Rabu, 19 September 2007

draft revisi bab 1,kutipan, tafsir irfani dll-20-9-07

dikutip dari ustad bagir singapura:
burhan innni dari akibat ke sebab (ada asap ada api, asap adalah akibat dari api'), dari sebab itu diketahui ada api, itu di konkrit, sementara dalam mental sebab yang dahulu, bukan akibat.

Ada juga burhan limmi dari sebab ke akibat (ada api pasti ada panas), sebab api itu sebab bagi panas
tapi tuhan tidak ada sebab
pencarian tuhan dari akibat itu sangat lemah, alam itu akibat ada tuhan
jadi ada alam pasti ada tuhan, tapi itu masing posibly?

seh hakim:
murtada askari, 10 tahun terkahir di impus dan selama itu ia mengisi seminar dan acara dengan membawa impusnya. buku ma'alim madrasatean telah menarik 100. ooo warga mesir kepada ahlulbait.


Latar belakang Penelitian

Dakwah ibarat bolam (bola lampu) kehidupan, yang memberikan cahaya dan menerangi jalan kehidupan yang lebih baik, dari kegelapan menuju terang benderang, dari keserakahan menuju kedermawanan. Dakwah merupakan bagian yang cukup terpenting dalam bagi umat saat ini tatkala manusia dilanda kegersangan spiritual, rapuhnya akhlak, maraknya korupsi, kolusi dan manipulasi, ketimpangan sosial, kerusuhan, kecurangan dan sederet tindakan-tindakan lainnya. Jelas bahwa dakwah merupakan seruan atau ajakan kepada keinsafan, atau usaha mengubah situasi yang buruk kepada situasi yang lebih baik dan sempurna.

Tidak kalah maraknya, bermunculan para “ustadz/kiai bajakan“, dengan background jauh dari pendidikan dan kualitas ilmiah (agama). Hanya dengan bermodal busana (Muslim) dan kemahiran wicara belaka. Tentunya, pemahaman mereka terhadap agama asal “sekenanya“ saja. Uniknya, namanya pun sering mendadak dirubah atau ditambah, agar serasi untuk dirangkaikan dengan gelar ustadz/kiai.

Singkatnya, di negara yang katanya Muslim mayoritas (dalam kuantitas ini), cukup ngetrend agama kerap hanya dijadikan argumentasi pijakan konflik, dan alat kepentingan pribadi atau maksimalnya golongan tertentu saja. Di antaranya, agama lazim dijadikan “barter“ dengan sedikit popularitas, materi dan kekuasaan.

Dr. Maurice Bucaille, ilmuwan asan Prancis, dalam bukunya “Le Bible le Coran et La Science (1976)“, Ia berpendapat, bahwa dalam sejarah agama-agama di dunia, hakikatnya tidak ada satu pun agama yang mengalami kegagalan. Namun para pelaku dakwah masing-masing agama itulah sangat miskin energi untuk menjadi teladan bagi umat manusia yang jadi obyek utama agama yang dipromosikannya, sehingga mereka tidak maksimal bahkan banyak yang kandas dalam memperjuangkan misi dakwah (agama) nya.

Namuankadang-kadang semangat saja tieak cukup, ketika setia[pkelompok mayarakat mulai tampil menjai jurudari danmubalig islam, mereka tidak lagi merasa berkewajiab nutnuntuk meningkatkan kualitas diri dan keilmuan. Islam sekedar difahami sebagai sesuatu yang mudah dipelajari dan tidak perlu melakukan proses pembelakaran yang pankan dan ilmiah.

Jadi tidaklah heran kalau negeri ini mulau marak dengan dai-dai karbitan yang lebih menonjolan sisi atfitisal, selebrisitas dnakekpopulera dna untuk membodohi masa, jadi yang tejraid bukanlah pencerahan masaa tapu sejenis pembohona masa yang teurs berlangusng tanpa hberhteni.

Betapa pentingnya eksistensi guru-guru masyarakat dalam memcerahkan dn meningkatkan kualitas pengetahuan tentang islam, tentang tuhan dan tentang agama itu sendiri. Manusia-manusia yang menjadi wasilah antara masyarakat dan islam seperti sebuah pelita petunjuk yang memberikan secercah harapan dan memperluas pandangna yang benar tentang islam.

Masyarat umumnya tidak memiliki akses terhadap ajaran-ajaran islam. Satu-satunya cara yang paling efektif adalah belajar dari mubalig-mubalig yang sering menyampaikan ajaran-ajaran islam

Pertarungan wacana

Perang wacana dalam dunia islam terus berkibar. Setiap kelompok dari komunitas dan masyarakat islam di setiap periode di setiap seting zaman ingin mempersembahkan gagasan tentang islam baik secara teologis, filosofis atau politik. Islam memang selalu menarik untuk dikaji dan dianalisa. Itulah kelebihan islam, sehingga setiap muslim merasa memiliki kewajiban untuk menyampaikan keindahan-keindahan yang ada dalam khazanah-khazanah spiritual islamin ikepada siaap saja dan dimaan saja.

Seorang juru dakwah tak ubahnya seorang rasul kecil untuk umatnya. Posisinya sama mulianya dengan rasul. Karena itu hadis mengatakan bahwa para ulama adalah pewaris para nabi. Karena istimewanya maka seorangjuru dakwah harus tahu diri dan memiliki kemampuan yang baik, penguasaan yang baik tentang sumber-sumber ajaran islam dan terutama memiliki penguasaan yang mumpuni terhadap teks-teks suci al-quran dan tafsir-tafsirnya. Dan lebih patut lagi seoragn juru dakwah adalah seoragn mufasir.

Sebab intisari dari ajaran-ajaran islam terkandung dalam kitab suci al-Quran.

Rasanya sulit sekali kita menemukan seorang mubalig yang sangat fasih tentang al-quran

logika hanya definisi dan argumen, dari satu ilmu bisa meraih banyak ilmu,

konsep, yang mudah sampai yang sulit,


tapi apakah pencarian terhadap tuhan itu merupakan hal yamg mudah atau sulit?

dan apakah itu


si pembaca al-quran jangan sekerang menjadi seorang pembawa hikyakan (hakiyan)ntapi hars bisa menyatu, inni akhofu in ashaytu ribai adzaba,


al-quran juga terus-terusan turun kepada hati-hati para pembacanya, hubungan qalbu kepada turunnya seperti arsy kepada istiwa rahman, , alalh memberi sifat arsy dengan apa yang Ia sifati untuk quran, semua quran bersemayam dalam arsynya dengan sifat yang komprehensif baginya. quran karim untuk arasy karim, quran majid untuk arasy majid, karena itu didalam hadis dikatan iqra wa qra! baca dan melejitlah ke atas !

Jika quran turun pada hamba dan tampak hikmahnya maka ia bersemayam di segala yang dimilikiya secara mutlak . akhlak rasul adalah al-quran , tidak ada ayat kecuali memiliki hukm (properti) terhadap kalbu hamba ini.


catatan : circle vious, aku tidak akan lari sebelum ia lari dan ia tidak akanlari sebelum ia lari, jadi tidak ada yang lari.



9-taraqi yaitu meejitkan diri tidak hanya mendengar dari dirinya tapi mendengar kalam dari allah, ini artinya bahwa pembacaan quran memiliki derajat-2 . yan gpaling reandah adalah si hamba mmapu membaca quran dengan perhitungan allah ada di hadapanaya, kemudian ia menyaksikan dengan kalbunya seolah-olah allah sedang berbicara dengan dirinya dengan lutf, bermunajat dengan karunia dan ihsanya


derajat ketiga yaitu bahwa ia amelihat dari kalam sang mutakalim, dari kalima, sifat-Nya,

pembacaan al-quran di luar ketiga derajat tersebut termaskuk pembacaan ghafilin,

imam shadiq mengatakan, allah tajali untuk makluk dalam kalamya tapi mereka tidak melihat,


sufi mnegatkaan aku menangguh kesulitan untuk membaca quran selama 20 tahun dan aku menikmaatinya selama 20 tahun.

sufi lain mengatakan aku pernah membaca quran tapi aku tidak menemukan kelezatan, sampai aku membaca seolah aku mendengar dari rasul dan keluarnya yang membacakan untuk sahabat-sahabat kemudian aku menigkat ke maqam yan glebih atas, aku membaca seolah aku mendengar jibil membacakan kjepada nabi kemudian yang lebih tinggi lagi aku mendengar dari mutakalim, saat itu aku menemukan kenikmat yan g aku itidak sabar untuk merasakannya.


karean itu pafirru ila llah!



mutasyabihat


tangan allah, istawa ala arsyi, wajhu rabika


ada beberapa mazhab berkenaan dengan mutasyabihat :

1.maslak ahlu lugah, ini yang diikuti oleh fukaha, muhadisin,hanabilah , karamiyah yaitu mengkuti lafaz secara mutlak sekalipun bertentangan dengan akal


2, manhaj arbab nadzar, ashabul fikri, menakwilkan ayat menyesuian ayat dengan kaidah-kaidah nazari, dan ingin membersihkan rabul alamin dari kekurangan

3. menggabungkan dua bagian , tasybih dalam sebagian dan tanzih dalam sebagian yang lain. tentang maad ditasybihkan dan tentagn iniu mazhamuktazilah,


4. maslak rasikhuna fi ilmi yang bisa melihat dengan cahaya allah dengan cahaya allah

ia melihat yang tidak bisa dilihat orang lain,



abu abdillah muhammad razi , dalam tafsir kabir dan nihayah uqul mengatakan bahwa ilmu billah,sifat dan af'al-Nya dalah ilmu yang palin gmulia


nihayatu aqda, al-uqul iqal

wa aktsaru sa'ya alaimian dhalal

wa arwahuna di wahsyatin min jusumina

wa hasil dunyaya adza wa wabal

wa lam tastafid min bahtsina thula umrina

siwa an jama'na fihi qila wa qola


shadra mengatkan bwha kelemaha itu karena mereka terlalu bergantung pada metoda bahst dan jadal dan tidak merujuk ke ahli allah, yaitu taamul dalam kitab allah



Tidak ada komentar: