiliki dalil-dalil filsafat yang mendalam. Puncak jaman Idealiasme pada masa

abad ke-18 dan 19 ketika periode Idealisme. Jerman sedang besar sekali

pengaruhnya di Eropah.

C. Tokoh-tokohnya.

1. Plato (477 -347 Sb.M)

2. B. Spinoza (1632 -1677)

3. Liebniz (1685 -1753)

4. Berkeley (1685 -1753)

5. Immanuel Kant (1724 -1881)

6. J. Fichte (1762 -1814)

7. F. Schelling (1755 -1854)

8. G. Hegel (1770 -1831)

II. MATERIALISME

a. Pengertian Pokok.

Materialisme merupakan faham atau aliran yang menganggap bahwa dunia

ini tidak ada selain materi atau nature (alam) dan dunia fisik adalah satu.


Page 2

© 2003 Digited by USU Digital Library

2

b. Perkembangan Materialisme.

Pada abad pertama masehi faham Materialisme tidak mendapat tanggapan

yang serius, bahkan pada abad pertengahan, orang menganggap asing terhadap

faham Materialisme ini. Baru pada jaman Aufklarung (pencerahan), Materialisme

mendapat tanggapan dan penganut yang penting di Eropah Barat.

Pada abad ke-19 pertengahan, aliran Materialisme tumbuh subur di Barat.

Faktir yang menyebabkannya adalah bahwa orang merasa dengan faham

Materialisme mempunyai harapan-harapan yang besar atas hasil-hasil ilmu

pengetahuan alam. Selain itu, faham Materialisme ini praktis tidak memerlukan dalil-

dalil yang muluk-muluk dan abstrak, juga teorinya jelas berpegang pada kenyataan-

kenyataan yang jelas dan mudah dimengerti.

Kemajuan aliran ini mendapat tantangan yang keras dan hebat dari kaum

agama dimana-mana. Hal ini disebabkan bahwa faham Materialisme ini pada abad

ke-19 tidak mengakui adanya Tuhan (atheis) yang sudah diyakini mengatur budi

masyarakat. Pada masa ini, kritikpun muncul di kalangan ulama-ulama barat yang

menentang Materialisme.

Adapun kritik yang dilontarkan adalah sebagai berikut :

1. Materialisme menyatakan bahwa alam wujud ini terjadi dengan sendirinya dari

khaos (kacau balau). Padahal kata Hegel. kacau balau yang mengatur bukan lagi

kacau balau namanya.

2. Materialisme menerangkan bahwa segala peristiwa diatur oleh hukum alam.

padahal pada hakekatnya hukum alam ini adalah perbuatan rohani juga.

3. Materialisme mendasarkan segala kejadian dunia dan kehidupan pada asal benda

itu sendiri. padahal dalil itu menunjukkan adanya sumber dari luar alam itu

sendiri yaitu Tuhan.

4. Materialisme tidak sanggup menerangkan suatu kejadian rohani yang paling

mendasar sekalipun.

c. Tokoh-tokohnya.

1. Anaximenes ( 585 -528)

2. Anaximandros ( 610 -545 SM)

3. Thales ( 625 -545 SM)

4. Demokritos (kl.460 -545 SM)

5. Thomas Hobbes ( 1588 -1679)

6. Lamettrie (1709 -1715)

7. Feuerbach (1804 -1877)

8. H. Spencer (1820 -1903)

9. Karl Marx (1818 -1883)

III. DUALISME

a. Pengertian Pokok.

Dualisme adalah ajaran atau aliran/faham yang memandang alam ini terdiri

atas dua macam hakekat yaitu hakekat materi dan hakekat rohani. Kedua macam

hakekat itu masing-masing bebas berdiri sendiri, sama azazi dan abadi.

Perhubungan antara keduanya itu menciptakan kehidupan dalam alam Contoh yang

paling jelas tentang adanya kerja sama kedua hakekat ini adalah terdapat dalam diri

manusia.

b. Tokoh-tokohnya.

1. Plato (427 -347 Sb.H)

2. Aristoteles (384 -322 Sb.H)

3. Descartes (1596 -1650)

4. Fechner (1802 -1887)


Page 3

© 2003 Digited by USU Digital Library

3

5. Arnold Gealinex

6 .Leukippos

7. Anaxagoras

8. Hc. Daugall

9. A. Schopenhauer (1788 -1860)

IV. EMPIRISME

a. Pengertian Pokok

Empirisme berasal dari kata Yunani yaitu "empiris" yang berarti pengalaman

inderawi. Oleh karena itu empirisme dinisbatkan kepada faham yang memilih

pengalaman sebagai sumber utama pengenalanan

dan yang dimaksudkan

dengannya adalah baik pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun

pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia. Pada dasarnya Empirisme

sangat bertentangan dengan Rasionalisme. Rasionalisme mengatakan bahwa

pengenalan yang sejati berasal dari ratio, sehingga pengenalan inderawi merupakan

suatu bentuk pengenalan yang kabur. sebaliknya Empirisme berpendapat bahwa

pengetahuan berasal dari pengalaman sehingga pengenalan inderawi merupakan

pengenalan yang paling jelas dan sempurna.

Seorang yang beraliran Empirisme biasanya berpendirian bahwa pengetahuan

didapat melalui penampungan yang secara pasip menerima hasil-hasil penginderaan

tersebut. Ini berarti semua pengetahuan betapapun rumitnya dapat dilacak kembali

dan apa yang tidak dapat bukanlah ilmu pengetahuan. Empirisme radikal

berpendirian bahwa semua pengetahuan dapat dilacak sampai kepada pengalaman

inderawi dan apa yang tidak dapat dilacak bukan pengetahuan. Lebih lanjut

penganut Empirisme mengatakan bahwa pengalaman tidak lain akibat suatu objek

yang merangsang alat-alat inderawi, kemudian di dalam otal dipahami dan akibat

dari rangsangan tersebut dibentuklah tanggapan-tanggapan mengenai objek yang

telah merangsang alat-alat inderawi tersebut.

Empirisme memegang peranan yang amat penting bagi pengetahuan, malah

barangkali merupakan satu-satunya sumber dan dasar ilmu pengetahuan menurut

penganut Empirisme. Pengalaman inderawi sering dianggap sebagai pengadilan yang

tertinggi.

b. Tokoh-tokohnya.

1. Francis Bacon (1210 -1292)

2. Thomas Hobbes ( 1588 -1679)

3. John Locke ( 1632 -1704)

4. George Berkeley ( 1665 -1753)

5. David Hume ( 1711 -1776)

6. Roger Bacon ( 1214 -1294)

V. RASIONALISME.

a. Pengertian Pokok.

Rasionalisme adalah merupakan faham atau aliran atau ajaran yang

berdasarkan ratio, ide-ide yang masuk akal.Selain itu, tidak ada sumber kebenaran

yang hakiki.

Zaman Rasionalisme berlangsung dari pertengahan abad ke XVII sampai

akhir abad ke XVIII. Pada zaman ini hal yang khas bagi ilmu pengetahuan adalah

penggunaan yang eksklusif daya akal budi (ratio) untuk menemukan kebenaran.

Ternyata, penggunaan akal budi yang demikian tidak sia-sia, melihat tambahan ilmu

pengetahuan yang besar sekali akibat perkembangan yang pesat dari ilmu-ilmu

alam. Maka tidak mengherankan bahwa pada abad-abad berikut orang-orang yang

terpelajar Makin percaya pada akal budi mereka sebagai sumber kebenaran tentang


Page 4

© 2003 Digited by USU Digital Library

4

hidup dan dunia. Hal ini menjadi menampak lagi pada bagian kedua abad ke XVII

dan lebih lagi selama abad XVIII antara lain karena pandangan baru terhadap dunia

yang diberikan oleh Isaac Newton (1643 -1727). Berkat sarjana geniaal Fisika

Inggeris ini yaitu menurutnya Fisika itu terdiri dari bagian-bagian kevil (atom) yang

berhubungan satu sama lain menurut hukum sebab akibat. Semua gejala alam harus

diterangkan menurut jalan mekanis ini. Harus diakui bahwa Newton sendiri memiliki

suatu keinsyafan yang mendalam tentang batas akal budi dalam mengejar

kebenaran melalui ilmu pengetahuan. Berdasarkan kepercayaan yang makin kuat

akan kekuasaan akal budi lama kelamaan orang-orang abad itu berpandangan dalam

kegelapan. Baru dalam abad mereka menaikkan obor terang yang menciptakan

manusia dan masyarakat modern yang telah dirindukan, karena kepercayaan itu

pada abad XVIII disebut juga zaman Aufklarung (pencerahan).

b. Tokoh-tokohnya

1. Rene Descartes (1596 -1650)

2. Nicholas Malerbranche (1638 -1775)

3. B. De Spinoza (1632 -1677 M)

4. G.W.Leibniz (1946-1716)

5. Christian Wolff (1679 -1754)

6. Blaise Pascal (1623 -1662 M)

VI.FENOMENALISME

a. Pengertian Pokok.

Secara harfiah Fenomenalisme adalah aliran atau faham yang menganggap

bahwa Fenomenalisme (gejala) adalah sumber pengetahuan dan kebenaran.

Seorang Fenomenalisme suka melihat gejala. Dia berbeda dengan seorang ahli ilmu

positif yang mengumpulkan data, mencari korelasi dan fungsi, serta membuat

hukum-hukum dan teori. Fenomenalisme bergerak di bidang yang pasti. Hal yang

menampakkan dirinya dilukiskan tanpa meninggalkan bidang evidensi yang

langsung. Fenomenalisme adalah suatu metode pemikiran, "a way of looking at

things".

Gejala adalah aktivitas, misalnya gejala gedung putih adalah gejala

akomodasi, konvergensi, dan fiksasi dari mata orang yang melihat gedung itu, di

tambah aktivitas lain yang perlu supaya gejala itu muncul. Fenomenalisme adalah

tambahan pada pendapat Brentano bahwa subjek dan objek menjadi satu secara

dialektis. Tidak mungkin ada hal yang melihat. Inti dari Fenomenalisme adalah tesis

dari "intensionalisme" yaitu hal yang disebut konstitusi.

Menurut Intensionalisme (Brentano) manusia menampakkan dirinya sebagai

hal yang transenden, sintesa dari objek dan subjek. Manusia sebagai entre au

monde (mengada pada alam) menjadi satu dengan alam itu. Manusia mengkonstitusi

alamnya. Untuk melihat sesuatu hal, saya harus mengkonversikan mata,

mengakomodasikan lensa, dan mengfiksasikan hal yang mau dilihat. Anak yang baru

lahir belum bisa melakukan sesuatu hal, sehingga benda dibawa ke mulutnya.

b. Tokoh-tokohnya.

1. Edmund Husserl (1859 -1938)

2. Max Scheler (1874 -1928)

3. Hartman (1882 -1950)

4. Martin Heidegger (1889 -1976)

5. Maurice Merleau-Ponty (1908 -1961)

6. Jean Paul Sartre (1905 -1980)

7. Soren Kierkegaard (1813 -1855)


Page 5

© 2003 Digited by USU Digital Library

5

VII. INTUSIONALISME

a. Pengertian Pokok.

Intusionalisme adalah suatu aliran atau faham yang menganggap bahwa

intuisi (naluri/perasaan) adalah sumber pengetahuan dan kebenaran. Intuisi

termasuk salah satu kegiatan berfikir yang tidak didasarkan pada penalaran. Jadi

Intuisi adalah non-analitik dan tidak didasarkan atau suatu pola berfikir tertentu dan

sering bercampur aduk dengan perasaan.

b. Tokoh-tokohnya.

1. Plotinos (205 -270)

2. Henri Bergson (1859 -1994)

DAFTAR PUSTAKA

Beering, RF. 1966. Filsafat Dewasa ini. Jakarta. Penerbit Balai Pustaka.

Bertans, 1989. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta. Kanisius.

Brower, MAW. 1984. Psikologi Fenomenologi. Jakarta. Penerbit Gramedia.

--------,1986. Sejarah Filsafat Modern dan Sejaman. Bandung. Penerbit Alumn

Selayang Pandang

The situation in the twentieth century-not to mention intervening centuries- has been marked by similar and even more drastic changes. The political structure has been very fluid. Monarchistic institutions hava given way to the democratic, and democratic institutions in turn have been beset by fascistic and communistic ones. Industrial economies have rapidly out stripped agrarian and commercial ones. International war not once but twice has tested men’s political and economic ideologies. Reinforced by remarkable development of science, the intellectual turn over of ideas has never been so great. Consequently people today, as twenty-five hundred years ago, are raising the age-old questions about how to educate their children for the dynamic social conditions in which they live. If their answers are confused and faltering, there should be no occasion for surprise, uncertain times give rise to uncertain answers. (Brubacher,1950; 2).

Fenomena tersebut adalah gambaran realitas obyektif-aktual yang berlangsung selama berabad-abad, dan hingga kini dampak realitas tersebut masih dapat dirasakan. Berbagai arketipe-arketipe untuk membahas tentang kadar filsafati tentang pendidikan telah banyak bermunculan. Thomas Hidya Tjaya mengatakan bahwa tujuan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengajarkan kepada peserta didik berbagai kebenaran yang telah ditemukan oleh manusia, baik yang saintifik, filosofis maupun religius (Tjaya,2004; 35).

Sistem aliran filsafat pendidikan dari masa ke masa juga juga mulai diperkenalkan untuk dijadikan sebagai term of reference bagi analisis jawaban atas problema-problema pendidikan. Akan tetapi persoalannya adalah bagaimana dalam struktur teoritik tersebut juga dapat di aplikasikan ke ranah yang praktis. The conflict between theory and practice should really be capable of some solution (Brubacher,1950; 14).

Gerakan idealisme yang dimotori Plato, Berkeley, Hegel, berpendirian kenyataan itu terdiri dari atau tersusun atas substansi sebagaimana gagasan-gagasan (ide-ide) spirit. Alam fisik ini tergantung dari jiwa universal atau Tuhan, yang berarti pula bahwa alam adalah ekspresi dari jiwa tersebut (Barnadib,1988; 22). Dalam pandangan ini Brubacher mengatakan, if such a theory of knowledge be sound, some idealists hava gone a step further to argue that reality itself must be idea-istic. What the more exact nature of reality as idea happens to be, is answered by a variety of idealism. The one wich has most found its way into educational philosophy is that of absolute idealism. According the view, the heart of reality is to be found in thought or reason. Reason is absolute, in fact it is the absolute. Being absolute, it is also one, monistic. In it, everything is interrelated, all contradictions reconcile. Furthermore, the complete cause of any single occurance involves the whole of reality. The cosmos, then, is a great thought process, and the absolute is God Thingking (Brubacher,1950; 326-327).

Gerakan idealisme tidak berarti tanpa kritikan. Realisme, merupakan “anak” dari naturalisme berpandangan bahwa …..these objects have a reality independent of mental phenomena (Brubacher,1950; 330), obyek atau dunia luar itu adalah nyata pada dirinya, realisme memandang bahwa kenyataan itu berbeda dengan jiwa yang mengetahui obyek atau dunia luar tersebut. Kenyataan tidak sepenuhnya bergantung dari jiwa yang mengetahui atau tidak langsung mengenai sesuatu. Orang dapat memiliki pengetahuan yang kurang tepat mengenai benda atau sesuatu hal yang sesungguhnya, teetapi sebaliknya dapat memiliki gambaran yang tepat mengenai apa yang nampak. Maka dari itu pengamatan, penelitian dan penarikan kesimpulan mengenai hasil-hasilnya perlu agar dapat diperoleh gambaran yang tepat secara langsung atau tidak langsung mengenai sesuatu (Barnadib,1988; 23).

Kedua hal tersebut hanyalah dua diantara sekian banyak aliran-aliran yang ada di dalam filsafat pendidikan. Persoalannya adalah bagaimanakah sesungguhnya mendapatkan suatu pemahaman yang komperehensif yang merupakan titik temu dalam aliran-aliran tersebut. Ranah tersebut kiranya mempertemukan kerangka teoritik dengan praktisnya.

Mempertemukan Aliran-Aliran Filsafat

Dalam kerangka teoritis apakah sebenarnya yang menjadi landasan akan arti penting teoritis sejauh mana mempunyai kegunaan praktis. Eksistenisialisme memberikan gambaran bahwa tujuan pendidikan bukan agar anak didik dibantu mempelajari bagaimana menanggulangi masalah-masalah eksistensial mereka. Para pendidik eksistensialis akan mengukur hasil pendidikan bukan semata-mata pada apa yang telah dipelajari dan diketahui oleh peserta didik, akan tetapi yang lebih penting adalah apa yang mampu menreka ketahui dan alami. Para pendidik eksistensialisme menolak pendidikan dengan sistem indoktrinisasi (Rapar,1996;83).

Setelah pengarahan eksistensialisme tersebut, sejauhmana pemikiran mereka juga mempunyai landasan pragmatis. Pragmatisme memandang realita sebagai suatu proses dalam waktu, yang berarti orang yang mengetahui mempunyai peranan untuk menciptakan atau mengembangkan hal-hal yang diketahui. Ini berarti bahwa tindakan yang dilakukan oleh orang yang memiliki pengetahuan tersebut dapat menjadi unsure penentu mengembangkan pengetahuan itu pula. Pragmatisme meletakkan pemakaian mengenai sesuatu diatas pengetahuan itu sendiri, maka dari itu utilitas beserta kemampuan perwujudan nyata adalah hal-hal yang mempunyai kedudukan utama di sekitar pengetahuan mengenai sesuatu (Barnadib,1988; 23). According to the pragmatic theory of truth, a proposition is true in so far as it works or satisfies, working or satisfying being described variously by different exponent on the view (Bashori,1994). Nilai kegunaan praktis ini merupakan asal dari pemikiran sintesis antara idealisme dengan realisme yang saling melengkapi.

Dalam kegunaan pragmatis, fenomena yang terjadi bukan berarti hanya standardisasi pragmatis. Konsep dalam perguruan tinggi yang masa dulu sebagai konsep link and match, di dalamnya berakar dari pragmatisme yang parsial. Sebagaimana yang dikritik oleh rekonstruksionisme, sebagaimana dikatakan Jan Hendrik Rapar (1996; 83), merupakan reformasi sosial yang menghendaki renaissance sivilisasi modern. Para pendidik rekonstruksionisme melihat pendidikan dan reformasi sosial itu sesungguhnya sama. Dan kurikulum dijadikan sebagai problem centered yang merupakan pembentukan ordo sosial baru.

Guna membangun kerasnya peradaban yang baru, progresivisme memberikan warna bahwasanya pendidikan bukan sekedar transfer ilmu pengetahuan, melainkan kemampuan dan keterampilan berfikir dengan memberikan rangsangan yang tepat. John Dewey (tokoh pragmatisme), yang termasuk dalam golongan progresivisme menyatakan sekolah adalah institusi sosial dan pendidikan sendiri adalah suatu proses sosial. Selanjutnya, pendidikan adalah proses kehidupan (process of living), bukan sebagai persiapan masa depan. Pendidikan adalah proses kehidupan itu sendiri, maka kebutuhan individual anak didik harus diutamakan, bukan subject matter (Rapar,1996; 83).

Penciptaan narasi tersebut dapat dilihat dalam tiga persoalan. Pertama, penggunaan filsafat pendidikan analitik, secara definitif Rapar menggambarkan filsafat pendidikan analitik menganalisis serta menguraikan istilah-istilah dan konsep-konsep pendidikan seperti pengajaran (teaching), kemampuan (ability), pendidikan dan sebagainya. Alat-alat yang digunakan adalah logika dan linguistik (Rapar,1996; 83). Kedua, pendidikan seharusnya bersifat dialogis, bukan semata-mata transfer ilmu.

Ketiga, pendidikan sebagai teori kritik, mazhab Franfurt memberikan titik perluasan bahwasanya teori kritik bercirikan kritik terhadap masyarakat, bersifat historis yang berakar kepada tata pemikiran dan situasi tertentu, memiliki kekuatan untuk mengkritik fenomena yang dihadapi sekaligus melakukan kritik terhadap dirinya sendiri dan tidak memisahkan antara teori dan praktik, tindakan dan pengetahuan serta selalu melayani transformasi praktik sosial (Sunarto, 2003:99-100).

Kesimpulan

Dengan banyaknya aliran-aliran dalam ranah filsafat bukan berarti akan membuat semakin tidak jelasnya konstruksi filsafat pendidikan. Akan tetapi dalam masing-masing aliran dapt menghasilkan titik temu yang harmonis, yang fungsinya guna mendapatkan gambaran filsafat pendidikan yang harmonis dan etis serta mempunyai nilai tawar yang lebih qualified. Wallahu’alam bi shawab.

Daftar Pustaka

Barnadib,Imam,1988, Filsafat Pendidikan, Sistem Dan Metode, Andi Offset, Yogyakarta.

Bashori,Tauhid,2004, Pragmatisme Pendidikan, telaah Pemikiran John Dewey, http://www.geocities.com/HotSprings/6774/j-13.html, diambil tahun Maret 2004

Brubacher,1950, Modern Philosophies of Education, New York, Mac Graw Hill Book Company, inc

Hadiwiyono,Harun,1980, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta, Kanisius.

Hamersma,Harry,1984, Tokoh-Tokoh Filsafat Modern, Jakarta, PT Gramedia.

Mudhofir,Ali,1988, Kamus Teori dan Aliran dalam Filsafat, Yogyakarta, Liberty.

Sudiarja,A, 2001, Pendidikan Radikal Tapi Dialogal, Basis No.01-02, Tahun ke-50, Januari-Februari, Yayasan BP Basis, Yogyakarta.

Sunarto, 2003, Konstruksi Epistemologi Max Horkheimer: Kritik Atas Manusia Modern, dalam Epistemologi Kiri, (ed) Listiyono S, Sunarto, Abd, Qadir Shaleh, Penerbit AR RUZZ, Yogyakarta

Tjaya, Thomas Hidya,2004, Mencari Orientasi Pendidikan, Sebuah Perspektif Historis, Jakarta, Kompas 4 Februari 2004.

* penulis (Althaf Zaidane Zarathustra) adalah peminat kajian pendidikan

Comments»

1. meina - September 19, 2007

apakah aliran filsafat pendidikan ini sama dengan aliran filsafat administrasi pendidikan?

2. althaf - September 29, 2007

filsafat pendidikan adl apa itu pendidikan…
filsafat administrasi pendidikan adl apa itu administrasi pendidikan
kira2 sama gak yah?hehe…

kl alirannya mo dipake m

Kaskus - The Largest Indonesian Community

Go Back <#> Kaskus - The Largest Indonesian Community

> DA CAFة > Education

Reload this Page * Belajar Filsafat Otodidak! *

User Name Remember Me?

Password

Register FAQ Members List

Calendar

Go to Page...

Reply

Page 1 of 6 *1* 2 3

4 5

6 >

Thread Tools

Old 19-04-2005, 10:21 PM #*1*

g o d

kaskus geek

Join Date: Sep 2003

Location: Somehwere in heaven , i hope

Posts: 16,534

UserID: *20873*

g o d akan menjadi terkenal

*Belajar Filsafat Otodidak!*

------------------------------------------------------------------------

Bagi sementara orang belajar filsafat adalah omong kosong!

Pada kenyataannya filsafat adalah dasar dari Segala ilmu pengetahuan.

Bagi orang yang merasa ada kekurangan dalam memahami hidup dan pencarian

kebenaran maka mempelajari filsafat adalah keharusan, dimana akan

menjadikan kita mengubah pola pikir yang negatif yang sudah tercetak

sedari kecil.

Di zaman sekarang apalah artinya filsafat bagi pendidikan modern di

INDONESIA, dimasukkan kurikulum juga tidak! apa jadinya generasi muda

indonesia yang kebablasan!!

Thread ini di persembahkan UNTUK ORANG YANG HAUS AKAN PENGETAHUAN, saya

bukan akhli filsafat tapi saya akan menuangkan penyederhanaan dari apa

yang saya baca dan pelajari sebagai pegangan hidup!

dan bagi yang juga merasa sanggup membantu dan memperkaya khasanah

pemikiran maka dipersilahkan memberikan pengajaran dan pandangan.

Jadi di buka ruang yang lebar untuk bertanya dasar dasar filsafat

sebebas bebasnya begitu juga implikasinya dengan kehidupan

politik,sosial,kemasyarakatan modern....Thx

semoga dapat diterima dengan baik!

hahaha g o d

Jalan pintas mempelajari filsafat!!

Prosedur dasar sederhana pemahaman filsafat!

1.Anda harus menjadi pemula,pemula dalam segala hal termasuk dalam

mengetahui hidup ini! lupakan doktrin dan ajaran,dogma,adat,nilai,norma

yang membentuk anda sedari kecil.

Hanya mereka yang merasa pemula yang akan menyerap filsafat dengan baik.

Menjadi pemula dalam segala hal berarti melihat segala sesuatu seperti

pertama kali maka reaksi yang muncul adalah KEHERANAN,Filsafat bermula

dari satu kata ini!

2.Jangan percaya begitu saja apa yang anda pelajari, Tanya dan

buktikan...tahap ini adalah saat yang tepat anda mempelajari membaca

buku pengantar filsafat atau sejarah kefilsafatan. begitu juga jangan

percayai dunia luar begitu saja apa yang anda rasa panas belum tentu

panas bagi orang lain!

3.Mulailah melucuti ciri ciri kongkrit yang anda lihat dan temukan ciri

ciri umumnya.

dalam filsafat ciri ciri umum yang sangat abstrak disebut dengan nama:

keluasan,materi,ada,roh,subtansi,idea dst.

kalau perlu pelajarilah dari kamus atau kaidah bahasa dari ciri ciri

umum tsb!

4.Carilah Titik pangkal dari yang anda pelajari dan lihat.

Jika anda melihat apel,mana yang lebih dulu buah apel yang anda lihat

atau pikiran anda terhadap apel!

seperti mana yang lebih dulu telur atau ayam,...anda harus memilih salah

satunya,maka anda akan menemukan posisi anda dalam menjelaskan segala

hal. Itu yang dilakukan semua ahli filsafat!

5.Pikirkanlah bagian bagian tanpa melepaskannya dari keseluruhan.

Ilmu pengetahuan seperti kimia,fisika,psikologi,politik,ekonomi

maanjemen,sejarah dst adalah harus anda terbuka untuk

mempelajarinya...karena mempelajari pengetahuan memberi kita GAMBARAN

yang spesifik tentang relativitas khusus seperti perubahan

Zat,pertukaran nilai,emosi,masyarakat,sosial dst.

Argumentasi filosofis tidak bermain dengan sebuah komponen melainkan

TOTALITAS JARINGAN SELURUH KOMPONEN!

sebab itu hindarilah pandangan mata dekat! dan upayakan mata jauh!

------------------------------------------------------------------------

/ Last edited by g o d : 20-04-2005 at 03:30 PM. /

g o d is offline Thanks

Reply With Quote

g o d

View Public Profile

Find More Posts by g o d

Your Ad Here

Your Ad Here

*Rasakan kecepatan Akses Kaskus Tanpa Banner (AKTB)*

Selain itu nikmati fasilitas search dan akses ke lebih dari 19,343,657 posts

Akses ke forum khusus donatur (ketemu moderator dan admin)

Kemampuan untuk melihat siapa pemberi GRP/BRP ke kamu

Old 19-04-2005, 11:45 PM #*2*

lembu_sekilan

kaskus addict

Join Date: Jan 2005

Location: nomaden

Posts: 1,224

UserID: *62938*

lembu_sekilan sedang di jalan yg benar

Apa ada yang tahu sejarah filsafat ?

tokoh tokoh besar filsafat beserta hasil pemikirannya ?

lembu_sekilan is offline Reply With Quote

lembu_sekilan

View Public Profile

Find More Posts by lembu_sekilan

Old 20-04-2005, 12:02 AM #*3*

Flicus

kaskus addict

Flicus's Avatar

Join Date: Jan 2005

Location: dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung

Posts: 3,304

UserID: *65100*

Flicus akan menjadi terkenal

Quote:

Originally Posted by *lembu_sekilan*

Apa ada yang tahu sejarah filsafat ?

tokoh tokoh besar filsafat beserta hasil pemikirannya ?

bisa dibilang sejarah filsafat dimulai dari barat ama timur...

dari timur yg terkenal jelas jaman Confucius, Lao Zhi , ma MengCius

dari barat dimulai dari jaman Plato , Socrates and Aristoteles...

abad pertengahan cth dari dunia arab, Harun Al-Rasyid...

dari barat cth Montesque, Da Vinci, etc

udah malem nich...ntar dijelasin lbh lengkap...

Flicus is offline Reply With Quote

Flicus

View Public Profile

Find More Posts by Flicus

Old 20-04-2005, 09:37 AM #*4*

Jiyo

newbie

Join Date: Jan 2005

Location: Ned-Indische Artsenschool

Posts: 96

UserID: *65097*

Jiyo tidak memiliki reputasi

mizi mo tanya...

Dasar pemikiran Nietzche tu gmana seeh...

baru baca bukunya, tp koq bingungin banget...

ad yg isa bantu gmana biar ngerti...

Jiyo is offline Reply With Quote

Jiyo

View Public Profile

Find More Posts by Jiyo

Old 20-04-2005, 02:48 PM #*5*

g o d

kaskus geek

Join Date: Sep 2003

Location: Somehwere in heaven , i hope

Posts: 16,534

UserID: *20873*

g o d akan menjadi terkenal

*3 pembagian umum sejarah filsafat*

------------------------------------------------------------------------

Manusia, masyarakat, kebudayaan dan alam sekitar memiliki hubungan yang

erat. Keempatnya-lah yang telah menyusun dan mengisi sejarah filsafat

dengan masing-masing karakteristik yang dibawanya. Berdasar keempat hal

tersebut juga, pada umumnya para filsuf sepakat untuk membagi sejarah

filsafat menjadi 3 tradisi besar, yakni Sejarah Filsafat India, Sejarah

Filsafat Cina, dan Sejarah Filsafat Barat.

g o d is offline Reply With Quote

g o d

View Public Profile

Find More Posts by g o d

Old 20-04-2005, 02:58 PM #*6*

g o d

kaskus geek

Join Date: Sep 2003

Location: Somehwere in heaven , i hope

Posts: 16,534

UserID: *20873*

g o d akan menjadi terkenal

*Sejarah filsafat India*

------------------------------------------------------------------------

Filsafat India berpangkal pada keyakinan bahwa ada kesatuan fundamental

antara manusia dan alam, harmoni antara individu dan kosmos. Harmoni ini

harus disadari supaya dunia tidak dialami sebagai tempat keterasingan,

sebagai penjara. Seorang anak di India harus belajar bahwa ia karib

dengan semua benda, dengan dunia sekelilingnya, bahwa ia harus menyambut

air yang mengalir dalam sungai, tanah subur yang memberi makanan, dan

matahari yang terbit.

Orang India tidak belajar untuk menguasai dunia, melainkan untuk

berteman dengan dunia.

1.Jaman Weda (2000-600 S.M.)

Bangsa Arya masuk India dari utara, sekitar 1500 S.M. Literatur suci

mereka disebut Weda. Bagian terpenting dari Weda untuk filsafat India

adalah Upanisad, yang sepanjang sejarah India akan merupakan sumber yang

sangat kaya untuk inspirasi dan pembaharuan.

Suatu tema yang menonjol dalam Upanisad adalah ajaran tentang hubungan

Atman dan Brahman. Atman adalah segi subyektif dari kenyataan, diri

manusia. Brahman adalah segi obyektif, makro-kosmos, alam semesta.

Upanisad mengajar bahwa manusia mencapai keselamatan (moksa, mukti)

kalau ia menyadari identitas Atman dan Brahman.

2.Jaman Skeptisisme (200 S.M.-300 M.)

Sekitar tahun 600 S.M. mulai suatu reaksi, baik terhadap ritualisme

imam-imam maupun terhadap spekulasi berhubungan dengan korban para

rahib. Para imam mengajar ketaatan pada huruf kitab suci, tetapi

ketaatan ini mengganggu kebaktian kepada dewa-dewa. Para rahib mengajar

suatu "metafisika" yang juga tidak sampai ke hati orang biasa. Reaksi

datang dalam banyak bentuk. Yang terpenting adalah Buddhisme, ajaran

dari pangeran Gautama Buddha, yang memberi pedoman praktis untuk

mencapai keselamatan: bagaimana manusia mengurangi penderitaannya,

bagaimana manusia mencapai terang budi.

Reaksi lain datang dari Jainisme dari Mahawira Jina. Di samping itu

mulai juga kebaktian yang lebih eksklusif kepada Siwa dan Wisnu, dua

bentuk agama yang lebih menarik daripada ritualisme dan spekulasi para

imam dan rahib.

Sebagai kontra-reformasi, muncul dalam Hinduisme resmi enam sekolah

ortodoks (disebut "ortodoks", karena Buddhisme dan Jainisme, yang tidak

berdasar Weda, dianggap bidaah). Yang terpenting dari sekolah ini adalah

Samkhya dan Yoga. Yoga, dari kata "juj", "menghubungkan", mengajar suatu

jalan ("marga") untuk mencapai kesatuan dengan ilahi. Samkhya (artinya:

"jumlah", "hitungan") mengajarkan tema terpenting hubungan alam-jiwa,

kesadaran materi, hubungan Purusa-Prakriti

Jaman Puranis (300-1200)

Setelah tahun 300, Buddhisme mulai lenyap dari India. Buddhisme sekarang

lebih penting di negara-negara tetangga daripada di India sendiri.

Pemikiran India dalam "abad pertengahan"-nya dikuasai oleh spekulasi

teologis, terutama mengenai inkarnasi-inkarnasi dewa-dewa. Banyak contoh

cerita tentang inkarnasi dewa-dewa terdapat dalam dua epos besar,

Mahabharata dan Ramayana.

3.Jaman Muslim (1200-1757)

Dua nama menonjol dalam periode muslim, yaitu nama pengarang sya'ir

Kabir, yang mencoba untuk memperkembangkan suatu agama universal, dan

Guru Nanak (pendiri aliran Sikh), yang mencoba menyerasikan Islam dan

Hinduisme.

4.Jaman Modern (setelah 1757)

Jaman modern, jaman pengaruh Inggris di India, mulai tahun 1757. Periode

ini memperlihatkan perkembangan kembali dari nilai-nilai klasik India,

bersama dengan pembaharuan sosial. Nama-nama terpenting dalam periode

ini adalah Raja Ram Mohan Roy (1772-1833), yang mengajar suatu

monoteisme berdasarkan Upanisad dan suatu moral berdasarkan khotbah di

bukit dari Injil, Vivekananda (1863-1902), yang mengajar bahwa semua

agama benar, tapi bahwa agama Hindu paling cocok untuk India; Gandhi

(1869-1948), dan Rabindranath Tagore (1861-1941), pengarang syair dan

pemikir religius yang membuka pintu untuk ide-ide dari luar.

Sejumlah pemikir India jaman sekarang melihat banyak kemungkinan untuk

dialog antara filsafat Timur, yang dianggap terlalu mistik dan filsafat

Barat, yang dianggap terlalu duniawi.

Radhakrishnan (1888-1975) mengusulkan pembongkaran batas-batas ideologis

untuk mencapai suatu sinkretisme hindu-kristiani, yang dapat berguna

sebagai pola berpikir masa depan seluruh dunia. Sementara itu, filsafat

India dapat belajar dari rasionalisme dan positivisme Barat. Filsafat

Barat dapat belajar dari intuisi Timur mengenai kesatuan dalam kosmos

dan mengenai identitas makrokosmos dan mikrokosmos.

g o d is offline Reply With Quote

g o d

View Public Profile

Find More Posts by g o d

Old 20-04-2005, 03:45 PM #*7*

g o d

kaskus geek

Join Date: Sep 2003

Location: Somehwere in heaven , i hope

Posts: 16,534

UserID: *20873*

g o d akan menjadi terkenal

*Filsafat cina*

------------------------------------------------------------------------

Ada tiga tema pokok sepanjang sejarah filsafat cina,

yakni harmoni, toleransi dan perikemanusiaan.

Selalu dicarikan keseimbangan, harmoni, suatu jalan tengah antara dua

ekstrem: antara manusia dan sesama, antara manusia dan alam, antara

manusia dan surga. Toleransi kelihatan dalam keterbukaan untuk

pendapat-pendapat yang sama sekali berbeda dari pendapat-pendapat

pribadi, suatu sikap perdamaian yang memungkinkan pluralitas yang luar

biasa, juga dalam bidang agama. Kemudian, perikemanusiaan. Pemikiran

Cina lebih antroposentris daripada filsafat India dan filsafat Barat.

Manusia-lah yang selalu merupakan pusat filsafat Cina.

Ketika kebudayaan Yunani masih berpendapat bahwa manusia dan dewa-dewa

semua dikuasai oleh suatu nasib buta ("Moira"), dan ketika kebudayaan

India masih mengajar bahwa kita di dunia ini tertahan dalam roda

reinkarnasi yang terus-menerus, maka di Cina sudah diajarkan bahwa

manusia sendiri dapat menentukan nasibnya dan tujuannya. Filsafat Cina

dibagi atas empat periode besar:

# Jaman Klasik (600-200 S.M.)

Menurut tradisi, periode ini ditandai oleh seratus sekolah filsafat:

seratus aliran yang semuanya mempunyai ajaran yang berbeda. Namun,

kelihatan juga sejumlah konsep yang dipentingkan secara umum, misalnya

"tao" ("jalan"), "te" ("keutamaan" atau "seni hidup"), "yen"

("perikemanusiaan"), "i" ("keadilan"), "t'ien" ("surga") dan "yin-yang"

(harmoni kedua prinsip induk, prinsip aktif-laki-laki dan prinsip

pasif-perempuan). Sekolah-sekolah terpenting dalam jaman klasik adalah:

1.Konfusianisme

Konfusius (bentuk Latin dari nama Kong-Fu-Tse, "guru dari suku Kung")

hidup antara 551 dan 497 S.M. Ia mengajar bahwa Tao ("jalan" sebagai

prinsip utama dari kenyataan) adalah "jalan manusia". Artinya: manusia

sendirilah yang dapat menjadikan Tao luhur dan mulia, kalau ia hidup

dengan baik. Keutamaan merupakan jalan yang dibutuhkan. Kebaikan hidup

dapat dicapai melalui perikemanusiaan ("yen"), yang merupakan model

untuk semua orang. Secara hakiki semua orang sama walaupun tindakan

mereka berbeda.

2.Taoisme

Taoisme diajarkan oleh Lao Tse ("guru tua") yang hidup sekitar 550 S.M.

Lao Tse melawan Konfusius. Menurut Lao Tse, bukan "jalan manusia"

melainkan "jalan alam"-lah yang merupakan Tao. Tao menurut Lao Tse

adalah prinsip kenyataan objektif, substansi abadi yang bersifat

tunggal, mutlak dan tak-ternamai. Ajaran Lao Tse lebih-lebih metafisika,

sedangkan ajaran Konfusius lebih-lebih etika. Puncak metafisika Taoisme

adalah kesadaran bahwa kita tidak tahu apa-apa tentang Tao. Kesadaran

ini juga dipentingkan di India (ajaran "neti", "na-itu": "tidak begitu")

dan dalam filsafat Barat (di mana kesadaran ini disebut "docta

ignorantia", "ketidaktahuan yang berilmu").

3.Yin-Yang

"Yin" dan "Yang" adalah dua prinsip induk dari seluruh kenyataan. Yin

itu bersifat pasif, prinsip ketenangan, surga, bulan, air dan perempuan,

simbol untuk kematian dan untuk yang dingin. Yang itu prinsip aktif,

prinsip gerak, bumi, matahari, api, dan laki-laki, simbol untuk hidup

dan untuk yang panas. Segala sesuatu dalam kenyataan kita merupakan

sintesis harmonis dari derajat Yin tertentu dan derajat Yang tertentu.

4.Moisme

Aliran Moisme didirikan oleh Mo Tse, antara 500-400 S.M. Mo Tse

mengajarkan bahwa yang terpenting adalah "cinta universal", kemakmuran

untuk semua orang, dan perjuangan bersama-sama untuk memusnahkan

kejahatan. Filsafat Moisme sangat pragmatis, langsung terarah kepada

yang berguna. Segala sesuatu yang tidak berguna dianggap jahat. Bahwa

perang itu jahat serta menghambat kemakmuran umum tidak sukar untuk

dimengerti. Tetapi Mo Tse juga melawan musik sebagai sesuatu yang tidak

berguna, maka jelek. Etika Mo Tse mengenal suatu prinsip bahwa...5. Ming

Chia

5.Ming Chia atau "sekolah nama-nama", menyibukkan diri dengan analisis

istilah-istilah dan perkataan-perkataan. Ming Chia, yang juga disebut

"sekolah dialektik", dapat dibandingkan dengan aliran sofisme dalam

filsafat Yunani. Ajaran mereka penting sebagai analisis dan kritik yang

mempertajam perhatian untuk pemakaian bahasa yang tepat, dan yang

memperkembangkan logika dan tatabahasa. Selain itu dalam Ming Chia juga

terdapat khayalan tentang hal-hal seperti "eksistensi", "relativitas",

"kausalitas", "ruang" dan "waktu".

6. Fa Chia

Fa Chia atau "sekolah hukum", cukup berbeda dari semua aliran klasik

lain. Sekolah hukum tidak berpikir tentang manusia, surga atau dunia,

melainkan tentang soal-soal praktis dan politik. Fa Chia mengajarkan

bahwa kekuasaan politik tidak harus mulai dari contoh baik yang

diberikan oleh kaisar atau pembesar-pembesar lain, melainkan dari suatu

sistem undang-undang yang keras sekali.

Tentang keenam sekolah klasik tersebut, kadang-kadang dikatakan bahwa

mereka berasal dari keenam golongan dalam masyarakat Cina.

Berturut-turut: (1) kaum ilmuwan, (2) rahib-rahib, (3) okkultisme (dari

ahli-ahli magi), (4) kasta ksatria, (5) para pendebat, dan (6) ahli-ahli

politik.

#Jaman Neo-Taoisme dan Buddhisme (200 S.M.-1000 M.)

Bersama dengan perkembangan Buddhisme di Cina, konsep Tao mendapat arti

baru. Tao sekarang dibandingkan dengan "Nirwana" dari ajaran Buddha,

yaitu "transendensi di seberang segala nama dan konsep", "di seberang

adanya".

#Jaman Neo-Konfusianisme (1000-1900)

Dari tahun 1000 M. Konfusianisme klasik kembali menjadi ajaran filsafat

terpenting. Buddhisme ternyata memuat unsur-unsur yang bertentangan

dengan corak berpikir Cina. Kepentingan dunia ini, kepentingan hidup

berkeluarga dan kemakmuran material, yang merupakan nilai-nilai

tradisional di Cina, sema sekali dilalaikan, bahkan disangkal dalam

Buddhisme, sehingga ajaran ini oleh orang dianggap sebagai sesuatu yang

sama sekali asing.

#Jaman Modern (setelah 1900)

Sejarah modern mulai di Cina sekitar tahun 1900. Pada permulaaan abad

kedua puluh pengaruh filsafat Barat cukup besar. Banyak tulisan

pemikir-pemikir Barat diterjemahkan ke dalam bahasa Cina. Aliran

filsafat yang terpopuler adalah pragmatisme, jenis filsafat yang lahir

di Amerika Serikat. Setelah pengaruh Barat ini mulailah suatu reaksi,

kecenderungan kembali ke tradisi pribumi. Terutama sejak 1950, filsafat

Cina dikuasai pemikiran Marx, Lenin dan Mao Tse Tung.

g o d is offline Reply With Quote

g o d

View Public Profile

Find More Posts by g o d

Old 20-04-2005, 05:25 PM #*8*

Flicus

kaskus addict

Flicus's Avatar

Join Date: Jan 2005

Location: dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung

Posts: 3,304

UserID: *65100*

Flicus akan menjadi terkenal

top2x @god...

btw lo mo dibantu ga bt yg barat???

g datanya cukup lengkap nich....

Flicus is offline Reply With Quote

Flicus

View Public Profile

Find More Posts by Flicus

Old 20-04-2005, 08:07 PM #*9*

chaos/beowulf

kaskus addict

chaos/beowulf's Avatar

Join Date: Dec 2004

Location: Indonesia/ Singapore

Posts: 1,215

UserID: *61430*

chaos/beowulf tidak memiliki reputasi

wah.....menarik juga nih.....lanjut2!

chaos/beowulf is offline Reply With Quote

chaos/beowulf

View Public Profile

Find More Posts by chaos/beowulf

Old 22-04-2005, 08:58 AM #*10*

nata

aktivis kaskus

nata's Avatar

Join Date: Apr 2005

Location: lobby hotel alila - junichi_27 & sange vagina .::Maksiat Team::.

Posts: 505

UserID: *74862*

nata tidak memiliki reputasi

*filsafat kaum realis*

------------------------------------------------------------------------

terus terang aja, hidup w berubah 180 derajat semenjak w kenal yang

namanya filsafat. w jadi haus dengan yang namanya ILMU PENGETAHUAN!

dahulu w adalah orang yang taat banget sama yang namanya agama tanpa

memikirkan mengapa hal tersebut diperlukan, mengapa w harus melakukan

hal seperti itu, atas dasar apa w harus menghindari segala hal yang

dilarang. pada intinya w di doktrin untuk hanya sekedar menerima tanpa

boleh bertanya mengapa, apa, siapa, di mana, yang mana, dan kapan.

sampai pada suatu saat w belajar mempertanyakan segala hal yang yang w

telah, sedang, dan akan w lakukan. disitulah w belajar sesuatu yang

namanya filsafat.

'jangan percaya dengan apa-apa yang kau lihat', itulah yang petama kali

w pelajari dari filsafat! dan untungnya kemauan w itu didukung oleh

minat baca w yang w punya sejak w kecil. karya filsafat pertama kali

yang w baca adalah ZARATHUSTRA-nya NIETZSCHE. jujur aja, pertama kali w

bingung abis pas baca ni mahakarya! tapi w gak menyerah begitu aja. w

belajar pengetahuan-pengetahuan dasar yang mutlak harus w kuasai untuk

memahami ni mahakarya. w belajar kejawen sama temen w, asal tahu aja

temen w yang menguasai ni ILMU hanya seorang penjaga warung rokok yang

sederhana, tetapi w belajar banyak banget sama ni temen baik w. ada kali

hampir satu tahun w belajar tentang ILMU kejawen ni. hingga pada

akhirnya w cukup mengerti akan ni ILMU PENGETAHUAN. dan tebak, ternyata

mahakarya NIETZSCHE yang pada awalnya sulit sekali w mengerti, - untuk

satu kalimat aja, dulu, perlu berbulan-bulan untuk memahaminya! -

menjadi mudah sekali w mengerti. untuk satu buku w cuma perlu beberapa

hari untuk memahami dan menyelesaikannya!

sejak itu, w menjadi orang yang sangat haus akan ILMU PENGETAHUAN! w

suka baca matematika, fisika, kimia, biologi (pelajaran yang paling w

benci ketika SMA!) bahkan, w juga baca mahakarya-mahakarya FREUD, MARX,

SATRE, JUNG, FROMM, DARWIN, EINSTEIN, dan lain-lainnya. intinya w suka

cari tahu ILMU tentang BAKTERI sampai ILMU tentang ALAM SEMESTA! dan

merekalah yang membuat w meninggalkan agama w! dan tentunya membuat w

menjadi orang yang sama sekali gak percaya sama yang namanya tuhan alias

ATHEIST!

dan w sadar, ternyata kita, manusia, hanyalah binatang tak bermakna

dibandingkan dengan alam semesta, betapa kecil dan tak berharganya kita

jika kita lihat peranan kita dalam siklus alam semesta! kasarnya, kita

hanyalah sampah alam semesta, yang suatu waktu bisa dimusnahkan oleh

ALAM SEMESTA! segala kesempurnaan manusia yang digembar-gemborkan dalam

agama-agama adalah omong kosong belaka, hanyalah untuk menyenangkan

manusia itu sendiri, ya, karena manusia itu takut kalau mengetahui bahwa

diri mereka itu tak bermakna jika dibandingkan dengan luasnya alam semesta.

gak enaknya, ya itu, w jarang punya temen bicara yang selevel sama w.

yang visinya sama atau lebih baik dari pada w. atau mungkinkah begini

keadaan dari orang-orang yang telah mendapatkan pencerahan? yah, w

bakalan seneng banget kalo w dapet temen bertukar pikiran dari forum

kaskus ni.

VIVA PHILOSOPHIA!

nata is offline Reply With Quote

nata

View Public Profile

Find More Posts by nata

Your Ad Here

Your Ad Here

*Rasakan kecepatan Akses Kaskus Tanpa Banner (AKTB)*

Selain itu nikmati fasilitas search dan akses ke lebih dari 19,343,657 posts

Akses ke forum khusus donatur (ketemu moderator dan admin)

Kemampuan untuk melihat siapa pemberi GRP/BRP ke kamu

Old 22-04-2005, 05:31 PM #*11*

g o d

kaskus geek

Join Date: Sep 2003

Location: Somehwere in heaven , i hope

Posts: 16,534

UserID: *20873*

g o d akan menjadi terkenal

*Filsafat barat; 1. zaman Kuno*

------------------------------------------------------------------------

Sejarah filsafat Barat dibagi dalam empat periode besar:

1.Zaman Kuno

2.Zaman Klasik

3.Zaman Modern

4.Zaman Masa Kini

akan diulas satu satu biar kaga bingung:

##Jaman Kuno

Permulaan: Filsafat Pra-Sokrates di Yunani

Sejarah filsafat Barat mulai Milete, di Asia kecil,

Sekitar tahun 600 S.M. Pada waktu itu Milete merupakan kota yang

penting, di mana banyak jalur perdagangan bertemu di Mesir, Itali,

Yunani dan Asia. Juga banyak ide bertemu di sini, sehingga Milete juga

menjadi suatu pusat intelektual. Pemikir-pemikir besar di Milete

lebih-lebih menyibukkan diri dengan filsafat alam. Mereka mencari suatu

unsur induk ("archè") yang dapat dianggap sebagai asal segala sesuatu.

Menurut Thales (± 600 S.M.) air-lah yang merupakan unsur induk ini.

Menurut Anaximander (± 610-540 S.M.), segala sesuatu berasal dari "yang

tak terbatas", dan menurut Anaximenes (± 585-525 S.M.) udara-lah yang

merupakan unsur induk segala sesuatu. Pythagoras (± 500 S.M.) yang

mengajar di Itali Selatan, adalah orang pertama yang menamai diri

"filsuf". Ia memimpin suatu sekolah filsafat yang kelihatannya sebagai

suatu biara di bawah perlindungan dari dewa Apollo. Sekolah Pythagoras

sangat penting untuk perkembangan matematika. Ajaran falsafinya

mengatakan antara lain bahwa segala sesuatu terdiri dari

"bilangan-bilangan": struktur dasar kenyataan itu "ritme".

Dua nama lain yang penting dari periode ini adalah Herakleitos (± 500

S.M.) dan Parmenides (515-440 S.M.).

Herakleitos mengajarkan bahwa segala sesuatu "mengalir" ("panta rhei"):

segala sesuatu berubah terus-menerus seperti air dalam sungai.

Parmenides mengatakan bahwa kenyataan justru memang tidak berubah.

Segala sesuatu yang betul-betul ada, itu kesatuan mutlak yang abadi dan

tak terbagikan.

Puncak Jaman Kuno: Sokrates, Plato, Aristoteles

Puncak filsafat Yunani dicapai pada Sokrates, Plato dan Aristoteles.

@Sokrates (± 470-400 S.M.), guru Plato, mengajar bahwa akal budi harus

menjadi norma terpenting untuk tindakan kita.

Sokrates sendiri tidak menulis apa-apa. Pikiran-pikirannya hanya dapat

diketahui secara tidak langsung melalui tulisan-tulisan dari cukup

banyak pemikir Yunani lain, terutama melalui karya Plato.

@Plato (428-348 S.M.) menggambarkan Sokrates sebagai seorang alim yang

mengajar bagaimana manusia dapat menjadi berbahagia berkat pengetahuan

tentang apa yang baik.

Plato sendiri menentukan, bersama Aristoteles, bagi sebagian besar dari

seluruh sejarah filsafat Barat selama lebih dari dua ribu tahun. Dunia

yang kelihatan, menurut Plato, hanya merupakan bayangan dari dunia yang

sungguh-sungguh, yaitu dunia ide-ide yang abadi. Jiwa manusia berasal

dari dunia ide-ide. Jiwa di dunia ini terkurung di dalam tubuh. Keadaan

ini berarti keterasingan. Jiwa kita rindu untuk kembali ke "surga

ide-ide". Kalau jiwa "mengetahui" sesuatu, pengetahuan ini memang

bersifat "ingatan". Jiwa pernah berdiam dalam kebenaran dunia ide-ide,

dan oleh karena itu pengetahuan mungkin sebagai hasil "mengingat".

Filsafat Plato merupakan perdamaian antara ajaran Parmenides dan ajaran

Herakleitos. Dalam dunia ide-ide segala sesuatu abadi, dalam dunia yang

kelihatan, dunia kita yang tidak sempurna, segala sesuatu mengalami

perubahan. Filsafat Plato, yang lebih bersifat khayal daripada suatu

sistem pengetahuan, sangat dalam dan sangat luas dan meliputi logika,

epistemolgi, antropologi, teologi, etika, politik, ontologi, filsafat

alam dan estetika.

@Aristoteles (384-322 S.M.),

Pendidik Iskandar Agung, adalah murid Plato. Tetapi dalam banyak hal ia

tidak setuju dengan Plato. Ide-ide menurut Aristoteles tidak terletak

dalam suatu "surga" di atas dunia ini, melainkan di dalam benda-benda

sendiri. Setiap benda terdiri dari dua unsur yang tak terpisahkan, yaitu

materi ("hylè") dan bentuk ("morfè"). Bentuk-bentuk dapat dibandingkan

dengan ide-ide dari Plato. Tetapi pada Aristoteles ide-ide ini tidak

dapat dipikirkan lagi lepas dari materi. Materi tanpa bentuk tidak ada.

Bentuk-bentuk "bertindak" di dalam materi. Bentuk-bentuk memberi

kenyataan kepada materi dan sekaligus merupakan tujuan dari materi.

Filsafat Aristoteles sangat sistematis. Sumbangannya kepada perkembangan

ilmu pengetahuan besar sekali. Tulisan-tulisan Aristoteles meliputi

bidang logika, etika, politik, metafisika, psikologi dan ilmu alam

------------------------------------------------------------------------

/ Last edited by g o d : 22-04-2005 at 05:46 PM. /

g o d is offline Reply With Quote

g o d

View Public Profile

Find More Posts by g o d

Old 22-04-2005, 05:51 PM #*12*

g o d

kaskus geek

Join Date: Sep 2003

Location: Somehwere in heaven , i hope

Posts: 16,534

UserID: *20873*

g o d akan menjadi terkenal

*filasafat barat 2: Zaman Klasik*

------------------------------------------------------------------------

2.Zaman klasik

#Helenisme

Iskandar Agung mendirikan kerajaan raksasa, dari India Barat sampai

Yunani dan Mesir. Kebudayaan Yunani yang membanjiri kerajaan ini disebut

Hellenisme (dari kata "Hellas", "Yunani"). Helenisme yang masih

berlangsung juga selama kerajaan Romawi, mempunyai pusat intelektualnya

di tiga kota besar: Athena, Alexandria (di Mesir) dan Antiochia (di Syria).

Tiga aliran filsafat yang menonjol dalam jaman Helenisme, yaitu

Stoisisme, Epikurisme dan Neo-platonisme.

@Stoisisme (diajar oleh a.l. Zeno dari Kition, 333-262 S.M.) terutama

terkenal karena etikanya. Etika Stoisisme mengajarkan bahwa manusia

menjadi berbahagia kalau ia bertindak sesuai dengan akal budinya.

Kebahagiaan itu sama dengan keutamaan. Kalau manusia bertindak secara

rasional, kalau ia tidak dikuasai lagi oleh perasaan-perasaannya, maka

ia bebas berkat ketenangan batin yang oleh Stoisisme disebut "apatheia".

@Epikurisme (dari Epikuros, 341-270 S.M) juga terkenal karena etikanya.

Epikurisme mengajar bahwa manusia harus mencari kesenangan sedapat

mungkin. Kesenangan itu baik, asal selalu sekadarnya. Karena "kita harus

memiliki kesenangan, tetapi kesenangan tidak boleh memiliki kita".

Manusia harus bijaksana. Dengan cara ini ia akan memperoleh kebebasan batin.

@Neo-platonisme. Seorang filsuf Mesir, Plotinos (205-270 M.),

mengajarkan suatu filsafat yang sebagian besar berdasarkan Plato dan

yang kelihatan sebagai suatu agama. Neo-platonisme ini mengatakan bahwa

seluruh kenyataan merupakan suatu proses "emanasi" ("pendleweran") yang

berasal dari Yang Esa dan yang kembali ke Yang Esa, berkat "eros":

kerinduan untuk kembali ke asal ilahi dari segala sesuatu.

Jaman Patristik dan Skolastik

@Jaman Patristik, atau pemikiran para Bapa Gereja

Patristik (dari kata Latin "Patres", "Bapa-bapa Gereja") dibagi atas

Patristik Yunani (atau Patristik Timur) dan Patristik Latin (atau

Patristik Barat). Tokoh-tokoh dari Patristik Yunani antara lain Clemens

dari Aleksandria (150-215), Origenes (185-254), Gregorius dari Nazianze

(330-390), Basillus (330-379), Gregorius dari Nizza (335-394) dan

Dionysios Areopagita (± 500). Tokoh-tokoh dari Patristik Latin terutama

Hilarius (315-367), Ambrosius (339-397), Hieronymus (347-420) dan

Augustinus (354-430).

Ajaran falsafi-teologis dari Bapa-bapa Gereja menunjukkan pengaruh

Plotinos. Mereka berusaha untuk memperlihatkan bahwa iman sesuai dengan

pikiran-pikiran paling dalam dari manusia. Mereka berhasil membela

ajaran Kristiani terhadap tuduhan dari pemikir-pemikir kafir.

Tulisan-tulisan Bapa-bapa Gereja merupakan suatu sumber yang kaya dan

luas ynng sekarang masih tetap memberi inspirasi baru.

@Jaman Skolastik

Sekitar tahun 1000 peranan Plotinos diambil alih oleh Aristoteles.

Aristoteles menjadi terkenal kembali melalui beberapa filsuf Islam dan

Yahudi, terutama melalui Avicena (Ibn sina, 980-1037), Averroes (Ibn

Rushd, 1126-1198) dan Maimonides (1135-1204). Pengaruh Aristoteles

lama-kelamaan begitu besar sehingga ia disebut "Sang Filsuf", sedangkan

Averroes disebut "Sang komentator". Pertemuan pemikiran Aristoteles

dengan iman Kristiani menghasilkan banyak filsuf penting. Mereka

sebagian besar berasal dari kedua ordo baru yang lahir dalam Abad

Pertengahan, yaitu para Dominikan dan Fransiskan.

Filsafat mereka disebut Skolastik (dari kata Latin, "scholasticus",

"guru"). Karena, dalam periode ini filsafat diajarkan dalam

sekolah-sekolah biara dan universitas-universitas menurut suatu

kurikulum yang tetap dan yang bersifat internasional. Tokoh-tokoh dari

Skolastik itu lebih-lebih Albertus Magnus O.P. (1220-1280), Thomas

Aquinas O.P. (1225-1274), Bonaventura O.F.M. (1217-1274) dan Yohanes

Duns Scotus O.F.M. (1266-1308). Tema-tema pokok dari ajaran mereka itu:

hubungan iman-akal budi, adanya dan hakikat Tuhan, antropologi, etika

dan politik. Ajaran skolastik dengan sangat bagus diungkapkan dalam

pusisi Dante Alighieri (1265-1321).

g o d is offline Reply With Quote

g o d

View Public Profile

Find More Posts by g o d

Old 22-04-2005, 06:06 PM #*13*

g o d

kaskus geek

Join Date: Sep 2003

Location: Somehwere in heaven , i hope

Posts: 16,534

UserID: *20873*

g o d akan menjadi terkenal

*Filasafat barat 3: Zaman Modern*

------------------------------------------------------------------------

2.Zaman modern

@Zaman Renaissance

Jembatan antara Abad Pertengahan dan Jaman Modern, periode antara

sekitar 1400 dan 1600, disebut quot;renaissance" (jaman "kelahiran

kembali"). Dalam jaman renaissance, kebudayaan klasik dihidupkan

kembali. Kesusasteraan, seni dan filsafat mencapi inspirasi mereka dalam

warisan Yunani-Romawi. Filsuf-filsuf terpenting dari rainassance itu

adalah Nicollo Macchiavelli (1469-1527), Thomas Hobbes (1588-1679),

Thomas More (1478-1535) dan Francis Bacon (1561-1626).

Pembaharuan terpenting yang kelihatan dalam filsafat renaissance itu

"antroposentris"-nya. Pusat perhatian pemikiran itu tidak lagi kosmos,

seperti dalam jaman kuno, atau Tuhan, seperti dalam Abad Pertengahan,

melainkan manusia. Mulai sekarang manusia-lah yang dianggap sebagai

titik fokus dari kenyataan.

@Jaman Barok

Filsuf-filsuf dari Jaman Barok: René Descartes (1596-1650), Barukh de

Spinoza (1632-1677) dan Gottfried Leibniz (1646-1710). Filsuf-filsuf ini

menekankan kemungkinan-kemungkinan akal budi ("ratio") manusia. Mereka

semua juga ahli dalam bidang matematika, dan mereka semua menyusun suatu

sistem filsafat dengan menggunakan metode matematika.

@Zaman Fajar Budi

Abad kedelapan belas memperlihatkan perkembangan baru lagi. Setelah

reformasi, setelah renaissance dan setelah rasionalisme dari Jaman

Barok, manusia sekarang dianggap "dewasa". Periode ini dalam sejarah

Barat disebut "Jaman Pencerahan" atau "Fajar Budi" (dalam bahasa

Inggris, "Enlightenment", dalam bahasa Jerman, "Aufkl&0228;rung").

Filsuf-filsuf besar dari jaman ini di Inggris "empirikus-empirikus"

seperti John Locke (1632-1704), George Berkeley (1684-1753) dan David

Hume (1711-1776). Di Perancis Jean Jacque Rousseau (1712-1778) dan di

Jerman Immanuel Kant (1724-1804), yang menciptakan suatu sintesis dari

rasionalisme dan empirisme dan yang dianggap sebagai filsuf terpenting

dari jaman modern.

@Jaman Romantik

Filsuf-filsuf besar dari Romantik lebih-lebih berasal dari Jerman,

yaitu J. Fichte (1762-1814), F. Schelling (1775-1854) dan G.W.F. Hegel

(1770-1831).

Aliran yang diwakili oleh ketiga filsuf ini disebut "idealisme". Dengan

idealisme di sini dimaksudkan bahwa mereka memprioritaskan ide-ide,

berlawanan dengan "materialisme" yang memprioritaskan dunia material.

Yang terpenting dari para idealis kedua puluh harus dianggap sebagai

lanjutan dari filsafat Hegel, atau justru sebagai reaksi terhadap

filsafat Hegel.

g o d is offline Reply With Quote

g o d

View Public Profile

Find More Posts by g o d

Old 22-04-2005, 06:18 PM #*14*

g o d

kaskus geek

Join Date: Sep 2003

Location: Somehwere in heaven , i hope

Posts: 16,534

UserID: *20873*

g o d akan menjadi terkenal

*filsafat barat 4; Zaman masa kini*

------------------------------------------------------------------------

Zaman Masa Kini

Dalam abad ketujuh belas dan kedelapan belas sejarah filsafat Barat

memperlihatkan aliran-aliran yang besar, yang mempertahankan diri lama

dalam wilayah-wilayah yang luas, yaitu rasionalisme, empirisme dan

idealisme. Dibandingkan dengan itu, filsafat Barat dalam abad kesembilan

belas dan kedua puluh kelihatan terpecah-pecah. Macam-macam aliran baru

muncul, dan aliran-aliran ini sering terikat pada hanya satu negara atau

satu lingkungan bahasa.

Aliran-aliran yang paling berpengaruh yaitu;

positivisme, marxisme, eksistensialisme, pragmatisme, neo-kantianisme,

neo-tomisme dan fenomenologi.

Tentang aliran-aliran dalam filsafat akan dibahas di bagian lain secara

khusus.

Pada waktunya, ketujuh aliran yang berpengaruh tadi juga akan kita

teliti satu persatu, karena rencananya materi halaman ini akan

senantiasa diperbarui secara rutin. Sekarang ini hanya disajikan suatu

pengenalan saja sebagai suatu pengantar.

###Aliran-aliran paling baru

Pada sekarang ini ada dua aliran filsafat yang mempunyai peranan besar,

tetapi yang belum dapat dianggap sebagai aliran yang "membuat sejarah",

karena mereka masih terlalu baru. Kedua aliran ini adalah filsafat

analitis dan strukturalisme.

Filsafat analitis merupakan aliran terpenting di Inggris dan Amerika

Serikat, sejak sekitar tahun 1950. Filsafat analitis (yang juga disebut

analitic philosophy dan linguistic philosophy) menyibukkan diri dengan

analisis bahasa dan analisis konsep-konsep. Analisis ini dianggap

sebagai "terapi": menurut filsuf-filsuf analitis, banyak soal falsafi

(dan juga soal teologis dan ilmiah) dapat "sembuh" kalau, berkat

analisis bahasa, bisa ditunjukkan bahwa soal-soal ini hanya diciptakan

oleh pemakaian yang tidak sehat dari bahasa. Filsafat analitis sangat

dipengaruhi oleh L. Wittgenstein

Strukturalisme

berkembang di Perancis, lebih-lebih sejak tahun 1960. Strukturalisme

merupakan suatu sekolah dalam filsafat, linguistik, psikiatri,

fenomenologi agama, ekonomi dan politikologi. Sturukturalisme

menyelidiki "patterns" (pola-pola dasar yang tetap) dalam bahasa-bahasa,

agama-agama, sistem-sistem ekonomi dan politik, dan dalam karya-karya

kesusasteraan. Tokoh-tokoh terkenal dari strukturalisme antara lain Cl.

Lévi-Strauss, J. Lacan dan Michel Foucault

Akhirnya,................. dalam sejarah filsafat kita bertemu dengan

hasil penyelidikan semua cabang filsafat. Sejarah filsafat mengajarkan

jawaban-jawaban yang diberikan oleh pemikir-pemikir besar, tema-tema

yang dianggap paling penting dalam periode-periode tertentu, dan

aliran-aliran besar yang menguasai pemikiran selama suatu jaman atau di

suatu bagian dunia tertentu. Cara berpikir tentang manusia, tentang asal

dan tujuan, tentang hidup dan kematian, tentang kebebasan dan cinta,

tentang yang baik dan yang jahat, tentang materi dan jiwa, alam dan

sejarah. Tetapi ada banyak pertanyaan dan jawaban yang selalu kembali,

di segala jaman dan di semua sudut dunia. Oleh karena itu sejarah

filsafat sesuatu yang sangat penting. Karena dalam sejarah filsafat

seakan-akan suatu dialog antara orang dari semua jaman dan kebudayaan

tentang pertanyaan-pertanyaan yang paling penting. g o d

g o d is offline Reply With Quote

g o d

View Public Profile

Find More Posts by g o d

Old 22-04-2005, 06:36 PM #*15*

g o d

kaskus geek

Join Date: Sep 2003

Location: Somehwere in heaven , i hope

Posts: 16,534

UserID: *20873*

g o d akan menjadi terkenal

*Sejarah pengelompokkan filsafat*

------------------------------------------------------------------------

Filsafat bertanya tentang seluruh kenyataan.

Tetapi selalu salah satu segi dari kenyataan yang sekaligus menjadi

titik fokus penyelidikan kita. Filsafat selalu bersifat "filsafat

tentang" sesuatu tertentu...

misalnya: filsafat tentang manusia, filsafat alam, filsafat kebudayaan,

filsafat seni, filsafat agama, filsafat bahasa, filsafat sejarah,

filsafat hukum, filsafat pengetahuan, dan seterusnya.

@Aristoteles mengadakan pengelompokan sebagai berikut:

Sejarah logika, yaitu ajaran tentang kategori, pengambilan kesimpulan

dsb pembuktian serta topika yaitu dialektika,

Ilmu-ilmu pengetahuan alam, berisi antara lain tentang fisika, langit,

meteorologi, jiwa, binatang,

Etika,

Politik,

Bahasa dan seni.

@Cassidorus menyebut tujuh macam seni liberal, yaitu:

Trivium, terdiri atas Gramatika, Logika, Retorika, dan

Quadrivium yang terdiri atas Ilmu hitung, Ilmu Ukur, Astronomi dan Musik.

@Kant (Stroriq, 1972) di dalam Kritik-nya Terhadap Rasio Murni

mengadakan pembagian sebagai berikut:

Bagian pertama berisi ajaran elementer yang transendental,

Bagian kedua berisi ajaran transendental tentang metode.

Ajaran elementer tersebut dibagi lagi menjadi estetika transendental,

yang membicarakan tentang kemampuan inderawi dan logika transendental

yang membicarakan tentang kemampuan berpikir.

Logika dibagi lagi menjadi analitika transendental dan dialektika

transendental. Selanjutnya dalam Kritik-nya Terhadap Rasio Yang Praktik

ia banyak membicarakan tentang Etika dan Religi.

Di dalam bukunya, Perspectives in Social Philosophy (1967), Beck (1967)

menyebut lapangan filsafat, yaitu:

Epistemologi atau filsafat pengetahuan. Yang dibicarakan antara lain

adalah sumber, kriteria, dan hakikat pengetahuan.

Metafisika atau teori tentang realitas. Yang dibicarakan antara lain

segala sesuatu yang ada, hekikat realita, prinsip pemahaman kosmos.

Ilmu pengetahuan normatif, yang terdiri atas etika, estetika dan

filsafat ketuhanan.

g o d is offline Reply With Quote

g o d

View Public Profile

Find More Posts by g o d

Old 22-04-2005, 06:50 PM #*16*

g o d

kaskus geek

Join Date: Sep 2003

Location: Somehwere in heaven , i hope

Posts: 16,534

UserID: *20873*

g o d akan menjadi terkenal

*Pembagian filsafat Modern menurut Harry Hamesma*

------------------------------------------------------------------------

Harry Hamersma di dalam bukunya Pintu Masuk Ke Dunia Filsafat (Kanisius,

1981), membicarakan sepuluh cabang filsafat, yang masih dapat

dikembalikan lagi kepada empat bidang induk, sebagai berikut:

1.Filsafat tentang pengetahuan:

Epistemologi

Logika

Kritik ilmu-ilmu

2.Filsafat tentang keseluruhan kenyataan:

Metafisika umum (atau, ontologi)

Metafisika khusus, terdiri dari:

3.Teologi metafisik (disebut juga "teodise" dan "filsafat ketuhanan") :

Antropologi

Kosmologi (disebut juga "filsafat alam")

Filsafat tentang tindakan:

4.Etika (disebut juga "filsafat moral")

Estetika (disebut juga "filsafat seni", "filsafat keindahan")

Sejarah filsafat

Berikut ini penjelasan masing-masing secara lebih dalamnya:

Epsitemologi,... merupakan "pengetahuan tentang pengetahuan". Suatu

studi tentang asal usul, hakikat, dan jangkauan pengetahuan. Beberapa

pertanyaan yang mungkin diajukan dalam espistemologi adalah: Apakah

pengalaman merupakan satu-satunya sumber pengetahuan? Apakah yang

menyebabkan suatu keyakinan benar dan yang lain salah? Adakah soal-soal

penting yang tidak dapat dijawab oleh sains (ilmu spesial)? Dapatkah

kita mengetahui pikiran perasaan orang lain?

Logika, ...menyelidiki aturan-aturan yang harus diperhatikan supaya cara

berpikir kita sehat. Suatu studi tentang prinsip-prinsip yang dipakai

untuk membedakan antara argumen yang masuk akal dan argumen yang tidak

masuk akal, serta tentang berbagai bentuk argumentasi. Contohnya: apa

perbedaan antara pemikiran induktif dan deduktif? Mengapa argumentasi

"Semua anjing adalah kucing. Sokrates adalah anjing. Maka, Sokrates

adalah kucing" dianggap valid? Apa pebedaan antara logika penjelasan

ilmiah dan logika pertimbangan moral?

Kritik ilmu-ilmu,... menyelidiki titik pangkal, metode, objek dari

ilmu-ilmu ("filsafat ilmu"). Suatu studi tentang metode, asumsi, dan

batas-batas ilmu pengetahuan. Adakah satu metode yang khas dalam ilmu

pengetahuan? Apakah perbedaan antara sebuah teori dan sebuah hukum dalam

ilmu pengetahuan? Apakah hakikat penjelasan ilmiah? Apakah kebebasan

manusia selaras dengan ilmu pengetahuan?

Ontologi, merupakan pengetahuan tentang "semua pengada sejauh mereka

ada". Suatu studi yang membahas apa yang ingin kita ketahui, seberapa

jauh kita ingin ketahui, atau, dengan perkataan lain, suatu pengkajian

mengenai teori tentang "ada".

Teologi metafisik,... membicarakan tentang pertanyaan apakah Tuhan ada

dan tentang nama-nama ilahi. Suatu studi tentang hakikat, ragam dan

objek kepercayaan agama. Apa hubungan antara akal dan iman? Apa

sesungguhnya agama? Dapatkah Allah diketahui lewat pengalaman langsung?

Dapatkah eksistensi kejahatan didamaikan dengan iman akan suatu Allah

yang sempurna dan berpribadi? Apakah istilah-istilah religius memiliki

makna khusus?

Antropologi, ...membicarakan tentang manusia ("filsafat manusia"). Suatu

studi yang membicarakan manusia seluruhnya, dengan segala sudutnya,

namun dengan mementingkan penggunaan metode filosofis dalam penyelidikannya.

Kosmologi,... membicarakan tentang alam, kosmos. Suatu studi yang hendak

mengetahui "rahasia alam". Dari mana datangnya alam ini, betapa

terjadinya, bagaimana kemajuannya dan ke mana sampainya?

Etika,... membicarakan tentang tindakan manusia. Suatu studi tentang

prinsip-prinsip dan konsep-konsep yang mendasari penilaian terhadap

perilaku manusia. Contohnya: Dengan patokan apa kita membedakan antara

tindakan yang benar dan yang salah secara moral? Apakah kesenangan

merupakan satu-satunya ukuran untuk menentukan sesuatu sebagai "baik"?

Apakah keputusasaan moral bersifat sewenang-wenang atau sekehendak hati?

Estetika,... mencoba menyelidiki mengapa sesuatu dialami sebagai indah.

Suatu studi tentang prinsip-prinsip yang mendasari penilaian kita atas

berbagai bentuk seni. Apakah tujuan seni? Apa peranan rasa dalam

pertimbangan estetis? Apa yang ditangkap, dialami, dirasakan dan

dihayati sebagai indah?

Sejarah filsafat dunia, ...mengajar apa jawaban pemikir-pemikir jaman

atas pertanyaan-pertanyaan manusia.

##

Tidak semua filsuf setuju dengan pembagian seperti diuraikan di atas.

Ada filsuf yang menyangkal kemungkinan ontologi atau kemungkinan seluruh

metafisika. Namun, pembagian seperti di atas ini merupakan sekma yang

paling klasik dan paling umum diterima.

g o d is offline Reply With Quote

g o d

View Public Profile

Find More Posts by g o d

Old 22-04-2005, 10:20 PM #*17*

Flicus

kaskus addict

Flicus's Avatar

Join Date: Jan 2005

Location: dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung

Posts: 3,304

UserID: *65100*

Flicus akan menjadi terkenal

@GOD top.....sama persis datanya ma g

Flicus is offline Reply With Quote

Flicus

View Public Profile

Find More Posts by Flicus

Old 23-04-2005, 02:07 AM #*18*

cocacola

kaskus freak

cocacola's Avatar

Join Date: May 2002

Location: now here or nowhere... i don't know...

Posts: 35,820

UserID: *4368*

cocacola is a jewel in the roughcocacola is a jewel in the roughcocacola

is a jewel in the roughcocacola is a jewel in the rough

wewwww... banyakkkkk....!!! hehheheee

thxxx....

cocacola is offline Reply With Quote

cocacola

View Public Profile

Find More Posts by cocacola

Old 23-04-2005, 01:28 PM #*19*

bloody_midas

kaskus holic

Join Date: Oct 2004

Location: middle of nowhere

Posts: 927

UserID: *55897*

bloody_midas tidak memiliki reputasi

pusing2... nah sekarang gue nanya nih.. kalo yang namanya agama

syamsiah, ityu namnya filsafat hidup bukan??? karena selama ini gue

belajar agama, nah gue nilai tata cara kehidupannya itu dah bagus...

gimana nih??

bloody_midas is offline Reply With Quote

bloody_midas

View Public Profile

Find More Posts by bloody_midas

Old 23-04-2005, 02:27 PM #*20*

g o d

kaskus geek

Join Date: Sep 2003

Location: Somehwere in heaven , i hope

Posts: 16,534

UserID: *20873*

g o d akan menjadi terkenal

*2 aliran besar masa kini*

------------------------------------------------------------------------

2 aliran besar filsafat masa kini eksitensialisme dan post modernis

untuk mudahnya akan kita pilah dan pelajari satu demi satu!!!

##Pengantar eksitensialisme##

Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang menekankan eksistensia.

Para pengamat eksistensialisme tidak mempersoalkan esensia dari segala

yang ada. Karena memang sudah ada dan tak ada persoalan. Kursi adalah

kursi. Pohon mangga adalah pohon mangga. Harimau adalah harimau. Manusia

adalah manusia.

Namun, mereka mempersoalkan bagaimana segala yang ada berada dan untuk

apa berada.

Oleh karena itu, mereka menyibukkan diri dengan pemikiran tentang

eksistensia. Dengan mencari cara berada dan eksis yang sesuai, esensia

pun akan ikut terpengaruhi. Dengan pengolahan eksistensia secara tepat,

segala yang ada bukan hanya berada, tetapi berada dalam keadaan optima.

Untuk manusia, ini berarti bahwa dia tidak sekadar berada dan eksis,

tetapi berada dan eksis dalam kondisi ideal sesuai dengan kemungkinaan

yang dapat dicapai. Dalam kerangka pemikiran itu, menurut kaum

eksistensialis, hidup ini terbuka. Nilai hidup yang paling tinggi adalah

kemerdekaan. Dengan kemerdekaan itu, keterbukaan hidup dapat ditanggapi

secara baik. Segala sesuatu yang menghambat, mengurangi, atau meniadakan

kemerdekaan harus dilawan. Tata tertib, peraturan, hukum harus

disesuaikan atau, bila perlu, dihapus dan ditiadakan. Karena adanya tata

tertib, peraturan, hukum dengan sendirinya sudah tak sesuai dengan hidup

yang terbuka dan hakikat kemerdekaan. Semua itu membuat orang terlalu

melihat ke belakang dan mengaburkan masa depan, sekaligus membuat

praktik kemerdekaan menjadi tidak leluasa lagi.

Dalam hal etika, karena hidup ini terbuka, kaum eksistensialis memegang

kemerdekaan sebagai norma. Bagi mereka, manusia mampu menjadi seoptima

mungkin. Untuk menyelesaikan proyek hidup itu, kemerdekaan mutlak

diperlukan. Berdasarkan dan atas norma kemerdekaan, mereka berbuat apa

saja yang dianggap mendukung penyelesaian proyek hidup. Sementara itu,

segala tata tertib, peraturan, hukum tidak menjadi bahan pertimbangan.

Karena adanya saja sudah mengurangi kemerdekaan dan isinya menghalangi

pencapaian cita-cita proyek hidup. Sebagai ganti tata-tertib, peraturan,

dan hukum, mereka berpegang pada tanggung jawab pribadi. Mereka tak

mempedulikan segala peraturan dan hukum, dan tidak mengambil pusing akan

sanksi-sanksinya. Yang mereka pegang adalah tanggung jawab pribadi dan

siap menanggung segala konsekuensi yang datang dari masyarakat, negara,

atau lembaga agama. Satu-satunya hal yang diperhatikan adalah situasi.

Dalam menghadapi perkara untuk menyelesaikan proyek hidup dalam situasi

tertentu, pertanyaan pokok mereka adalah apa yang paling baik yang

menurut pertimbangan dan tanggung jawab pribadi seharusnya dilakukan

dalam situasi itu. Yang baik adalah yang baik menurut pertimbangan norma

mereka, bukan berdasarkan perkaranya dan norma masyarakat, negara, atau

agama.

Segi positif yang sekaligus merupakan kekuatan dan daya tarik etika

eksistensialis adalah pandangan tentang hidup, sikap dalam hidup,

penghargaan atas peran situasi, penglihatannya tentang masa depan.

Berbeda dengan orang lain yang berpikiran bahwa hidup ini sudah selesai,

yang harus diterima seperti adanya, dan tak perlu diubah, etika

eksistensialis berpendapat bahwa hidup ini belum selesai, tidak harus

diterima sebagai adanya, dan dapat diubah, bahkan harus diubah.

Ini berlaku untuk hidup manusia sebagai pribadi, masyarakat, bangsa, dan

dunia seanteronya. Dalam arti itulah hidup dimengerti sebagai proyek.

Orang yang memandang hidup sebagai sudah selesai, mempunyai sikap pasrah

dan "menerima", sementara kaum eksistensialis yang memahami hidup

sebagai belum selesai mempunyai sikap berusaha dan berjuang. Hidup ini

perlu dan harus diperbaiki. Faktor penting untuk perbaikan hidup itu

adalah tanggung jawab. Setiap orang harus bertanggungjawab atas hidupnya

dan dengan sungguh-sungguh berupaya untuk mengembangkannya. Bagi orang

yang merasa hidup sudah jadi, situasi hidup menjadi sama saja. Tidak ada

situasi penting, mendesak, atau genting. Karena hidup selalu berjalan

normal. Namun, bagi kaum eksistensialis yang memahami hidup belum

selesai, setiap situasi membawa akibat untuk kemajuan kehidupan. Oleh

karena itu, setiap situasi perlu dikendalikan, dimanfaatkan, diarahkan

sehingga menjadi keuntungan bagi kemajuan hidup. Akhirnya, bagi orang

yang menerima hidup sudah sampai titik dan puncak kesempurnaannya, masa

depan tidak amat berperan karena masa depan pun keadaannya akan sama

saja dengan masa yang ada sekarang. Namun, bagi kaum eksistensialis yang

belum puas dengan hidup yang ada dan yang merasa perlu untuk

mengubahnya, masa depan merupakan faktor yang penting. Karena hanya

dengan adanya masa depan itu, perbaikan hidup dimungkinkan dan pada masa

depan pula hidup baik itu terwujud.

Dengan demikian, gaya hidup kaum eksistensialis menjadi serius, dinamis,

penuh usaha, dan optimis menuju ke masa depan.

g o d is offline Reply With Quote

g o d

View Public Profile

Find More Posts by g o d

Your Ad Here

Your Ad Here

*Rasakan kecepatan Akses Kaskus Tanpa Banner (AKTB)*

Selain itu nikmati fasilitas search dan akses ke lebih dari 19,343,657 posts

Akses ke forum khusus donatur (ketemu moderator dan admin)

Kemampuan untuk melihat siapa pemberi GRP/BRP ke kamu

Reply

Page 1 of 6 *1* 2 3

4 5

6 >

*«* Previous Thread | Next

Thread *»*

Thread Tools

Show Printable Version Show Printable Version

Email this Page Email this Page

<#top> Posting Rules

You *may not* post new threads

You *may not* post replies

You *may not* post attachments

You *may not* edit your posts

------------------------------------------------------------------------

vB code is *On*

Smilies are *On*

[IMG] code is *On*

HTML code is *Off*

All times are GMT +7. The time now is 03:14 PM.

Your Ad Here

www.kask.us

* Contact Us - Kaskus.us -

Archive - Privacy Statement

- Top <#top> *

Powered by vBulletin Version 3.6.8

Copyright ©2000 - 2007, Jelsoft Enterprises Ltd.

Kaskus is providing basic human rights such as freedom of speech

By using Kaskus, you agree to the following conditions:

Use this site at your own risk and it is not the risk of the owner or

the webhost.

If you do not agree to these terms, please do not use this service or

you will face consequences.

*General Rules | KaskusRadio

| Interested in doing business with Kaskus?

*lan

6 komentar:

Anonim mengatakan...

41996.....21236

Anonim mengatakan...

hi
i hope i enjoy my stay here


pls be nice to me

thanks!

Anonim mengatakan...

I am sure you will love [URL=http://e--store.com/]lv online[/URL] at my estore XWeuyZoU [URL=http://e--store.com/ ] http://e--store.com/ [/URL]

Anonim mengatakan...

buy a [URL=http://e--store.com/]prada online outlet[/URL] at my estore oskJGcEt [URL=http://e--store.com/ ] http://e--store.com/ [/URL]

Anonim mengatakan...

buy a RjIuVfea [URL=]burberry purses[/URL] for less IggJGNWg [URL= ] [/URL]

Anonim mengatakan...

look at NHoFQehd [URL=http://www.ugg--outlet-online.blogspot.com/]leather ugg boots[/URL] and get big save fMaEGLGH [URL=http://www.ugg--outlet-online.blogspot.com/ ] http://www.ugg--outlet-online.blogspot.com/ [/URL]