Senin, 11 Februari 2008

payan nameh kamilah

Bab I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang Masalah

Kesadaran akan pentingnya aktifitas tablig sudah terekam sejak zaman Ghazali. Aktifitas tabligh adalah arus utama para propagandis muslim didesak oleh motivsi internal dan juga karena berdialektika dengan zamannya. Zaman dan zeitgeist dalam prosesnya semakin menyentuh kesadaran nurani akan perlunya perbaikan dunia dan masyarakat.

Kesadaran akan signifikansinya ajaran-ajaran islam yang luhur sebagai jawaban atas segala hajat spiritual anak adam di jagat dunia ini menjadi basis kesadaran sebagian aktitif muslim untuk berkiprah dalam jalan yang pernah dirintis para nabi di sepanjang sejarah manusia. Seolah-oleh para mubalig ini ingin bergabung dengan kafilah suci para nabi yang selalu aktif berdakwah di sepanjang masa.

Mereka melakukan gugatan besar bahwa keruntuhan nilai-nilai kemanusiaan dalam beragam bentuk karena bersandar para nilai-nilai sekular. Di semua lini kehidupan telah terjadi ‘bencana’ dan prahara moral dan spiritual akibat ketercerabutan dari nilai-nilai Islam

Zaman terus merekam kiprah alim dan kaum intelektual yang terus mencerahkan dunia dengan Islam as way of life dan kita bisa menyisir dialektika tokoh-tokoh Islam baik lokal, nasional maupun internasional dengan zamannya dengan berbagai pendekatan (approach) yang mereka gunakan.

Memang belum ada yang merintis secara metodologis dan strategis tentang dakwah yang harus sesuai dengan semangat zaman (zetgeist) sebab setiap ulama memiliki formula sendiri dalam membaca zaman dan situasi yang ada. Karena itu wawasan dakwah adalah wawasan dan kelompok yang aktif di zaman ini. Atau bisa dikatakan bahwa dunia dakwah dibentuk oleh sang dai sendiri seperti halnya dai juga terbentuk oleh dunia dakwah.

Kalau di Indonesia kita mengenal Nurcholish Madjid, Jalaludin Rakhmat, Ahmad Dahlan, Surkati Ahmad Hasan, Aa Gym, Arifin Ilham, Quraish Shihab, maka di luar negeri kita akan mengenal Muthahari, Syariati, Yusuf Qaradhawi, Muhsin Qiraati (Selanjutnya akan disebut Qiraati saja), Aidh Al-Qarni, adalah di antara deretan tokoh yang memiliki para pencinta sendiri dan menjadi panutan.

Karena itu maraknya dunia dakwah sejak dulu hingga sekarang tak pelak lagi menyisakan ragam strategi dan polarisasi dalam menyampaikan ajaran-ajaran islam. Agama yang kaffah (multidimensional) ini. Ajaran-ajaran Islam yang disampaikan oleh para ahlinya boleh jadi berbentuk hikmah, filsafat, tafsir, ceramah, kuliah-kuliah, tulisan baik dalam format buku atau format elektronik. Agama kembali dan terus akan diwacanakan, disuarakan karena memang itu menjadi kebutuhan fitrah manusia

Salah satu sumber dakwah Islam yang cemerlang dan diyakini sebagai mukjizat terbesar bagi umat islam adalah al-Quran. Al-Quran adalah sumber yang tidak akan kering keajaiban-keajaibannya, sumber hukum, sumber moral, sumber inspirasi dan juga sumber dakwah, yang menarik al-Quran tidak hanya menjadi referensi bagi para mufasir, teolog, filsuf dan bahkan seperti kata Sayid
Husein Nasr sendiri al-Qur’an juga menjadi inspirasi bagi banyak kalangan termasuk para non-muslim.

Kebutuhan kepada al-Quran memang tidak hanya dirasakan oleh para pakar Islam yang telah mengenyam garam kehidupan, namun perasaan ketergantungan kepadanya lebih terasa menggigit bagi kalangan alim terhadap al-Quran dan banyak yang menginsyafi hidupnya kenapa mereka dahulu lebih menyibukan mempelajarai hal-hal yang lain dibandingkan al-Quran. Kesadaran ini adalah kesadaran intelektual dan spiritual yang mungkin kurang dirasakan oleh kalangan awam atau biasa.

Qiraati dalam ini merekamnya, bahwa jika manusia membutuhkan petunjuk, maka al-Quran adalah pemandunya. Rasululah saw berkata, Sesungguhnya al-Quran adalah imam (pemandu dari Allah). Jika manusia membutuhkan guru maka al-Quran adalah petunjuk yang tidak diragukan lagi.1

Bahkan menurut Qirati al-Quran juga wahana dan instrumen untuk melakuan refleksi. Kami menurunkan al-Quran dengan bahasa arab agar kalian memahami dan berpikir.2 Artinya karena pikiran adalah ciptaaanya maka al-Quran juga memiliki gaya berpikir yang dapat difahami oleh umatnya.

Salah satu mubalig yang sangat populer di Iran dan memiliki gaya berdakwah yang tipikal adalah Qiraati. Qiraati adalah pakar dalam ilmu-ilmu tradisional islam termasuk juga dalam ilmu tafsir. Ia pendakwah sukses yang mampu menyampaikan Islam untuk segala kalangan dengan cara yang gampang dicerna serta menyentuh realita keseharian Padahal hampir seluruh tema-temanya tidak lepas dari rujukan-rujukan ayat-ayat al-Quran.

Qiraati tidak saja seorang ulama yang menjulang di negeri sendiri tapi juga memiliki kiprah di beberaapa negeri islam baik lewat kuliah-kuliahna secara langsung di depan khalayak ramai yang selalu menyedot perhatian berbagaai kalangan akademi seperti yang ditulis tentang pengalamannya di Pakistan atau lewat karya-karya yang cukup melimpah. Sebagai penulis prolific ia memiliki tulisan-tulisan yang enak dibaca dan diperlukan. Kelebihan lain ditunjang juga oleh kepiawainnya dalam berkomunitas baik secara verbal dan non verbal.

Kemampuan menggali gaya berpikir al-Quran itulah yang sangat menggugah kesadaran emosional dan spiritual audience dan juga komunitas yang hadir dalam kuliah-kuliah tafsirnya. Setiap orang akan tercengkram dengan ketajaman penalaran dan tafsirannya atas ayat-ayat yang sebenarnya sering menyapa setiap umat dan mubalig – yang sayangnya tidak setiap orang memiliki kapasitas untuk membaca gaya berpikir ayat-ayat al-Quran- Ia tidak hanya sekedar merujuk pada tafsiran-tafsiran tradisional dan menerima bulat-bulat penafsiran yang konvensional tapi juga membesut perspektif lain yang lebih menggelitik kesadaran moral.

B. Perumusan Masalah

Sebetulnya sangat banyak sekali elemen yang dapat digali dari Qiraati, namun dalam hal in penulis membatasi pada dua karakter dari Qiraati dalam aktifitasnya dakwahnya yang sangat signifikan untuk umat.

Dalam penelitian ini, penulis akan memfokuskan pembahasan, pada Konsep Dakwah dalam Pandangan Qiraati. Masalah pokok penelitian dapat dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:

1. Bagaimana konsep dakwah dalam pandangan Qiraati?

2. Bagaimana Qiraati dan referensi al-Qur’an?

C. Tujuan Penulisan

Sesuai dengan perumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk berusaha memberikan jawaban terhadap permasalahan di atas, yaitu :

1. Untuk menjelaskan konsep dakwah dalam pandangan Qiraati.

2. Untuk menjelaskan aspek Qiraati dan referensi al-Qur’an.

D. Kegunaan Penulisan

Penelitian ini diharapkan dapat memiliki nilai signifikansi secara akademis, sosial, dan praktis.

1. Kegunaan Ilmiah

Berupaya memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu dakwah khususnya memberikan kontribusi sisi lain dari konsep dakwah yang dilahirkan dari tokoh Muhsin Qiraati.

2. Kegunaan Praktis

a. Memberikan informasi bagi masyarakat mengenai konsep dakwah Qiraati sebagai wahana baru dalam bidang dakwah yang menggabung antara tafsir dan dakwah.

b. Sebagai bahan informasi dan referensi bagi penelitian selanjutnya yang akan meneliti mengenai konsep dakwah atau metode tafsir Muhsin Qiraati.

c. Untuk mencari metoda-metoda alternatif baru dalam rangka meningkatkan kualitas intelektual dan amal manusia muslim.

E. Metodologi

1. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Seperti dikemukakan oleh Sarwono, bahwa dalam tradisi riset dikenal ada dua jenis pendekatan utama penelitian, yaitu pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif menekankan pada penggunaan angka-angka, rumus-rumus statistik serta pengukuran, sementara pendekatan kualitatif memfokuskan pada aspek kealamiahan data.3

Pendekatan kualitatif menekankan pada makna, penalaran, definisi suatu situasi tertentu dalam konteks tertentu. Sedangkan pendekatan kuantitatif mementingkan adanya variabel-variabel sebagai obyek penelitian dan variabel-variabel tersebut harus didefinisikan dalam bentuk operasionalisasi variabel masing-masing.4

Adapun tujuannya, pendekatan kualitatif bertujuan mengembangkan pengertian dan konsep-konsep atau realitas sosial yang ada. Sebaliknya pendekatan kuantitatif bertujuan untuk menguji teori, membangun fakta, menunjukkan hubungan antar variabel, memberikan deskripsi statistik, menaksir dan meramalkan hasilnya.5

Penelitian tentang konsep dakwah dalam pandangan Qiraati ini menggunakan pendekatan kualitatif dikarenakan bertujuan untuk mengembangkan pengertian dan konsep-konsep dakwah tanpa melibatkan analisis statistik yang bertingkat-tingkat.

2. Sifat Penelitian

Penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang berupaya untuk memperoleh deskripsi yang lengkap dan akurat guna mencapai tujuan penelitian.6

Pada penelitian ini, semua data-data yang diambil dari buku-buku Qiraati dan ceramah-ceramah beliau akan diolah dan dianalisis secara mendalam untuk mengetahui bagaimana konsep dakwah dalam pandangan beliau.

3. Paradigma Penelitian yang Digunakan

Paradigma penelitian yang digunakan dalam meneliti konsep dakwah Qiraati di sini menggunakan paradigma konstruktivis, di mana konstruktivis melihat bahwa realitas bergantung kepada definisi subjektif individu peneliti. Konstruktivisme, lebih mengutamakan pemahaman terhadap konteks dan makna-makna dalam memahami realitas, sehingga akan muncul penjelasan yang beragam.7

Kebenaran dan pengetahuan objektif bukanlah ditemukan melainkan diciptakan oleh setiap individu, karena yang terlihat nyata sesungguhnya merupakan hasil konstruksi pemikiran individu.8 Ini menunjukan bahwa subjek sangat memegang peranan yang menciptakan dan menyusun makna dalam pikirannya.

Penelitian yang menggunakan paradigma ini lebih menekankan kepada interaksi dialektis antara peneliti dengan objeknya untuk mengkonstruksi realita yang diteliti melalui metode-metode kualitatif. Di sini peneliti berusaha menjembatani keragaman dalam teks buku-buku Qiraati dan memilah konsep dakwah beliau.9

4. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research method), yaitu dengan mengambil bahan-bahan penelitian dari penelusuran dan penelaahan yang bersumber dari buku-buku atau karya-karya tulis Muhsin Qiraati. Artinya seluruh sumber yang terkait dengannya merujuk pada sumber-sumber data tertulis yang berhasil penulis kumpulkan, diterjemahkan dan didokumentasikan dari berbagai pustaka yang ada.

Buku-buku tersebut di antaranya: Tafsir nur al-Quran, Ensiklopedia salat, Haji, Ammar makruf nahi munkar, Manusia dan dunia di dalam al-Quran, Dosa-dosa, tafsir al-ankabut, tafsir surah Yasin, Tafsir, Luqman, Tafsir al-Isra, Tafsir al-Hujurat, Tafsir ayat-ayat pilihan, dan karya-karya peneliti lainnya yang meneliti tentang pemikiran dakwah Muhsin Qiraati dan tentang ayat-ayat al-Quran akan dijadikan sebagai sumber data sekunder selama masih relevan dengan penelitian ini.

5. Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan suatu proses lanjutan dari proses pengolahan data untuk menginterpretasikan data.10 Sedangkan menurut Moleong, analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan arah atau kesimpulan seperti yang disarankan oleh data.11

Analisis data dalam penelitian ini adalah memahami pemikiran Qiraati mengenai konsep dakwah dari berbagai buku beliau dan dideskripsikan dengan urutan logis sesuai dengan teori-teori dakwah yang ada atau memformulasikan konsep dakwah yang lain sesuai dengan arah data dari pemikiran Qiraati.

E. Sistematika Penulisan

Untuk lebih sistematisnya pembahasan ini, penelitian ini maka akan dibagi ke dalam 5 bab yang masing-masing bab terdiri dari sub-bab yang merupakan satu kesatuan yang terkait satu dengan lainnya.

Bab 1 yang merupakan rancangan dari penelitian yang meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, kajian pustaka, metoda penelitian dan sistematika pembahasan.

Bab II membahas secara singkat seputar sejarah kehidupan Mohsen Qiraati, yang mencakup asal-usul keluarga, masa pendikan, guru-guru dan juga aktifitas dan kategori dari karya-karyanya.

Bab III merupakan pembahasan yang akan secara khusus membahas Konsep Dakwah Qiraati secara umum.

Bab IV merupakan bab inti dari penelitian ini yang membahas tentang pemikiran Qiraati dalam kaitannya dengan materi dakwah atau referensi dakwah yaitu al-Quran.

Bab V Berisi penutup, kesimpulan dan saran-saran yang merupakan akhir dari penelitian ini.

Bab II

BiograFi Ayatulah Muhsin Qiraati

A. Sejarah Hidup Qiraati

Ayatullah Muhsin Qiraati (selanjutnya disebut Qiraati) adalah figur alim yang tidak suka dengan basa-basi dan tidak suka dengan segala macam protokoler yang kaku dan menghalangi keakraban dengan umatnya. Ia juga mashur sebagai mubalig yang mendakwahkan kehatia-hatian dalam pemanfaatan baetul mal. Karena itu tidaklah heran kalau sebagian besar perjalannya dilakukan sendirian tanpa membawa ajudan.

Yang istimewa darinya adalah kecintaan yang mendarah daging kepada al-Quran. Itu disempurnakan dengan kefasehannya dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran di sela-sela kuliah-kuliah umum.

Peranan para ulama di tengah-tengah masyarakat Iran dari dulu hingga saat ini dan terutama di zaman imam Khomeini dan Ali Khamenei, tidak mungkin diabaikan dari panggung sejarah. Mereka dengan segala kesulitan di tengah-tengah masyarakat yang sebagiannya masih sekuler terus berusaha menghidupkan ajaran-ajaran islam dengan segala metoda. Para ulama di bawah kepempimpinan Imam Khomeini menjadi ujung tombak dari sebuah misi islam yang hadir dalam setiap kancah perjuangan. Diantara sekian ribu ulama yang turut menghidupkan revolusi dan menjaga semangatnya adalah Muhsin Qiraati seorang murid imam yang mewarisi sifat tidak bisa tinggal diam atas segala problema umatnya.

B. Kategori Ulama dalam Islam

Memang Islam mengkategorikan ulama dalam Menurut Islam ulama itu ada beberapa kategori ulama yang lebih sibuk dengan kepentingannya sendiri tapi ada juga ulama ideal yaitu sosok dan figur yang terusm selain sebagai pemandu umat di saat yang sama ia juga aktif dan memiliki kesadaran social dan politik di zamannya. Seorang ulama umat adalah ulama yang ikut berkiprah terjun untuk mengatasi segala beban penderitaan umat.

Ayatullah Mohsen Qiraati lahir di iran pada tahun 1946 dari keluarga yang taat beragama. Ia adalah tipe ulama yang bersahaja dan merakyat, tapi meskipun demikian ia memiliki cirikhas seoang mubalig yang benar-benar menguasi forum. Tokoh yang dikenal karena kuliah-kuliah agamanya. Hampir 15 juta orang lebih lebih setiap minggunya menyaksikan kuliah-kuliah tafsir al-Quran yang sangat menyegarkaan jiwa.

Dalam karir akademiknya Muhsin Qiraati banyak belajar dari beberapa Ayattullah ternama seperti ayatulah Sayid Ridha Ghulfaegani yang pernah memberi nasihat agar lebih memberi fokus kepada anak-anak muda yang kehausan akan ilmu pengetahuan. Setelah menyelesaikan seluruh pelajaran dasar (muqadimah) di kota kelahirnya Kasyan, ia berhijrah ke kota Qom dan belajar selama 15 tahun dari tingkat satuh hinga tingal level kharij. Qiraati juga pernah belajr selama satu tahun di Masyhad dan satu tahun di Najaf abad dan Isfahan.

Figur lain yang sangat mempengaruhi kehidupan beliau adalah sosok Imam Khomeini. Ia mulai mengenal Imam sejak tahun 1964 melalui surat-surat dan ceramah-ceramah imam dalam rangka menyelamatkan masyarakat islam Iran dari cengkeraman Rezim syah dan boneka-boneka Amerika serikat. 12

Surat-surat Imam dari perancis digambarkan Qiraati seperti kampak nabi Ibraihinm yang dapat menghancurkan patung-patung berhala abad ini , Karena itu Imam juga mendapat gelar ruhullah. Bagi Qiraati Imam Khomeini adalah wasiat tuhan di muka bumi yang akan memberi rahmat kepada seluruh manusia. Karena Imam melihat semua kalangan dengan pandanga yang sama

Beliau juga adalah seorang mubalig yang sangat mencintai anak-anak muda dan itu tak lepas dari misinya sebagai mubalig. Ia merasa itu adalah panggilah Ilahi dan ia merasa bahwa tablig itu harus dinikmati oleh semua kalangan

Ayatulah ini juga telah menghasilkan berbagai karya di antaranya kitab Ushuludin dalam lima jilid, tafsir an-Nur 12 jilid, Ensiklopedia salat 10 jilid, tentang Haji, Ammar makruf nahi-munkar, Tafsir anak muda surah yusuf, tafsir anak muda surah al-Ankabut, surah al-Isra, tafsir anak muda surah Luqman, tafsir anak muda surah al-Hujurat, tafsir anak muda surah Yasin, tentang Dosa,dsb

Qara'ati pernah bercerita tentang ayahnya yang hingga mencapai usia 45 tahun masih belum diberkati anak. Padahal ia ingin sekali memiliki anak. Kemudian ia pergi ke Mekkah dan memohon di hadapan Kabah. Ia ingin agar jika dikarunia anak, kelak ia akan menjadi seorang muballigh. Lalu ketika dia pulang, Allah Swt memberikannya 12 anak dan semuanya menjadi muballigh, termasuk Qara'ati sendiri. "Saya sekarang bisa berada di negeri Indonesia di hadapan Anda sekalian berkat ayah saya yang menangis di hadapan ka'bah", katanya di hadapan jamaah seminar.
Qara'ati melanjutkan pembicaraannya. Menurutnya, Muballigh yang baik harus lolos syarat moral.

Qara'ati lalu menceritakan sebuah cerita lain yang menurutnya sangat penting. Pada saat peperangan antara Irak dan Iran, ada seorang ulama bernama Abu Thuraby yang ditawan oleh Saddam selama 10 tahun dan dia adalah pemimpin dari 100 ribu tawanan yang ada di Irak.

"Saya pernah belajar bersama-sama beliau. Saya ingin mengetahui bagaimana seorang ruhani menjadi pemimpin dari 100 ribu tawanan", ujar Qara'ati. Ini cerita yang sangat penting dalam hidupnya, yang perlu diceritakan kepada orang lain, bahkan mungkin layak untuk dibuatkan film.

Qara'ati melanjutkan ceritanya. Ada sebuah mobil palang merah datang untuk melihat para tawanan dan mereka datang kepada Abu Thuraby. Palang merah ini bertanya tentang apakah ada penyiksaan dari Saddam kepada para tawanan. Namun beliau tidak menjawab karena di situ ada seorang kolonel tentara yang berdiri mengawasi mereka. Setiap kali mereka bertanya tentang itu kepadanya beliau tidak menjawab. Akhirnya mereka meninggalkan tempat itu.

Si kolonel yang mengawasi tersentuh hatinya dan menghampiri Abu Thuraby. Dia berkata, "Saya sendiri yang menyiksa Anda. Saya sendiri yang dulu memaku kepala Anda."

Tahukah Anda apa yang dikatakan Abu Thuraby? Beliau menjawab, "Kenapa saya tidak katakan pada mereka tentang penyiksaan itu, karena palang merah ini adalah Kristen dan Anda adalah seorang Muslim. Karena dalam al-Quran dikatakan, jangan pernah menceritakan kepada orang kafir yang dengannya Anda merasakan kebaikan-kebaikan mereka."

Kolonel itu merasa tersentuh dan berkata, "Saya malu kepada Anda dan malu kepada Al-Quran. Anda seorang mullah yang luar biasa. Al-Quran benar-benar telah melebur pada diri Anda."

Si Kolonel itu kemudian bertanya, "Karena Anda telah berbuat seperti itu kepada palang merah tadi, lantas apa yang harus saya perbuat kepada Anda? Dulu saya menyiksa Anda, sekarang saya ingin melakukan sesuatu yang luput dari pandangan Saddam. Apa yang harus saya lakukan untuk Anda?"

Abu Thuraby lantas menjawab, "Saya hanya minta satu hal. Izinkan saya bertemu dengan 100 ribu anak muda tawanan-tawanan Iran."

Si Kolonel itu kemudian bekerja sama dengan Abu Thuraby dan menjadi mata-mata beliau di tengah tentara-tentara Saddam. Abu Thuraby lalu menyusun program pembinaan untuk tawanan anak-anak muda ini. Dia memberikan bimbingan tahfiz Quran, tafsir Quran, bahasa Inggris, Nahjul Balaghah, retorika, dan selama 10 tahun ia menjadi pemimpin mereka. Hal itu karena ayat yang dibacakan olehnya kepada si kolonel tadi.

Qara'ati berkata, agama Islam memiliki daya tarik tersendiri. Imam Ridha as pernah berkata, "Seandainya seluruh manusia mengetahui betapa manisnya agama ini, niscaya mereka akan masuk Islam".13

Qara'ati lalu bercerita tentang pengalamannya. Di Iran, ia biasa berceramah di hadapan ribuan orang. Suatu waktu, terdapat anak-anak kecil persis berada di bawah mimbarnya. Pada waktu itu beberapa orang perwira penting datang pada acara itu. Pimpinan majelis lalu mengangkat anak-anak kecil untuk tempat duduk para perwira. Qara'ati melihat hal tersebut dari atas mimbar dan menurutnya hal itu adalah kemunkaran. Beliau berkata bahwa ia harus mengatakan hal tersebut.
Menurut Qara'ati, seandainya dalam sebuah majelis ada seorang anak yang duduk lalu ia dipindahkan untuk tempat shalat seorang presiden, maka shalat presiden itu tidak akan diterima oleh Allah Swt. Lalu, Qara'ati berhenti berbicara dalam acara itu dan berkata selamat datang kepada para penguasa negeri Iran seraya mengatakan bahwa mereka telah merampas hak dari anak-anak kecil. Mendengar itu, mereka berdiri dan mencari tempat yang kosong. Qara'ati lantas mempersilahkan anak-anak kecil tadi untuk kembali duduk di tempatnya semula.

Inilah salah satu contoh dari perkataan Imam Ridha di atas, bahwa seandainya mereka mengetahui manisnya agama ini tentu mereka akan masuk Islam.

Bab III

Konsep Dakwah Qiraati (secara umum)

Tablig adalah kosa kata arab. Kata tablig terbentuk dari bab tsulatsi mazid, bab taf’il. Secara literal artinya menyampaikan atau menyambungkan. Akar katanya banyak ditemukan di dalam ayat-ayat al-Quran. Raghib Isfahani mengatakan, bulûg atau iblâg artinya sampai pada tujuan, tujuan itu bisa bersifat tempat atau sesuatu perkara.14

Secara istilah setiap bahasa dan budaya memiliki istilah khusus tersendiri. Di dalam islam selain tablig juga digunakan kata lain yaitu dakwah, i’lam, di’ayah dan sebagainya.

Laotse mendefinisikan tablig sebagai usaha untuk merubah paradigma orang lain dan dilakukan secara terencana.

Tablig yang akan dibicarakan di dalam penelitian ini adalah tablig dalam agama islam. Tablig Islam adalah menyampaikan pesan-pesan Illahi dengan metoda yang mencerahkan sehingga massa menjadi tertarik dan simpati, dan dengan menggunakan media-media yang benar.

Ada perbedaan besar antara tablig dalam Islam dan di luar islam. Dalam islam tablig memiliki motivasi yang sakral. Seorang pembawa pesan harus memiliki sifat amanah, jujur, dan tidak melakukan distorsi atas pesan yang ingin disampaikannya. Islam tidak mengizinkan seorang mubalig untuk menggunakan segala cara dan atau metoda-metoda yang tidak benar. Tujuan dan sarana dalam islam sama pentingnya.

A. Tablig Menurut al-Quran

Tablig yaitu memberi petunjuk kepada manusia adalah tugas utama nabi-nabi dari langit. Bahkan dengan tegas Allah swt mengatakan Dan sungguh, kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan) sembahlah Allah, dan jauhilah Tagut! (an-Nahl :36). Kisah-kisah para nabi yang dianggkat oleh al-quran adalah aktifitas tablig mereka merentang sejak nabi yang pertama sampai nabi yang terakhir Muhammad saw. Sesungguhnya kami mengutusmu dengan kebenaran untuk membawa kabar gembira dan peringatan dan tidak ada satupun umat melainkan di sana telah datang seorang pemberi peringatan (QS. fathir : 24).

Allah menjuluki nabi sebagai mubalig syariat dan ia juga memperkenalkan nabinya Sesungguhnya kami mengutusmu untuk menjadi pembawa kabar gembira dan pembawa peringatan )

Tablig dan dakwah adalah usaha untuk menghidupkan memberi nyawa kepada kehidupan manusia. Ia mengajak kepada yang akan menghidupkan kalian (QS al-Anfal: 24), Tablig islam dalam arti lain adalah menghidupkan kebaikan-kebaikan manusia dan memberi petunjuk spiritual.

Dan apakah orang yang sudah mati lalu kami hidupkan dan kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? (QS. al-an’am: 122)

Misi Rasul diantaranya adalah menyelamatkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Memberi petunjuk artinya menghidupkan ruh manusia, karena manusia yang hidup adalah juga dapat menghidupkan masyarakat sekitarnya. Barang siap menghidupkan seorang manusia, berarti ia telah menghidupkan semua manusia (QS al-Maidah: 32).

Jadi tablig menjadi tugas yang mulia dan kebaikan yang sangat tinggi sebab ia menghidupkan seluruh manusia Siapakah yang memiliki kata-kata yang terbaik dibanding orang yang menyeru kepada Allah dan melakukan amal salih (QS. al-Fushilat :33).

Thabarsi menafsirkan ayat tersebut bahwa mengajak manusia kepada agama Allah adalah kewajiban dan ketaatan yang paling utama.15

Al-Quran sendiri mengatakan :

Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi ( ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya (QS. at-Taubah: 122)

Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) makruf, dan mencegah dari yang mungkar (QS Ali Imran : 104).

Imam Khomeini mengatakan, sekarang apa saja yang dikatakan di sini akan segera akan menyebar di seluruh dunia. Radio akan menyiarkan apa yang terjadi di sini karena itu sekarang hujah bagi kita semakin besar. Dan juga tablig semakin penting karena sekarang anda tidak harus mendidik massa di masjid saja karena radio sekarang bisa menyuarakan suara anda dan sampai ke dunia luar.

Imam Khomeini di tempat lain mengatakan wali-wali kita harus melawan kaum tiran baik dengan tablig atau dengan menggunakan senjata. Ketika Imam Khomeini bertamu dengan menteri kebudayaan Islam dan anggo dewan kerjasama mengatakan senjata tablig.

Tablig sejak awal islam adalah hal yang sangat ditekankan oleh Islam. Sebagaimana belajar adalah taklif maka tablig juga lebih wajib belajar adalah mukadimah dalam tablig dan mukadiah untuk memberi nasihat.

Beliau menjelaskan tugas para ruhaniawan:

“Kita memiliki tugas yang besar kita harus menyampaikan ajaran-ajaran islam sebagaimana apa adanya, seperti yang dijelaskan oleh tuhan, dan seperti yang dijelaskan dalam riwayat-riwayat dan ayat-ayat al-Quran,kita harus menyampaikan ke masyarakat dunia, demikian dan seterusnya demikian. Dan bahkan lebih kuat dari senjata dan tank. Pekerjaan untuk menarik hati orang adalah sebuah seni dan seni ini berasal dari islam.”16

Ali Khamenei mengatakan mengomentari tentang aktifitas para misionaris kristen. Ada manusia-manusia yang berasal dari kota-kota yang makmur di Eropa mereka datang ke tempat-tempat yang jauh ribuan kilometer ke Amerika latin, ke Afrika dan bertahun-tahun tinggal di sana. Dan saya juga berulang kali mengatakah kepada para ahli ilmu saya membaca perjuangan pendeta-pendeta yang aktif dan tinggal di wilayah-wilayah koloni yang tidak pernah diinjaki oleh kaki-kaki para penjajah. Mereka membawa salib-salib untukmenyebarkan ajaran-ajaran khurafat kristen di zaman ini. Mereka juga mengkristenkan sebagian orang-orang islam kalau merkea benar-benar bekerja keras di jalan kebatilan mengapa kita tidak mau berbuat apa-apa?

Kalau memang benar, bahwa kemuliaan satu disiplin ilmu karena kemuliaan tujuannya, maka kita harus meyakini bahwa salah satu disiplin ilmu yang mulia adalah tablig atau menyampaikan ajaran-ajaran agama. Atau yang dikenal di sini sebagai ceramah di atas mimbar karana tablig adalah menyampaikan menyampaikan ajaran-ajaran agama. Nasihat-nasihat untuk membersihkan manusia (tazkiyatunna nafs), mengajarkan ajaran-ajaran ilahi agar manusia dapat mencapai maqam yang lebih mulia.

Ali Khamenei juga mengatakan, “Jangan kalian bawa-bawa pedang ke negeri-negeri Islam karena pedang tidak bisa meyakinkan iman manusia. Yang dapat meyakinkan mereka adalah nasihat-nasihat dan ajaran-ajaran tuhan!” 17

Seorang ruhani adalah pembimbing manusia ke arah yang telah ditunjukan al-Quran dan Rasullullah saw. Salah satu wasilahnya adalah dengan memberi peringatan. Perlu disadari bahwa kita sedang menduduki posisi figur ulama-ulama yang ingin mengabdikan dirinya demi memelihara agama. Mereka adalah kelompok yang ingin memberi petunjuk kepada manusia di sepanjang hidup mereka. Mereka adalah manusia-manusia yang ingin mencerahkan hati, mengubah kehidupan dan mensucikan langkah-langkah perjalanan manusia.

Menurut Qiraati tablig atau memberi peringatan adalah bagian dari fitrah: “Rasulullah saw pernah berdoa meminta agar ilmunya ditambah rabi zidni ilman artinya ilm nabi saja terus berusaha ingin menambah ilmunya apalagi. Memberi peringatan adalah bagian dari fitrah, insting semua makhluk.”

Kita bisa belajar dari hewan-hewan ketika mereka terancam maka mereka akan memberi tahu hewan-hewan lain, atau ketika mereka mendapat sesuatu yang menarik mereka juga suka memberitahukan yang lain.”18

Qiraati berkata tentang bahwa segala sesuatu itu mengajarkan tentang pentignya tablig. Dalam hal in al-Quran juga memberi ilustrasi tentang peristiwa yang tejadi pada tentara sulaiman ketika melewati sesuatu tempat, seekor semut segera memberi tahu yang lain agar segera menyingkir dan jalan agar tidak diinjak atau begitu pula tengan burung hud-hud yang memberi tahu tentang tradisi kaum saba yang suka menyemba matahari.

Tablig itu penting kata Qiraati karena yang mengancam manusia atau yang membahayakan manusia tidak absen dari kehidupan manusia. Yang mengancam kehidupan manusia selalu ada dan eksis serta tidak pernah absen maka yang memberi tahu ancaman itu juga selalu akan ada dan siap memberi tahukan kepada manusia. Al-quran mengatakan bahwa di setiap umat selau ada nadzir (Wa in min umatin illa kholla fiha nazirun). Manusia yang pertama kali muncul di muka bumi adalah mubalig dan ayat pertama yang turun kepada nabi juga adalah ayat tablig.19

Tujuan tablig itu bermacam-macam. Kaum imperialiss bertablig demi melemahkan manusia mereka mengeluarkan anggaran untuk melemahkan yang lain dan menurutinya tapi tujuan tablig para nabi adalah menyelamatkan manusia dari thagut dan hawa nafsu, kebodohan, perpecahan, syirik sekaligus mengajark manusia agar mengimani tuhan.20

Tujuan tablig nabi bisa diringkas dalam satu kalimat ayat al-Quran yaitu ‘ubudullah waj tanibut thagut. Sembahlah Allah dan jauhilah Thagut!”21

Imam ali as mengatakan dalam kitab Nahjul Balaghah bahwa nabi nabi datang untuk menggali akal yang terkubur, menyebarkan syariat tuhan dan melawan kezaliman, menyebarkan keadilan dan menghidupkan ketakwaan, menyempurnakan hujah, irsyad dan ammar makruf nahi munkar.

B. Pentingnya Memperhatikan Peringatan Para Nabi Menurut Qiraati

Manusia adalah makhluk yang paling suka memperhatikan dirinya, tak peduli berapa banyak biaya dan waktu yang diperas habis demi dirinya. Karena saking cinta kepada dirinya ia akan berusaha menjaga dirinya sademikian rupa sehingga bisa selamat dari segala bahaya. Anggaran pertahanan, anggaran kesehatan, rumah-rumah anti gempa dibangun, pakaian-pakaian anti pelurus dan kendaraan lapis baja semua untuk menjaga dan menyelamatkan dirinya. Padahal ada musuh besar yang lebih berbahaya bagi dirinya dan musuh itu tidak kelihatan seperti kebodohan, lalai, hawa nafsu, perasaan-perasaan yang kotor, godaan setan baik setan berbentuk manusia atau jin. Orang-orang yang selalu memberi peringatan adalah para nabi.

Marilah sekarang kita pikirkan, ada sebuah perumpamaan misalnya ada 1000 orang yang berangkat ke satu tempat dengan menggunakan kendaraan-kendaraan mereka. Polisi sudah memberi peringatan kepada mereka bahwa mungkin ada bahaya di depan sana dan karena itu mereka harus mempersiapkan diri. Sebagian penumpang membawa alat-alat yang diperlukan untuk berjaga-jaga, sebagian yang lain tidak membawa apa-apa. Seandainya di tengah-tengah jalan tidak terjadi apa-apa maka membawa peralatan itu sama sekali tidak merugikan mereka yang berbahaya adalah kalau terjadi sesuatu dan mereka tidak membawa alat-alat yang diperlukan maka barulah mereka sadar betapa pentingnya sekarang alat-alat tersebut.

Sekarang marilah kita renungkan tentang diri kita, manusia-manusia di dunia ini sedang menempuh sebuah perjalananan menuju Allah Swt memberi peringatan kepada kita melalu para nabi dan rasul-Nya. Bahwa setela mati kita akan dihidupkan lagi, akan ada perhitungan semua amal perbuata akan ada dibalas dengan siksaan atau dibalas dengan pahala. Perjalanan kamu ini sangat berbahaya kalian harus membawa perbekalan jangan membawa barang-barang yang dilarang, Awasi kecepatan kalaian dan dengarkan peringatan para ulama. Masyarakat yang mendengar peringatan ini terbagi menjadi dua bagian. Ada golongan yang mau berhati-hati dengan melaksanakan salat, membayar khumus dan zakat, infak dan sedekah mereka menghindari dosa dan tidak memakan hal-hal yang diharamkan dan membawa bekal ketakwaan tetapi ada kelompok lain yang malah takabur, memperturutkan hawa nafsu, tidak mau beriman tidak melaksanan salat dan membela hak-hak orang miskin dan malah hidup seenaknya. Kemudian kita perhatikan apa yang terjadi di akhir dari kehidupan mereka Kita akan mengatakan kepada golongan yang melawan bahwa kalaupun seandainya hari kiamat itu tidak akan terjadi maka kita lihat- orang-orang yang bertakwa mereka melalukan salat beberapa menit membantu orang-orang fakir, melakukan puasa setahun sekali, dan jika mememiliki kelebihan mereka akan pergi ke haji maka apakah hal-hal itu merugikan? Kelompok ini seperti para pemilik kendaaraan yang membawa ala-alat yang diperlukan tapi kemudian ternyata tidak digunakan.

Namun kalau hari kiamat memang terjadi (yang bisa dibuktikan dengan ribuan dalil) maka orang-orang yang tidak mau mengikuti perintah Allah dan tidak mau mendengarkan peringatan-peringatannya, tidak mau beriman, tidak mau melaksanakan salat, tidak mau mengeluarkan zakat, tidak mau bertakwa dan tidak beramal saleh akan menghadap kepada Allah dengan tangan kosong, lalu apa yang bisa mereka lakukan saat itu?

Akal sehat mengatakan seperti hal nya ketika orang-orang pintar mempersiapkan diri untuk menghadapi musuh-musuh bayangan dengan mempersiapkan senjata dan anggaran-anggaran. Kalaupun perang itu tidak terjadi maka persiapan itu juga tidak ada ruginya, tapi kalau perang terjadi sementara mereka tidak memiliki persiapan maka sungguh kecelakaan bagi mereka.22

Salah satu mandat terpenting para nabi adalah memberitahukan sebuah bahaya besar dan di sepanjang masa Allah Swt tidak pernah tidak memberitahukan bahaya ini kepada semua umat. Jadi manusia memang jangan pernah main-main dengan ancaman dari para pengancam yang tidak pernah berdusta ini

Sungguh pasti berlaku perkataan (Hukuman) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman.(QS. Yasin :7)

Sungguh kami telah memasang belenggu di leher mereka dan dibelakang mereka (diangkat) ke dagu, karena itu mereka tertengadah.(QS. Yasin : 8)

Menurut Qiraati mandat dan tanggung jawab tablig sangat berat karena yang memikul pertama kali adalah kelompok nabi,kemudian auliya dan manusia-manusia maksum. Tujuan tablig tentu sangat bervariasi dan tidak hanya tidak bisa dibatasi oleh tempat tertentu. Seperti Rasulullah yang menyampaikan misi melintas batas-batas geograpi ke seluruh negeri-negeri seperti Yaman, Ethiopia, Iran. Imam khomeini sendiri juga bahkan menulis surat dakwah kepada pemimpin negara komunis terbesar di dunia saat itu.

Beberapa tahun kemudian saya menemukan satu jawaban bahwasanya al-Quran selalu memperhatikan dimensi psikologis pembaca atau pendengar dalam tehnik penyampaia pesan yang dikandung oleh ayat-ayatnya sebagaimana lazimnya harus dikuasai oleh para dia ketika menyampaikan pesan-pesan dakwanya. Al-Quran juga memiliki daya pikat yang efektif dan kuat dalam menari hati para pembacanya. Kedua rahasia kehebatan al-quran itu tersembunyi di balik kata-kata yagn dipakainya.23

Ulama besar indo-Pakistan Khursid ahmad mengatakan, “Keunikan islam itu terletak pada kenyataan, bahwa agama ini mendasarkan diri pada sebuah kitab, yaitu al-quran. Demikian pula halnya dengan umat (al-ummah)

Al-Quran adalah sumber yang kaya dan inspirati tetapi untuk membaca cara berpikrinya memang tidak mudah tidak setiap orang memikiki kesempatan dan kemampuan seperti itu.

Bab 4

Qiraati dan Referensi al-Quran

Al-Quran adalah sumber inspirasi utama Qiraati dalam berdakwah karena seperti yang dikatakan oleh Muhammad A Khalafullah dalam bukunya al-Quran bukan kitab sejarah :

Beberapa tahun kemudian saya menemukan satu jawaban bahwasanya al-Quran selalu memperhatikan dimensi psikologis pembaca atau pendengar dalam tehnik penyampaian pesan yang dikandung oleh ayat-ayatnya sebagaimana lazimnya harus dikuasai oleh para dai’ ketika menyampaikan pesan-pesan dakwahnya. Al-Quran juga memiliki daya pikat yang efektif dan kuat dalam menari hati para pembacanya. Kedua rahasia kehebatan al-Quran itu tersembunyi di balik kata-kata yagn dipakainya.24

Ulama besar indo-Pakistan Khursid Ahmad juga mengatakan, “Keunikan islam itu terletak pada kenyataan, bahwa agama ini mendasarkan diri pada sebuah kitab, yaitu al-quran. Demikian pula halnya dengan umat (al-ummah).

Al-Quran adalah sumber yang kaya dan inspirasif tetapi untuk membaca cara berpikirnya memang tidak setiap orang memikiki kesempatan dan kemampuan seperti itu. Dalam hal ini Qiraati dengan latar belakang sebagai ahli tafsir al-quran memiliki kemampuan untuk menggali atau memahami logika berpikir al-quran yang khas, Ini adalah kemampuan dari hasil dialektika antara teks dan realita, sehingg menghasilkan tafsiran yang hidup, mudah, mengena, kreatif dan enak didengar.

Hubungan manusia dengan kitab suci haruslah kekal dan dalam semua aspek, kata Qiraati Jadi kita harus berusaha sebisa-bisanya untuk memberikan perhatian kepada Al-Qur’an suci dan menjadikannya sebagai landasan ilmiah dan praktis kita dalam semua dimensi kehidupan.

Meninggalkan praktek membaca Al-Qur’an, lebih mengutamakan buku-buku lain daripada Al-Qur’an suci, tidak menjadikannya sebagai poros, tidak merenungkan isinya, tidak mengajarkannya kepada orang lain, dan tidak menerapkannya dalam praktek, merupakan perluasan dari arti ‘mengabaikan Al-Qur’an.’ Bahkan orang yang mempelajari Al-Qur’an tetapi tidak memberikan perhatian kepadanya dan tidak merasa bertanggungjawab terhadapnya, berarti telah melalaikan Al-Qur’an.25

Mulla Sadra (semoga ruhnya disucikan) dalam hal ini mengatakan dalam pendahuluan untuk Surat Al-Waqi’ah:

Aku membaca buku-buku dari banyak filsuf sehingga aku mengira bahwa aku mengetahui semua hal dan aku telah menjadi orang yang penting. Tetapi ketika aku mulai meninjau sedikit dari situasi-situasi yang sebenarnya, aku menemukan bahwa aku tidak memiliki pengetahuan yang sebenarnya. Pada akhir masa hidupku, aku mulai merenungkan isi Al-Qur’an Suci dan riwayat-riwayat dari Nabi Saaw dan keluarganya. Aku menjadi yakin bahwa apa yang telah kulakukan hingga saat itu tidaklah berdasar. Sebab selama aku hanya berdiri di bawah bayang-bayang saja dan bukannya dalam sinaran cahaya. Aku menjadi betul-betul sedih, dan kemudian anugerah Ilahi dilimpahkan kepadaku dan aku menjadi akrab dengan rahasia-rahasia Al-Qur’an Suci dan aku mulai menafsirkan dan merenungkan Al-Qur’an. Aku mengetuk pintu wahyu sampai tabir-tabir diangkat dan pintu-pintu dibuka dan aku melihat malaikat-malaikat berkata kepadaku: “... Semoga kedamaian dilimpahkan kepadamu! Kamu adalah manusia yang baik. Karena itu masuklah ke dalamnya untuk berdiam di dalamnya (selama-lamanya).26

Fayz al-Kasyani (semoga ruhnya disucikan) dalam hal ini berkata:

Aku menulis buku-buku dan risalah-risalah serta melakukan penelitian. Tetapi tak satupun dari karya-karyaku itu yang bisa mengobati rasa sakitku, dan aku tidak menemukan air untuk memuaskan dahagaku. Aku menjadi khawatir tentang diriku, dan aku berpaling kepada Allah dan bertaubat sehingga Allah membimbingku melalui perenungan terhadap Al-Qur’an dan hadis-hadis.3

I

Imam Khumayni (semoga ruhnya disucikan) mengatakan bahwa beliau menyesal tidak menghabiskan seluruh hidupnya untuk Al-Qur’an suci, dan beliau menasehatkan siswa-siswa di pesantren-pesantren agar menjadikan Al-Qur’an dan berbagai dimensinya sebagai tujuan ultimat dalam semua pelajaran, agar di akhir hidup mereka, mereka tidak menyesali masa muda mereka.4

A. Manusia dan al-Quran

Seorang mukmin sejati seperti yang dijelaskan oleh ayat memiliki hati yang mudah tergetar begitu telinganya disapa ayat-ayat al-Quran. Sesungguh orang mukmin itu apabila dibacakan ayat-ayat al-Quran maka bergetarlah hatinya dan bertambahlah keimananya dan hanya takut kepada tuhan-nya. (QS al-Anfal : 9).

Ayat ini menggambarkan kedashyatan pengaruh al-Quran terhadap jiwa manusia dan merupakan argument bayani bahwa ayat-ayat al-quran bukan ayat-ayat biasa untuk orang-orang yang beriman dan juga bahkan kepada orang yang tidak beriman sekalipun, Sejarah juga membuktikan bahwa orang-orang musyrik yang membenci nabi Muhammad sekalai saja mau menyimak ayat-ayatnya mereka menjadi terpesona.

Tentu saja mendengar saja tidak cukup seseorang akan lebih tertarik lagi bila benar-benar menghayatinya dengan sepenuh hati.

Ayat-ayat al-quran adalah bukti kecintaan Tuhan kepada manusia. Ia adalah surat-surat dari sang kekasih. Ayat-ayat al-Quran bisa anggap memiliki dua kategori; pertama ayat-ayat yang bersifat maulawi dan kedua ayat-ayat yang bersifat irssyadi. Ayat-ayat maulawi adalah ayat-ayat yang harus kita patuhi dan take for granted, karena ia adalah dari seorang maula (pemilik otoritas hukum) seperti ayat-ayat tentang salat, zakat dan sebagainya. Ada juga ayat-ayat irsyadi yaitu ayat-ayat yang mendukung dan memberi dorongan kepada perbuatan atau pada keyakinan yang sebelumnya sudah difahami secara rasional.

Seandainya ayat-ayat ini tidak dicantumkan akal masih tetap meniscayakannya keyakinan atau perbuatan tertentu seperti mengimani kepada Allah, perlunya pengenalam kepada Allah atau isu-isu tentang keimanan atau prinsip-prinsip dalam akidah islamiyah. Ayat-ayat al-Quran adalah irsyadi dari Allah swt yang akan menyambungkan hubungan spiritual antara manusia dengan Allah swt. Tentu saja ayat-ayat Allah tida hanya terbatas dalam ayat-ayat al-Quran saja tapi juga ayat-ayat kauniyah dan di alam ayat-ayat kauniyah ini menurut Huseni Nashr kita bias menemukn Vestigia Dei (Jejak-jejak Ilahi). Maka ayat-ayat al-Quran adalah jalan untuk menemukan wisdom, kekayaan spiritual, khazanah keilmuan dan makrifat dan juga bimbingan-bimbingan kehidupan tentang kemahamelimpahan al-Quran. Ali bin Abi Thalib as berkata, di dalam kitab Nahjul Balaghah bahwa al-Quran tidak pernah pernah habis keajaiban-keajaibannya. Ia adalah lautan yang sangat dalam sekali dan tidak memiliki dasar.

B. Bimbingan di Dalam al-Quran

Al-Quran tidak kalah dalam mengungguli kekayaan nasihat, kekuaatan logika dan komprehensivitasnya dalam memahami segala karakter kehidupan terutama umat manusia. Murtadha Muthahhari juga berbicara tentang logika al-Quran dan sering mendiskusikan wacara-wacana filosopisnya terutama ketika berbicara dengan kaum teologi dengan menyusun proposisi-proposi dari ayat-ayat al-Quran dan bukan saja Muthahari bahkan para filsuf seperti Mulla Shadra, dan sejumlah ilmuwan lain.

C. Kewajiban Membaca al-Quran

Allah berfirman Sesungguhnya Allah yang teah memfardhukan kepada kamu al-quran itu pasti mengembalikan kamu ke tempat kembali (QS al-Qashshash :85)

Ayat ini turun ketika Rasululah hijrah keYatsrib. Beliau berangkat dari jabal Tsur, yang berada di sebelah selatan Mekah.sebelum berangkat belia ke selatan terlebihdahulu, 3 hari dan 2 malam kemdianbaru berangkat ke sebelah utara (madinah).Beliau melewati pantai yang kemudian sampai ke satu kota yang brenama Jufah.Ketika itu Rasulullah merasa sedih meninggalkan kota kelahirannya.

Menurut para ulama ayat 85 dari surah al-Qashas ini menjadi dalil tentang kewajiban mempelajari ayat- al-Quran. Terdapat enam belas perintah atau fardu ain mempelajari,mengajarkan dan menegakkannya (Belajar mudah ulumul al-quran studi khazanah ilmu al-Quran sekali lagi al-Quran Mukhtar Adam ).

D. Gaya Berpikir Al-Quran

Qiraati tidak hanya berhenti pada lafaz-lafaz ayat-ayat lahiriyah, ia menggali lebih dalam lagi cara berpikir al-Quran yang ternyata memang luar biasa. Qiraati berusaha untuk memahami cara berpikir al-Quran dan ini tampaknya kurang dimiliki oleh sebagian besar mubalig. Kreatifitas inilah yang membuat dirinya subur dengan terobosan-terobosan baru dalam menyampaikan ceramah-ceramahnya.

E. Analisa Tentang Kreatifitas

Belakangan ini pembahasan tentang kratifitas semakin meluas. Kreatifitas dipandang sebagia satu-satunya karakteristik unik ‘manusia’. kreatifitas adalah wilayah yang tidak bias dijangkau mikroelektronik.

Dalam tulisan-tulsain awal Barat tentang kreatifitas, faktor yang konstan muncul adalah kebaruan (novelty). Dengan semakin banyak riset yang dilakukan terhadap topik tersebut,unsur-unsur lain juga diperhatikan seperti relevansi, efektifitas. 29

Seperti saya singgung sebelumnya terlalu banyak aspek kreatifitas yang dimiliki yang dikembangkan oleh Qiraati, salah satu aspek kreatifitas nya adalah pemahaman cara atau ekplorasi dalam menggali cara berpikir al-Quran, tentunya selain gaya komunikasi juga penguasan pskologi komunikasi yang dimilikinya juga turut andil dalam membentuk ciri khas dakwahnya

Ada dua jenis manusia berpikir atau menarik kesimpulan yang pertama berpikir autistic dan berpikir realistic. Yang pertama adalah melamun, mengkhayal, wishful thinking, dengan berpikir autistic orang melarikan diri dari kenyataan dan melihat hidup sebagai gambar-gambar fantastis. Ini adalah tipe mubalig yang ingin memaksakan doktrin dan dogma sebagai salah satu tafsiran atau tafsiran terbaik atas kenyataan tapi ada juga yag berpikir realistik sebagaimana Qiraati yang melihat yang berpikir dalam rangka menyesuaikan diri dengan dunia.30

Maka Qiraati bisa kita masukan sebagai alim yang berpikir evaluatif yaitu berpikir kritis.

Mubalig yang tidak berupaya mendekatkan teks dengan kenyataan akan sulit menjadi mubalig yangkreatif

Sementara James C.Coleman dan Coustance L.Hammen (1974:452) mendefinisikan berpikir kreatif sebagai Thinking which produces new methods, new concept, new understanding,new invention,new work art.31

Ada Ciri konsep kreatifitas Islam,yaitu

1. Kreatifitas bersifat multidimensi,menggabungkan unsur fisik, mental, spiritual dan teologis

2. Karena kreatifitas terkait erat dengan peran kekhalifahan manusia maka ia mesti bersatu dengan konsep tanggungjawab, akuntabilitas, takwa,kerendahan hati dan syukur

3. Disamping bersifat praktis dan terkait dengan perbuatan penemuan dan kreatif juga harus mencerminkan dimensi spiritualitas manusia dan tidak memiliki fungsi utilitarian kaku

4. Tidak boleh jadi urusan individualistik

5. Terkait dengan pahala32

Dalam analisa Qiraati ayat-ayat al-Quran itu dapat membaca pikiran manusia secara luarbiasa (extraordinary). Al-Quran misalnya sangat mengerti bahwa mengajarkan bahwa manusia secara sejati yang menghajatkan aturan-aturan (syariat) dan bukan sebaliknya. Kebutuhan manusia kepada salat dan sabar misalnya sangatlah inheren dan esensil karena itu mengapa manusia disuruh meminta bantuan kepada salat dan sabar. Al-Quran tahu bawha manusia tidak akan sangggup menyelesaikan hidupnya tanpa kecerdasan spiritual dan salat itu mengajarkan kecerdasan spiritual demikian juga dengan sabar.

Latar belakang sebagai alim dan juga mufasir membantu dirinya untuk membaca gaya berpikir al-quran sedemikian dalam dan menggigit.

Al-quran juga sering menyampaikan fakta tentang kehancuran sebuah perabadan besar, suatu bangsa yang pernah menjadi besar dalam lintasan sejarah tetapi kemudian menjadi hancur berantakan karena itu.

Kebesaran adalah keagungan akhlak dan karakter dalam hal ini Qiraati menyampaikan pelejaran berharga dari kisah bani Israil yang pernah dicatat oleh al-Quran.

Allah Swt di dalam Quran mengatakan kepada bani Israil……Kami telah melebihkanmu dari seluruh alam (QS.al-Baqarah :47), tapi di ayat lain Allah Swt mengatakan ..Dan mereka (kembali) mendapat kemurkaan dari Allah. (QS.Al-Baqarah :61). Timbul pertanyaan bagaimana mungkin satu umat yang diistimewakan menjadi umat yang mendapat kemurkaan?

Jawabannya : Allah Swt menjelaskan bahwa kemurkaan itu karena mereka telah melakukan pelanggaran, diantaranya :

1. Mereka kafir kepada terhadap ayat-ayat Allah Swt.

2. Mereka membunuh para nabi

3. Mereka jago dalam berbuat dosa

4. Para ulama dan orang-orang pintarnya mengubah hukum-hukum tuhan dan menyelewengkannya.

5. Para pedagangnya melakukan perbuatan riba

6. Masyarakat yahudi kehilangan sifat pemberani dan menjadi pengecut, mereka juga mengabaikan perintah nabi

Memang pantas umat yang menggantikan iman dengan kekafiran, membunuhi para nabi, malas berjuang untuk menegakan keadilan, malahan menginjak-injaknya keadilan dan lebih banyak menuruti kesenangan pribadi daripada taat kepada hukum-hukum Allah, meninggalkan perdagangan dan asyik dengan riba, pengecut kehilangan keberanian, akan dihinaakan oleh Allah Swt.

Tetapi yang luar bisa kemudian Qiraati menggiring kita untuk merefleksikan tentang nasib umat Islam di dunia ini.

Kaum muslimin di masa-masa awal islam, dari Madinah, dari sebuah masjid yang disangga dengan 10 tiang dari pohon kurma, sukses melakukan ekspedisi sampai ke jantungnya Eropa. Tapi gerangan apa yang terjadi dengan hari ini? Dengan penduduk milyaran, dengan cadangan minyak dan aset alam yang tidak ternilai, terperosok dalam lubang ketidak berdayaan? Karena mereka tidak punya kekuatan dan tidak punya pemimpin yang kuat. !!

James C.Coleman dan Coustance L.Hammen (1974:452) mendefinisikan berpikir kreatif sebagai Thinking which produces new methods, new concept, new understanding,new invention,new work art

Guilford, berkata “Orang-orang berpikir kreatif mampu melihat berbagai hubungan yang tidak terlihat oleh orang lain.”33

F. Contoh-contoh Kreatifitas Qiraati terhadap ayat-ayat al-Quran

1. Al-Quran dan hujan

(1) Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al-Quran) yang nyata dari Allah.

Sesungguhnya kami menurunkannya berupa Al-Quran kepadamu dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya .

Qiraati berkata, Tuhan dalam menggambarkan turunnya Quran menggunakan kata-kata nuzul demikian juga dalam mengungkapkan turunnya hujan. Antara Quran dan hujan memang ada beberapa persamaan yang akan kami jelaskan :

a. Keduanya turun dari langit (أَنزَلْنَاهُ )

b. Keduanya suci dan mensucikan (liyuthahhirukum)34 (wa yuzakkikum)35

c. Kedua sarana untuk ‘yang menghidupkan’ (da’akum lima yuhyikum) (linuhiyiya bihi baldatan mayitan)

d. Keduanya adalah sumber keberkatan (mubarakan)

Quran seperti halnya hujan, sedikit-sedikit, ayat demi ayat di turunkan dan mungkin kenapa Al-Quran diturunkan dengan bahasa arab demi membantah tuduhan yang mengatakan bahwa Al-Quran diajarkan oleh orang non arab kepada muhammad Saw.36

Keberkatan al-Quran menjadi jelas difahami ketika dimetaforakan dengan hujan yang membawa rahmat.37

2. Sampaikanlah dakwah dengan cerita

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَـذَا الْقُرْآنَ وَإِن كُنتَ مِن قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ

(3) Sesungguhnya Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Quran ini kepadamu. Dan sesungguhnya kamu sebelum ini adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.

Ayat ini menurut Qiraati merupakan petunjuk atau bukti bahwa seorang mubalig atau ulama seharusnya tidak menganggap enteng sebuah cerita dalam mempengaruhi umat .

Ada perbedaan yang mendasar antara al-Quran dan yang lain, kata Qiraati, Perbedaan al-Quran dengan yang lain:

1. Hukum dan peraturan yang berasal dari manusia mengandung beberapa cacat. Diantaranya :

a. Wawasan dan selera manusia itu berbeda-beda maka hukum juga bisa berbeda-beda bahkan kadang-kadang berbenturan.

b. Pengetahuan manusia itu terbatas, seiring lajunya zaman timbul pula masalah-masalah baru maka dasar-dasar aturan pun bisa goyang.

c. Buatan manusia tidak ada yang sempurna, contoh kasus obat yang bisa menyembuhkan satu penyakit tapi menimbulkan efek sampingan. Ada hukum buatan manusia yang bisa diterapkan di suatu tempat tapi mandeg di tempat lain. Hukum dan aturan manusia memang senantias mengandung cacat.

d. Melanggar peraturan buatan manusia dihukum, tapi mentaatinya tidak mendapatkan pahala. Peraturan yang hanya bisa menghukum tapi tidak memberi pahala adalah minus.

e. Karena selera manusia berubah-ubah, maka peraturan juga berubah-ubah.

f. Kebanyakan peraturan buatan manusia tidak sejalan dengan fitrah manusia, karena itu tidak abadi.

2 – Hukum-hukum Allah dan kitab sucinya adalah mata air petunjuk manusia yang abadi sebab :

a. Berasal dari Allah yang ilmu dan hikmah-Nya tidak ada batasnya.

b. Aturan dari langit selaras dengan karakter setiap orang

c. Aturan dari langit universal dan sesuai dengan sifat dasar manusia

3. Variasi Penjelasan al-Quran

Dan sungguh, dalam al-Quran ini telah kami (jelaskan) berulang-ulang (peringatan), agar mereka selalu ingat. Tetapi (peringatan) itu hanya menambah mereka lari (dari kebenaran). (QS. al-Isra`[17]:41)

Qiraati berkata :

1. Shorofnâ maksudnya adalah memberikan penjelasan berulang-ulang dengan berbagai metoda agar menjadi jelas dan difahami.

2. Variasi itu disukai manusia itu, baik variasi di alam raya atau variasi dalam bentuk penjelasan kitab-kitab suci. Inilah mengapa al-Quran memberikan penjelasan yang berulang-ulang dan berbeda-beda.

3. Seperti halnya air hujan meskipun bersih tapi ia bisa menyebar luaskan bau infeksi, ayat-ayat ilahi pun demikian kalau turun terhadap hati yang kotor dan takabur akan membuatnya semakin n menjadi-jadi.

Kemudian Qiraati menguraikanya berupa:

Pesan-pesan

1. Topik yang disampaikan kalau harus diulang-ulang, maka buatlah menjadi sangat menarik.

2. Manusia akan selalu memerlukan peringatan, ada kalanya orang baru tergugah setelah mendapat beberapa kali peringatan.

3. Pengulangan ayat-ayat Quran untuk memberi tekanan.

4. Mengulang-ulang topik kebenaran dapat memperteguh para pengikutnya, tapi bisa membuat para pembangkang semakin menjadi-jadi.

Kemudian Qiraati juga berbicara tentang bagaimana al-Quran berbicara tentang sumber kesenangan manusia yaitu kemewahan. Ini sejalan dengan pendapat Profesor Dr Arjun yang mengatakan bahwa salah satu petunjuk fundamental al-Quran adalah membangkitkan dan membebaskan pikiran manusia dari dominasi hasrat dan gejolak materialistik sehingga akal bisa sesuai dengan kedudukan aslinya.38

Kemewahan bisa melupakan manusia, kata Qiraati, kekayaan dan kemakmuran terkadang membuat lupa diri, hidup seenaknya bisa membuat binasa (Betapa banyak yang telah kami binasakan… yang menyalah gunakan hidupnya…(al-Qashash :58).Nasib seseorang atau masyarakat tergadai amalnya (Betapa banya yang telah kami binasakan..yang telah menyalah gunakan hidupnya…(al-Qashash :58).

Binasanya mereka yang suka berfoya-foya tapi tidak beriman adalah sunatullah. (Betapa banya yang telah kami binasakan..yang telah menyalah gunakan hidupnya…(al-Qashash :58).

Kerusakan dan puing-puing peradaban kuno pelajaran terbaik untuk generasi mendatang (…Itulah tempat kediaman mereka…al-Qashash (58).Orang-orang yang suka bermewah-mewahan akan meninggalkan harta mereka dan akan lenyap. Kalau demikian jangan sekali-kali menggadaikan diri dengan dunia dan kekayaan.39

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Bab V

Kesimpulan

Tidak ada pengaruh yagn lebih besar dari pengaruh al-Quran dalam pembentukan semangat, etos kebudayaan dan peradaban kaum muslimin. Apabila kita menengok sejarah agama dan peradaban-peradaban, dapat dipastikan, tanpa keraguan, jika ada suatu buku yang telah melahirkan sebuah agama, masyarakat, kebudayaan dan peradaban sekaligus, itulah al-quran. Dengan alasan ini maka asal-usul maupun hari depan kaum muslimin terletak juga pada al-Quran.

Ayat-ayat al-Quran dirasakan oleh Qiraati memberikan pengaruh yang besar tidak saja pada dirinya juga pada audiensennya, jika sebagian orang bisa dibuat kebingungan dengan kekayaan ayat-ayat yang kadang-kadang satu sama lain seperti bertentangan, tetapi Qiraati malah menemukan oase yang jarang ditemukan para pembaca al-Quran lainnya.

Orang seperti Qiraati adalah manusia kreatif yang menemukan pola-pola hubungan yang tidak kasat mata bagi yang lain.

Dengan menganalisa konsep-konsep kunci Qiraati terhadap dakwah, umat dan harapan-harapan dirinya maka Kita dapat menyimpulkan beberapa kesimpulan

  1. Dakwah adalah tugas suci yang diemban oleh manusia-manusia pilihan di sepanjang zaman karena itu siapapun yang ingin meretas jalan ini harus memiliki kualitas-kualitas seorang manusia suci.
  2. Dakwah adalah adalah bagian dari fitrah manusia
  3. Dakwah itu harus terus hidaup sebab yang mengancam manusia itu terus hadir

Adapun terkait dengan materi dakwah atau referensi al-quran yang menjadi inspirasi utama Qiraati

  1. Al-Quran adalah insprasi yang sangat hidup karena itu hubungan dengannya harus kekal dalam setiap aspek
  2. Ayat-ayat al-Quran bukan kitab yang biasa-biasa saja karena itu kita harus terus beusah menggali gagasan-gasaan utama dan praktisnya
  3. al-Quran itu memilii gagasan-gasan yang sangat hidup dengan manusia
  4. Masih banyak ayat-ayat yang dapat mengisi keksongan spiritual, moral dan etika msyarakat islam yang belum digali secara maksimal oleh umat ini.
  5. al-Quran menyuguhkan hal-hal yang menarik tentangn ajarannya yang dibumikan dengan kisah,metafora dan sebagainya
  6. al-Quran memiliki variasi penjelasan yang sangat beragam dan memperhatikan aspek psikologis dan karakter manusia

Saran-saran untuk penelitian berikutnya

Banyak hal yang bisa digali dari figur Qiraati selain apa yang menjadi bahan penelitian di atas. Seorang figur, ahli tafsir dan juga aktifis yang super sibuk ini jelas memiliki banyak sisi yang menarik dan layak diangkat menjadi bahan penelitian khususnya yang terkait dengan dakwah. Saya menyimpulkan dua item saja untuk para peneliti selanjutnya yang mungkin memiliki minat untun melakukan eksplorasi atas Ayatullah Mohsen Qiraati

  1. Metoda tafsir tahlilinya yaitu tafsir surah persurah walaupun belum ditulis semua surah tapi mengandung aspek-aspek sumber pencerahan bagi umat dan juga bagi mubalig.
  2. Pendekatan dakwahnya, bodi language nya dan caya berkomunikasi yang tidak kalah menarik dari sisi-sisi intelektualnya yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Daftar Pustaka

1. Al-Quranul Karim

2. Early Islamic Mysticisme The Classics of western Spirituality

3. Mujam Mufradat Raghib Isfahani

4. Belajar Mudah al-Quran Editor Sukardi KD. lentera

5. Wisata al-Quran Jafar Subhani. Al-huda

6. Meniru Tuhan Misbah Yazdi. Citra

7. Tafsir Surah Yusuf. Al-Huda

8. Tafsir surah Luqman. Al-Huda

9. Tafsir ayat-ayat pilihan Mohsen Qiraati. Al-huda

10. Tafsir al-Muin. Libnaan Beirut

11. Metodologi penelitian social-agama. Prof DR. Imam Suprayogo, DRs Tobroni ,M.Si Rosda karya

12. Menulis secara popular Ismail Marahim, pustaka jaya

13. Wisata al-Quran tafsir ayat-ayat metafora, Al-huda

14. Desain Ilmu Dakwah, kajian ontologism, epistemologis dan aksiologi, Muhammad Sulthan ,pustaka pelajar dan walisongo press

15. Ali Iyazi, Sayid Muhammad. Al-Mufasirûn Hayâtuhum wa Manhaju-hum, Teheran: Muasassah al-Thibah wa al-Nasyr, Wizarah al-Tsaqafah wa Al-Irsyad al-Islami, 1414 H.

16. Amin al-Syanqithi, Muhammad. Adhwa’ al-Bayan fi Iydhahi al-Qur’an bi al-Qur’an, Kairo: Maktabah Ibn Taymiyyah, Jilid 1, 1988.

17. Baqir Shadr, Muhammad. dalam bukunya Al-Madrasah al-Qur’aniyyah, al-Darsu al-Tsani, Beirut.

18. Husein Thaba’thabai, Muhammad. Memahami Esensi Al-Qur’an. Jakarta: Lentera, 2001.

19. Husein Thaba’thbai, Muhammad. Al-Mizan, jilid 1, Muassassah al-Nasyr al-Islami, Jamiah al-Mudarrisin, Qum, 1414 H.

20. Ibn Abdurrahman al-Magrawi, Muhammad. Al-Mufassirûn baina al-Ta’wil wa al-Itsbat fi Ayat al-Shifat, Jil. I, Riyad: Dar al-Thaibah, 1405 H.

21. Jurnal Ulumul Qur’an, I/1993.

22. Muhammad Salim, Athiyyah. dalam Muhammad Amin al-Syanqithi, Muqaddimah Adhwa’ al-Bayan fi Iydhahi al-Qur’an bi al-Qur’an, Kairo: Maktabah Ibn Taymiyyah, Jilid I, 1988.

23. Muslim, Musthofa. Dirasat fi al-Tafsir al-Maudhui li al-Qishosh.

24. Muthahhari, Murtadha. Asynaai Baa Qur’an. Teheran: Intisyarat Shadra, 1995.

25. Al-Quran sumber ilmu pengetahuan, Afzalur Rahman Rineka Cipta

26. Tafsir surat-surat pilihan Murtadha Muthahhati pustaka hidayah

27. Al-Quran membangun tradisi kesalehan hakiki, Ulumul Quran

28. Diskursus tafsir al-quran J.J. G. Jansen penerbit Tiara wacana

29. Sejarah dalam perspektif al-Quran Muhammad Baqir Shadr Pustaka hidayah

30. Khazanah Istilah AL-Quran Rahmat Taufik hidayat. Penerbit Mizan

31. Konsep Perbuatan Manusia menurut al-Quran DR Jalaludin Rahman Bulan bintang

32. Berdialog dengan al-Quran Muhammad Ghazali Mizan

33. Filsafat al-Quran Al-haj Hafiz ghulam Sharwar Pustakan Firdaus

34. Mengungkap rahasia al-Quran M, Husen Thabathabi

35. Tafsir Bint ash-Syathi. Dr Asiyah Abdurahman Mizan

36. Ensiklopedia al-Quran Tafsir sosial berdasarkan konsep-konsep kunci

37. Al-Quran bukan kitab sejarah, Muhammad A. Khalafullah. Paramadina

38. Metodologi studi islam Pro DR H Abuddin Nata MA Rajawlai press.

Tidak ada komentar: